4 Permainan Edukatif untuk Mengisi Liburan Sekolah

Libur Lebaran dan sekolah yang jatuh bersamaan, membuat anak-anak memiliki waktu berlibur yang cukup panjang. Panjangnya waktu libur pun dimanfaatkan orangtua untuk melakukan perjalanan wisata ke beberapa destinasi.

Namun, tidak sedikit dari anak-anak yang menghabiskan waktu liburan di rumah.

Ketika mengisi waktu liburan sekolah panjang, penting bagi orangtua untuk merencanakan ragam kegiatan yang berkualitas untuk membangun kelekatan emosional, salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik.

Menurut Psikolog dan Founder Personal Growth, Ratih Ibrahim, semua aktivitas fisik dapat memberikan rangsangan untuk memancing respons yang dapat melatih tumbuh kembang otak anak.

Terlebih karena dapat mengembangkan beberapa aspek kecerdasan anak, meliputi aspek psikomotorik, kognitif, emosi dan psikososial.

“Yang paling penting, aktivitas yang diadakan oleh orangtua memberikan stimulasi untuk melengkapi life skills yang diberikan di sekolah. Ini penting dalam proses pembentukan karakter anak,” ucap Ratih saat ditemui VIVA baru-baru ini.

Ratih pun memberikan beberapa contoh jenis kegiatan edukatif yang mudah dan bisa diaplikasikan bersama si kecil di rumah.

Menggambar Menggunakan Jari-jari Tangan (Finger Painting)

Ajak si kecil menggambar menggunakan jari-jari tangannya dengan bahan-bahan alami yang ada di dapur Anda. Cukup gunakan tepung kanji dan pewarna makanan yang tersedia dan biarkan ia berkreasi sambil mewujudkan imajinasinya.

Melalui kegiatan ini, Anda akan melatih keterampilan motorik halus anak (sensori-motorik), kreativitas, kognitif (dengan mengenal bentuk dan warna), juga melatih empati dan komunikasinya dalam berkelompok.

Membuat Boneka atau Figure Head Gambaran Diri Anak (Me in a Puppet)

Apabila si kecil lebih suka berkreasi menggunakan kertas lipat, Anda bisa mengajaknya untuk membuat boneka kertas gambaran diri anak dari bahan-bahan yang mudah dicari.

Anda hanya memerlukan kertas lipat (origami), stik es krim, benang kasur, lem, gunting, serta kancing dan manik-manik sebagai pemanis boneka kertas yang akan dibuat.

Kegiatan ini akan melatih keterampilan motorik halus anak, mengembangkan daya imajinasi dan berkreasinya, serta mengajarkan anak untuk menuangkan ide dalam bentuk konkret. Selain itu, anak juga bisa belajar memahami diri, membangun kepercayaan diri, serta membangun konsep diri yang positif.

Keliling Kota dengan Transportasi Umum

Ajak si kecil berkeliling kota sambil memperkenalkan ragam transportasi umum yang ada di kota Anda. Selain mengenalkan transportasi umum, Anda juga bisa membawa si Kecil bepergian ke tempat-tempat wisata seperti museum, taman kota, atau perpustakaan yang tersedia di sekitar tempat tinggal Anda.

Untuk membuat jalan-jalan Anda bersama si kecil menjadi lebih berkesan, siapkan satu exercise yang memuat seputar hal-hal yang sekiranya bisa ditemui di jalan atau di tempat tujuan. Si kecil dapat diminta untuk menunjukkannya kepada Anda apabila menemukannya di jalan.

Bermain Mainan yang Bersifat Edukatif

Sebagai alternatif dari ragam aktivitas di atas, Anda juga bisa memanfaatkan mainan yang bersifat edukatif untuk anak. Seperti contoh, ELC Indonesia menyediakan ragam mainan seperti Drawing Activity Set untuk si Kecil yang hobi menggambar, Keyboom Board untuk anakyang senang bermain musik, Wooden Easel yang bisa dipakai jadi kanvas pertama untuk si Kecil, Storytelling Card dan “I want to be…” Puzzle yang dapat melatih kreativitas si Kecil.

Tasya Paramitha

Pendidikan yang Tidak Biasa

Suatu hari, beliau bercerita yang tampak sebagai pikiran orang sederhana, tapi justru menghunjam dan mengaduk-aduk perasaan saya.

Auguste Comte (1798-1857), filsuf Prancis, bisa dikatakan berpikir cemerlang dalam menguak fenomena sosiologi agama, tapi dia bukanlah seorang pakar agama. Namun Comte melihat fenomena umat beragama itu dengan refleksi filosofis, tidak pada substansi umat (ajaran) agama.

Skema yang diajukannya tampak lebih cocok untuk agama-agama tingkat suku (primitif). Jika ditarik pada agama samawi, maka pandangannya, refleksi filosofisnya, tampak terlalu sederhana dan tidak menjawab persoalan yang ada.

Jika menilik fenomena masyarakat modern, yang tumbuh dengan semangat kembali pada inti ajaran agama, maka agama masih mempunyai daya pikat yang (justru) makin menggelora. Perlawanan agama terhadap sekularisme menemukan bentuknya untuk berhadap-hadapan, dan itu tampak menggejala.

Tidak salahlah jika John Naisbitt dan Patricia Aburdance, dalam Megatrend 2000, berani menyimpulkan bahwa abad ini adalah abad kebangkitan agama-agama. Menurut pendapatnya, agama akan muncul sebagai kekuatan sosial yang dahsyat.

Maka tulisan saya ini akan menilik fenomena pada sebagian masyarakat dimana agama (Islam) ditempatkan dalam posisi terhormat, dan itu mengacu pada kitab sucinya, Alquran…

Kitab suci Alquran yang begitu tebal itu menjadi tren dihafal dengan begitu baiknya. Menghafal Alquran (tahfidz), menjadi corak masyarakat modern, yang dalam skala tertentu bisa jadi mencoba melawan hegemoni yang cenderung memilih hidup dengan asumsi-asumsi duniawi semata, terutama dalam bidang pendidikan.

Bertebaranlah pendidikan penghafal Alquran (Rumah-rumah Tahfidz) bak jamur di musim hujan. Fenomena itu muncul justru di kota-kota besar, yang secara sosiologis sulit diurai benang merahnya, tapi bisa jadi itu bagian dari upaya membentengi diri dari keruntuhan bangunan moral.

Tulisan ini menilik satu keluarga muslim harmonis, yang karena pilihan-pilihannya pada pendidikan anak-anaknya memilih jalur khusus, jalur yang tidak biasa, yaitu pendidikan menghafal Alquran menjadi prioritas utama bagi pendidikan anak-anaknya.

Kisah Seorang Kawan

Namanya Hamid Baraja, seorang kawan yang memiliki enam anak (tiga perempuan dan tiga lelaki). Pak Hamid asal kota Solo, menikah dan menetap di Surabaya, meski bisnisnya juga ada di Solo. Dia bagi waktunya antara Surabaya dan Solo.

Apa hebatnya kawan yang satu ini sehingga saya perlu repot-repot menuliskan khusus tentangnya? Namanya tidak pernah tersemat dan dibicarakan di media mana pun. Namun justru karena itulah, saya perlu menuliskannya. Bukan apa-apa, kisah Pak Hamid dan keluarganya begitu menarik, karena berpikirnya out of the box, meski dia tidak menyadarinya.

Hidupnya berkecukupan, bahkan kaya tidak dalam sekadar hitungan materi, tapi lebih dari itu, yaitu dia pandai berkongsi dengan Tuhan dalam memenej keluarganya…

Pak Hamid punya prinsip yang sederhana, bahkan simpel untuk ukuran masa kini tapi justru dahsyat. Prinsipnya dalam mengelola rumah tangga dengan ukuran-ukuran yang tidak biasa, khususnya bagi pendidikan anak-anaknya…

Memiliki enam orang anak bukan perkara mudah dalam memenejnya. Pak Hamid memilih konsep pendidikan dengan penekanan khusus dan utama, yaitu anak-anaknya “diharapkan” bisa menghafal Alquran dengan baik. Maka semua anaknya diarahkan pada jalur itu, pendidikan menghafal Alquran. Pilihannya tampak “aneh”, dimana keluarga besarnya dan lingkungan sekitar lebih memilih pendidikan formal pada anak-anaknya, tapi Hamid memilih jalannya sendiri.

Anaknya tiga perempuan, dan tiga lelaki… Yang pertama, Nisma namanya, perempuan, Sarjana Arsitektur (sudah menikah). Hanya mampu menghafal Alquran sekitar lima belas juz. Suatu ketika Hamid berkisah, bisa jadi hafalan Alquran anaknya itu terbebani dengan pendidikan formal yang dijalaninya. Pendidikan formalnya selesai, tapi mengorbankan hafalan Alqurannya, sedikit sesalnya…

Anak keduanya, Nada, perempuan, baru lulus SLTA, hafal Alquran tiga puluh juz (Hafidhah). Adiknya, anak ketiga yang juga perempuan, Adila, masih duduk di SLTA, yang juga hafidhah…

Lalu anak keempatnya, Ammar, yang duduk di SLTA yang berbasis agama, yang juga mencetak siswa penghafal Alquran. Anak kelimanya, Muhammad (16 tahun), pendidikan Pondok Pesantren di Solo. Muhammad hafal Alquran tiga puluh juz (al-Hafidz)… Saat i’tikaf malam kedua puluh enam bulan Ramadhan ini, di Masjid al-Ikhlash, di kawasan Tanjung Perak Surabaya, dia menjadi imamnya. Suaranya yang masih kekanak-kanakan, namun merdu dengan mahraj bacaan yang baik, membuat kekaguman tersendiri.

Dan sang adik yang bungsu, Abdurrahman (SLTP), juga mengikuti jejak kakaknya, yang juga mengenyam pendidikan Pondok Pesantren di kota yang sama.

Saya terkagum dengan Pak Hamid ini dalam memenej anak-anaknya. Suatu hari, beliau bercerita yang tampak sebagai pikiran orang sederhana, tapi justru menghunjam dan mengaduk-aduk perasaan saya. Begini…

Saya berpikir, bahwa menghafal Alquran itu suatu keharusan. Dengan mampu menghafal Alquran itu sama saja dengan menjaga Kalamullah. Saya sendiri tidak hafal Alquran, katanya, tapi saya berharap pada anak-anak agar hidup lebih mengutamakan yang prinsip dulu, baru kemudian yang lainnya…

Menghafal Alquran dan mempelajari ilmu agama adalah hal prinsip, dan mencari ilmu duniawi itu sampiran yang mengikutinya. Tambahnya, apalagi saat ini banyak perguruan tinggi negeri dan swasta ternama sudah mengapresiasi para calon mahasiswanya, baik al-hafidz maupun hafidhah diterima tanpa tes masuk…

Jika nantinya anak-anak akan meneruskan pendidikan pada ilmu-ilmu lain, ya silakan. Jika tidak, mereka sudah punya bekal hidup yang baik. Saya yakin, anak-anak yang membela agama Allah, akan juga dipermudah Allah dalam kehidupannya. Saya bertawakal kepada Allah atas anak-anak saya, ucapnya.

Prinsip hidupnya itu tentu mendapat sokongan dari sang istri Feriyal Bawazer, yang memiliki pandangan dan prinsip yang sama dengan suaminya. Jika tidak, mustahil beliau bisa mewujudkan “sebuah karya” memaknai kehidupan, khususnya pendidikan bagi anak-anaknya yang tidak biasa itu dengan baik. Pasangan hidup yang serasi yang dihadirkan dan menghasilkan anak-anak yang juga luar biasa.

Bahagia Dunia Akhirat

Para hafidz dan hafidhoh mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi dalam pandangan Allah. Tidak itu saja, anggota keluarga inti, terutama ayah ibu akan mendapatkan kedudukan istimewa…

Allah akan memberikan kepada para penghafal Alquran kelak di akhirat, “mahkota kehormatan”. Sesuai dengan hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Baginda bersabda: Orang yang hafal Alquran kelak akan datang, dan Alquran akan berkata, ‘Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.’ Maka orang tersebut diberi mahkota kehormatan…

Alquran berkata lagi, ‘Wahai Tuhan, tambahkanlah pakaiannya.’ Kemudian orang itu diberi pakaian kehormatannya. Alquran berkata lagi, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Maka kepadanya dikatakan, ‘Baca dan naiklah.’ Dan untuk setiap ayat [yang dibacanya], dia diberi tambahan satu kebajikan.” (HR. at-Tirmidzi).

Banyak pula hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan para penghafal Alquran… Tidak saja bagi para hafidz dan hafidhoh itu sendiri keutamaan itu diberikan, tapi orangtua para penghafal Alquran pun akan mendapatkan pertolongan…

Sebagaimana hadits riwayat Buraidah al-Aslami Radhiyallahu Anhu, dia berkata mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada Hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya (orangtuanya) bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran’.” (HR. al-Hakim).

Barangsiapa yang membaca (menghafal) Alquran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian, hanya saja tidak ada wahyu baginya…” (HR. al-Hakim).

Pak Hamid dan sang istri bukanlah orang yang sederhana dalam berpikir. Pikirannya tampak sederhana di pandangan khalayak yang mengabdikan diri pada materi semata. Namun, sebenarnya dia berpikir dan sekaligus bertransaksi dengan Tuhan untuk mendapatkan peruntungannya yang kekal di akhirat… Anak-anaknya akan memakaikan jubah kemuliaan padanya dan sang istri, pertanda dia lulus sebagai orangtua bagi “pendidikan” anak-anaknya… Wallahu A’lam.

Ady Amar
Pemerhati Sosial Keagamaan

Bijak Hadapi Revolusi Industri 4.0

Dalam sebuah acara buka puasa bersama, Presiden Jokowi beramah-tamah dengan sekitar seratusan peserta, undangan khusus, sebagian besar anak muda dalam suasana lesehan sederhana.

Hanya sedikit dari mereka mengenakan jas atau batik, sebagaimana lazimnya mereka yang akan berhadapan dengan Presiden. Rata-rata usia peserta masih 30-an. Beberapa bahkan mengenakan kaus dengan tulisan tertentu di bagian depan.

Melihat suasana lesehan yang berdesak-desakan, secara kasat mata, pertemuan ini bagai sebuah jamuan kecil dan santai. Padahal di balik itu, ada kekuatan besar yang tidak bisa dianggap remeh.

“Satu atau dua orang yang hadir di sini, punya pengaruh terhadap 20 sampai 30 juta penduduk Indonesia,” kata pembawa acara.

Bahkan, sebenarnya bisa lebih dari itu karena yang datang adalah praktisi digital terkuat. Ada perwakilan dari Facebook, Google, Apple, pemilik market place, blogger berpengaruh, serta pebisnis besar digital industri. Saya sendiri (diwakilkan), diundang dalam kapasitas sebagai salah satu pendiri Komunitas Bisa Menulis atau KBM, salah satu komunitas penulis terbesar di Facebook.

“Secara singkat, peserta di sini bisa menjangkau segenap rakyat Indonesia.” lanjut pembawa acara. Kalimat sederhana itu mewakili apa yang bisa terjadi pada masa depan.

Buka puasa bersama kali ini memang bertemakan “Masa Depan dan Konsep Indonesia 4.0”. Presiden Jokowi kembali menegaskan, betapa Indonesia harus siap menghadapi revolusi Industri ke-4 yang menurut sang Kepala Negara, kecepatannya 3.000 kali lipat lebih cepat dari revolusi industri lainnya.

Jika alih teknologi industri pada masa lalu memerlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk berpindah ke lokasi lain, pada era internet ini hanya memerlukan beberapa detik. Perubahan di Amerika bisa langsung berpengaruh ke Indonesia.

Anak-anak muda yang hadir sangat mungkin menjadi representasi gambaran masa depan.

Jumlah sedikit orang akan memengaruhi begitu besar perubahan. Salah satu indikasi yang akan terjadi ketika internet menguasai dunia, dan ini sudah terbukti. Tercatat sebuah lembaga survei bisa mempengaruhi hasil pemilihan presiden di Amerika. Sebuah twit influencer yang tidak lebih dari 140 karakter, mampu membuat perusahaan Snap Chat rugi triliunan.

Tidak ada simbol dan formalitas dalam komunitas digital, semua bergantung kualitas. Lihat Mark Zuckerberg pemilik Facebook, kesehariannya hanya memakai kaus oblong. Sergey Brian pemilik Google, bisa menemui pejabat sekelas kepala negara dengan celana selutut yang sangat informal. Mereka tidak lagi dilihat berdasarkan penampilan, sebab gerak-geriknya jelas berpengaruh terhadap ratusan hingga miliaran manusia di dunia.

Tidak ada seleksi ketat dalam strata industri digital. Untuk menjadi anggota DPR, seorang politikus harus berjuang lama, melakukan kampanye dan menghabiskan biaya besar. Para influencer digital, sanggup memberi pengaruh tidak kalah kuat, tanpa melewati seleksi formal. Mereka dapat memberi sugesti besar tanpa melewati prosedur rumit formal.

Meski demikian, sebuah perubahan ada harga, juga dampaknya. Termasuk revolusi 4.0.

Ketika e-toll diberlakukan, puluhan ribu pekerja kehilangan penghasilan tetap. Ketika taksi daring merebak, taksi konvensional banyak yang gulung tikar. Jika itu harga sebuah perubahan, memang tetap harus dibayar, sekalipun demikian perlu sebelumnya diantisipasi.

Namun, perubahan ini juga mempunyai dampak. Hoaks bukan harga perubahan yang harus dibayar, melainkan dampak negatif industri 4.0. Satu orang bisa merusak nasib satu pihak atau meruntuhkan kebaikan yang dirintis puluhan tahun hanya dengan sebuah hoaks yang viral.

Di dunia penerbitan dampaknya lebih terasa. Perubahan buku konvensional menjadi e-book memberikan harga perubahan yang berimbas pada tersebar luasnya penjualan buku bajakan di internet. Jika dulu seseorang harus ke pasar ilegal untuk membeli buku bajakan, kini dengan handphone di tangan siapa saja bisa dengan mudah membeli buku bajakan secara daring di toko daring resmi.

Sayangnya, pembeli sering tidak tahu mana buku asli dan bajakan karena pada gambar display semua terlihat sama.

Untuk sebuah bangsa yang masih berjuang meningkatkan minat baca, jika tidak diantisipasi dini, bisa jadi pada masa depan dunia penerbitan konvensional hancur, buku-buku tidak terbit dan dampaknya – anak Indonesia hanya bergantung pada informasi digital yang sebagian besar sulit dipertanggungjawabkan.

Tugas pemerintah bukan hanya menggalakkan Industri 4.0 melainkan menyiapkan langkah antisipasi atas berbagai dampak yang akan terjadi. Tanpa itu, industri ini bukan menjadi awal kemajuan, malah menjerumuskan banyak orang dalam kehancuran.

Asma Nadia

Membaca Kunci Sukses Generasi Muda

Generasi muda merupakan aset yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Kualitas generasi muda sangat ditentukan dengan kompetensi dan hubungan sosial satu sama lain. Meningkatkan kompetensi salah satunya dengan bagaimana mendapatkan informasi yang utuh dan benar.

Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa lansung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.

Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDM nya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini.

Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri. Ribuan buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu anak-anak dan remaja kemudian didisiplinkan untuk membaca buku setiap hari.

Alhasil, misi inilah yang membuat jepang cepat bangkit dari keterpurkannya. Tak heran jika kita melancong ke Jepang banyak masyarakat di sana kita lihat sedang membaca buku di tempat-tempat umum. Inilah nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Jepang untuk membiasakan budaya membaca agar meningkatkan pengethauan dan kualitas SDM masyarakatnya.

Selain di Jepang, negara yang memiliki budaya baca tinggi adalah Finlandia. Menurut John W. Miller negara yang terletak di Eropa Utara ini terkenal dengan negara paling literat di bidang literasi di seluruh dunia. Langkah yang dilakukan oleh negara ini untuk meningkatkan minat baca di antaranya dengan penyediaan maternity pakage (paket perkembangan anak) yang diberikan oleh pemerintah kepada orang tua yang baru memiliki anak dengan memberikan beberapa perlengkapan bayi yang disisipkan dengan buku bacaan untuk orang tuanya maupun untuk bayinya, fasilitas perpustakaan yang sudah tersebar dimana-mana, budaya membaca yang turun temurun dilakukan dengan mewajibkan anak-anaknya wajib membaca satu buku perminggu, tradisi orang tua yang suka mendongeng, dan dari strategi dari pengalihan suara acara televisi dan film ke dalam bahasa lain yang kemudian diberi bantuan subtitles agar anak rajin membaca. Kebiasaan inilah yang membuat Finlandia sebagai negara tingkat pendidikan nomor satu di dunia dan kualitas SDM yang hebat.

Bagaimana Budaya Membaca di Indonesia?

Soal minat baca masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Beberapa data yang ada, Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan yang dilakukan di 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden dalam beberapa tahun belakangan ini, ditemukan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah yaitu hanya 25,1persen. Tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.

Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air. Disamping itu kondisi dan fasilitas perpustakaan serta buku bacaan bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah-daerah. Jika ada pun program-program yang ditawarkan masih berjalan setengah-setengah, perpustakaan masih menjadi tempat yang sepi, terkesan angker dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, padahal anak-anak dan warga biasa juga perlu akses terhadap bahan bacaan.

Gerakan Membaca “Itu Bermanfaat” dan Dilakukan oleh Semua Stakeholder

Dalam Agama Islam, ayat “Iqra” (bacalah) dalam surat al-Alaq menjadi ayat/wahyu yang pertama yang turun. Membaca merupakan sesuatu aktivitas baik dan bermanfaat. Tentunya dengan Membaca sesuatu yang bermanfaat dan diridhoi Allah SWT akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.

Budaya membaca akan muncul dari kebiasaan, kalau tidak dibiasakan, kapan akan menjadi biasa? Kegitan membaca ini harus dilakukan secara masal dan terus menerus agar timbul kebiasaa tersebut dan akan melekat menjadi kebutuhan. Beberapa lembaga juga telah membentuk suatu gerakan untuk membiasakan masyarakat Indonesia untuk membaca, diantaranya adalah Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Membaca, Program Pengembangan Budi Pekerti, Program Duta Baca Indonesia, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Taman Baca Masyarakat, Perpustakaan Desa hingga Perpustakaan Keliling yang bergerak di desa-desa terpencil. Namun gerakan-gerakan ini sepenuhnya belum didukung pemerintah secara maksimal, karena masih banyak kelemahan di mana-mana, mulai dari koleksi buku yang kurang hingga SDM yang tidak memadai.

Kalau saya boleh bilang saat ini justru sinergi dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba justru yang lebih massif dan maksimal, seperti Gerakan 1001 Buku yang fokus pada pendistribusian buku anak dan penguatan taman baca anak berkomitmen untuk meningkatkan akses sumber bacaan khususnya bagi anak-anak agar mencintai dunia literasi sejak dini. Mereka ini adalah pejuang tanpa pamrih yang berjiwa besar untuk meningkatkan kualitas SDM bangsa dengan tangannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Kita dapat melihat contoh yang dilakukan oleh POS Indonesia, ia juga sudah meluncurkan satu layanan baru untuk bersinergi dalam membangun budaya membaca di Indonesia yaitu dengan memberikan layanan pengiriman buku gratis yang akan didonasikan di setiap tanggal 17. Hal-hal semacam itu menjadi langkah awal untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia untuk membangun karakter bangsa ini dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Nah, diharapkan BUMN-BUMN lain juga bisa meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh POS Indonesia untuk berperan mencerdaskan bangsa sesuai dengan model kerjanya masing-masing.

Selain meningkatkan akses terhadap sumber bacaan, gerakan pembiasaan baca buku pun perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya bagi lembaga tertentu untuk meningkatkan budaya membaca dan pemberantasan buta huruf adalah tanggung jawab kita semua. Contohnya salah satu founder startup pendidikan di Indonesia, Iman Usman yang berperan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan memanfaatkan salah satu media sosial yang ia miliki, pemuda ini membuat gerakan membaca dengan menuliskan tagar #sabtubelajar untuk mengajak seluruh masyarakat agar memanfaatkan waktu senggangnya dengan membaca. Hal kecil seperti ini yang dapat meningkatkan budaya baca di Indonesia dan dapat menjadikan tren bagi masyarakat khususnya bagi pemuda untuk membaca sehingga dapat meningkatkan kualitas SDMnya.

Peran Generasi Muda

Pada tahun 2020-2035 Indonesia akan mulai memasuki masa emasnya dengan bonus demografi, pada tahun tersebut pertumbuhan usia produktif akan lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktifnya. Ini merupakan bonus yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun bangsanya, namun jika tidak diiringi dengan budaya membaca, Kondisi bangsa Indonesia mengalamai tantangan untuk mencapai masa emasnya ini.

Generasi muda sebagai tonggak kemajuan bangsa harus membiasakan diri untuk membaca agar mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Pada mulanya mungkin mereka merasa dipaksa untuk membaca tapi di masa depan mereka menjadi tahu ternyata budaya membaca menjadi rumus sukses mereka untuk mengatarkan mereka menjadi orang maju dan negara yang maju.

Oleh karena itu, budaya membaca sangatlah penting dalam membangun suatu bangsa. Tips memulai membaca dari yang termudah untuk dilakukan oleh generasi-generasi muda dalam meningkatkan minat baca adalah dengan memulai membaca dari topik yang kita sukai, terlebih saat ini akses terhadap internet pun sangat mudah sehingga kita bias membaca kapan saja dan darimana saja tak terhalang tempat dan waktu. Kita harus sadar bahwa dengan membiasakan membaca akan membentuk karakter dan meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang hebat.

Bulan Ramdhan adalah Moment yang Tepat

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk membudayakan membaca. Bulan Tarbiyah ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Bagaimana generasi muda mengisi waktu dari mulai sahur sampai menjelang buka puasa dengan membaca Alquran. Kita masih mengingat pada saat sekolah, berapa target kita membaca Alquran dalam sehari dan sebulan? Banyak orang yang mentargetkan Khatam Alquran pada bulan Ramadhan. Ada yang melakukannya dengan sendiri dan ada juga yang melakukannya bersama-sama dengan Tadarus Alquran setelah shalat Tarawih. Dari kebiasaan ini akan menjadi perilaku dan budaya membaca yang baik.

Dr Misbah Fikrianto MM MSi
Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Tetap Belajar Meski Jadwal Kerja Super Sibuk

Karier Anda terus bergulir dan 24 jam seakan tak cukup untuk bekerja. Anda tak bisa lagi melakukan banyak hal untuk diri sendiri sebelum dan sesudah bekerja.

Ketika itu terjadi, hal-hal yang dahulunya penting kini menjadi angin lalu, termasuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Berikut adalah tips super supaya Anda tetap bisa belajar di tengah padatnya jadwal kerja, dilansir dari The Muse, Sabtu (20/4).

 1. Intip YouTube

Pekerja manapun pasti sempat membuka YouTube di tengah padatnya rutinitas. Lakukan sesuatu yang menarik untuk subyek pekerjaan Anda. Ada banyak YouTuber berbagi berbagai pengetahuan.

Banyak keterampilan bisa Anda dapatkan secara gratis di dunia maya ini. Seberapa serius Anda mengikuti instruksi para YouTuber itu? Semua terserah pada Anda.

Anda mungkin bisa mempertajam keterampilan Exel, Photoshop, dan berbagai program yang diperlukan dalam pekerjaan Anda sehingga pekerjaan yang berat pun bisa terasa ringan. Carilah kredibilitas di dalamnya, sehingga Anda semakin menjadi profesional.

2. Temukan Mentor Kerja

Seorang mentor kerja dapat memberi saran dan bimbingan baik untuk Anda. Ini adalah harga tak ternilai untuk menumbuhkan kehidupan pribadi dan profesional Anda tanpa memerlukan banyak waktu.

Mentor terbaik adalah rekan kerja atau senior Anda di kantor. Mereka dapat mentransfer ilmu pengetahuan berharga yang terkumpul melalui pengalaman. Jika mereka mengenal Anda, kekuatan dan kelemahan Anda, mereka bisa mendorong Anda tumbuh dinamis, tak lagi stagnan.

Beberapa tempat kerja bahkan mengatur program mentoring formal berdasarkan jenjang karier. Senior-senior di divisi Anda, pertemuan dengan jaringan, grup alumni, dan Linkedln bisa menjadi media.

3. Gunakan Audiobook

Membaca buku sangat perlu dalam pembelajaran di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sayangnya jam kerja membuat Anda tak sempat membaca. Audiobook membantu karena menjadi media pembelajaran alternatif.

Anda hanya membutuhkan telepon, ponsel,atau podcast untuk mendengarkan materi-materi pembelajaran yang dibacakan orang lain. Jadi, tidak ada alasan untuk mendengarkan dan belajar.

Mutia Ramadhani

Jalan Ilmu dan Kebajikan

Duduk di deretan kursi paling belakang, saya menyimak penuturan Sridala Suwarmi, sesama penulis yang diundang mengikuti International Writers Program (IWP) di Iowa, Amerika Serikat. Penyair dari India tersebut menyinggung sebuah naskah berusia 2.000 tahun yang belum lama ditemukan di negerinya.

Saat itu, IWP mengundang 34 penulis dari 31 negara untuk tinggal selama 81 hari dalam program penulis tamu paling prestisius, menurut banyak penulis dunia. Salah satu yang kami lakukan di sana selain membacakan karya di ruang publik, adalah berbagi proses kreatif, baik di Iowa University–seperti yang dilakukan Sridala dan kami semua.

Upaya berbagi wawasan dan pengalaman proses kreatif juga ditujukan kepada khalayak lain, anak-anak sekolah menengah atas, sampai senior citizen atau para orang tua. Lalu, berapakah usia tulisan tertua di dunia yang pernah ditemukan? Jika tidak salah 8.000 tahun, di Bulgaria.

Sebuah naskah tulis memiliki daya tahan luar biasa untuk melampaui berbagai zaman. Abadi, meski penulisnya telah pergi. Menulis merupakan ikhtiar untuk abadi. Sebuah alasan jitu bagi siapa saja yang ingin meninggalkan jejak lebih lama, bahkan setelah kita tak lagi di dunia.

Seorang penulis akan tetap eksis lewat tulisan-tulisannya, menjelma diskusi panjang di kalangan pembaca hingga pemerhati sastra. Bagi seorang Muslim, menulis juga merupakan upaya sedekah ilmu. Banyak keutamaan dilimpahkan untuk mereka yang mengajarkan ilmu atau mengajak pada kebaikan.

Amal yang tetap mengalirkan pahala bagi penulisnya, jika prosesnya dilandasi keikhlasan. Ikhtiar untuk meninggalkan mesin yang dengan izin Allah akan terus mengalirkan ganjaran kebaikan bagi pemiliknya, meski dia sudah berpulang.

Mengingat setiap manusia tak luput dari dosa, dan tak satu pun kita boleh merasa aman, yakin pasti masuk surga, maka tidakkah keberadaan mesin “pahala” tersebut menjawab kekhawatiran akan tak cukup banyaknya amal kebajikan selama masa di dunia? Atau sedikitnya di antara rangkaian amal yang dikerjakan dengan keikhlasan terjaga; di awal, selama proses, hingga selesainya?

Mereka yang tidak menulis, tidak mewariskan ilmu pada generasi penerus, seluruh pengetahuannya ikut terkubur bersama jasad, terbenam di dalam bumi ketika usianya selesai. Pun, bagi seorang Muslim, menulis juga salah satu jalan menjadi sebaik-baiknya manusia. Sebagaimana Rasulullah sampaikan, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Di era digital seperti saat ini, sebenarnya terbuka ruang lebih luas, alias justru menjadi lebih mudah untuk mendulang pahala. Tulis sesuatu yang baik, buat tulisan positifmu menjadi viral, yang setiap dibagikan dan makin banyak dibaca mengalirkan pahala buat penulisnya. Bahkan, tangan-tangan yang membagi tulisan baik pun ikut mendulang pahala.

Sebaliknya, hindari diri dari menjadi penulis yang menyebarkan keburukan atau berbagi keburukan. Sebab, Allah juga mencatat setiap peran kita dalam membagi dan memopulerkan keburukan.

Contohnya buku Prince karya Machiavelli, yang memberi ilham pada Hitler, Mussolini, Stalin, dan Mao Tse Tung untuk memimpin dengan tangan besi dan kekerasan.

Saya teringat sebuah kata mutiara, membaca membuat kita mengenal dunia, tapi menulis membuat dunia mengenal kita. Bahkan lebih dari itu, bisa menyelamatkan kita tidak hanya di dunia, juga di akhirat kelak.

Asma Nadia

Deklarasi Antihoaks yang Masif dan Budaya Literasi

Iringan musik dangdut terdengar dari halaman kantor Wali Kota Bekasi di Jalan Jendral Ahmad Yani, Ahad (11/3). Lebih dari seratus orang berada di depan panggung berjoget dan menggerakkan badan mengikuti iringan lagu yang dilantunkan seorang penyanyi perempuan.

Seusai penyanyi tersebut melantunkan dua lagu, dua orang MC, terdiri dari laki-laki dan perempuan, naik ke atas pentas dan menyapa para penonton di halaman kantor wali kota. Keduanya melontarkan lelucon bahwa para penonton lebih suka menggerakkan tubuh untuk berjoged dangdut daripada berolahraga.

Di sela-sela percakapan tersebut, kedua MC menyampaikan juga pesan antihoaks dan meminta para penonton untuk berhati-hati menyebarkan pesan lewat media sosial, baik media sosial berjaringan seperti Facebook atau percakapan seperti WhatsApp. Tidak hanya itu, acara ini juga menghadirkan komunitas anak muda Bekasi Smart Influencer dan perwakilan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya untuk berbicara mengenai antihoaks.

Pesan-pesan antihoaks yang dikemas dengan hiburan, doorprize, dan pasar atau bazaar ini dikemas oleh Pemerintah Kota Bekasi dalam acara Fun Day Stop Hoax Bekasi Smart City. Acara itu sekaligus dilakukan bersamaan dengan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day di Jalan Ahmad Yani serta memperingati hari ulang tahun Kota Bekasi ke-21 tahun.

Kota Bekasi bukan satu-satunya daerah yang mengkampanyekan antihoaks. Deklarasi antihoaks banyak didengungkan oleh banyak daerah belakangan ini menyusul meningkatnya penyebaran berita-berita palsu, bohong, dan kabar fitnah di media sosial.

Pada 15 Desember 2017, misalnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan diskusi yang menggandeng jurnalis dan pegiat media sosial. Kampanye antihoaks juga dilakukan oleh jajaran kepolisian dan kelompok masyarakat seperti nelayan di Cilncing.

Presiden Joko Widodo pun menguraikan pesan-pesan antihoaks dalam pidatonya. Jokowi menilai berita hoaks sengaja diciptakan untuk memperkeruh suasana.

Ia pun mengibaratkan media sosial seperti media yang tanpa redaksi dan digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang merugikan. Dia mengatakan media sosial digunakan menyampaikan berita bohong, hoaks, saling menghujat dan juga ujaran kebencian.

Peningkatan aktivitas kampanye antihoaks di daerah ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik di tanah air. Tahun ini dan tahun depan merupakan tahun politik di Indonesia.

Tahun ini, Indonesia akan menyelengarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 di 117 daerah. Sebanyak 17 daerah merupakan setingkat provinsi atau pemilihan gubernur, termasuk gubernur di daerah dengan banyak pemilih seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pada 2018 ini juga partai politik akan sibuk mempersiapkan pesta demokrasi terakbar tahun depan. Ya, pada 2019, Indonesia akan menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) serentak, yakni pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden secara bersamaan.

Bagi kegiatan kehumasan pemerintah, kampanye merupakan bagian dari pemasaran sosial. Kampanye yang dilakukan oleh instansi atau lembaga, baik di daerah maupun pusat, merupakan upaya untuk  menyampaikan informasi, memberikan pesan-pesan mendidik, dan mengajak orang melakukan sesuatu atau persuasi. Philip Kotler dan Eduardo L Roberto (1989) menyatakan pemasaran sosial adalah strategi untuk mengubah perilaku.

Hal yang kemudian terlintas dalam pikiran saya ketika menyaksikan, atau membaca, atau mendengar deklarasi antihoaks terkait efektivitas deklarasi-deklarasi tersebut untuk meminimalisir penyebaran hoaks di masyarakat. Pertanyaan lain yang muncul, yakni apakah masyarakat sebenarnya memahami apa itu hoaks, berita bohong, berita palsu, dan kabar fitnah?

Apakah masyarakat mampu mengidentifikasi sebuah pesan mengandung kabar bohong? Atau jangan-jangan, ada lebih banyak masyarakat yang justru menganggap segala apa yang tertulis dan disebarkan melalui pesan percakapan mengandung sebuah kebenaran?

Kita sekarang berada di era revolusi teknologi komunikasi. Pada era sekarang yang memaksa orang berpikir dalam jangka pendek, sesuatu yang viral menjadi penanda kebenaran, status yang banyak dibagikan menjadi ukuran informasi bisa dipercaya, unggahan yang banyak mendapat tanda suka atau like berarti bisa diipertanggungjawabkan.

Dalam kondisi tersebut, selain kampanye yang dikemas dengan hiburan dan hadiah, hal yang juga perlu digencarkan oleh pemerintah adalah melakukan literasi digital. Literasi atau kemampuan membaca di negara ini sudah menjadi persoalan sebelum internet masuk dan berkembang pesat seperti sekarang.

Komentar tentang buruknya budaya literasi menghiasi sejumlah pemberitaan di masa lalu. Rendahnya kemampuan membaca ini berimplikasi pada tontonan televisi yang lebih banyak mengedepankan acara humor dengan pukulan dan candaan kasar. Sekarang, rendahnya kemampuan membaca atau literasi membuat orang lebih senang dengan informasi-informasi sensasional dan mudah dilupakan alias cepat menghilang.

Karena itu, dengan selalu munculnya hoaks serta kekhawatiran berita bohong dan kabar fitnah pada penyelenggaraan Pemilu 2018, pemerintah seharusnya tidak hanya melakukan kegiatan promosi alias kampanye yang berada di permukaan. Pemerintah juga selayaknya melakukan kampanye hingga ke tingkat masyarakat terkecil, yakni rukun tetangga (RT), untuk mengajarkan mereka tentang literasi digital seperti tidak semua hal yang tertulis di internet adalah kebenaran, mengidentifikasi pesan melalui aplikasi percakapan yang tidak bisa diverifikasi, atau cara mengenali pesan yang memuat kabar bohong dan fitnah.

Ratna Puspita

Superversity, Ajang Persahabatan Lewat Transfer Kreativitas

Para kaum muda zaman sekarang memiliki sederet aktivitas dan hobi seru yang seringkali dilakukan bersama dengan perkumpulannya. Kesamaan hobi dan aktivitas yang dijalani bila dimaksimalkan dengan baik tentu bisa menjadi ruang untuk menjalin persahabatan.

Menurut istilah, persahabatan menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial yang melibatkan pengetahuan, penghargaan, dan perasaan untuk ungkapkan ide dan kreativitas. Sehingga diharapkan kesamaan hobi dan aktivitas para kaum muda bisa menjadi momen persahabatan untuk saling bertukar ide dan kreativitas.

Untuk itu, Superversity hadir sebagai festival yang dapat menjadi momen terjalinnya persahabatan yang dibangun dari ide kreatif Superior yang merupakan gabungan komunitas mahasiswa kampus se-Jabodetabek yang didukung oleh rangkaian supersoccer.tv, supermusic.id, dan superadventure.co.id.

Bermula dari perkumpulan teman sekampus yang mempunyai kesamaan hobi dan aktivitas musik, adventur, dan sepak bola berlanjut dengan saling mengundang antar kampus yang pada akhirnya bertemu dalam satu wadah komunitas Superior. Komunitas yang terdiri dari 17 kampus wilayah Jabodetabek, 80 komunitas, dan ratusan mahasiswa ini untuk pertama kalinya berencana menggelar festival bertajuk Superversity pada Sabtu (28/4) besok di Cilandak Driving Range, Cilandak KKO, Jakarta Selatan.

Tak seperti event-event lainnya, Superversity berbeda dengan adanya proses pembentukan kepanitiaan sampai pelaksanaan secara keseluruhan diinisiasi oleh mahasiswa dari sejumlah universitas yang tergabung dalam komunitas Superior dan akan dilatih langsung dengan beberapa nama besar di dunia seni pertunjukan seperti Astie Wendra Profesional Event Management, di dunia digital Ryan dari Pentacode, serta backup penuh dari team Superadventure.co.id.

“Saya bangga dapat bergabung dan terlibat secara penuh di festival Superversity ini karena bisa bertemu dengan Superior hebat dari beragam kampus di Indonesia. Dengan terlibat di Superversity ini kami bisa menjalin momen persahabatan yang tidak hanya seru saja, tapi momen saling transfer ide dan kreativitas yang kami tuangkan untuk kesuksesan Superversity yang sudah kami inisiasikan sejak lama. Apalagi mendapatkan kesempatan untuk coaching bareng orang-orang keren di bidangnya,” ungkap Project Officer Superversity, Ridho.

Fernan Rahadi

Jangan Salah Memilih Sekolah untuk Anak

Untuk para orang tua baru memilih sekolah tentu jadi tantangan tersendiri. Terlebih saat ini begitu banyak sekolah dengan beragam metode dan kurikulum pembelajaran.

Saya pernah mengikuti salah satu seminar bertema “Cara Tepat Memilih Sekolah”. Saat itu Konsultan Pendidikan dan Konsultan Anak Berkebutuhan Khusus Friska Asta M.Psi, memaparkan mengenai jenis-jenis metode dan kurikulum pembelajaran yang sekarang banyak ditawarkan sekolah-sekolah di Indonesia.

Friska mengatakan, memilih metode maupun kurikulum sekolah sebaiknya disesuaikan dengan karakter anak. Tujuannya agar anak merasa nyaman dan tak frustasi menghadapi hari-harinya sekolah.

Pertama,  ia menyebut metode Montessori. Metode ini biasanya menurut Friska menggunakan alat bantu dalam proses pembelajaran. Anak-anak di sekolah Montessori umumnya akan lebih aktif dari gurunya. Mereka umumnya jarang mendapat work sheet.

Anak-anak dengan karakter rapih, logis dan terstruktur cocok dengan sekolah metode Montessori.

Kemudian ada sekolah berbasis alam. Sekolah ini pada umumnya menggunakan kurikulum dari Dinas Pendidikan. Hanya saja semua alat-alat yang digunakan melibatkan alam. Misalnya belajar biologi langsung di alam, matematika dengan alat-alat dari alam dan sebagainya.

Sekolah jenis ini sangat umum melakukan banyak kegiatan di alam, sehingga sangat cocok untuk anak-anak yang aktif atau berkarakter observer dan eksploratif. Tapi jangan coba-coba memasukkan anak rapih ke sekolah ini. Mereka mungkin akan tertekan.

Ada lagi sekolah karakter. Sekolah dengan metode ini juga sedang banyak digandrungi. Sekolah karakter biasanya akan memasukkan nilai moral dalam setiap pelajarannya. Ada sembilan karakter yang akan dilibatkan dalam setiap pelajaran yang diberikan.

Lalu sekolah dengan metode multiple intelligence. Untuk sekolah jenis ini biasanya akan melibatkan delapan kecerdasan dalam kegiatan pembelajarannya. Tujuannya untuk melihat dari delapan kecerdasan tersebut di mana anak paling menonjol.

Selain soal metode, ada pula kurikulum. Di Indonesia setidaknya ada sekitar lima kurikulum yang diterapkan. Pertama kurikulum Dinas Pendidikan (diknas) dan Departemen Agama (depag). Diknas produknya biasanya sekolah-sekolah negeri. Sementara Depag sekolah seperti madrasah. Anak-anak tekun, rapih dan terstruktur pas di sekolah dengan kurikulum ini.

Kemudian sekolah Islam terpadu. Umumnya ada muatan Islam lebih banyak seperti hafalan Alquran. Untuk anak-anak yang sekolah di Sekolah Islam Terpadu, Friska menyarankan agar orang tuanya ikut menyesuaikan. Jangan sampai menurutnya anak belajar hafalan dan melaksanakan berbagai shalat sunah, namun orang tuanya tidak.

Anak-anak yang tekun, logis, rapih dan terstruktur cocok untuk sekolah dengan kurikulum ini.

Untuk yang keempat adalah kurikulum Cambridge. Kurikulum ini biasanya sangat akademis dan mengejar prestasi akademis. Terakhir adalah International Baccalaureate (IB). Anak-anak IB biasanya baru benar-benar belajar di kelas enam Sekolah Dasar.

Cukup memusingkan bukan? Tapi begitulah gambarannya saat ini. Menjadi orang tua bukan hanya memasukkan anak ke sekolah dan selesai. Setiap apa yang dipilih harus diperhatikan baik-baik oleh orang tua. Ingat untuk menyesuaikannya dengan anak dan tidak memaksakan kehendak atau ambisi orang tua. Sebab jika salah pilih, maka potensi anak tak akan tereksplorasi secara maksimal.

Selamat memilih sekolah.

Gita Amanda

Mendadak Caleg!

Secara resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada 17 Februari 2018 telah menetapkan 16 partai politik menjadi peserta pemilu 2019. Tak lama berselang, setelah melalui proses pengadilan di Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu) Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi kontestan terakhir yang ditetapkan dengan nomer urut 19.

Kejutan belum selesai sampai di situ, berdasar pembacaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta, Rabu (11/4), memerintahkan KPU menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) menjadi parpol peserta Pemilu 2019. Sontak saja, partai tersebut langsung mengklaim telah mempersiapkan pendaftaran bakal calon anggota legislatif (caleg).

Sejak saat itu, secara formal genderang perang ditabuh, kalkulasi politik dihitung, dan strategi pemenangan yang telah dirumuskan siap digelontorkan ke konsituten. Partai lama dan partai baru, saling berebut suara lebih dari 200 juta jiwa. Konsensus informal terbentuk: inilah tahun politik.

Atas dasar itu, kini mulai bermunculan gambar, poster dan iklan diberbagai sudut kota para calon anggota legislatif (caleg), bahkan partai yang sangat digdaya di social media pun mencuri start pasang baliho dan spanduk di dunia nyata. Setidaknya, ini menjadi pertanda bahwa tidak ada yang terlampau dominan di semua medan perang, baik offline maupun online.

Catatan khas lainnya yang perlu diperhatikan dari pemilu 2019, pemilihan anggota parlemen dan presiden berlangsung serentak dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, untuk pemilihan presiden formulasi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diprediksi sekitar dua dan maksimal tiga pasangan calon. Sedangkan di saat yang bersamaan warga juga akan memilih puluhan ribu calon anggota legislatif, untuk kemudian menjadi legislator di pusat maupun daerah. Anggota DPR dan DPRD Provinsi/kab/kota pada akhirnya akan menjadi wajah resmi partai politik dalam etalase demokrasi selama lima tahun ke depan.

Sebagaimana kita paham, para caleg partai politik tidak bebas nilai. Setidaknya dengan itikad mereka menjadi caleg menunjukan bahwa mereka punya ‘ambisi’ politik. Yang membedakan hanya kadar dan derajatnya saja. Pun demikian ternyata latar belakang para caleg beragam; pengusaha, purnawirawan, anak muda dan bahkan tukang ojek.

Setidaknya secara sederhana, membuktikan bahwa demokrasi telah memberikan ruang yang setara bagi setiap warga negara untuk dipilih. Latar belakang boleh beda, tapi motif yang ditempuh relatif sama; meraih kekuasaan dan menikmati jabatan. Jika kita hendak sinis mengambil kesimpulan akhir.

Hingga saat ini harus diakui, alih-alih menyaksikan diskursus ideologis sesuai dengan platform partai, justru kita mencermati banyak anggota dewan baik di level pusat maupun daerah seperti mati suri dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan memberikan kontrol terhadap kinerja pemerintah. Senyap dalam riuh agregasi politik, namun riuh dalam menuntut fasilitas.

Menurut Miriam Budiardjo (2003), ada empat fungsi partai politik, yaitu komunikasi politik, sosialisasi politik, rekruitmen politik dan pengelolaan konflik. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan penekanan kepada fungsi rekruitmen politik yang nampak kedodoran dari proses pencalegan, terlihat dari apa yang dilakukan oleh partai politik di ‘tahun politik’ ini.

Dalam proses pencalonan anggota legislatif dan mencari pejuang ideologis partai yang hendak ditempatkan di Parlemen justru dilakukan di persimpangan jalan–di tengah jalan-bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penyelenggara pun mengingatkan ini, Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari mengingatkan agar parpol bisa selektif mengusung calon dalam pemilihan legislatif yang berlangsung 2019 mendatang.

Mengukur Daya Tahan Ideologis di Tahun Politik

Ukuran proses kaderisasi yang sehat dari partai politik sejatinya bisa dilihat pada pesta demokrasi yang akan digelar, setidaknya kita bisa lihat dari kesungguhan partai sepanjang lima tahun terakhir mendidik dan melakukan kaderisasi untuk mengisi kolom kosong di nomor urut caleg. Nampaknya, situasi tersebut tidak bisa ideal di semua partai, dengan dalih mencari putra purti terbaik bangsa untuk berjuang bersama partai mereka melakukan outsourcing politik secara instan. Kader ditemukan ditengah jalan, bukan di awal perjuangan.

Faktanya proses rekruitmen caleg dilakukan tidak hanya berdasarkan pertimbangan aspek teknis administrative dan subtansial parpol. Namun juga kebutuhan partai–dana–serta kehendak electoral–pemilih. Semisal untuk mememenuhi keterwakilan perempuan 30 persen perempuan sebagian partai asal memasukan yang penting ada dan terdaftar, bukan semata-mata karena alasan kesetaraan gender dan keberpihakan kaum marginal. Masih jauh filosofis itu.

Epik lain dari peristiwa mendadak caleg, partai politik membuka pendaftaran caleg setahun terakhir seperti dikejar setoran. Akibatnya, tentu membuka peluang cela dan seleksi yang tidak kredibel. Partai politik secara terbuka membuka pendaftaran caleg lewat media massa, luar ruang, bahkan dalam ruang senyap sekalipun.

Prasyarat pun dilengkapi oleh setiap caleg, selain aspek administratif juga syarat prinsip kompetisi prosedural: popularitas, elektabilitas dan ‘isi tas’. Sekali lagi mahfum adanya, bermunculanlah nama-nama mengisi kolom kosong dari berbagai latar belakang profesi; artis, pengusaha dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, sebagian dari mereka semua awam politik. Berbekal ‘euphoria’ membela rakyat, mereka masuk hutan belantara politik.

Selama ini, ada tiga ‘rumus penting’ dalam proses pencalegan, yaitu modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi. Seakan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tapi, faktanya bahwa ‘rumus’ itu tidak selamanya benar, masih ada saja caleg yang kemudian jadi anggota dewan dengan cara-cara yang ‘normal’. Meski jumlahnya tidak banyak. Sebagai catatan dalam periode keanggotaan DPR 2014-2019 telah terpilih 560 (lima ratus enam puluh) wakil rakyat yang duduk di DPR RI, berasal dari 77 Daerah Pemilihan (Dapil). Anggota Dewan yang terpilih bertugas mewakili rakyat selama 5 (lima) tahun, kecuali bagi mereka yang tidak bisa menyelesaikan masa jabatannya.

Ternyata, mereka terpilih menjadi ‘juara’ dari dapilnya dengan beragam sebab, tidak semata-mata karena popularitas dan isi tas yang selama ini menjadi asumsi umum dan hukum linier pemilihan umum. Tapi, karena kecerdasan dalam membangun personal branding, menciptakan difrensiasi dan menentukan positioning yang tepat.

Buktinya cukup banyak anggota DPR RI yang malang melintang muncul di media, ternyata tidak terpilih di pemilu. Pun anggota yang terkenal sangat kaya juga tidak terpilih. Di titik ini, kita masih bisa sedikit menghela napas, bahwa seseorang terpilih tidak semata-mata karena modal finansial dan popularitas, namun juga karena modal sosial dan politik yang telah dihimpun sekian lama. Dikemas dalam pendekatan komunikasi dan marketing politik yang ciamik. Di sisi lain kita juga diuntungkan dengan mulai adanya geliat pemilih cerdas yang tidak pernah sepi dari hiruk pikuk pemilu.

Selebritas Sosial Media dalam Kontentasi Politik Faktual

Di pemilu kali ini uniknya para selebritas media social nampak turun gunung dan ikut serta, tersebutlah nama Guntur Romli, Tsamara Amany dan Kokok Dirgantoro dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Juga Reiza Patters dari Partai Demokrat dan Adly Fairuz dengan follower mencapai 1,2 juta merapat ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski kita sempat ‘kecele’ dengan manuver Pandji Pragiwaksono dalam promosi tour dunia standup comedy, mengira akan ikut serta dalam kompetisi pemilu 2019.

Para seleb medsos, mereka terjun ke gelanggang politik berbekal kepercayaan diri bahwa popularitas virtual dapat menjadi salah satu modal dan amunisi yang berharga untuk mengarungi pertarungan pemilu. Masih harus diuji!. Jika selama ini mereka berselimut dalam balutan akun media social, mengeluarkan pendapatnnya dengan sangat baik dalam teks, kata, dan visual secara mandiri.

Tentu saja, akhirnya, perlu dibuktikan dalam kawah candradimuka bertemu pemilih real di lapangan dengan beragam kompleksitasnya. Proses transformasi untuk mempolitisasi serta mengkapitalisasi follower (pengikut) menjadi voter (pemilih) dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, menjadi tantangan tersendiri dan hanya waktu yang bisa menjawab.

Cross Market: Caleg Virtual dan Factual

Konfigurasi caleg yang kuat di medsos tentu akan diuji di ruang nyata, pun sebaliknya. Bagi caleg yang selama ini jarang berkecimpung di medsos, mereka seakan terpaksa harus ‘nyemplung’ tanpa pelampung yang memadai kedalamnya. Para caleg non medsos perlu masuk ke dunia baru dengan satu asumsi bahwa ada pemilih pemula di medium tersebut, segmentasi yang jumlahnya relatif besar di pemilu 2019. Terjadi semacam cross marketing yakni mengacu pada praktik yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan, tetapi biasanya hanya dua, bersama-sama mengiklankan atau mengizinkan fasilitas untuk menjual produk dan layanan yang berbeda.

Seseorang yang terkenal dan memiliki follower yang banyak di dunia maya, dengan kontestasi caleg harus terjun ke dunia nyata. Menyapa masyarakat dan menggalang dukungan. Pun demikian dengan caleg yang ‘gaptek’ mendadak mengaktivasi sosial media asset yang selama ini terbengkalai. Atas kebutuhan dan waktu yang mendesak, tersedaklah popularitas diruang publik. Muak dan bising di Publik. Atas proses itu akhirnya kita akan menyaksikan tejadi kompetisi dalam perspektif sehat, maupun ‘kanibalisasi’ dalam perspektif negative. Pasar politik akan penuh sesak, karenanya perlu kecerdasan tersendiri dari pemilih untuk mencermati situasi ini.
Strategi yang Menentukan atau Taktik yang Mematikan

Bagi para caleg yang percaya pada proses, meraih elektabilitas harus dibangun dengan tekun dan pendekatan yang sangat kreatif. Namun bagi caleg yang percaya proses, maka meraih elektabilitas adalah dengan jalan pintas dan cara tuntas; transaksional semata. Bayar dan menang!. Sekilas cara ini nampak ampuh dan ajaib, namun dalam jangka panjang jika situasi tersebut terus dipelihara maka akan membahayakan demokrasi yang kita tempuh selama ini. Nampak mahal dan miskin narasi. Asal beda, asal menang, asal-asalan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Maka, perlu ada terobosan yang kreatif untuk menghentikan praktek instan dan transaksional model seperti itu, selain perlunya penguatan sistem yang secara ampuh membatasi pergerakan money politik. Di sisi lain diperlukan pemilih yang semakin mandiri dan bertanggung jawab untuk menentukan caleg yang akan dipilih.  Membaca track record mereka, menguji gagasannya dan mamastikan bahwa apa yang diucapkan saat kampanye berbanding lurus saat menjadi anggota legisaltif kelak.

Heryadi Silvianto
Peneliti di Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH)