“Skill” yang Harus Dimiliki di Era Industri 4.0

Seiring dengan dunia yang memasuki revolusi industri 4.0, maka pemanfaatan robot dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses produksi manufaktur akan semakin lazim. Perubahan ke arah automasi tersebut bisa mendatangkan berbagai dampak kepada para pekerja industri.

Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) menyatakan bahwa akan ada jenis pekerjaan yang hilang seiring berkembangnya revolusi industri 4.0.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kemenaker Bambang Satrio Lelono menyampaikan, sebanyak 57 persen pekerjaan yang ada saat ini akan tergerus oleh robot.

Namun, masih menurut artikel tersebut, di balik hilangnya beberapa pekerjaan akan muncul juga beberapa pekerjaan baru. Bahkan, jumlahnya diprediksi sebanyak 65.000 pekerjaan.

Bambang mengatakan, yang harus dilakukan sekarang adalah menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Pertanyaannya, apa saja yang harus disesuaikan?

Berdasarkan paparan artikel di laman World Economic Forum, untuk bisa beradaptasi dengan perubahan yang dibawa oleh revolusi industri 4.0, seorang pekerja harus memiliki kemampuan yang tidak akan bisa dilakukan oleh mesin. Misalnya, kemampuan untuk memecahkan masalah atau kreativitas.

Soft Skill adalah Kunci

World Economic Forum juga merilis 10 skill yang mutlak dibutuhkan para pekerja untuk bisa menghadapi perubahan pada 2020 dan seterusnya, terutama karena adanya Industri 4.0.

Skill tersebut di antaranya pemecahan masalah yang komplek, berpikir kritis, kreativitas, manajemen manusia, berkoordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, penilaian dan pengambilan keputusan, berorientasi servis, negosiasi, dan fleksibilitas kognitif.

Menariknya, lebih dari setengah skil tersebut merupakan soft skill. Artinya, soft skill menjadi salah satu faktor paling penting untuk dimiliki para pekerja di masa depan, seperti kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain, memecahkan masalah, serta aspek kecerdasan emosional lainnya.

Untuk itu, generasi milenial yang lahir pada medio 1980 – 1999 harus mulai mengasah soft skill mereka. Hal itu karena masa depan manufaktur Indonesia berada di tangan mereka.

Anissa Dea Widiarini

Anak-anak Minta 4 Hal Ini agar Mereka Bahagia

Kesehatan emosional sebagai seorang anak menjadi dasar untuk hidup yang lebih baik di masa dewasa. Namun, survei di Inggris justru menunjukan anak-anak dan remaja saat ini justru berada di titik kebahagiaan terendah dalam hidup mereka sejak 2010 .

Tim peneliti, HAPPEN (Health and Attainment of Pupils in a Primary Education Network) atau jaringan pendidikan siswa sekolah dasar, meneliti bagaimana meningkatkan kesehatan emosional dan kebahagiaan anak.

Mereka tidak menggunakan data dan statistik atau menanyakan para ahli apa yang menurut mereka paling baik, namun langsung berbicara pada sekitar 2.000 anak berusia 9-11 tahun dari jaringan sekolah dasar di South Wales, Inggris.

Peneliti mengajukan pertanyaan kepada anak-anak apa yang akan mereka ubah di daerah mereka untuk membuat diri mereka, teman-teman dan keluarga mereka lebih bahagia.

Jadi, apa yang paling diinginkan anak-anak? 4 Hal ini adalah ide paling umum yang diajukan anak-anak dari hasil survei tersebut:

1. “Beri Kami Lebih Banyak Tempat Bermain…”

“… anak-anak di tempatku berlari mengelilingi tempat parkir dan jalan setiap hari.”

Kurang dari 20% anak-anak menginginkan lebih banyak taman atau ruang hijau, atau untuk memperbaiki taman yang ada. Banyak taman di Inggris saat ini berada di titik krisis karena menurunya sumber daya dalam pengelolaan.

Beberapa alokasi pendanaan lebih ditujukan untuk taman yang lebih besar, sehingga mengabaikan pentingnya area lingkungan lokal yang lebih kecil. Padahal justru area lokal bermain lokal ini menjadi tempat utama di mana mereka bertemu dan bermain dengan teman-teman.

2. “Ciptakan Fasilitas Lokal di mana Kami Bisa Beraktifitas…”

“Buka gym untuk anak-anak.”

“Buka lebih banyak klub olahraga di daerah ini.”

Lagi, sekitar 20% jawaban berasal dari anak-anak menginginkan fasilitas olahraga yang dapat mereka datangi dan cocok untuk kelompok usia mereka. Mereka menginginkan klub olahraga yang lebih spesifik, seperti bola basket dan sepak bola, atau meminta lebih banyak tempat kegiatan yang lebih bebas seperti taman skate.

Menyediakan lebih banyak fasilitas lokal tidak hanya dapat membantu meningkatkan tingkat aktivitas anak yang sedang menurun, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan/kebahagiaan secara keseluruhan .

3. “Bersihkan Jalanan…”

“Hentikan untuk meninggalkan sisa rokok dan botol minuman di jalanan.”

“Akan lebih baik jika tidak ada sampah dan kotoran di mana-mana.”

Survei tahun 2018 dilakukan badan amal lingkungan Keep Wales Tidy menunjukkan sampah terkait rokok banyak ditemukan di hampir 80% jalanan Welsh dan sampah minuman di 43% jalanan Welsh.

Survei ini juga menyorot permasalahan sampah di mana 20% dari tanggapan survei berasal dari anak-anak meminta lingkungan lebih bersih, serta polusi lebih sedikit dan lebih banyak pohon.

4. “Buat Jalan Lebih Aman…”

“Pagar agar anak-anak bisa bermain dengan aman tanpa ditabrak mobil.”

Hampir 10% dari respon survei bicara soal keselamatan di jalan. Anak-anak berkomentar tentang perlunya jalan yang lebih aman di sekitar sekolah dan rumah.

Ini termasuk permintaan untuk lebih sedikit mobil di jalan, batas kecepatan, penyeberangan zebra dan lebih banyak petugas penyeberangan sekolah.

Telah ada inisiatif di Inggris yang berfokus membuat jalan-jalan lebih ramah anak. Namun, ini baru sebagian kecil, dan masih dibutuhkan tindakan pada tingkat kebijakan untuk membuat jalan lebih aman bagi anak-anak.

Melihat hasil survei, tim peneliti menemukan benang merah: anak-anak hanya ingin ruang yang aman untuk bermain dan aktif. Apa yang mereka minta bukan hal besar.

Saat ini, anak-anak berada di bawah tekanan yang sangat besar untuk mencapai target akademis dan hidup di dunia yang berfokus pada belajar demi menghadapi ujian.

Ini membuat bermain bukan menjadi prioritas. Padahal bermain sangat dibutuhkan agar anak mempelajari berbagai keterampilan dan kecakapan yang tidak dapat diajarkan di sekolah.

Nampaknya masyarakat perlu memberi perhatian lebih serius dalam menghargai dan membangun masa anak-anak yang lebih baik. Kita perlu memberikan tempat lebih tinggi untuk kebahagiaan anak dengan lebih dekat dan mendengarkan mereka.

Dan tidak kalah penting, menggunakan ukuran mereka tentang arti bahagia bagi mereka.

Yohanes Enggar Harususilo

Menggedor Potensi Wirausaha Generasi Milenial

UTS Insearch, jalur perkuliahan untuk Universitas Teknologi Sydney menggandeng Steven Tjan, Managing Director Boga Group Jawa Timur untuk memberikan inspirasi dan semangat entrepreneurship bagi siswa SMA di 4 kota Indonesia: Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar.

“Perkembangan siswa SMA saat ini sangat luar biasa dalam entrepreneurship. Mereka mampu memecahkan tantangan yang diberikan dengan ide dan kreativitas yang luar biasa,” jelas Steven dalam diskusi bersama media, 22 November 2018, di Jakarta.

Potensi Milenial Indonesia

Ada banyak ide menarik saat Steven memberi tantangan inovasi recyle kepada para siswa dalam berpartisipasi menjaga lingkungan.

“Idenya sangat luar biasa, mulai dari pemanfaatan sampah sebagai pengganti batu bata hingga vending machine yang dapat menukar sampah plastik dengan potongan SPP (uang sekolah),” cerita Steven.

Ia menambahkan, hal ini menunjukan potensi entrepreneurship generasi milenial Indonesia saat ini luar biasa.

Hal senada disampaikan Mariam Kartikatresni, Director Indonesia Development, UTS Insearch.

“Hal ini seiring dengan pernyataan Presiden Joko Widodo akan harapannya di Indonesia untuk bisa menghasilkan lebih banyak unicorn, mengikuti keempat perusahaan rintisan bernilai lebih dari US$ 1 miliar seperti Tokopedia, Go-Jek, Traveloka dan Bukalapak,” ujar Mariam.

Ia menambahkan, pendidikan menjadi langkah awal menuju kesuksesan dalam mengembangkan start up ini.

Kombinasi Pendidikan dan Pengalaman

Berkaitan dengan hal ini, Steven Tjan berharap para wirausahawan muda dapat menjadi sukses. Ia memberikan semangat kepada mereka agar terbuka terhadap pengetahuan, pengalaman, dan fokus pada tujuan hidup mereka.

“Untuk menjadi wirausahawan yang berhasil, kita harus memiliki minat tentang apa yang sedang kerjakan,” ujar Steven. “Saya selalu ingin menjadi pengusaha itu sudah ada dalam diri saya, saya senang menciptakan hal baru dan memecahkan sebuah persoalan.”

“Pendidikan universitas yang saya dapat sangat penting dalam membantu apa yang saya kerjakan. Cari kesempatan untuk terus belajar dan imbangi dengan pengalaman profesional sebelum kalian memulai sebuah bisnis,” jelas Steven yang merupakan alumni dari UTS Business School.

Steven menyelesaikan S1 dalam jurusan bisnis (Keuangan dan Teknologi Informatika) dan bekerja di Australia sebelum kembali ke Indonesia. Ia terus menggali pengalaman dan sekarang menjabat Managing Director dari Boga Group Jawa Timur, dengan portofolio besar di bidang retail makanan, minuman dan kafe.

Program Entrepreneurship dalam Kurikulum

Para pembicara dalam diskusi UTS Insearch membangun semangat entrepreneurship di generasi milenial. Para pembicara dalam diskusi UTS Insearch membangun semangat entrepreneurship di generasi milenial.(Dok. Kompas.com)

“Bisnis adalah area dinamis untuk dipelajari karena dapat memperluas bidang karir setiap orang, baik bekerja dalam perusahaan besar, atau menjadi bagian dari perusahaan start up yang inovatif,” kata Stefani Sugiarto, Manajer Mitra Regional UTS Insearch.

“S1 dalam jurusan bisnis di Universitas Teknologi Sydney adalah salah satu program sarjana yang paling banyak dikenal. Program ini menawarkan beragam jurusan, sub-jurusan dan pilihan sehingga siswa dapat menyesuaikan studi mereka dengan minat dan ambisi mereka, ” kata Stefani.

“Setelah siswa mengembangkan dasar dalam pemikiran lateral dan bidang pengetahuan utama, mereka akan lebih siap untuk berhasil di UTS dan seterusnya,” kata Stefani.

Menurutnya, Program UTS Insearch sangat unik karena mengembangkan keterampilan kuat dalam berpikir kritis, memecahkan masalah dan berinovasi.

Ia menambahkan UTS setidaknya memiliki 90 subyek mata kuliah terkait dengan entrepreneurship. Ia menambahkan, para mahasiswa dapat belajar tentang budaya kerja di Australia dengan lingkungan international. “Siswa UTS Insearch juga memperoleh kesempatan bergabung di berbagai acara dan kegiatan UTS start up untuk mendukung pengembangan awal keterampilan kewirausahaan mereka,” tutup Stefani.

Yohanes Enggar Harususilo

4 Permainan Edukatif untuk Mengisi Liburan Sekolah

Libur Lebaran dan sekolah yang jatuh bersamaan, membuat anak-anak memiliki waktu berlibur yang cukup panjang. Panjangnya waktu libur pun dimanfaatkan orangtua untuk melakukan perjalanan wisata ke beberapa destinasi.

Namun, tidak sedikit dari anak-anak yang menghabiskan waktu liburan di rumah.

Ketika mengisi waktu liburan sekolah panjang, penting bagi orangtua untuk merencanakan ragam kegiatan yang berkualitas untuk membangun kelekatan emosional, salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik.

Menurut Psikolog dan Founder Personal Growth, Ratih Ibrahim, semua aktivitas fisik dapat memberikan rangsangan untuk memancing respons yang dapat melatih tumbuh kembang otak anak.

Terlebih karena dapat mengembangkan beberapa aspek kecerdasan anak, meliputi aspek psikomotorik, kognitif, emosi dan psikososial.

“Yang paling penting, aktivitas yang diadakan oleh orangtua memberikan stimulasi untuk melengkapi life skills yang diberikan di sekolah. Ini penting dalam proses pembentukan karakter anak,” ucap Ratih saat ditemui VIVA baru-baru ini.

Ratih pun memberikan beberapa contoh jenis kegiatan edukatif yang mudah dan bisa diaplikasikan bersama si kecil di rumah.

Menggambar Menggunakan Jari-jari Tangan (Finger Painting)

Ajak si kecil menggambar menggunakan jari-jari tangannya dengan bahan-bahan alami yang ada di dapur Anda. Cukup gunakan tepung kanji dan pewarna makanan yang tersedia dan biarkan ia berkreasi sambil mewujudkan imajinasinya.

Melalui kegiatan ini, Anda akan melatih keterampilan motorik halus anak (sensori-motorik), kreativitas, kognitif (dengan mengenal bentuk dan warna), juga melatih empati dan komunikasinya dalam berkelompok.

Membuat Boneka atau Figure Head Gambaran Diri Anak (Me in a Puppet)

Apabila si kecil lebih suka berkreasi menggunakan kertas lipat, Anda bisa mengajaknya untuk membuat boneka kertas gambaran diri anak dari bahan-bahan yang mudah dicari.

Anda hanya memerlukan kertas lipat (origami), stik es krim, benang kasur, lem, gunting, serta kancing dan manik-manik sebagai pemanis boneka kertas yang akan dibuat.

Kegiatan ini akan melatih keterampilan motorik halus anak, mengembangkan daya imajinasi dan berkreasinya, serta mengajarkan anak untuk menuangkan ide dalam bentuk konkret. Selain itu, anak juga bisa belajar memahami diri, membangun kepercayaan diri, serta membangun konsep diri yang positif.

Keliling Kota dengan Transportasi Umum

Ajak si kecil berkeliling kota sambil memperkenalkan ragam transportasi umum yang ada di kota Anda. Selain mengenalkan transportasi umum, Anda juga bisa membawa si Kecil bepergian ke tempat-tempat wisata seperti museum, taman kota, atau perpustakaan yang tersedia di sekitar tempat tinggal Anda.

Untuk membuat jalan-jalan Anda bersama si kecil menjadi lebih berkesan, siapkan satu exercise yang memuat seputar hal-hal yang sekiranya bisa ditemui di jalan atau di tempat tujuan. Si kecil dapat diminta untuk menunjukkannya kepada Anda apabila menemukannya di jalan.

Bermain Mainan yang Bersifat Edukatif

Sebagai alternatif dari ragam aktivitas di atas, Anda juga bisa memanfaatkan mainan yang bersifat edukatif untuk anak. Seperti contoh, ELC Indonesia menyediakan ragam mainan seperti Drawing Activity Set untuk si Kecil yang hobi menggambar, Keyboom Board untuk anakyang senang bermain musik, Wooden Easel yang bisa dipakai jadi kanvas pertama untuk si Kecil, Storytelling Card dan “I want to be…” Puzzle yang dapat melatih kreativitas si Kecil.

Tasya Paramitha

Pendidikan yang Tidak Biasa

Suatu hari, beliau bercerita yang tampak sebagai pikiran orang sederhana, tapi justru menghunjam dan mengaduk-aduk perasaan saya.

Auguste Comte (1798-1857), filsuf Prancis, bisa dikatakan berpikir cemerlang dalam menguak fenomena sosiologi agama, tapi dia bukanlah seorang pakar agama. Namun Comte melihat fenomena umat beragama itu dengan refleksi filosofis, tidak pada substansi umat (ajaran) agama.

Skema yang diajukannya tampak lebih cocok untuk agama-agama tingkat suku (primitif). Jika ditarik pada agama samawi, maka pandangannya, refleksi filosofisnya, tampak terlalu sederhana dan tidak menjawab persoalan yang ada.

Jika menilik fenomena masyarakat modern, yang tumbuh dengan semangat kembali pada inti ajaran agama, maka agama masih mempunyai daya pikat yang (justru) makin menggelora. Perlawanan agama terhadap sekularisme menemukan bentuknya untuk berhadap-hadapan, dan itu tampak menggejala.

Tidak salahlah jika John Naisbitt dan Patricia Aburdance, dalam Megatrend 2000, berani menyimpulkan bahwa abad ini adalah abad kebangkitan agama-agama. Menurut pendapatnya, agama akan muncul sebagai kekuatan sosial yang dahsyat.

Maka tulisan saya ini akan menilik fenomena pada sebagian masyarakat dimana agama (Islam) ditempatkan dalam posisi terhormat, dan itu mengacu pada kitab sucinya, Alquran…

Kitab suci Alquran yang begitu tebal itu menjadi tren dihafal dengan begitu baiknya. Menghafal Alquran (tahfidz), menjadi corak masyarakat modern, yang dalam skala tertentu bisa jadi mencoba melawan hegemoni yang cenderung memilih hidup dengan asumsi-asumsi duniawi semata, terutama dalam bidang pendidikan.

Bertebaranlah pendidikan penghafal Alquran (Rumah-rumah Tahfidz) bak jamur di musim hujan. Fenomena itu muncul justru di kota-kota besar, yang secara sosiologis sulit diurai benang merahnya, tapi bisa jadi itu bagian dari upaya membentengi diri dari keruntuhan bangunan moral.

Tulisan ini menilik satu keluarga muslim harmonis, yang karena pilihan-pilihannya pada pendidikan anak-anaknya memilih jalur khusus, jalur yang tidak biasa, yaitu pendidikan menghafal Alquran menjadi prioritas utama bagi pendidikan anak-anaknya.

Kisah Seorang Kawan

Namanya Hamid Baraja, seorang kawan yang memiliki enam anak (tiga perempuan dan tiga lelaki). Pak Hamid asal kota Solo, menikah dan menetap di Surabaya, meski bisnisnya juga ada di Solo. Dia bagi waktunya antara Surabaya dan Solo.

Apa hebatnya kawan yang satu ini sehingga saya perlu repot-repot menuliskan khusus tentangnya? Namanya tidak pernah tersemat dan dibicarakan di media mana pun. Namun justru karena itulah, saya perlu menuliskannya. Bukan apa-apa, kisah Pak Hamid dan keluarganya begitu menarik, karena berpikirnya out of the box, meski dia tidak menyadarinya.

Hidupnya berkecukupan, bahkan kaya tidak dalam sekadar hitungan materi, tapi lebih dari itu, yaitu dia pandai berkongsi dengan Tuhan dalam memenej keluarganya…

Pak Hamid punya prinsip yang sederhana, bahkan simpel untuk ukuran masa kini tapi justru dahsyat. Prinsipnya dalam mengelola rumah tangga dengan ukuran-ukuran yang tidak biasa, khususnya bagi pendidikan anak-anaknya…

Memiliki enam orang anak bukan perkara mudah dalam memenejnya. Pak Hamid memilih konsep pendidikan dengan penekanan khusus dan utama, yaitu anak-anaknya “diharapkan” bisa menghafal Alquran dengan baik. Maka semua anaknya diarahkan pada jalur itu, pendidikan menghafal Alquran. Pilihannya tampak “aneh”, dimana keluarga besarnya dan lingkungan sekitar lebih memilih pendidikan formal pada anak-anaknya, tapi Hamid memilih jalannya sendiri.

Anaknya tiga perempuan, dan tiga lelaki… Yang pertama, Nisma namanya, perempuan, Sarjana Arsitektur (sudah menikah). Hanya mampu menghafal Alquran sekitar lima belas juz. Suatu ketika Hamid berkisah, bisa jadi hafalan Alquran anaknya itu terbebani dengan pendidikan formal yang dijalaninya. Pendidikan formalnya selesai, tapi mengorbankan hafalan Alqurannya, sedikit sesalnya…

Anak keduanya, Nada, perempuan, baru lulus SLTA, hafal Alquran tiga puluh juz (Hafidhah). Adiknya, anak ketiga yang juga perempuan, Adila, masih duduk di SLTA, yang juga hafidhah…

Lalu anak keempatnya, Ammar, yang duduk di SLTA yang berbasis agama, yang juga mencetak siswa penghafal Alquran. Anak kelimanya, Muhammad (16 tahun), pendidikan Pondok Pesantren di Solo. Muhammad hafal Alquran tiga puluh juz (al-Hafidz)… Saat i’tikaf malam kedua puluh enam bulan Ramadhan ini, di Masjid al-Ikhlash, di kawasan Tanjung Perak Surabaya, dia menjadi imamnya. Suaranya yang masih kekanak-kanakan, namun merdu dengan mahraj bacaan yang baik, membuat kekaguman tersendiri.

Dan sang adik yang bungsu, Abdurrahman (SLTP), juga mengikuti jejak kakaknya, yang juga mengenyam pendidikan Pondok Pesantren di kota yang sama.

Saya terkagum dengan Pak Hamid ini dalam memenej anak-anaknya. Suatu hari, beliau bercerita yang tampak sebagai pikiran orang sederhana, tapi justru menghunjam dan mengaduk-aduk perasaan saya. Begini…

Saya berpikir, bahwa menghafal Alquran itu suatu keharusan. Dengan mampu menghafal Alquran itu sama saja dengan menjaga Kalamullah. Saya sendiri tidak hafal Alquran, katanya, tapi saya berharap pada anak-anak agar hidup lebih mengutamakan yang prinsip dulu, baru kemudian yang lainnya…

Menghafal Alquran dan mempelajari ilmu agama adalah hal prinsip, dan mencari ilmu duniawi itu sampiran yang mengikutinya. Tambahnya, apalagi saat ini banyak perguruan tinggi negeri dan swasta ternama sudah mengapresiasi para calon mahasiswanya, baik al-hafidz maupun hafidhah diterima tanpa tes masuk…

Jika nantinya anak-anak akan meneruskan pendidikan pada ilmu-ilmu lain, ya silakan. Jika tidak, mereka sudah punya bekal hidup yang baik. Saya yakin, anak-anak yang membela agama Allah, akan juga dipermudah Allah dalam kehidupannya. Saya bertawakal kepada Allah atas anak-anak saya, ucapnya.

Prinsip hidupnya itu tentu mendapat sokongan dari sang istri Feriyal Bawazer, yang memiliki pandangan dan prinsip yang sama dengan suaminya. Jika tidak, mustahil beliau bisa mewujudkan “sebuah karya” memaknai kehidupan, khususnya pendidikan bagi anak-anaknya yang tidak biasa itu dengan baik. Pasangan hidup yang serasi yang dihadirkan dan menghasilkan anak-anak yang juga luar biasa.

Bahagia Dunia Akhirat

Para hafidz dan hafidhoh mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi dalam pandangan Allah. Tidak itu saja, anggota keluarga inti, terutama ayah ibu akan mendapatkan kedudukan istimewa…

Allah akan memberikan kepada para penghafal Alquran kelak di akhirat, “mahkota kehormatan”. Sesuai dengan hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Baginda bersabda: Orang yang hafal Alquran kelak akan datang, dan Alquran akan berkata, ‘Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.’ Maka orang tersebut diberi mahkota kehormatan…

Alquran berkata lagi, ‘Wahai Tuhan, tambahkanlah pakaiannya.’ Kemudian orang itu diberi pakaian kehormatannya. Alquran berkata lagi, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Maka kepadanya dikatakan, ‘Baca dan naiklah.’ Dan untuk setiap ayat [yang dibacanya], dia diberi tambahan satu kebajikan.” (HR. at-Tirmidzi).

Banyak pula hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan para penghafal Alquran… Tidak saja bagi para hafidz dan hafidhoh itu sendiri keutamaan itu diberikan, tapi orangtua para penghafal Alquran pun akan mendapatkan pertolongan…

Sebagaimana hadits riwayat Buraidah al-Aslami Radhiyallahu Anhu, dia berkata mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada Hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya (orangtuanya) bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran’.” (HR. al-Hakim).

Barangsiapa yang membaca (menghafal) Alquran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian, hanya saja tidak ada wahyu baginya…” (HR. al-Hakim).

Pak Hamid dan sang istri bukanlah orang yang sederhana dalam berpikir. Pikirannya tampak sederhana di pandangan khalayak yang mengabdikan diri pada materi semata. Namun, sebenarnya dia berpikir dan sekaligus bertransaksi dengan Tuhan untuk mendapatkan peruntungannya yang kekal di akhirat… Anak-anaknya akan memakaikan jubah kemuliaan padanya dan sang istri, pertanda dia lulus sebagai orangtua bagi “pendidikan” anak-anaknya… Wallahu A’lam.

Ady Amar
Pemerhati Sosial Keagamaan

Bijak Hadapi Revolusi Industri 4.0

Dalam sebuah acara buka puasa bersama, Presiden Jokowi beramah-tamah dengan sekitar seratusan peserta, undangan khusus, sebagian besar anak muda dalam suasana lesehan sederhana.

Hanya sedikit dari mereka mengenakan jas atau batik, sebagaimana lazimnya mereka yang akan berhadapan dengan Presiden. Rata-rata usia peserta masih 30-an. Beberapa bahkan mengenakan kaus dengan tulisan tertentu di bagian depan.

Melihat suasana lesehan yang berdesak-desakan, secara kasat mata, pertemuan ini bagai sebuah jamuan kecil dan santai. Padahal di balik itu, ada kekuatan besar yang tidak bisa dianggap remeh.

“Satu atau dua orang yang hadir di sini, punya pengaruh terhadap 20 sampai 30 juta penduduk Indonesia,” kata pembawa acara.

Bahkan, sebenarnya bisa lebih dari itu karena yang datang adalah praktisi digital terkuat. Ada perwakilan dari Facebook, Google, Apple, pemilik market place, blogger berpengaruh, serta pebisnis besar digital industri. Saya sendiri (diwakilkan), diundang dalam kapasitas sebagai salah satu pendiri Komunitas Bisa Menulis atau KBM, salah satu komunitas penulis terbesar di Facebook.

“Secara singkat, peserta di sini bisa menjangkau segenap rakyat Indonesia.” lanjut pembawa acara. Kalimat sederhana itu mewakili apa yang bisa terjadi pada masa depan.

Buka puasa bersama kali ini memang bertemakan “Masa Depan dan Konsep Indonesia 4.0”. Presiden Jokowi kembali menegaskan, betapa Indonesia harus siap menghadapi revolusi Industri ke-4 yang menurut sang Kepala Negara, kecepatannya 3.000 kali lipat lebih cepat dari revolusi industri lainnya.

Jika alih teknologi industri pada masa lalu memerlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk berpindah ke lokasi lain, pada era internet ini hanya memerlukan beberapa detik. Perubahan di Amerika bisa langsung berpengaruh ke Indonesia.

Anak-anak muda yang hadir sangat mungkin menjadi representasi gambaran masa depan.

Jumlah sedikit orang akan memengaruhi begitu besar perubahan. Salah satu indikasi yang akan terjadi ketika internet menguasai dunia, dan ini sudah terbukti. Tercatat sebuah lembaga survei bisa mempengaruhi hasil pemilihan presiden di Amerika. Sebuah twit influencer yang tidak lebih dari 140 karakter, mampu membuat perusahaan Snap Chat rugi triliunan.

Tidak ada simbol dan formalitas dalam komunitas digital, semua bergantung kualitas. Lihat Mark Zuckerberg pemilik Facebook, kesehariannya hanya memakai kaus oblong. Sergey Brian pemilik Google, bisa menemui pejabat sekelas kepala negara dengan celana selutut yang sangat informal. Mereka tidak lagi dilihat berdasarkan penampilan, sebab gerak-geriknya jelas berpengaruh terhadap ratusan hingga miliaran manusia di dunia.

Tidak ada seleksi ketat dalam strata industri digital. Untuk menjadi anggota DPR, seorang politikus harus berjuang lama, melakukan kampanye dan menghabiskan biaya besar. Para influencer digital, sanggup memberi pengaruh tidak kalah kuat, tanpa melewati seleksi formal. Mereka dapat memberi sugesti besar tanpa melewati prosedur rumit formal.

Meski demikian, sebuah perubahan ada harga, juga dampaknya. Termasuk revolusi 4.0.

Ketika e-toll diberlakukan, puluhan ribu pekerja kehilangan penghasilan tetap. Ketika taksi daring merebak, taksi konvensional banyak yang gulung tikar. Jika itu harga sebuah perubahan, memang tetap harus dibayar, sekalipun demikian perlu sebelumnya diantisipasi.

Namun, perubahan ini juga mempunyai dampak. Hoaks bukan harga perubahan yang harus dibayar, melainkan dampak negatif industri 4.0. Satu orang bisa merusak nasib satu pihak atau meruntuhkan kebaikan yang dirintis puluhan tahun hanya dengan sebuah hoaks yang viral.

Di dunia penerbitan dampaknya lebih terasa. Perubahan buku konvensional menjadi e-book memberikan harga perubahan yang berimbas pada tersebar luasnya penjualan buku bajakan di internet. Jika dulu seseorang harus ke pasar ilegal untuk membeli buku bajakan, kini dengan handphone di tangan siapa saja bisa dengan mudah membeli buku bajakan secara daring di toko daring resmi.

Sayangnya, pembeli sering tidak tahu mana buku asli dan bajakan karena pada gambar display semua terlihat sama.

Untuk sebuah bangsa yang masih berjuang meningkatkan minat baca, jika tidak diantisipasi dini, bisa jadi pada masa depan dunia penerbitan konvensional hancur, buku-buku tidak terbit dan dampaknya – anak Indonesia hanya bergantung pada informasi digital yang sebagian besar sulit dipertanggungjawabkan.

Tugas pemerintah bukan hanya menggalakkan Industri 4.0 melainkan menyiapkan langkah antisipasi atas berbagai dampak yang akan terjadi. Tanpa itu, industri ini bukan menjadi awal kemajuan, malah menjerumuskan banyak orang dalam kehancuran.

Asma Nadia

Membaca Kunci Sukses Generasi Muda

Generasi muda merupakan aset yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Kualitas generasi muda sangat ditentukan dengan kompetensi dan hubungan sosial satu sama lain. Meningkatkan kompetensi salah satunya dengan bagaimana mendapatkan informasi yang utuh dan benar.

Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa lansung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.

Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDM nya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini.

Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri. Ribuan buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu anak-anak dan remaja kemudian didisiplinkan untuk membaca buku setiap hari.

Alhasil, misi inilah yang membuat jepang cepat bangkit dari keterpurkannya. Tak heran jika kita melancong ke Jepang banyak masyarakat di sana kita lihat sedang membaca buku di tempat-tempat umum. Inilah nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Jepang untuk membiasakan budaya membaca agar meningkatkan pengethauan dan kualitas SDM masyarakatnya.

Selain di Jepang, negara yang memiliki budaya baca tinggi adalah Finlandia. Menurut John W. Miller negara yang terletak di Eropa Utara ini terkenal dengan negara paling literat di bidang literasi di seluruh dunia. Langkah yang dilakukan oleh negara ini untuk meningkatkan minat baca di antaranya dengan penyediaan maternity pakage (paket perkembangan anak) yang diberikan oleh pemerintah kepada orang tua yang baru memiliki anak dengan memberikan beberapa perlengkapan bayi yang disisipkan dengan buku bacaan untuk orang tuanya maupun untuk bayinya, fasilitas perpustakaan yang sudah tersebar dimana-mana, budaya membaca yang turun temurun dilakukan dengan mewajibkan anak-anaknya wajib membaca satu buku perminggu, tradisi orang tua yang suka mendongeng, dan dari strategi dari pengalihan suara acara televisi dan film ke dalam bahasa lain yang kemudian diberi bantuan subtitles agar anak rajin membaca. Kebiasaan inilah yang membuat Finlandia sebagai negara tingkat pendidikan nomor satu di dunia dan kualitas SDM yang hebat.

Bagaimana Budaya Membaca di Indonesia?

Soal minat baca masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Beberapa data yang ada, Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan yang dilakukan di 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden dalam beberapa tahun belakangan ini, ditemukan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah yaitu hanya 25,1persen. Tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.

Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air. Disamping itu kondisi dan fasilitas perpustakaan serta buku bacaan bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah-daerah. Jika ada pun program-program yang ditawarkan masih berjalan setengah-setengah, perpustakaan masih menjadi tempat yang sepi, terkesan angker dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, padahal anak-anak dan warga biasa juga perlu akses terhadap bahan bacaan.

Gerakan Membaca “Itu Bermanfaat” dan Dilakukan oleh Semua Stakeholder

Dalam Agama Islam, ayat “Iqra” (bacalah) dalam surat al-Alaq menjadi ayat/wahyu yang pertama yang turun. Membaca merupakan sesuatu aktivitas baik dan bermanfaat. Tentunya dengan Membaca sesuatu yang bermanfaat dan diridhoi Allah SWT akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.

Budaya membaca akan muncul dari kebiasaan, kalau tidak dibiasakan, kapan akan menjadi biasa? Kegitan membaca ini harus dilakukan secara masal dan terus menerus agar timbul kebiasaa tersebut dan akan melekat menjadi kebutuhan. Beberapa lembaga juga telah membentuk suatu gerakan untuk membiasakan masyarakat Indonesia untuk membaca, diantaranya adalah Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Membaca, Program Pengembangan Budi Pekerti, Program Duta Baca Indonesia, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Taman Baca Masyarakat, Perpustakaan Desa hingga Perpustakaan Keliling yang bergerak di desa-desa terpencil. Namun gerakan-gerakan ini sepenuhnya belum didukung pemerintah secara maksimal, karena masih banyak kelemahan di mana-mana, mulai dari koleksi buku yang kurang hingga SDM yang tidak memadai.

Kalau saya boleh bilang saat ini justru sinergi dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba justru yang lebih massif dan maksimal, seperti Gerakan 1001 Buku yang fokus pada pendistribusian buku anak dan penguatan taman baca anak berkomitmen untuk meningkatkan akses sumber bacaan khususnya bagi anak-anak agar mencintai dunia literasi sejak dini. Mereka ini adalah pejuang tanpa pamrih yang berjiwa besar untuk meningkatkan kualitas SDM bangsa dengan tangannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Kita dapat melihat contoh yang dilakukan oleh POS Indonesia, ia juga sudah meluncurkan satu layanan baru untuk bersinergi dalam membangun budaya membaca di Indonesia yaitu dengan memberikan layanan pengiriman buku gratis yang akan didonasikan di setiap tanggal 17. Hal-hal semacam itu menjadi langkah awal untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia untuk membangun karakter bangsa ini dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Nah, diharapkan BUMN-BUMN lain juga bisa meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh POS Indonesia untuk berperan mencerdaskan bangsa sesuai dengan model kerjanya masing-masing.

Selain meningkatkan akses terhadap sumber bacaan, gerakan pembiasaan baca buku pun perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya bagi lembaga tertentu untuk meningkatkan budaya membaca dan pemberantasan buta huruf adalah tanggung jawab kita semua. Contohnya salah satu founder startup pendidikan di Indonesia, Iman Usman yang berperan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan memanfaatkan salah satu media sosial yang ia miliki, pemuda ini membuat gerakan membaca dengan menuliskan tagar #sabtubelajar untuk mengajak seluruh masyarakat agar memanfaatkan waktu senggangnya dengan membaca. Hal kecil seperti ini yang dapat meningkatkan budaya baca di Indonesia dan dapat menjadikan tren bagi masyarakat khususnya bagi pemuda untuk membaca sehingga dapat meningkatkan kualitas SDMnya.

Peran Generasi Muda

Pada tahun 2020-2035 Indonesia akan mulai memasuki masa emasnya dengan bonus demografi, pada tahun tersebut pertumbuhan usia produktif akan lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktifnya. Ini merupakan bonus yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun bangsanya, namun jika tidak diiringi dengan budaya membaca, Kondisi bangsa Indonesia mengalamai tantangan untuk mencapai masa emasnya ini.

Generasi muda sebagai tonggak kemajuan bangsa harus membiasakan diri untuk membaca agar mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Pada mulanya mungkin mereka merasa dipaksa untuk membaca tapi di masa depan mereka menjadi tahu ternyata budaya membaca menjadi rumus sukses mereka untuk mengatarkan mereka menjadi orang maju dan negara yang maju.

Oleh karena itu, budaya membaca sangatlah penting dalam membangun suatu bangsa. Tips memulai membaca dari yang termudah untuk dilakukan oleh generasi-generasi muda dalam meningkatkan minat baca adalah dengan memulai membaca dari topik yang kita sukai, terlebih saat ini akses terhadap internet pun sangat mudah sehingga kita bias membaca kapan saja dan darimana saja tak terhalang tempat dan waktu. Kita harus sadar bahwa dengan membiasakan membaca akan membentuk karakter dan meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang hebat.

Bulan Ramdhan adalah Moment yang Tepat

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk membudayakan membaca. Bulan Tarbiyah ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Bagaimana generasi muda mengisi waktu dari mulai sahur sampai menjelang buka puasa dengan membaca Alquran. Kita masih mengingat pada saat sekolah, berapa target kita membaca Alquran dalam sehari dan sebulan? Banyak orang yang mentargetkan Khatam Alquran pada bulan Ramadhan. Ada yang melakukannya dengan sendiri dan ada juga yang melakukannya bersama-sama dengan Tadarus Alquran setelah shalat Tarawih. Dari kebiasaan ini akan menjadi perilaku dan budaya membaca yang baik.

Dr Misbah Fikrianto MM MSi
Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Tetap Belajar Meski Jadwal Kerja Super Sibuk

Karier Anda terus bergulir dan 24 jam seakan tak cukup untuk bekerja. Anda tak bisa lagi melakukan banyak hal untuk diri sendiri sebelum dan sesudah bekerja.

Ketika itu terjadi, hal-hal yang dahulunya penting kini menjadi angin lalu, termasuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Berikut adalah tips super supaya Anda tetap bisa belajar di tengah padatnya jadwal kerja, dilansir dari The Muse, Sabtu (20/4).

 1. Intip YouTube

Pekerja manapun pasti sempat membuka YouTube di tengah padatnya rutinitas. Lakukan sesuatu yang menarik untuk subyek pekerjaan Anda. Ada banyak YouTuber berbagi berbagai pengetahuan.

Banyak keterampilan bisa Anda dapatkan secara gratis di dunia maya ini. Seberapa serius Anda mengikuti instruksi para YouTuber itu? Semua terserah pada Anda.

Anda mungkin bisa mempertajam keterampilan Exel, Photoshop, dan berbagai program yang diperlukan dalam pekerjaan Anda sehingga pekerjaan yang berat pun bisa terasa ringan. Carilah kredibilitas di dalamnya, sehingga Anda semakin menjadi profesional.

2. Temukan Mentor Kerja

Seorang mentor kerja dapat memberi saran dan bimbingan baik untuk Anda. Ini adalah harga tak ternilai untuk menumbuhkan kehidupan pribadi dan profesional Anda tanpa memerlukan banyak waktu.

Mentor terbaik adalah rekan kerja atau senior Anda di kantor. Mereka dapat mentransfer ilmu pengetahuan berharga yang terkumpul melalui pengalaman. Jika mereka mengenal Anda, kekuatan dan kelemahan Anda, mereka bisa mendorong Anda tumbuh dinamis, tak lagi stagnan.

Beberapa tempat kerja bahkan mengatur program mentoring formal berdasarkan jenjang karier. Senior-senior di divisi Anda, pertemuan dengan jaringan, grup alumni, dan Linkedln bisa menjadi media.

3. Gunakan Audiobook

Membaca buku sangat perlu dalam pembelajaran di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sayangnya jam kerja membuat Anda tak sempat membaca. Audiobook membantu karena menjadi media pembelajaran alternatif.

Anda hanya membutuhkan telepon, ponsel,atau podcast untuk mendengarkan materi-materi pembelajaran yang dibacakan orang lain. Jadi, tidak ada alasan untuk mendengarkan dan belajar.

Mutia Ramadhani

Jalan Ilmu dan Kebajikan

Duduk di deretan kursi paling belakang, saya menyimak penuturan Sridala Suwarmi, sesama penulis yang diundang mengikuti International Writers Program (IWP) di Iowa, Amerika Serikat. Penyair dari India tersebut menyinggung sebuah naskah berusia 2.000 tahun yang belum lama ditemukan di negerinya.

Saat itu, IWP mengundang 34 penulis dari 31 negara untuk tinggal selama 81 hari dalam program penulis tamu paling prestisius, menurut banyak penulis dunia. Salah satu yang kami lakukan di sana selain membacakan karya di ruang publik, adalah berbagi proses kreatif, baik di Iowa University–seperti yang dilakukan Sridala dan kami semua.

Upaya berbagi wawasan dan pengalaman proses kreatif juga ditujukan kepada khalayak lain, anak-anak sekolah menengah atas, sampai senior citizen atau para orang tua. Lalu, berapakah usia tulisan tertua di dunia yang pernah ditemukan? Jika tidak salah 8.000 tahun, di Bulgaria.

Sebuah naskah tulis memiliki daya tahan luar biasa untuk melampaui berbagai zaman. Abadi, meski penulisnya telah pergi. Menulis merupakan ikhtiar untuk abadi. Sebuah alasan jitu bagi siapa saja yang ingin meninggalkan jejak lebih lama, bahkan setelah kita tak lagi di dunia.

Seorang penulis akan tetap eksis lewat tulisan-tulisannya, menjelma diskusi panjang di kalangan pembaca hingga pemerhati sastra. Bagi seorang Muslim, menulis juga merupakan upaya sedekah ilmu. Banyak keutamaan dilimpahkan untuk mereka yang mengajarkan ilmu atau mengajak pada kebaikan.

Amal yang tetap mengalirkan pahala bagi penulisnya, jika prosesnya dilandasi keikhlasan. Ikhtiar untuk meninggalkan mesin yang dengan izin Allah akan terus mengalirkan ganjaran kebaikan bagi pemiliknya, meski dia sudah berpulang.

Mengingat setiap manusia tak luput dari dosa, dan tak satu pun kita boleh merasa aman, yakin pasti masuk surga, maka tidakkah keberadaan mesin “pahala” tersebut menjawab kekhawatiran akan tak cukup banyaknya amal kebajikan selama masa di dunia? Atau sedikitnya di antara rangkaian amal yang dikerjakan dengan keikhlasan terjaga; di awal, selama proses, hingga selesainya?

Mereka yang tidak menulis, tidak mewariskan ilmu pada generasi penerus, seluruh pengetahuannya ikut terkubur bersama jasad, terbenam di dalam bumi ketika usianya selesai. Pun, bagi seorang Muslim, menulis juga salah satu jalan menjadi sebaik-baiknya manusia. Sebagaimana Rasulullah sampaikan, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Di era digital seperti saat ini, sebenarnya terbuka ruang lebih luas, alias justru menjadi lebih mudah untuk mendulang pahala. Tulis sesuatu yang baik, buat tulisan positifmu menjadi viral, yang setiap dibagikan dan makin banyak dibaca mengalirkan pahala buat penulisnya. Bahkan, tangan-tangan yang membagi tulisan baik pun ikut mendulang pahala.

Sebaliknya, hindari diri dari menjadi penulis yang menyebarkan keburukan atau berbagi keburukan. Sebab, Allah juga mencatat setiap peran kita dalam membagi dan memopulerkan keburukan.

Contohnya buku Prince karya Machiavelli, yang memberi ilham pada Hitler, Mussolini, Stalin, dan Mao Tse Tung untuk memimpin dengan tangan besi dan kekerasan.

Saya teringat sebuah kata mutiara, membaca membuat kita mengenal dunia, tapi menulis membuat dunia mengenal kita. Bahkan lebih dari itu, bisa menyelamatkan kita tidak hanya di dunia, juga di akhirat kelak.

Asma Nadia

Deklarasi Antihoaks yang Masif dan Budaya Literasi

Iringan musik dangdut terdengar dari halaman kantor Wali Kota Bekasi di Jalan Jendral Ahmad Yani, Ahad (11/3). Lebih dari seratus orang berada di depan panggung berjoget dan menggerakkan badan mengikuti iringan lagu yang dilantunkan seorang penyanyi perempuan.

Seusai penyanyi tersebut melantunkan dua lagu, dua orang MC, terdiri dari laki-laki dan perempuan, naik ke atas pentas dan menyapa para penonton di halaman kantor wali kota. Keduanya melontarkan lelucon bahwa para penonton lebih suka menggerakkan tubuh untuk berjoged dangdut daripada berolahraga.

Di sela-sela percakapan tersebut, kedua MC menyampaikan juga pesan antihoaks dan meminta para penonton untuk berhati-hati menyebarkan pesan lewat media sosial, baik media sosial berjaringan seperti Facebook atau percakapan seperti WhatsApp. Tidak hanya itu, acara ini juga menghadirkan komunitas anak muda Bekasi Smart Influencer dan perwakilan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya untuk berbicara mengenai antihoaks.

Pesan-pesan antihoaks yang dikemas dengan hiburan, doorprize, dan pasar atau bazaar ini dikemas oleh Pemerintah Kota Bekasi dalam acara Fun Day Stop Hoax Bekasi Smart City. Acara itu sekaligus dilakukan bersamaan dengan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day di Jalan Ahmad Yani serta memperingati hari ulang tahun Kota Bekasi ke-21 tahun.

Kota Bekasi bukan satu-satunya daerah yang mengkampanyekan antihoaks. Deklarasi antihoaks banyak didengungkan oleh banyak daerah belakangan ini menyusul meningkatnya penyebaran berita-berita palsu, bohong, dan kabar fitnah di media sosial.

Pada 15 Desember 2017, misalnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan diskusi yang menggandeng jurnalis dan pegiat media sosial. Kampanye antihoaks juga dilakukan oleh jajaran kepolisian dan kelompok masyarakat seperti nelayan di Cilncing.

Presiden Joko Widodo pun menguraikan pesan-pesan antihoaks dalam pidatonya. Jokowi menilai berita hoaks sengaja diciptakan untuk memperkeruh suasana.

Ia pun mengibaratkan media sosial seperti media yang tanpa redaksi dan digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang merugikan. Dia mengatakan media sosial digunakan menyampaikan berita bohong, hoaks, saling menghujat dan juga ujaran kebencian.

Peningkatan aktivitas kampanye antihoaks di daerah ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik di tanah air. Tahun ini dan tahun depan merupakan tahun politik di Indonesia.

Tahun ini, Indonesia akan menyelengarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 di 117 daerah. Sebanyak 17 daerah merupakan setingkat provinsi atau pemilihan gubernur, termasuk gubernur di daerah dengan banyak pemilih seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pada 2018 ini juga partai politik akan sibuk mempersiapkan pesta demokrasi terakbar tahun depan. Ya, pada 2019, Indonesia akan menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) serentak, yakni pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden secara bersamaan.

Bagi kegiatan kehumasan pemerintah, kampanye merupakan bagian dari pemasaran sosial. Kampanye yang dilakukan oleh instansi atau lembaga, baik di daerah maupun pusat, merupakan upaya untuk  menyampaikan informasi, memberikan pesan-pesan mendidik, dan mengajak orang melakukan sesuatu atau persuasi. Philip Kotler dan Eduardo L Roberto (1989) menyatakan pemasaran sosial adalah strategi untuk mengubah perilaku.

Hal yang kemudian terlintas dalam pikiran saya ketika menyaksikan, atau membaca, atau mendengar deklarasi antihoaks terkait efektivitas deklarasi-deklarasi tersebut untuk meminimalisir penyebaran hoaks di masyarakat. Pertanyaan lain yang muncul, yakni apakah masyarakat sebenarnya memahami apa itu hoaks, berita bohong, berita palsu, dan kabar fitnah?

Apakah masyarakat mampu mengidentifikasi sebuah pesan mengandung kabar bohong? Atau jangan-jangan, ada lebih banyak masyarakat yang justru menganggap segala apa yang tertulis dan disebarkan melalui pesan percakapan mengandung sebuah kebenaran?

Kita sekarang berada di era revolusi teknologi komunikasi. Pada era sekarang yang memaksa orang berpikir dalam jangka pendek, sesuatu yang viral menjadi penanda kebenaran, status yang banyak dibagikan menjadi ukuran informasi bisa dipercaya, unggahan yang banyak mendapat tanda suka atau like berarti bisa diipertanggungjawabkan.

Dalam kondisi tersebut, selain kampanye yang dikemas dengan hiburan dan hadiah, hal yang juga perlu digencarkan oleh pemerintah adalah melakukan literasi digital. Literasi atau kemampuan membaca di negara ini sudah menjadi persoalan sebelum internet masuk dan berkembang pesat seperti sekarang.

Komentar tentang buruknya budaya literasi menghiasi sejumlah pemberitaan di masa lalu. Rendahnya kemampuan membaca ini berimplikasi pada tontonan televisi yang lebih banyak mengedepankan acara humor dengan pukulan dan candaan kasar. Sekarang, rendahnya kemampuan membaca atau literasi membuat orang lebih senang dengan informasi-informasi sensasional dan mudah dilupakan alias cepat menghilang.

Karena itu, dengan selalu munculnya hoaks serta kekhawatiran berita bohong dan kabar fitnah pada penyelenggaraan Pemilu 2018, pemerintah seharusnya tidak hanya melakukan kegiatan promosi alias kampanye yang berada di permukaan. Pemerintah juga selayaknya melakukan kampanye hingga ke tingkat masyarakat terkecil, yakni rukun tetangga (RT), untuk mengajarkan mereka tentang literasi digital seperti tidak semua hal yang tertulis di internet adalah kebenaran, mengidentifikasi pesan melalui aplikasi percakapan yang tidak bisa diverifikasi, atau cara mengenali pesan yang memuat kabar bohong dan fitnah.

Ratna Puspita