xcrucks

6 Strategi Agar Anak Tidak Hobi Makan Junk Food

Mengajarkan anak untuk makan makanan sehat merupakan hal yang penting agar anak mereka terbiasa untuk tidak pilih-pilih makanan.

Anak-anak yang sering makan jenis makanan yang salah, seperti junk food atau makanan pinggir jalan, lebih berisiko mengalami kegemukan dan berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, jantung, dan kanker.

Dengan adanya banyak iklan junk food di TV dan kebiasaan untuk mengonsumsi makanan ini, akan sulit membiasakan anak untuk makan dengan sehat.

Namun, ada strategi yang bisa kita terapkan untuk membantu anak berhenti atau mengurangi makan junk food. Apa saja strateginya?

1. Siapkan Camilan yang Sehat

Cara pertama agar anak bisa berhenti makan junk food adalah dengan menghidangkan camilan seperti buah, sayuran, dan biskuit gandum dengan keju. Siapkan camilan sehat di tempat yang mudah dijangkau anak-anak, seperti di meja makan.

Saat mereka lapar, mereka dapat mengambilnya dengan mudah. Siapkan juga mangkuk berisi buah-buahan di tempat yang mudah dilihat, sehingga anak langsung dapat menikmatinya. Ini dikarenakan anak-anak cenderung ingin makan apa yang ada di depan mereka.

2. Jangan Bawa Junk Food ke Rumah

Jika tidak ingin anak makan makanan tersebut, maka jangan simpan atau bawa junk food ke rumah. Dengan begitu, anak tak akan melihat dan meminta.

Cara lain adalah dengan memasak hidangan yang mirip dengan menu junk food, tapi versi lebih sehat. Cara ini dapat mengurangi konsumsi junk food pada anak.

3. Jangan Tawar-Menawar dengan Anak

Jangan gunakan junk food sebagai alat tawar-menawar. Memberi hadiah berupa junk food agar anak mau makan makanan sehat amatlah salah, karena malah akan menambah daya tarik mereka terhadap junk food itu sendiri.

Anak-anak juga perlu diajarkan mengukur berapa banyak mereka makan, karena memaksa mereka menghabiskan makanan dapat menyebabkan mereka makan berlebihan di kemudian hari, terutama dengan tren makanan porsi besar saat ini.

4. Jangan Larang Anak Makan Junk Food

Jika tidak ingin anak doyan junk food, sebaiknya kita tidak benar-benar melarangnya, karena bisa mengakibatkan rasa penasaran anak semakin tinggi.

Ini juga akan membuat mereka cenderung makan banyak junk food saat ada kesempatan, seperti di acara sekolah, ulang tahun teman, dan lainnya.

Ajarkan anak untuk mencicipi semua jenis makanan dalam jumlah kecil, izinkan mereka untuk makan junk food di rumah teman mereka, tapi jangan kalau sedang di rumah.

5. Berikan Contoh dari Diri Sendiri

Anak-anak belajar dengan melihat apa yang orangtuanya lakukan. Kalau kita tidak mau anak makan banyak junk food, kita sendiri harus makan makanan sehat dan menghindari junk food.

Selain itu, izinkan anak untuk memilih jenis makanan dan camilan sehat yang mereka suka.

6. Jangan Berikan Junk Food sebagai Hadiah

Biasanya para orang tua akan menghadiahkan anak makan di restoran cepat saji ketika mereka kenaikan kelas atau memenangkan perlombaan. Nah, hal ini lah salah satu yang wajib dihindari agar anak berhenti makan junk food.

Alternatifnya, kita bisa memberikan alat gambar, mainan kesukaan, alat olahraga seperti raket badminton, atau bahkan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatian anak terhadap keinginan makan junk food.

Wisnubrata

Mulailah Dari yang Kita Bisa

Tahun 1994 saat baru lulus kuliah, saya bekerja sebagai junior field engineer di lapangan minyak. Perusahaan tempat saya bekerja adalah anak perusahaan Pertamina, bisnisnya logging. Apa itu logging? Kerjanya mengumpulkan data fisik sumur minyak. Pekerjaan kami adalah melakukan berbagai pengukuran fisika terhadap sumur, seperti hambatan listrik, porositas, radiasi sinar gamma, dan sebagainya.

Data itu akan dipakai untuk menganalisa keadaan sumur. Tujuan utamanya untuk memastikan ada atau tidaknya minyak. Kalau ada, pada kedalaman berapa. Dari mana tahunya? Misalnya dari hasil pengukuran hambatan listrik. Air punya hambatan lebih rendah dari minyak. Kalau kita ukur hambatan listriknya pada seluruh sumur akan kita dapatkan hambatan rendah. Kalau di suatu kedalaman tertentu ada tempat dengan hambatan tinggi, mungkin di situ terdapat minyak.

Pengukuran porositas memberi informasi apakah bebatuan di bawah sana padat, atau kopong (porous). Kalau padat, akan menyulitkan untuk memompa minyak ke atas. Kalau kopong, maka minyak akan lebih mudah dipompa.

Kalau sudah dipastikan ada minyak pada kedalaman tertentu, maka dinding sumur akan ditutup dengan semen. Ada perusahaan yang punya keahlian melakukan ini. Di tahap akhir, hanya pada kedalaman di mana terdapat minyak dinding semen itu akan dilubangi. Melubangi ini dilakukan dengan peledak. Prosesnya disebut pervorasi. Ini pun jadi pekerjaan kami.

Pekerjaan seperti itulah yang dilakukan. Waktu itu perusahaan memakai teknologi Schlumberger. Dalam training saya membaca sebuah makalah yang ditulis Schlumberger bersaudara tahun 1930 tentang teknologi logging yang mereka pakai saat itu. Makalah itu membuat saya terkesima.

Yang mereka lakukan saat itu mirip dengan tukang sumur di kampung. Peralatan yang dipakai sangat sederhana, khususnya bila dibandingkan dengan peralatan yang saya pakai, 60 tahun kemudian.

Tapi engineer zaman sekarang mungkin akan merasakan hal yang sama kalau melihat peralatan yang saya pakai saat itu. Masih memakai teknologi generasi 80-an, program komputer untuk menggerakkan alat ukur masih disimpan dalam bentuk pita magnetik yang digulung. Adakah engineer sekarang yang pernah melihat pita magnetik?

Menurut cerita kawan saya yang bekerja di lapangan minyak, proses pengukuran logging kini sudah bisa dilakukan bersamaan dengan proses pengeboran. Hasilnya dikirim secara real time ke kantor perusahaan minyak. Kami dulu harus memindahkan data hasil pengukuran ke film, yang harus dicuci di tempat itu juga. Untuk keperluan ini di dalam ruang truk peralatan tersedia ruang gelap untuk mencuci film.

Apa makna cerita ini? Hal canggih yang kita lihat sekarang dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana.

Ada cerita lain dengan makna yang sama. Sepuluh tahun yang lalu saya bekerja di industri plastic molding injection. Ini adalah industri yang bekerja mencetak berbagai komponen plastik. Mulai dari peralatan rumah tangga seperti cangkir plastik, komponen otomotif untuk sepeda motor dan mobil, komponen elektronik, bahkan komponen pesawat terbang, banyak yang dicetak dengan metode ini.

Bagaimana caranya? Secara sederhana, bijih plastik (plastic resin) dilumerkan pada suhu tinggi, kemudian disuntikkan dengan tekanan tinggi ke dalam cetakan (mold), kemudian didinginkan. Di dalam cetakan itu plastik cair akan menempati ruang kosong, kemudian mengeras, menghasilkan komponen plastik dengan bentuk yang diinginkan.

Salah satu perusahaan penghasil mesin injeksi ini bernama Nissei, pusatnya di Nagano, Jepang. Saya pernah ikut training ke sana, kemudian melihat museum perusahaan ini. Di situ dipamerkan mesin-mesin generasi awal yang dibuat tahun 1950-an. Yang saya lihat lagi-lagi adalah mesin-mesin sederhana, di antaranya digerakkan dengan tenaga manusia.

Kesan yang sama juga saya dapatkan ketika berkunjung ke museum Toyota di Nagoya.

Semua teknologi yang kita nikmati sekarang dimulai dari yang sederhana. Teknologi tidak dibuat untuk mengejar kecanggihan, tapi untuk mencapai tujuan. Untuk menyelesaikan masalah.

Schlumberber ingin mengukur parameter sumur. Maka mereka buat alat yang bisa dipakai untuk keperluan itu, dari apa yang mereka miliki saat ini. Mereka ciptakan sesuatu yang belum ada, tapi basisnya adalah dari apa yang ada di sekitar mereka.

Dengan cara itulah teknologi dihasilkan. Dari tempat seseorang berdiri di suatu saat, ia maju selangkah. Dari situ ia maju selangkah lagi. Setelah berpuluh tahun, ia sudah maju sekian ratus kilometer. Ia sudah jauh meninggalkan titik tempat ia mulai tadi.

Di situ poin pentingnya. Kalau kita ingin melakukan sesuatu, mulailah dari yang kita punya, dari yang kita bisa. Jangan berangan-angan tentang sesuatu yang hebat dan besar, menunggu kita punya itu. Akhirnya kita tidak pernah mulai.

Kalau kita menghadapi masalah, selesaikan dengan cara yang kita bisa, dengan sumber daya yang kita punya. Jangan berharap atau berandai-andai dengan sesuatu yang canggih atau ampuh, dan kita tidak kunjung bergerak untuk menyelesaikan masalah.

Ini terdengar seperti rumusan yang sangat sederhana. Tapi di dunia ini mungkin ada puluhan atau ratusan juta manusia yang tidak melakukan keinginan mereka, karena mereka tidak memulai. Mereka menunggu sesuatu, yang tidak pernah datang. Padahal sesuatu itu akan mereka dapatkan kalau mereka memulai.

Anda mau mulai berbisnis, mulailah dengan modal yang ada. Jangan menunggu ada bank yang beri kredit sekian milyar baru akan mulai. Mau menulis buku atau artikel, mulailah dengan kata pertama yang ada di pikiran.

Mau menikah, menikahlah dengan yang mau sama Anda. Ada begitu banyak orang yang tak kunjung menikah karena mengharapkan calon pasangan impian yang tak wujud di ruang nyata.

Hasanudin Abdurakhman
Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

Didik Mereka, Lalu Lepaskan

Mendidik anak itu untuk kita lepaskan. Mirip dengan saat ketika kita mengajari mereka naik sepeda. Kita harus lepaskan.

Karena mereka mengayuh sepeda itu, menjalankan sepeda sendiri, adalah esensi naik sepeda. Kita tidak bisa menyebut anak kita bisa naik sepeda, kalau kita terus memegangi sepedanya, bukan?

Lagipula, kita tidak akan sanggup untuk terus memegangi sepeda mereka. Kita akan lelah, dan kehabisan tenaga.

Anak kita suatu saat akan jadi manusia dewasa. Dia akan punya hidup sendiri. Mereka harus memutuskan setiap langkah yang akan mereka ambil, dan yang paling penting, bertanggung jawab atas keputusan itu.

Maka tugas kita adalah memberi mereka bekal, agar mereka mampu membuat keputusan, melaksanakannya, dan bertanggung jawab atas keputusan itu. Termasuk, membuat keputusan lain sebagai konsekuensi keputusan sebelumnya.

Tapi banyak dari orang tua yang lupa soal itu. Mereka mendidik anak seperti orang hendak mencetak sesuatu. Bentuk hasil cetakan harus sesuai keinginan mereka.

Maka, banyak orang berlomba-lomba menjejalkan ambisi mereka pada anak, sejak dini. Mumpung mereka masih kecil, tidak punya kekuatan untuk menyatakan kehendak. Harapan mereka, para orang tua itu, bentuk yang mereka buat itu tidak akan berubah.

Sayangnya, itu tidak selalu terjadi. Ada jutaan cerita di mana kelak orang tua kecewa, saat menemukan anaknya tak sesuai harapan dia. Tak jarang itu berujung pada perpisahan antara orang tua dan anak. Mereka jadi bermusuhan.

Ada pula orang tua yang masih ingin mengontrol anaknya saat mereka sudah dewasa. Ke mana mereka harus sekolah, pekerjaan apa yang harus mereka tekuni, sama siapa dia harus kawin, bahkan bagaimana anak-anak mereka (cucu para orang tua ini) harus dididik.

Bayangkan dengan cerita naik sepeda tadi. Ini adalah orang tua yang terus memegang sepeda anaknya, saat anaknya sudah naik sepeda berkeliling kompleks perumahan. Kalau kita lihat orang tua seperti itu, kita akan sepakat bahwa dia gila.

Sadarkah bahwa kita hidup di zaman yang berbeda dengan anak-anak kita? Masa kecil kita berbeda dengan masa kecil mereka. Masa depan mereka juga berbeda dengan masa ketika kita hidup sebagai orang dewasa.

Ketika kita menekan anak kita untuk menempuh hidup sesuai pikiran kita, referensi kita mungkin masa lalu, pada mimpi kita ketika kita masih kecil. Atau, pada masa kini, saat kita menjadi orang tua mereka.

Sebaik apapun visi kita tentang masa depan, tidak akan jauh. Kita tidak bisa membayangkan dunia yang akan dijalani anak-anak kita. Khususnya sekarang, ketika perubahan berlangsung sangat cepat.

Sadarkah Anda bahwa profesi yang kelak dijalani anak Anda kelak, mungkin bahkan belum ada sekarang. Lalu, profesi-profesi yang Anda lihat sekarang, dua atau tiga tahun lagi akan musnah. Sadarkah bahwa hari ini sejumlah profesi sedang memudar eksistensinya?

Bila Anda masih berpatokan pada masa lalu, atau masa kini dalam visi Anda, dan memaksakan itu pada anak Anda, maka sebenarnya Anda sedang mencoba menghadirkan anak Anda dalam sosok fosil di masa depan. Anda sedang menyiapkan anak untuk menjadi manusia salah zaman.

Maka, menurut saya, lebih baik kalau siapkan mereka untuk menjadi orang yang tahu bagaimana hidup di zaman mereka. Bagaimana cara hidup di zaman mereka? Biarkan mereka mencari dan memutuskan.

Kita hanya perlu membekali mereka dengan kemampuan dasar, yaitu kemampuan belajar, kemandiriaan, ketertiban, dan penghargaan kepada umat manusia.

Kita beri mereka kemampuan belajar, tanpa perlu menekankan apa yang harus mereka pelajari. Kita beri mereka kemampuan untuk mandiri, kita tidak tentukan apa yang akan mereka tempuh untuk hidup mandiri. Kita ajari mereka untuk tertib, tapi tidak memaksakan nilai yang kita anut sekarang.

Karena, bahkan nilai pun berubah menurut zaman. Hanya satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu bahwa manusia harus dihargai sebagai manusia.

Mendidik anak kita adalah menghargai mereka sebagai manusia.

Hasanudin Abdurakhman
Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

5 Tanda Ponselmu Sudah Merampas Kualitas Hidup

Gaya hidup masa kini membut kita hampir mustahil menjauh dari ponsel. Ini terjadi hampir pada setiap masyarakat di dunia.

Hipnoterapis dan pakar kecemasan di Calmer You sekaligus penulis The Anxiety Solution, Chloe Brotheridge mengatakan bahwa mengecek ponsel adalah hal menimbulkan kecanduan.

Kita akan terikat dengan setiap informasi yang kita dapatkan lewat pesan elektronik atau berita-berita yang ada.

“Terus-menerus melihat ponsel itu artinya kita tidak pernah benar-benar istirahat,” ujar Chloe.

Penggunaan ponsel memang sering dikaitkan dengan masalah kecemasan. Tapi, ada beberapa hal yang mungkin belum kita ketahui soal dampak penggunaan ponsel terhadap kesehatan mental.

Apa saja kah dampaknya dan ciri-ciri orang yang sudah kecanduan ponsel?

1. Memengaruhi Pola Tidur

Kurang tidur adalah gejala umum kecemasan. Banyak dari kita yang menggunakan ponsel sebagai alarm.

“Itu berarti ponsel ada di sebelah kita sebelum tidur dan saat kita bangun. Membuat kita tergoda untuk mengecek ponsel sebelum tidur dan saat bangun,” kata dia. Akibatnya kita menjadi kurang tidur, atau kualitas tidur berkurang.

Chloe menilai beberapa aktivitas menggunakan ponsel bukan lah hal yang baik untuk mengakhiri dan memulai hari. Seperti mengecek surat elektronik yang masuk atau mengecek selfie para blogger di media sosial.

Ia pun menyarankan setiap orang memiliki jam alarm khusus dan dan menyediakan waktu tanpa ponsel.

2. Polusi Suara

Ponsel akan berbunyi sangat sering jika kita mengaktifkan notifikasi suara, misalnya untuk pesan masuk, telepon, unggahan Facebook, Instagram, dan lainnya.

Pada banyak orang, bisa jadi itu merupakan suara yang biasa sehingga tidak dianggap mengganggu. Tapi kebanyakan pengguna pasti akan melihat pesan apa yang ditimbulkan dari suara tadi. Hal itulah yang mengganggu kualitas hidup.

Chloe pun meminta agar notifikasi dimatikan agar hal itu tak mengganggu kita.

“Pada titik tertentu, update yang tak kunjung berhenti akan melelahkan dan mereka yang mengalami kecemasan akan mendapatkan gejala yang lebih hebat,” ujar Chloe.

3. Ketergantungan

Mungkin kita tak ingat kapan terakhir melakukan hal-hal secara manual tanpa ponsel. Seperti melihat peta, memesan tiket perjalanan, atau memesan ojek dan taksi dengan telepon biasa.

Kebiasaan ini membuat kita merasa ketergantungan dengan ponsel. Kita bahkan bisa saja merasa cemas saat baterai ponsel kita lemah atau merasa tak berdaya tanpa ponsel.

Faktanya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak anak-anak muda menunjukkan tanda-tanda signifikan dari stres dan mengalami pola detak jantung sama seperti mereka yang memiliki penyakit traumatis saat dijauhkan dari alat-alat teknologi.

4. Kabur dari Kenyataan

University of Illinois pada 2016 lalu mengungkapkan bahwa mahasiswa mereka yang menggunakan ponsel sebagai alat untuk lari dari kenyataan pada umumnya memiliki masalah kesehatan mental. Termasuk deresi dan kecemasan.

Kecenderungan ini lebih tinggi terjadi pada mereka ketimbang mahasiswa lainnya yang menggunakan ponsel hanya untuk mengusir kebosanan.

Motivasi penggunaan ponsel untuk online sangatlah krusial. Oleh karena itu, coba lah pikirkan apa yang membuatmu sangat ingin mengakses Instagram, atau media sosial lainnya.

Apakah Kamu hanya mu membandingkan dirimu dengan yang lain? Ataukah Kamu menghindari problem dunia nyata?

Semakin banyak pertanyaan yang muncul dan terjawab, maka akan semakin jelas hubungan ponsel dengan kecemasanmu.

5. Tidak Pernah Mematikan Ponsel

Rata-rata pengguna ponsel di Inggris mengecek ponsel mereka 28 kali sehari. Ini berarti lebih dari 10 ribu kali dalam setahun.

Sangat penting untuk beristirahat dari kegiatanmu dengan ponsel. Chloe nenyarankan untuk meletakkan ponsel di ruangan lain dan menaruhnya di bawah kursi atau benda lainnya. Ini akan membuat kemungkinan kita mengecek ponsel lebih kecil.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa berhenti mengakses Facebook dalam seminggu saja bisa meningkatkan kadar bahagia seseorang.

Jadi, coba lah melakukn hal ini pada kehidupanmu karena mungkin saja membawa dampak yang besar terhadap mood dan lainnya.

Nabilla Tashandra

Tersenyumlah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam (SAW) merupakan teladan bagi umat. Berbagai perilaku, sikap, dan tindakan Rasulullah, mempunyai makna yang sangat bermanfaat bagi umatnya. Salah satunya adalah tersenyum. Rasul SAW mengajarkan, senyum adalah salah satu amal yang utama, dan senyum merupakan bagian dari sedekah.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan, pada suatu hari, ada serombongan orang yang fakir dan miskin dari golongan Muhajirin, datang menemui Rasulullah SAW. Satu di antara mereka pun mengadu dan mengeluhkan permasalahannya kepada manusia yang mulia (Rasul SAW–Red) ini.

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga mereka mendapatkan tingkatan yang paling tinggi.” Rasul SAW bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian?” Lalu, mereka pun menjawab, “Orang-orang kaya itu mendirikan shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami mengerjakan puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak mampu melakukan amalan seperti mereka itu. Mereka juga mampu memerdekakan budak sahaya, sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu.”

Mendengar keluhan orang fakir itu, Rasulullah SAW lantas tersenyum dan berusaha menghibur sang fakir. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali mereka berbuat seperti yang kalian kerjakan?” Dengan antusias, mereka pun mengiyakan, “Mau, wahai Rasulullah.” Kemudian, Rasul SAW bersabda, “Bacalah ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’, dan ‘alhamdulillah’ setiap selesai shalat, masing-masing sebanyak 33 kali.” Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.

Beberapa hari kemudian, rombongan fakir ini datang lagi menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan keluhannya. “Wahai Rasulullah, saudara- saudara kami orang kaya itu telah mendengar perbuatan kami, lalu mereka juga melakukan sebagaimana amalan yang kami kerjakan.” Maka, Rasul SAW bersabda, “Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (QS an-Nur [24]: 38). (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika orang-orang fakir itu mengadukan kemampuan orang kaya dalam beramal, Rasul SAW lalu mengajarkan, agar mereka selalu tersenyum setiap bertemu saudarasaudaranya. Senyumanmu ketika bertemu dengan saudaramu adalah sedekah.” (HR Ibnu Hibban).

“Termasuk sedekah adalah engkau mengucapkan salam dengan wajah ceria kepada orang-orang.” (HR Ibnu Abi Dunya). Berdasarkan hadis di atas, memperbanyak senyum setiap bertemu setiap orang, apalagi sesama Muslim, menjadi ibadah yang mudah dan murah. Sebab, dengan banyak tersenyum, nilai sedekah juga akan semakin banyak. Subhanallah.

Kita sadari, kekayaan orang kaya begitu banyak. Mereka mampu membelanjakan harta yang dimilikinya di jalan Allah SWT. Mereka juga diberi kesehatan fisik yang prima. Untuk mengerjakan amal ibadah, seperti shalat dan puasa, mereka juga mampu melaksanakannya dengan baik. Tetapi, tersenyum, tentu akan berbeda jumlahnya. Betapa indahnya ajaran agama yang dibawa Rasul SAW ini untuk umatnya. Orang miskin yang tidak mampu bersedekah dengan hartanya, tetapi mereka bisa bersedekah dengan tersenyum.

Tentu ada makna yang tersirat di balik senyum itu. Banyak para ahli kesehatan menemukan manfaat yang mengagungkan dari senyuman. Di antaranya, yang pertama, senyum itu akan menghilangkan beban pikiran dan stres. Kedua, senyum itu akan meredam amarah (emosi). Rasa marah yang meledak-ledak, akan mudah hilang jika dilandasi dengan senyuman. Ketiga, senyuman yang memperlihatkan gigi geraham dan gigi taring, akan mengencangkan kulit wajah sehingga membuat wajah akan senantiasa ceria dan awet muda.

Keempat, senyum ramah akan meningkatkan sistem imun (kekebalan tubuh), mengurangi rasa sakit, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Kelima, senyuman akan menularkan energi positif kepada lingkungannya. Sebuah penelitian menunjukkan, orang yang bergaul dengan mereka yang murah senyum maka sikapnya juga akan ramah. Semoga kita semua mampu menjalankan salah satu ajaran Islam ini, yakni tersenyum. Allahu a’lam.

Syahruddin el-Fikri

Panduan Memilih Makanan Bagi Penderita Maag

Sakit maag yang sering kambuh tentu sangat mengganggu aktivitas. Ditambah lagi, kita harus lebih ketat menyeleksi makanan sehari-hari agar tidak makin parah.

Pada prinsipnya, pemilihan makanan untuk sakit maag bertujuan untuk meringankan beban kerja saluran pencernaan dan membantu menetralisir kelebihan asam lambung. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan saat maag kambuh?

1. Konsumsi Makanan Lunak

Sambil terus memenuhi asupan cairan, kita hanya boleh mengonsumsi makanan dengan tekstur lunak dan lembut. Hal ini untuk memudahkan lambung mencerna makanan, sehingga tidak terlalu memperberat kerja sistem percernaan.

Makanan lunak yang baik untuk dikonsumsi di antaranya bubur, nasi tim, sayuran yang dimasak hingga lembut, kentang rebus atau tumbuk, telur rebus atau telur orak-arik, dan ikan.

2. Hindari Makanan Berlemak

Sebagai penderita sakit maag, kita perlu menghindari konsumsi makanan berlemak untuk meringankan beban kerja perut.

Makanan tinggi lemak, seperti mentega, susu, keripik, burger, atau gorengan merupakan makanan yang sulit dicerna dan merangsang otot saluran pencernaan menegang karena bekerja terlalu keras.

Akibatnya, proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat dan menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan (heartburn). Makanan berlemak juga dapat memicu atau memperburuk gejala sembelit.

Selain itu, makanan tinggi lemak juga dapat membuat warna feses memucat, yang menandakan lemak berlebih pada kotoran. Gantilah dengan makan daging dan ikan tanpa lemak, minum susu skim, dan makanan yang dipanggang daripada memilih makanan yang digoreng.

3. Hindari Makanan Pedas

Jika sakit maag sedang kambuh, hindari makan makanan pedas. Terutama jika disertai mual, muntah, dan diare.

Dilansir dari laman Health, Tim McCashland, MD, seorang spesialis pencernaan dari University of Nebraska Medical Center di Omaha mengatakan, makanan pedas dapat mengiritasi kerongkongan dan usus besar, hingga memperparah gejala maag kronis.

Hindari juga konsumsi rempah-rempah, termasuk bawang putih atau bawang merah yang juga bisa membuat perut semakin sensitif.

4. Hindari Minuman Berkafein dan Soda

Saat maag kambuh, kita wajib menghindari minuman yang mengandung kafein, seperti kopi dan teh, juga minuman bersoda. Pasalnya, minuman ini cenderung menimbulkan gas yang bisa menyebabkan perut kram dan diare.

Selain itu, minuman berkafein bisa memperburuk keparahan gejala refluks asam lambung (GERD)

Jadi, pilihlah minuman yang tidak bersoda dan tidak mengandung kafein, seperti teh herbal, susu, atau air putih. Atau jika Kamu penggemar teh atau kopi dan sulit untuk menahannya, batasi asupannya sekitar satu atau dua gelas sehari.

5. Hindari Minum Susu

Kalsium merupakan salah satu zat esensial yang diperlukan dalam tubuh, umumnya didapatkan dari susu atau keju. Namun, untuk orang dengan intoleransi laktosa, konsumsi produk berbahan dasar susu dapat menyebabkan diare, perut kembung dan kram.

Susu merupakan kelompok makanan yang sulit dicerna karena adanya kandungan laktosa. Bila laktosa tidak dicerna dengan benar, hal ini dapat menyebabkan perut kembung.

6. Konsumsi Yogurt

Bakteri baik probiotik yang ada di dalam usus terbukti memiliki segudang manfaat untuk kesehatan pencernaan, salah satunya adalah membantu meringankan iritasi usus besar dan diare.

Karena itulah, kita bisa mengonsumsi probiotik dari suplemen atau dengan makan yoghurt. Untuk hasil yang maksimal, konsumsi yoghurt setiap hari ketika sakit maag kambuh sampai empat minggu setelahnya.

Wisnubrata

Yang Harus Kamu Hindari agar Sukses Wawancara Kerja

Mendapatkan kesempatan wawancara kerja adalah peluang emas yang sebaiknta tidak kita sia-siakan. Yah, ada banyak hal yang harus kita pikirkan matang-matang agar sukses melampaui tahapan ini.

Dari semua hal yang harus kamu pertimbangkan, penampilan juga menjadi hal penting yang tak boleh dilupakan. Penampilan bakal menentukan kesan pertama pewawancara terhadap dirimu.

Agar kesan pertama positif, ada beberapa item fesyen yang harus kamu hindari saat wawancara kerja. Apa sajakah itu?

1. Sandal

Sandal adalah item pertama yang harus dihindari. Ingatlah bahwa kamu akan melalui tahapan penting yang menentukan karirmu, bukan berbelanja di toko kelontong. Jadi, segala sandal termasuk sandal gunung adalah hal yang harus kamu hindari saat wawancara kerja.

Memang sangat nyaman memakai sandal, tapi memakainya saat wawancara kerja hanya merusak penampilanmu dan membuatmu terlihat sebagai pribadi yang tak memiliki sopan santun.

Sebaiknya, kamu memakai sepatu yang tertutup. Jangan pernah menggunakan alas kaki terbuka saat wawancara kerja, terutama bagi pria. Namun bagi perempuan, mereka diperbolehkan memakai sepatu terbuka, asalkan cuaca atau iklim memungkinkan pada saat itu.

Sandal jepit adalah hal utama yang harus dihindari saat wawancara kerja, baik pria atau wanita.

2. Pakaian Olahraga

Sebaiknya jangan memakai celana yoga, training, atau jenis pakaian olahraga lainnya untuk wawancara. Apalagi, bila kondisinya sudah buluk dan potongannya tak sesuai tren.

Bahkan jika Kamu memiliki pakaian olahraga dengan merek ternama dan harga fantastis, tetap jangan kamu gunakan saat wawancara kerja.

Bagi para wanita, lebih baik hindari menggunakan bra dengan tali yang terlihat saat sesi penting ini, karena ini hanya akan menurunkan kualitas penampilanmu.

3. Parfum yang Berlebihan

Aroma tubuh saat sesi wawancara kerja juga penting sebagai bagian penampilan. Tapi sayangnya, tidak banyak orang yang tahu hal ini.

Beberapa orang lupa memakai parfum atau sebaliknya cenderung memakai parfum yang terlalu banyak saat wawancara kerja.

Faktanya, pewawancara terkadang juga merasa terganggu dengan kandidat yang memiliki aroma tubuh yang tak sedap atau terlalu menyengat karena berlebihan memakai parfum.

Kita memang tidak pernah bisa menebak sensitifitas seseorang mengenai aroma. Intinya, segala sesuatunya jangan berlebihan.

Berpakaianlah dengan rapi dan hati-hati. Kenakan pakaian yang membuatmu percaya diri dan mencerminkan posisi yang kamu inginkan dalam pekerjaan tersebut.

Gunakanlah sesuatu yang membuatmu merasa nyaman dan percaya diri untuk melalui wawancara kerja.

Ariska Puspita Anggraini

Ironi Keterbukaan

“Jarimu harimaumu”. “Saring sebelum sharing”. Begitu pesan bijak yang sering kita baca. Benar, media sosial (medsos) memberikan perubahan luar biasa atas perilaku kita. Sekali klik, informasi itu langsung tersebar bebas tanpa kendali. Apa pun bisa dilakukan hanya dengan satu-dua jari.

Namun, sayangnya, kebebasan itu sering kali digunakan secara tidak bertanggung jawab oleh sebagian besar kita. Akibatnya, terjadilah ironi keterbukaan. Kebebasan yang disalahgunakan akan menjadi “bom waktu” bagi peradaban sampah di Bumi Indonesia. Hal ini bisa dibaca dengan jelas dalam Alquran surah ar-Ruum: 41.

Ketika kita memilih demokrasi sebagai induk aturan maka keterbukaan adalah anaknya. Demokrasi tanpa keterbukaan bagai keluarga tanpa anak. Sepi, sunyi, kosong tanpa makna. Namun, jika keterbukaan ini menjadi-jadi tanpa kendali maka menjadi ironi. Setiap orang akan menjauhinya jika terus begini. Karena tidak ada yang bisa dipercaya. Lahirlah social unrest (keresahan sosial) akibat berita dan informasi palsu (hoaks). Inilah cikal bakal revolusi jika tidak segera diantisipasi.

Setiap orang bebas bicara, mencela, memfitnah, membuat berita palsu, menuduh, bahkan mengadu domba satu dengan lainnya. Dulu, pada masa penjajahan Belanda, jelas musuhnya. Jelas yang diperangi, jelas yang diserang. Sekarang, semuanya makin tidak jelas (absurd). Akibatnya, teman menjadi lawan dan lawan pun malah menjadi teman. Etika kesopanan dan kesantunan menulis status tidak ada lagi. Murid menantang guru berdebat, santri mengolok-olok kiai, ulama dirisak, anak dan orang tua tak lagi saling hormat, dan masih banyak lagi akibat ironi keterbukaan ini.

Karena itu, bagi para facebookers, kendalikan jarimu untuk hal-hal yang bermutu. Bagi netizen, ayo lawan segala keburukan di media sosial dengan gerakan menebar kebaikan (#akubisaberbuatbaik). Mulailah dari diri sendiri dulu, teman, keluarga, tetangga, desa, dan terus kita kawal sampai bangsa ini menjadi lebih baik. Karena, kata-katamu mencerminkan siapa sebenarnya dirimu. Ini sesuai dengan peringatan Nabi: “Seorang Muslim adalah seorang yang mampu menjaga tangan dan lisannya dari mengganggu Muslim lainnya.” (HR Bukhari Muslim).

Tak perlu psikotes macam-macam untuk tahu siapa dirimu. Dengan membaca statusmu, kamu telah membuka aibmu sendiri. Membuka karaktermu, sifatmu, dan profilmu. Maka, (sekali lagi) jaga jari-jarimu! Agar tidak sampai membunuhmu. Saring sebelum sharing, agar yang keluar hanya kebaikan dan kebenaran. Bukankah kesalahan menulis status yang diulang dan dibagikan terus-menerus setiap hari akan menjadi “kebenaran” baru? Inilah yang membahayakan peradaban hidup kita.

Karena itulah, menyikapi ironi keterbukaan ini, selain mengendalikan diri untuk tidak memunggah hal-hal buruk adalah diam. Jika kita tak mampu berbuat baik, jangan malah berbuat buruk, tetapi bersikap diam adalah jihad terbaik.

Seperti pesan agung Nabi Muhammad, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau (jika tidak bisa) diam itu jauh lebih baik.” (HR Bukhari). Namun, jika diam saja kita tak mampu melakukannya maka sejatinya kita tak pantas disebut manusia. Lalu, kita lebih pantas disebut apa?

Abdul Muid Badrun

Nutrisi Penting untuk Perkembangan Otak Bayi

Makanan yang dikonsumsi bayi pada dua tahun pertama usianya memiliki efek besar pada kesehatan dan perkembangannya.

Menurut para ahli dari American Academy of Pediatrics, ada beberapa nutrisi yang sangat penting dan kekurangan nutrisi tersebut berpengaruh jangka panjang. Nutrisi tersebut termasuk zat besi, zinc, kolin, vitamin D, dan tembaga.

Dua tahun pertama usia bayi merupakan waktu yang krusial untuk perkembangan otak, termasuk area yang mengontrol memori, kemampuan memproses, perencanaan, dan juga perhatian.

Para ahli menyebut, kekurangan nutrisi penting bisa mengurangi fungsi otak, misalnya kecerdasan lebih rendah dan gangguan perilaku, yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Setelah bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, ia akan makanan pendamping ASI. Makanan ini harus mengandung berbagai variasi makanan agar kecukupan gizinya terpenuhi.

Berikut adalah beberapa vitamin dan mineral yang dibutuhkan bayi dan sumber makanannya.

– Protein: Daging, daging unggas, ikan, telur, yogurt, kacang-kacangan, dan serelia utuh (gandum).
– Zinc: Daging, susu, tahu, kacang kedelai, atau selai kacang.
– Zat besi: Daging, hati, daging unggas, ikan, bayam, kacang-kacangan, sereal yang difortifikasi.
– Mangan: Damur, kerang, kacang-kacangan, kentang, serelia utuh.
– Selenium: Ikan tuna, daging ayam, telur, beras merah.
– Folat: Bayam, jus jeruk, alpukat
– Kolin: Daging, daging unggas, telur, ikan laut.
– Vitamin A: Wortel, ubi, susu, telur, buah-buahan.
– Vitamin D: Jamur, salmon, tuna, susu, jus.
– Vitamin K: Sayuran berdaun hijau, kacang hijau, blueberi.
– Vitamin B6: Pisang, kentang, kacang-kacangan.
– Vitamin B12: Salmon, susu, daging, yogurt, keju, sereal yang difortifikasi.

Lusia Kus Anna

Temuan Baru, Kunyit Ternyata Ampuh Atasi Masalah Kepikunan

Riset terbaru mengungkapkan, bahan pewarna kuning alami ini ternyata bisa memperbaiki ingatan dan juga mood manusia.

Kandungan kurkumin pada kunyit ini ternyata berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan.

Kunyit pun telah lama menjadi makanan pokok bagi warga lanjut usia di India.

Mungkin karena kebiasaan itu pula, India menjadi negara dengan tingkat penderita alzheimer yang rendah, dan warganya memiliki kinerja kognitif yang lebih baik.

Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku akibat gangguan di dalam otak.

Gangguan ini sifatnya progresif atau perlahan-lahan.

Penelitian yang dilakukan oleh University of California, Los Angeles, ini dilakukan dengan memeriksa efek kunyit pada orang-orang yang menderita kepikunan karena faktor usia.

Menurut Dr Gary Small selaku pemimpin riset ini, cara kerja kurkumin memang belum bisa dipastikan.

“Tapi, mungkin ini terkait dengan kemampuannya untuk mengurangi peradangan otak yang dikaitkan dengan penyakit alzheimer dan depresi,” ucapnya.

Riset yang diterbitkan dalam the American Journal of Geriatric Psychiatry ini  menggunakan 40 orang yang mengalami kepikunan pada rentang usia usia 50-90 tahun sebagai subyek penelitian.

Setengah dari mereka diberi kurkumin 90 miligram dua kali sehari selama 18 bulan, sedangkan sisanya diberi plasebo alias “obat palsu” tanpa khasiat apa pun.

Setelah memantau tingkat kurkumin dalam darah, dan menjalani penilaian kognitif serta pemindaian positron emission tomography (PET) untuk mengamati proses metabolisme tubuh, periset pun mencapai kesimpulan.

Ditemukan bahwa mereka yang mengonsumsi kurcumin melihat peningkatan yang signifikan baik dalam memori maupun suasana hati.

Dalam tes ingatan, orang-orang yang mengonsumsi kurkumin mengalami peningkatan daya ingat sebesar 28 persen selama 18 bulan, dan juga menunjukkan perbaikan ringan dalam keseluruhan emosi mereka.

Para peneliti berencana  melakukan riset lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih banyak.

Mereka juga berharap untuk mengeksplorasi apakah dampaknya bervariasi sesuai dengan usia orang atau risiko genetik mereka terhadap alzheimer.

Kandungan kurkumin dalam kunyit ini juga berpotensi untuk menyembuhkan depresi ringan.

“Hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi kurkumin ini bisa memberi manfaat kognitif yang berarti selama bertahun-tahun,” ucap Gary Small.

Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Kesehatan RI, estimasi jumlah penderita penyakit alzhemeir di Indonesia pada tahun 2013 mencapai satu juta orang.

Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada 2030 dan menjadi 4 juta orang pada 2050.

Apakah data ini pun bisa dikaitkan dengan kebiasaan warga Indonesia mengonsumsi kunyit, yang mungkin belum sebesar India?  Bagian ini tentu memerlukan penelitian tersendiri.

Ariska Puspita Anggraini