Featured posts

Anak-anak Minta 4 Hal Ini agar Mereka Bahagia

Kesehatan emosional sebagai seorang anak menjadi dasar untuk hidup yang lebih baik di masa dewasa. Namun, survei di Inggris justru menunjukan anak-anak dan remaja saat ini justru berada di titik kebahagiaan terendah dalam hidup mereka sejak 2010 .

Tim peneliti, HAPPEN (Health and Attainment of Pupils in a Primary Education Network) atau jaringan pendidikan siswa sekolah dasar, meneliti bagaimana meningkatkan kesehatan emosional dan kebahagiaan anak.

Mereka tidak menggunakan data dan statistik atau menanyakan para ahli apa yang menurut mereka paling baik, namun langsung berbicara pada sekitar 2.000 anak berusia 9-11 tahun dari jaringan sekolah dasar di South Wales, Inggris.

Peneliti mengajukan pertanyaan kepada anak-anak apa yang akan mereka ubah di daerah mereka untuk membuat diri mereka, teman-teman dan keluarga mereka lebih bahagia.

Jadi, apa yang paling diinginkan anak-anak? 4 Hal ini adalah ide paling umum yang diajukan anak-anak dari hasil survei tersebut:

1. “Beri Kami Lebih Banyak Tempat Bermain…”

“… anak-anak di tempatku berlari mengelilingi tempat parkir dan jalan setiap hari.”

Kurang dari 20% anak-anak menginginkan lebih banyak taman atau ruang hijau, atau untuk memperbaiki taman yang ada. Banyak taman di Inggris saat ini berada di titik krisis karena menurunya sumber daya dalam pengelolaan.

Beberapa alokasi pendanaan lebih ditujukan untuk taman yang lebih besar, sehingga mengabaikan pentingnya area lingkungan lokal yang lebih kecil. Padahal justru area lokal bermain lokal ini menjadi tempat utama di mana mereka bertemu dan bermain dengan teman-teman.

2. “Ciptakan Fasilitas Lokal di mana Kami Bisa Beraktifitas…”

“Buka gym untuk anak-anak.”

“Buka lebih banyak klub olahraga di daerah ini.”

Lagi, sekitar 20% jawaban berasal dari anak-anak menginginkan fasilitas olahraga yang dapat mereka datangi dan cocok untuk kelompok usia mereka. Mereka menginginkan klub olahraga yang lebih spesifik, seperti bola basket dan sepak bola, atau meminta lebih banyak tempat kegiatan yang lebih bebas seperti taman skate.

Menyediakan lebih banyak fasilitas lokal tidak hanya dapat membantu meningkatkan tingkat aktivitas anak yang sedang menurun, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan/kebahagiaan secara keseluruhan .

3. “Bersihkan Jalanan…”

“Hentikan untuk meninggalkan sisa rokok dan botol minuman di jalanan.”

“Akan lebih baik jika tidak ada sampah dan kotoran di mana-mana.”

Survei tahun 2018 dilakukan badan amal lingkungan Keep Wales Tidy menunjukkan sampah terkait rokok banyak ditemukan di hampir 80% jalanan Welsh dan sampah minuman di 43% jalanan Welsh.

Survei ini juga menyorot permasalahan sampah di mana 20% dari tanggapan survei berasal dari anak-anak meminta lingkungan lebih bersih, serta polusi lebih sedikit dan lebih banyak pohon.

4. “Buat Jalan Lebih Aman…”

“Pagar agar anak-anak bisa bermain dengan aman tanpa ditabrak mobil.”

Hampir 10% dari respon survei bicara soal keselamatan di jalan. Anak-anak berkomentar tentang perlunya jalan yang lebih aman di sekitar sekolah dan rumah.

Ini termasuk permintaan untuk lebih sedikit mobil di jalan, batas kecepatan, penyeberangan zebra dan lebih banyak petugas penyeberangan sekolah.

Telah ada inisiatif di Inggris yang berfokus membuat jalan-jalan lebih ramah anak. Namun, ini baru sebagian kecil, dan masih dibutuhkan tindakan pada tingkat kebijakan untuk membuat jalan lebih aman bagi anak-anak.

Melihat hasil survei, tim peneliti menemukan benang merah: anak-anak hanya ingin ruang yang aman untuk bermain dan aktif. Apa yang mereka minta bukan hal besar.

Saat ini, anak-anak berada di bawah tekanan yang sangat besar untuk mencapai target akademis dan hidup di dunia yang berfokus pada belajar demi menghadapi ujian.

Ini membuat bermain bukan menjadi prioritas. Padahal bermain sangat dibutuhkan agar anak mempelajari berbagai keterampilan dan kecakapan yang tidak dapat diajarkan di sekolah.

Nampaknya masyarakat perlu memberi perhatian lebih serius dalam menghargai dan membangun masa anak-anak yang lebih baik. Kita perlu memberikan tempat lebih tinggi untuk kebahagiaan anak dengan lebih dekat dan mendengarkan mereka.

Dan tidak kalah penting, menggunakan ukuran mereka tentang arti bahagia bagi mereka.

Yohanes Enggar Harususilo

Tetap Belajar Meski Jadwal Kerja Super Sibuk

Karier Anda terus bergulir dan 24 jam seakan tak cukup untuk bekerja. Anda tak bisa lagi melakukan banyak hal untuk diri sendiri sebelum dan sesudah bekerja.

Ketika itu terjadi, hal-hal yang dahulunya penting kini menjadi angin lalu, termasuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Berikut adalah tips super supaya Anda tetap bisa belajar di tengah padatnya jadwal kerja, dilansir dari The Muse, Sabtu (20/4).

 1. Intip YouTube

Pekerja manapun pasti sempat membuka YouTube di tengah padatnya rutinitas. Lakukan sesuatu yang menarik untuk subyek pekerjaan Anda. Ada banyak YouTuber berbagi berbagai pengetahuan.

Banyak keterampilan bisa Anda dapatkan secara gratis di dunia maya ini. Seberapa serius Anda mengikuti instruksi para YouTuber itu? Semua terserah pada Anda.

Anda mungkin bisa mempertajam keterampilan Exel, Photoshop, dan berbagai program yang diperlukan dalam pekerjaan Anda sehingga pekerjaan yang berat pun bisa terasa ringan. Carilah kredibilitas di dalamnya, sehingga Anda semakin menjadi profesional.

2. Temukan Mentor Kerja

Seorang mentor kerja dapat memberi saran dan bimbingan baik untuk Anda. Ini adalah harga tak ternilai untuk menumbuhkan kehidupan pribadi dan profesional Anda tanpa memerlukan banyak waktu.

Mentor terbaik adalah rekan kerja atau senior Anda di kantor. Mereka dapat mentransfer ilmu pengetahuan berharga yang terkumpul melalui pengalaman. Jika mereka mengenal Anda, kekuatan dan kelemahan Anda, mereka bisa mendorong Anda tumbuh dinamis, tak lagi stagnan.

Beberapa tempat kerja bahkan mengatur program mentoring formal berdasarkan jenjang karier. Senior-senior di divisi Anda, pertemuan dengan jaringan, grup alumni, dan Linkedln bisa menjadi media.

3. Gunakan Audiobook

Membaca buku sangat perlu dalam pembelajaran di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sayangnya jam kerja membuat Anda tak sempat membaca. Audiobook membantu karena menjadi media pembelajaran alternatif.

Anda hanya membutuhkan telepon, ponsel,atau podcast untuk mendengarkan materi-materi pembelajaran yang dibacakan orang lain. Jadi, tidak ada alasan untuk mendengarkan dan belajar.

Mutia Ramadhani

Superversity, Ajang Persahabatan Lewat Transfer Kreativitas

Para kaum muda zaman sekarang memiliki sederet aktivitas dan hobi seru yang seringkali dilakukan bersama dengan perkumpulannya. Kesamaan hobi dan aktivitas yang dijalani bila dimaksimalkan dengan baik tentu bisa menjadi ruang untuk menjalin persahabatan.

Menurut istilah, persahabatan menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial yang melibatkan pengetahuan, penghargaan, dan perasaan untuk ungkapkan ide dan kreativitas. Sehingga diharapkan kesamaan hobi dan aktivitas para kaum muda bisa menjadi momen persahabatan untuk saling bertukar ide dan kreativitas.

Untuk itu, Superversity hadir sebagai festival yang dapat menjadi momen terjalinnya persahabatan yang dibangun dari ide kreatif Superior yang merupakan gabungan komunitas mahasiswa kampus se-Jabodetabek yang didukung oleh rangkaian supersoccer.tv, supermusic.id, dan superadventure.co.id.

Bermula dari perkumpulan teman sekampus yang mempunyai kesamaan hobi dan aktivitas musik, adventur, dan sepak bola berlanjut dengan saling mengundang antar kampus yang pada akhirnya bertemu dalam satu wadah komunitas Superior. Komunitas yang terdiri dari 17 kampus wilayah Jabodetabek, 80 komunitas, dan ratusan mahasiswa ini untuk pertama kalinya berencana menggelar festival bertajuk Superversity pada Sabtu (28/4) besok di Cilandak Driving Range, Cilandak KKO, Jakarta Selatan.

Tak seperti event-event lainnya, Superversity berbeda dengan adanya proses pembentukan kepanitiaan sampai pelaksanaan secara keseluruhan diinisiasi oleh mahasiswa dari sejumlah universitas yang tergabung dalam komunitas Superior dan akan dilatih langsung dengan beberapa nama besar di dunia seni pertunjukan seperti Astie Wendra Profesional Event Management, di dunia digital Ryan dari Pentacode, serta backup penuh dari team Superadventure.co.id.

“Saya bangga dapat bergabung dan terlibat secara penuh di festival Superversity ini karena bisa bertemu dengan Superior hebat dari beragam kampus di Indonesia. Dengan terlibat di Superversity ini kami bisa menjalin momen persahabatan yang tidak hanya seru saja, tapi momen saling transfer ide dan kreativitas yang kami tuangkan untuk kesuksesan Superversity yang sudah kami inisiasikan sejak lama. Apalagi mendapatkan kesempatan untuk coaching bareng orang-orang keren di bidangnya,” ungkap Project Officer Superversity, Ridho.

Fernan Rahadi

Indonesia Dilanda Kedangkalan Literasi

Indonesia krisis membaca. Sebab, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku. Tak heran berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta Hikmat Kurnia berkata, tanpa kemampuan literasi yang baik maka tidak akan lahir individu yang hebat. “Sayangnya, dari data yang berkembang, hanya ada satu dari 1.000 orang Indonesia yang membaca buku secara rutin. Ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar,” kata Hikmat dalam pidatonya pada pembukaan Islamic Book Fair (IBF) 2018.

Karena itu, Hikmat yang juga penanggung jawab dalam panitia IBF 2018 itu mendorong umat Islam untuk memandang kedangkalan literasi sebagai musuh bersama. Sebab, itu merupakan akar dari kebodohan dan kemunduran peradaban.

Kemampuan literasi yang baik, menurut Hikmat, dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, bangsa, serta umat manusia. “Jika Islam hendak meraih kejayaannya maka suka tidak suka, kita harus memperkuat kemampuan literasi setiap individu,” ujarnya.

Hikmat lantas menyampaikan, tema IBF juga berkait erat dengan limpahan informasi pada era sekarang. Karena itu, kecerdasan literasi dibutuhkan untuk memilah antara informasi yang mencerahkan dan yang sekadar sampah.

Keberadaan hoaks di Tanah Air belakangan dinilai Hikmat sebagai bukti nyata bahwa umat belum memiliki kemampuan saring sebelum sharing. Itu mungkin terjadi karena pikiran nan pendek ditambah pemahaman yang dangkal.

Perhelatan IBF 2018 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, secara resmi dibuka pada Rabu, 18 April 2018. Acara yang berlangsung hingga 22 April 2018 itu mengusung tema “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”.

IBF 2018 secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya Fadli Zon. Yang juga turut hadir adalah perwakilan pengurus Ikapi DKI Jakarta, penulis, dan para peserta ajang tersebut.

Dalam pidato pembukaan, Fadli Zon menyambut positif penyelenggaraan IBF 2018. “Kegiatan ini penting karena menunjukkan potret peradaban,” ungkapnya.

Menurut Fadli, mengutip proklamator kemerdekaan RI Bung Hatta, buku dapat membentuk watak dan karakter bangsa. Melihat perkembangan negara maju, yang menjadi garda dan wajah terdepan di sana adalah perpustakaan, museum, dan hasil kebudayaan. “Itu aset nasional. Warisan intelektual penulis juga merupakan bagian aset nasional.”

Pemilik Fadli Zon Library itu pun mengingatkan, buku tak boleh hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan warisan budaya. Sebab, Fadli yakin buku bisa menjadi aset berharga dari generasi ke generasi.

Ihwal tema yang diusung IBF 2018, yakni “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”, Fadli menilai tema itu sangat tepat. Ia mengingatkan, Islam sempat memiliki peradaban lebih maju daripada Barat. Kemajuan peradaban Islam kala itu berbanding lurus dengan lahirnya literasi yang luar biasa. “Tinggal bagaimana melahirkan tokoh intelektual Muslim seperti dulu,” ujar Fadli.

IBF merupakan perhelatan tahunan di bawah Ikapi DKI Jakarta yang digelar sejak 2001. Dalam kurun dua tahun terakhir, IBF di gelar di JCC karena Istora Senayan direnovasi untuk digunakan saat Asian Games 2018.

Selain deretan stan dan buku berkualitas, IBF 2018 juga menghadirkan talk show dengan pembicara dari kalangan ulama dan penulis buku. Salah satu yang dinanti adalah kehadiran Ustaz Abdul Somad di panggung utama pada Kamis (19/4).

Berdasarkan pantauan Republika pada hari pertama IBF 2018, pengunjung anak- anak dan dewasa sudah tampak memadati arena. Terdapat sejumlah mata acara yang mereka hadiri, antara lain, pengenalan Metode Kauny, yakni menghafal Alquran semudah tersenyum, dan bedah buku Personal Social Responsibility. Terdapat pula lomba lantunan Asmaul Husna antara majelis taklim, peluncuran buku Surabi Pesantren, serta Konser Santri.

Fuji Eka Permana, Umi Nur Fadhilah

Mengurai Nilai Kebaikan

Baik atau kebaikan itu seharusnya berlaku secara umum atau universal, begitu pula dengan buruk atau keburukan. Namun, baik dan buruk akhir-akhir ini, menjadi sulit dilihat dan dimaknai.

Kebaikan itu tidak sekadar tampak pada perilaku, tapi juga diawali dengan niat berbuat baik. Tidak sedikit yang tampak berbuat baik, namun diniatkan untuk maksud-maksud tertentu. Pameo “tidak ada makan siang yang gratis”, menandakan bahwa bantuan yang diberikan itu penuh pretensi yang mendominasi perilaku keseharian manusia di sekitar kita.

Karenanya, menjadi sulit melihat mana yang benar-benar ikhlas dan mana yang punya maksud-maksud tertentu dalam membantu. Namun, akhir dari interaksi itu, akan menampakkan mana bantuan ikhlas yang sebenarnya, dan mana yang sebaliknya yang penuh pretens.

Hidup ini berkelindan dengan persoalan-persoalan, baik individual maupun komunal. Namun, hidup di wilayah mana pun mestinya ada pranata yang mengatur semuanya, baik berupa peraturan yang berlaku maupun yang bersifat konvensi yang wajib dijaga bersama-sama.

Hidup pun mesti digagas dengan pemikiran-pemikiran ke depan yang lebih baik. Pemikiran-pemikiran mencerahkan dan memberi makna akan kehadirannya pada komunal di sekitarnya.

Berpikir kritis melihat ketidakseimbangan yang ditemuinya, itu pun bagian dari sikap mencerahkan, di tengah komunitas yang ada. Suara kritis itu ditujukan semata untuk kebaikan, meski dia selalu terjebak pada kemelut ketidakpastian yang diciptakan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Perlawanannya atas hegemoni kemandekan berpikir dan bersikap lewat sikap kekritisannya. Dia menjadi musuh kelompok tertentu yang lebih memilih jalan stagnan, tapi dia juga menjadi sumber inspirasi dari kelompok yang merasa termarjinalkan.

Sikap kritis itu bagian dari memformulakan gagasan dan pemikiran panjang, dan itu bukanlah pekerjaan mudah, bahkan itu terbilang sulit. Tidak banyak yang mampu memilih jalan kritis ini.

Memformulakan itu ibarat mengambil “saripati” dari gagasan dan pemikiran yang panjang, dan itu memang sulit. Maka, kita acap mendengar kata atau kalimat yang bak mutiara dari para cerdik pandai, filsuf dan budayawan, dan itu bisa dikatakan hasil dari gagasan dan pemikiran dari perenungan panjang mereka.

Lihatlah—Richard Jefferies, penulis Inggris—yang “menyaripatikan” gagasan panjangnya dalam uraian… “Jangan pernah sekalipun berpuas diri dengan lingkaran gagasan tertentu, namun usahakan agar lingkaran yang lebih besar selalu tersedia.”

Lingkaran lebih besar itulah hakikat pribadi yang selalu hadir dengan gagasan cerdas dan terukur, dan yang terus menerus hadir pada kondisi dan situasi apa pun.

Lihatlah pula—Lao Tse, filsuf Cina—yang seolah bersenandung, namun jika diurai mengandung makna pemikiran yang panjang dan dalam… “Apakah aku manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia?”

Lao Tse tidak sedang berfantasi, tapi dia sedang mengembangkan pemikirannya untuk kita semua, bahwa berpikir fiksional itu perlu dan bisa menjadi semangat berbuat kebaikan. Manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau sebaliknya, kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia.

Maka, kita pun dituntut untuk mampu mengurai “saripati” dari kejadian-kejadian di sekitar kita, agar menemukan hakikat kebaikan, dan bahkan keburukan, yang terkandung di dalamnya…

Setelah itu, kita bisa mengambil pelajaran berarti daripadanya: Menjadi pribadi aktif dalam mengurai nilai-nilai kebaikan…

Ady Amar

Mendadak Caleg!

Secara resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada 17 Februari 2018 telah menetapkan 16 partai politik menjadi peserta pemilu 2019. Tak lama berselang, setelah melalui proses pengadilan di Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu) Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi kontestan terakhir yang ditetapkan dengan nomer urut 19.

Kejutan belum selesai sampai di situ, berdasar pembacaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta, Rabu (11/4), memerintahkan KPU menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) menjadi parpol peserta Pemilu 2019. Sontak saja, partai tersebut langsung mengklaim telah mempersiapkan pendaftaran bakal calon anggota legislatif (caleg).

Sejak saat itu, secara formal genderang perang ditabuh, kalkulasi politik dihitung, dan strategi pemenangan yang telah dirumuskan siap digelontorkan ke konsituten. Partai lama dan partai baru, saling berebut suara lebih dari 200 juta jiwa. Konsensus informal terbentuk: inilah tahun politik.

Atas dasar itu, kini mulai bermunculan gambar, poster dan iklan diberbagai sudut kota para calon anggota legislatif (caleg), bahkan partai yang sangat digdaya di social media pun mencuri start pasang baliho dan spanduk di dunia nyata. Setidaknya, ini menjadi pertanda bahwa tidak ada yang terlampau dominan di semua medan perang, baik offline maupun online.

Catatan khas lainnya yang perlu diperhatikan dari pemilu 2019, pemilihan anggota parlemen dan presiden berlangsung serentak dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, untuk pemilihan presiden formulasi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diprediksi sekitar dua dan maksimal tiga pasangan calon. Sedangkan di saat yang bersamaan warga juga akan memilih puluhan ribu calon anggota legislatif, untuk kemudian menjadi legislator di pusat maupun daerah. Anggota DPR dan DPRD Provinsi/kab/kota pada akhirnya akan menjadi wajah resmi partai politik dalam etalase demokrasi selama lima tahun ke depan.

Sebagaimana kita paham, para caleg partai politik tidak bebas nilai. Setidaknya dengan itikad mereka menjadi caleg menunjukan bahwa mereka punya ‘ambisi’ politik. Yang membedakan hanya kadar dan derajatnya saja. Pun demikian ternyata latar belakang para caleg beragam; pengusaha, purnawirawan, anak muda dan bahkan tukang ojek.

Setidaknya secara sederhana, membuktikan bahwa demokrasi telah memberikan ruang yang setara bagi setiap warga negara untuk dipilih. Latar belakang boleh beda, tapi motif yang ditempuh relatif sama; meraih kekuasaan dan menikmati jabatan. Jika kita hendak sinis mengambil kesimpulan akhir.

Hingga saat ini harus diakui, alih-alih menyaksikan diskursus ideologis sesuai dengan platform partai, justru kita mencermati banyak anggota dewan baik di level pusat maupun daerah seperti mati suri dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan memberikan kontrol terhadap kinerja pemerintah. Senyap dalam riuh agregasi politik, namun riuh dalam menuntut fasilitas.

Menurut Miriam Budiardjo (2003), ada empat fungsi partai politik, yaitu komunikasi politik, sosialisasi politik, rekruitmen politik dan pengelolaan konflik. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan penekanan kepada fungsi rekruitmen politik yang nampak kedodoran dari proses pencalegan, terlihat dari apa yang dilakukan oleh partai politik di ‘tahun politik’ ini.

Dalam proses pencalonan anggota legislatif dan mencari pejuang ideologis partai yang hendak ditempatkan di Parlemen justru dilakukan di persimpangan jalan–di tengah jalan-bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penyelenggara pun mengingatkan ini, Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari mengingatkan agar parpol bisa selektif mengusung calon dalam pemilihan legislatif yang berlangsung 2019 mendatang.

Mengukur Daya Tahan Ideologis di Tahun Politik

Ukuran proses kaderisasi yang sehat dari partai politik sejatinya bisa dilihat pada pesta demokrasi yang akan digelar, setidaknya kita bisa lihat dari kesungguhan partai sepanjang lima tahun terakhir mendidik dan melakukan kaderisasi untuk mengisi kolom kosong di nomor urut caleg. Nampaknya, situasi tersebut tidak bisa ideal di semua partai, dengan dalih mencari putra purti terbaik bangsa untuk berjuang bersama partai mereka melakukan outsourcing politik secara instan. Kader ditemukan ditengah jalan, bukan di awal perjuangan.

Faktanya proses rekruitmen caleg dilakukan tidak hanya berdasarkan pertimbangan aspek teknis administrative dan subtansial parpol. Namun juga kebutuhan partai–dana–serta kehendak electoral–pemilih. Semisal untuk mememenuhi keterwakilan perempuan 30 persen perempuan sebagian partai asal memasukan yang penting ada dan terdaftar, bukan semata-mata karena alasan kesetaraan gender dan keberpihakan kaum marginal. Masih jauh filosofis itu.

Epik lain dari peristiwa mendadak caleg, partai politik membuka pendaftaran caleg setahun terakhir seperti dikejar setoran. Akibatnya, tentu membuka peluang cela dan seleksi yang tidak kredibel. Partai politik secara terbuka membuka pendaftaran caleg lewat media massa, luar ruang, bahkan dalam ruang senyap sekalipun.

Prasyarat pun dilengkapi oleh setiap caleg, selain aspek administratif juga syarat prinsip kompetisi prosedural: popularitas, elektabilitas dan ‘isi tas’. Sekali lagi mahfum adanya, bermunculanlah nama-nama mengisi kolom kosong dari berbagai latar belakang profesi; artis, pengusaha dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, sebagian dari mereka semua awam politik. Berbekal ‘euphoria’ membela rakyat, mereka masuk hutan belantara politik.

Selama ini, ada tiga ‘rumus penting’ dalam proses pencalegan, yaitu modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi. Seakan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tapi, faktanya bahwa ‘rumus’ itu tidak selamanya benar, masih ada saja caleg yang kemudian jadi anggota dewan dengan cara-cara yang ‘normal’. Meski jumlahnya tidak banyak. Sebagai catatan dalam periode keanggotaan DPR 2014-2019 telah terpilih 560 (lima ratus enam puluh) wakil rakyat yang duduk di DPR RI, berasal dari 77 Daerah Pemilihan (Dapil). Anggota Dewan yang terpilih bertugas mewakili rakyat selama 5 (lima) tahun, kecuali bagi mereka yang tidak bisa menyelesaikan masa jabatannya.

Ternyata, mereka terpilih menjadi ‘juara’ dari dapilnya dengan beragam sebab, tidak semata-mata karena popularitas dan isi tas yang selama ini menjadi asumsi umum dan hukum linier pemilihan umum. Tapi, karena kecerdasan dalam membangun personal branding, menciptakan difrensiasi dan menentukan positioning yang tepat.

Buktinya cukup banyak anggota DPR RI yang malang melintang muncul di media, ternyata tidak terpilih di pemilu. Pun anggota yang terkenal sangat kaya juga tidak terpilih. Di titik ini, kita masih bisa sedikit menghela napas, bahwa seseorang terpilih tidak semata-mata karena modal finansial dan popularitas, namun juga karena modal sosial dan politik yang telah dihimpun sekian lama. Dikemas dalam pendekatan komunikasi dan marketing politik yang ciamik. Di sisi lain kita juga diuntungkan dengan mulai adanya geliat pemilih cerdas yang tidak pernah sepi dari hiruk pikuk pemilu.

Selebritas Sosial Media dalam Kontentasi Politik Faktual

Di pemilu kali ini uniknya para selebritas media social nampak turun gunung dan ikut serta, tersebutlah nama Guntur Romli, Tsamara Amany dan Kokok Dirgantoro dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Juga Reiza Patters dari Partai Demokrat dan Adly Fairuz dengan follower mencapai 1,2 juta merapat ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski kita sempat ‘kecele’ dengan manuver Pandji Pragiwaksono dalam promosi tour dunia standup comedy, mengira akan ikut serta dalam kompetisi pemilu 2019.

Para seleb medsos, mereka terjun ke gelanggang politik berbekal kepercayaan diri bahwa popularitas virtual dapat menjadi salah satu modal dan amunisi yang berharga untuk mengarungi pertarungan pemilu. Masih harus diuji!. Jika selama ini mereka berselimut dalam balutan akun media social, mengeluarkan pendapatnnya dengan sangat baik dalam teks, kata, dan visual secara mandiri.

Tentu saja, akhirnya, perlu dibuktikan dalam kawah candradimuka bertemu pemilih real di lapangan dengan beragam kompleksitasnya. Proses transformasi untuk mempolitisasi serta mengkapitalisasi follower (pengikut) menjadi voter (pemilih) dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, menjadi tantangan tersendiri dan hanya waktu yang bisa menjawab.

Cross Market: Caleg Virtual dan Factual

Konfigurasi caleg yang kuat di medsos tentu akan diuji di ruang nyata, pun sebaliknya. Bagi caleg yang selama ini jarang berkecimpung di medsos, mereka seakan terpaksa harus ‘nyemplung’ tanpa pelampung yang memadai kedalamnya. Para caleg non medsos perlu masuk ke dunia baru dengan satu asumsi bahwa ada pemilih pemula di medium tersebut, segmentasi yang jumlahnya relatif besar di pemilu 2019. Terjadi semacam cross marketing yakni mengacu pada praktik yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan, tetapi biasanya hanya dua, bersama-sama mengiklankan atau mengizinkan fasilitas untuk menjual produk dan layanan yang berbeda.

Seseorang yang terkenal dan memiliki follower yang banyak di dunia maya, dengan kontestasi caleg harus terjun ke dunia nyata. Menyapa masyarakat dan menggalang dukungan. Pun demikian dengan caleg yang ‘gaptek’ mendadak mengaktivasi sosial media asset yang selama ini terbengkalai. Atas kebutuhan dan waktu yang mendesak, tersedaklah popularitas diruang publik. Muak dan bising di Publik. Atas proses itu akhirnya kita akan menyaksikan tejadi kompetisi dalam perspektif sehat, maupun ‘kanibalisasi’ dalam perspektif negative. Pasar politik akan penuh sesak, karenanya perlu kecerdasan tersendiri dari pemilih untuk mencermati situasi ini.
Strategi yang Menentukan atau Taktik yang Mematikan

Bagi para caleg yang percaya pada proses, meraih elektabilitas harus dibangun dengan tekun dan pendekatan yang sangat kreatif. Namun bagi caleg yang percaya proses, maka meraih elektabilitas adalah dengan jalan pintas dan cara tuntas; transaksional semata. Bayar dan menang!. Sekilas cara ini nampak ampuh dan ajaib, namun dalam jangka panjang jika situasi tersebut terus dipelihara maka akan membahayakan demokrasi yang kita tempuh selama ini. Nampak mahal dan miskin narasi. Asal beda, asal menang, asal-asalan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Maka, perlu ada terobosan yang kreatif untuk menghentikan praktek instan dan transaksional model seperti itu, selain perlunya penguatan sistem yang secara ampuh membatasi pergerakan money politik. Di sisi lain diperlukan pemilih yang semakin mandiri dan bertanggung jawab untuk menentukan caleg yang akan dipilih.  Membaca track record mereka, menguji gagasannya dan mamastikan bahwa apa yang diucapkan saat kampanye berbanding lurus saat menjadi anggota legisaltif kelak.

Heryadi Silvianto
Peneliti di Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH)

Jatuhnya Baghdad, Bencana Besar Literatur Islam

Lalu, pada 1258 Masehi, muncul sebuah bencana besar yang menimpa peradaban dan literatur Islam, dengan adanya serbuan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

Mereka memorak-porandakan Baghdad. Khalifah dan penduduk ditangkap. Rumah-rumah dibakar. Tak sampai di situ, mereka juga menghancurkan perpustakaan yang sarat dengan manuskrip berharga. Sejarawan Ibnu Khaldun mengungkapkan, manuskrip-manuskrip itu dilemparkan ke Sungai Tigris.

Sebuah legenda muncul, air Sungai Tigris berwarna hitam sekelam tinta pada hari pelemparan buku-buku dari berbagai perpustakaan ke sungai tersebut. Seorang cendekiawan Muslim, Al-Qalqasyandi, menyatakan, semua buku di perpustakaan khalifah hancur.

Semua jejak dan bermacam-macam ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya pun ikut musnah. Hal serupa juga terjadi di kota-kota Irak lainnya, seperti di Mosul. Beruntung, perpustakaan di Nizamiyah dan Mustansiriya tak ikut dihancurkan sehingga memberikan manfaat besar pada masa selanjutnya.

Sebelum jatuhnya Baghdad, bencana serupa menimpa sejumlah perpustakaan yang ada di wilayah Islam. Di antaranya, pembakaran buku-buku tertentu di Al Hakam, Kordoba, pada abad ke-11. Di Rayy, hal itu terjadi pada 1027 Masehi. Juga, pembakaran buku oleh tentara Salib di Tripoli, Lebanon.

Perpustakaan lainnya yang mengalami nasib serupa adalah Banu Ammar pada 1109 Masehi, Nishapur pada 1153 Masehi, pembakaran Perpustakaan Ghazna pada 1155 Masehi, dan penghancuran Perpustakaan Merv pada 1209 Masehi. Namun, setelah para penguasa Mongol memeluk Islam, kondisi pun berubah.

Mereka memberikan dukungan pengembangan tradisi ilmiah dan penulisan. Pada abad ke-14, misalnya, di Mosul, banyak manuskrip ilmiah yang dihasilkan. Demikian pula, dengan penulisan Alquran. Namun, Irak tak benar-benar pulih seperti sebelumnya.

Sumber : Islam Digest Republika

Begini Cara Orang-orang Sukses Manfaatkan Waktu 24 Jam Maksimal!

You may delay, but time will not. Kata-kata tersebut diujarkan Benjamin Franklin, salah satu bapak bangsa Amerika, sebagai ungkapan mengenai betapa waktu terus berjalan.

Ya, 24 jam hari ini tidak akan sama dengan besok. Kebanyakan dari kita mungkin menjalani setiap hari dalam siklus yang monoton. Bangun pagi, pergi ke kantor, lalu pulang ke rumah. Di sela semua kegiatan, pernahkah Anda mempertanyakan apakah semua yang Anda kerjakan sudah tepat?

Sebelum memulai harinya, Bill Gates pun selalu bertanya pada diri sendiri, “Jika besok hari terakhir hidup saya, apa kegiatan hari ini yang ingin saya lakukan?”. Jika Anda menjawab “tidak” pada pertanyaan itu, mungkin kebiasaan harian Anda harus diganti. Berikut rutinitas beberapa orang sukses yang dapat Anda tiru.

Mulai dari Pagi

Jangan pernah menyepelekan nasihat, “Jika bangun siang rezekinya nanti dipatuk ayam”, karena hal itu benar adanya. Semakin pagi Anda bangun, akan semakin banyak hal bisa Anda kerjakan.

Benjamin Franklin sendiri memulai harinya sejak pukul lima pagi. Hal ini tidak hanya dibuktikan oleh Franklin. Orang-orang sukses seperti Margaret Thatcher, Haruki Murakami, dan Robert Iger juga merupakan early riser.

Franklin terbiasa memulai paginya dengan sarapan, merencanakan kegiatan satu hari, dan memikirkan penyelesaian masalah. Sarapan dapat memberikan energi penuh untuk lebih produktif 24 jam ke depan. Tambahkan juga olahraga sebagai bagian dari pagi Anda.

Barrack Obama dalam biografinya Dreams for My Father menyatakan bahwa dia selalu berlari setidaknya empat kilometer setiap hari. Studi lain memperkuat pernyataan orang nomor satu di AS itu bahwa olahraga setelah bangun tidur dan dengan perut kosong terbukti lebih cepat membakar lemak, mengencangkan otot, sekaligus meningkatkan stamina sepanjang hari.

Disiplin Waktu Kerja

Hal pertama yang David Karp, pendiri Tumblr, lakukan sebelum mulai bekerja adalah membuka e-mail. Dengan begitu, Anda akan tahu apa saja yang harus diselesaikan hari itu.

Latih kedisiplinan Anda untuk selalu berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan. Rumuskan tujuan yang harus diselesaikan. Selain itu, selalu pertimbangkan kondisi yang Anda butuhkan untuk bekerja.

Fasilitasi diri dengan teknologi yang membantu Anda lebih efektif dalam melakukan beragam kegiatan profesional. Jika Katie Rae, Managing Director TechStarsBoston, selalu menggunakan alat perekam dalam menolong pekerjaannya, Anda bisa memanfaatkan smartphone untuk selalu memperbarui infomasi terbaru dan membantu menghasilkan ide inovatif.

Istirahat Seimbang

Menurut riset American Psychological Association, kegiatan yang paling tepat untuk bersantai di malam hari di antaranya adalah membaca, mendengarkan musik, menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga, atau melakukan hobi yang Anda sukai.

Jangan lupa tutup hari Anda dengan mengevaluasi semua hal yang terjadi selama satu hari. Benjamin Franklin selalu menulis jurnal untuk mencatat semua kegiatan hariannya. Jika tidak suka menulis, zaman sekarang Anda dapat menemukan gadget fungsional yang memberikan fasilitas pembantu dengan mudah. Catatan Anda juga dapat menjadi solusi menghadapi masalah di masa depan.

Yang terakhir, pastikan Anda memiliki waktu tidur cukup. Pakar kesehatan tubuh Shawn Stevenson menyarankan untuk tidur dari pukul 10 malam sampai 6 pagi. Pola tidur ini bisa diatur secara fleksibel, tetapi coba tidur sebelum tengah malam dan bangun pagi untuk memaksimalkan energi. Jangan lupa jauhkan berbagai distraksi sebelum tidur seperti yang dilakukan Sheryl Sanberg, COO Facebook, untuk tidur yang lebih berkualitas.

Mulailah memanfaatkan waktu 24 jam yang tersedia menjadi lebih efektif dan efisien. Lihat perbedaannya dalam produktivitas dan kebahagiaan hidup Anda. Dengan kualitas hari yang lebih baik, maka tingkat kepuasan hidup Anda pun bisa semakin bertambah.

Anne Anggraeni Fathana

6 Strategi Agar Anak Tidak Hobi Makan Junk Food

Mengajarkan anak untuk makan makanan sehat merupakan hal yang penting agar anak mereka terbiasa untuk tidak pilih-pilih makanan.

Anak-anak yang sering makan jenis makanan yang salah, seperti junk food atau makanan pinggir jalan, lebih berisiko mengalami kegemukan dan berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, jantung, dan kanker.

Dengan adanya banyak iklan junk food di TV dan kebiasaan untuk mengonsumsi makanan ini, akan sulit membiasakan anak untuk makan dengan sehat.

Namun, ada strategi yang bisa kita terapkan untuk membantu anak berhenti atau mengurangi makan junk food. Apa saja strateginya?

1. Siapkan Camilan yang Sehat

Cara pertama agar anak bisa berhenti makan junk food adalah dengan menghidangkan camilan seperti buah, sayuran, dan biskuit gandum dengan keju. Siapkan camilan sehat di tempat yang mudah dijangkau anak-anak, seperti di meja makan.

Saat mereka lapar, mereka dapat mengambilnya dengan mudah. Siapkan juga mangkuk berisi buah-buahan di tempat yang mudah dilihat, sehingga anak langsung dapat menikmatinya. Ini dikarenakan anak-anak cenderung ingin makan apa yang ada di depan mereka.

2. Jangan Bawa Junk Food ke Rumah

Jika tidak ingin anak makan makanan tersebut, maka jangan simpan atau bawa junk food ke rumah. Dengan begitu, anak tak akan melihat dan meminta.

Cara lain adalah dengan memasak hidangan yang mirip dengan menu junk food, tapi versi lebih sehat. Cara ini dapat mengurangi konsumsi junk food pada anak.

3. Jangan Tawar-Menawar dengan Anak

Jangan gunakan junk food sebagai alat tawar-menawar. Memberi hadiah berupa junk food agar anak mau makan makanan sehat amatlah salah, karena malah akan menambah daya tarik mereka terhadap junk food itu sendiri.

Anak-anak juga perlu diajarkan mengukur berapa banyak mereka makan, karena memaksa mereka menghabiskan makanan dapat menyebabkan mereka makan berlebihan di kemudian hari, terutama dengan tren makanan porsi besar saat ini.

4. Jangan Larang Anak Makan Junk Food

Jika tidak ingin anak doyan junk food, sebaiknya kita tidak benar-benar melarangnya, karena bisa mengakibatkan rasa penasaran anak semakin tinggi.

Ini juga akan membuat mereka cenderung makan banyak junk food saat ada kesempatan, seperti di acara sekolah, ulang tahun teman, dan lainnya.

Ajarkan anak untuk mencicipi semua jenis makanan dalam jumlah kecil, izinkan mereka untuk makan junk food di rumah teman mereka, tapi jangan kalau sedang di rumah.

5. Berikan Contoh dari Diri Sendiri

Anak-anak belajar dengan melihat apa yang orangtuanya lakukan. Kalau kita tidak mau anak makan banyak junk food, kita sendiri harus makan makanan sehat dan menghindari junk food.

Selain itu, izinkan anak untuk memilih jenis makanan dan camilan sehat yang mereka suka.

6. Jangan Berikan Junk Food sebagai Hadiah

Biasanya para orang tua akan menghadiahkan anak makan di restoran cepat saji ketika mereka kenaikan kelas atau memenangkan perlombaan. Nah, hal ini lah salah satu yang wajib dihindari agar anak berhenti makan junk food.

Alternatifnya, kita bisa memberikan alat gambar, mainan kesukaan, alat olahraga seperti raket badminton, atau bahkan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatian anak terhadap keinginan makan junk food.

Wisnubrata

Ciputra: “Entrepreneur” Alternatif di Masa Krisis

Tokoh pengusaha nasional Ir Ciputra mengajak masyarakat Indonesia untuk mengembangan jiwa “entrepreneur” yaitu jiwa bisa memanfaatkan peluang usaha pada masa krisis seperti sekarang ini.

“Hanya entrepreneur yang dapat mengambil kesempatan untuk mengambil langkah ke depan menuju sukses pada masa kritis”, katanya saat berbicara pada seminar dan talkshow “Quantum Leap” di Grand Ballroom Hotel Grand Preanger Bandung, Jumat.

Jika dibandingkan dengan Sinagpore dan Amerika Srikat, Indonesia jauh tertinggal jauh dalam entrepreneur shipnya. Singapore tujuh persen sedangkan Amerika Serikat mencapai 15 persen.

Menurut Ciputra, hanya jiwa entrepreneur yang dapat mengeluarkan masyarakat Indonesia dari krisis ekonomi. Jiwa entrepreneur haruslah memiliki semangat yang tinggi, mempunyai keinginan yang besar dan yang terpenting adalah percaya diri.

“Percuma saja jika kita mempunyai semangat dan keinginan yang tinggi, tetapi tidak memiliki rasa percaya diri. Usaha yang dijalani akan sia-sia” katanya.

Entreprenur dapat menjadi pelopor dalam pembangunan Indonesia. Adanya rasa keinginan yang kuat dapat membantu masyarakat Indonesia untuk bangkit dan membuka lapangan kerja bagi yang membutuhkan.