Berpikirlah Positif

Berpikir positif berarti mempunyai optimisme. Adapun optimisme oleh Edward de Bono – pakar ilmu berpikir – dalam bukunya Six Thinking Hats (Penguin Books, London, 1985) diibaratkan sebagai sinar matahari (sunshine). Dengan kata lain, orang yang optimis selalu melihat sisi terang dan segala sesuatu. Pernahkah Anda melihat matahari sembunyi di balik awan kelabu? Orang yang pesimis melihat awan gelapnya, sedangkan orang yang optimis melihat garis perak tipis yang mengelilingi awan gelap itu. Melihat gelas yang terisi setengah, orang yang pesimis akan berkata, “Aduh, minumanku tinggal separo.” Sebaliknya, orang yang optimis akan berkata, “Untunglah, minumanku masih separo.” Pendeknya, orang yang optimis selalu melihat segi positif dari segala sesuatu. Dengan kata lain, orang yang berpikiran positif selalu optimis: melihat sisi cerah dari segala sesuatu.

Ralph Waldo Emerson (1803-1882), penyair dan pe­mikir Amerika, pernah menulis puisi lucu — yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur anak-anak — tentang per­tengkaran mulut antara Gunung dan Tupai. Keduanya saling mengejek. Beginilah si Tupai berkata:

If I’m not so large as you,
You are not so small as I,
And not half so spry;
I’ll not deny, you make
A very pretty squirrel track,
Talents differ: all is well and wisely put!
If I cannot carry forests on my back,
Neither can you crack a nut.

Jikalau aku tidak sebesar kamu
Kamu pun tidak semungil aku
dan sedikit pun tidak selincah aku;
Aku takkan mengingkari, engkau membuat
Lintasan tupai yang demikian indah,
Bakat memang berbeda: semua baik adanya
dan secara bijak dikaruniakan!
Jika aku tidak bisa menggendong hutan
di punggungku,
Engkau pun tidak bisa mengupas kacang.

Sungguh mudah untuk dimengerti andaikata si Tupai merasa rendah diri di hadapan si Gunung karena dia begitu kecil. Tetapi, ternyata si Tupai tidak merasa rendah diri! Tubuhnya yang kecil dilihatnya sebagai suatu kelebihan. Dia memang tidak bisa menggendong hutan, namun ia lincah dan bisa mengupas kacang, suatu kemampuan yang tak dipunyai si Gunung.

READ  Penulis Ungkap Cara Miliuner Membesarkan Anaknya

Puisi lucu di atas memuat pesan yang bagus, yakni optimisme atau kalau dikaitkan dengan pembicaraan kita, berpikir positif (positive thinking). Si Tupai dalam puisi itu adalah contoh makhluk yang bisa berpikir positif: melihat kelebihan dirinya yang secara fisik kecil di hadapan si gunung.

Pelajaran yang bisa kita petik bahwa apa pun atau bagaimanapun diri kita, harus kita terima dengan bangga dan lapang dada: inilah aku! Aku adalah unik. Kebanggaan ini bukan sesuatu yang mengada-ada. Itu sebenarnya me­mang ada, hanya kita mau memilih melihat dan meng­akuinya atau tidak. Kembali ke cerita tentang awan kelabu di alas: baik awan kelabu maupun garis perak yang mengi­tarinya, keduanya memang ada. Kita mau berkonsentrasi melihat yang mana? Jika kita cenderung melihat awan kelabunya, hidup kita pun akan menjadi kelabu. Tetapi, kalau kita berkonsentrasi melihat garis putih atau perak yang mengitarinya, kita pun akan menjadi cerah. Dengan kata lain, apa atau bagaimana diri kita biasanya bergantung pada bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Seandainya kita adalah si Tupai dalam puisi R.W. Emerson di atas, kita bisa memilih berkata, “Ah, aku hanyalah seekor tupai” atau menantang si Gunung, “Aku memang tidak sebesar kamu, tapi kamu pun tidak semungil dan selincah aku. Aku memang tidak bisa menggendong hutan, tapi kamu tidak bisa mengupas kacang!”

Wishnubroto Widarso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *