Pesan dari Prancis Makin Buktikan Bahaya Gawai untuk Anak

Para ahli memberikan peringatan terkait  bahaya mengekspos anak-anak pada penggunaan layar elektronik. Saat ini dampak yang muncul dianggap cukup mengkhawatirkan.

Dalam sebuah forum yang diterbitkan di surat kabar Prancis Le Monde pada 17 Januari, para profesional di French Screen Overexposure Collective (Collectif Surexposition Ecrans, atau CoSE) menyatakan keprihatinan mereka tentang peningkatan tajam dalam gangguan intelektual, dan kognitif pada anak-anak. Mereka memperingatkan tentang perlunya berjuang melawan paparan berlebih di awal kehidupan anak ke layar elektronik televisi, komputer, tablet, dan telepon.

Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan tolok ukur dan referensi statistik pada 2018, termasuk jumlah anak sekolah yang menderita beberapa variasi cacat kognitif. “Hasilnya mengejutkan,” keluh seorang perwakilan CoSE, dilansir dari laman Aletia, Ahad (10/2).

Jumlah anak-anak antara usia dua hingga 11 tahun yang menderita masalah intelektual dan kognitif, masalah psikologis, dan gangguan bahasa meningkat secara dramatis. Dari 2010, kasus gangguan intelektual dan kognitif telah meningkat sebesar 24 persen, gangguan psikologis sebesar 54 persen, dan gangguan bicara dan bahasa sebesar 94 persen.

“Dalam kurun waktu 10 tahun, anak-anak telah mengalami semakin banyak kesulitan dalam mengekspresikan diri, belajar, dan mengelola emosi mereka,” lanjut perwakilan CoSE.

Dokter anak, psikiater anak, psikolog, dan ahli dari bidang terkait semuanya bertanya: mungkinkah faktor lingkungan menjelaskan perkembangan gangguan serius ini pada anak-anak? Mereka menyoroti banyak penelitian yang dilakukan selama 20 tahun terakhir, membangun hubungan sebab-akibat antara paparan layar terlalu dini dan gangguan tidur, bahasa, perilaku dan perhatian.

Untuk anak-anak yang lebih besar, penelitian lain mengonfirmasi dampak paparan berlebihan pada kegiatan fisik, berat badan, penglihatan, suasana hati (kecemasan, isolasi, dan depresi) dan sikap hipereksual atau kekerasan akibat pornografi, dan kekerasan.

Banyak ahli menganjurkan tidak memaparkan anak-anak ke layar sebelum usia tiga tahun, Longitudinal French Study From Childhood mengungkapkan bahwa dua pertiga dari anak-anak berusia dua tahun menonton televisi setiap hari. Collective menyerukan otoritas publik untuk mendukung tim peneliti, sehingga Prancis dapat melakukan studi yang akan menghilangkan semua keraguan tentang masalah ini, dan untuk mengembangkan strategi nasional untuk pencegahan risiko, termasuk menciptakan dukungan untuk orang tua.

Memang paparan di layar merupakan cara mudah untuk menghibur anak-anak dari segala usia, dan membebaskan orang tua untuk dapat bekerja, serta kegiatan lainnya. Dan kini sudah waktunya bagi orang tua di mana saja untuk mengambil tindakan dalam melindungi masa depan anak mereka dengan membatasi waktu layar anak-anak, dan beralih ke bentuk hiburan dan pendidikan lain yang sesuai usia.

Terutama interaksi langsung orang tua-anak, bermain papan permainan, membaca dan bercerita, terlibat dalam kerajinan tangan, dan lainnya.

Rossi Handayani

Benarkah Orang Kidal Lebih Kreatif?

Jumlah orang kidal hanya sekitar 10 persen dari populasi. Ada banyak mitos mengenai orang kidal namun belum banyak penelitian yang membuktikan kebenarannya.

Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tentang orang kidal.

Mitos: Orang Kidal Lebih Kreatif

Ada beberapa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang kreatif, dan menjadi kidal bukanlah satu-satunya. Keterkaitan antara orang kidal dan kreatifitas adalah mitos yang sudah berlangsung sangat lama.

Studi yang dilakukan tahun 1995 menemukan bahwa pria kidal cenderung berpikir kreatif dalam penyelesaikan masalah. Namun, tidak ada perbedaan antara perempuan kidal dan yang tidak terhadap kreativitas.

“Ketika kamu melihat pencapaian kreatif di dalam hidup seseorang, tidak cukup kuat jika hanya dikaitkan dengan kidal,” kata Ronald Yeo, profesor di Universitas Texas di Austin.

Mitos: Orang Kidal Cenderung Menjadi Pemimpin

Enam dari dua belas presiden Amerika Serikat kerakhir adalah orang kidal. Namun, menjadi kidal bukanlah sebuah kualifikasi untuk menjadi pemimpin, apalagi presiden. Tidak ada bukti kuat secara ilmiah yang mampu mengaitkannya dengan kemampuan mempimpin.

Mitos: Orang Kidal Lebih Cerdas

Sebuah penelitian pada tahun 70-an meneliti lebih dari 7.000 anak sekolah dasar. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan dalam kemampuan intelektual antara mereka yang kidal dan yang tidak.

Namun orang kidal mungkin berpikir hal yang berbeda.

“Dunia ini bukan tempat yang ramah untuk orang yang kidal. Beberapa peralatan sehari-hari didesain untuk orang yang menggunakan tangan kanan. Orang kidal harus berpikir fleksibel dan menemukan cara terbaik untuk menggunakan alat tersebut,” kata psikolog Elizabeth Ochoa.

Mitos: Orang Kidal Introvert

Pengetahuan umum lainnya adalah orang kidal cenderung lebih introvert dari yang lainnnya. Namun, studi yang dilakukan pada 2013 membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara lima kepribadian yang diuji bagi pengguna tangan kanan dan tangan kiri.

“Streotip bahwa orang kidal lebih introvert tidak terbukti” kata Gina Grimshaw dari Universitas Wellington, Selandia Baru.

Mitos: Orang Kidal Lebih Sering Menggunakan Otak Kanan

Karena kebanyakan orang yang tidak kidal menggunakan otak kirinya untuk memproses bahasa, itu berarti orang kidal berpikir menggunakan otak kanannya bukan? Belum tentu.

Gina menemukan bahwa 98 persen orang yang tidak kidal berotak kiri, demikian juga 70 persen orang kidal. “Sebagian besar, orang kidal tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak kidal. Mereka tentu tidak memiliki otak yang terbalik” kata Gina.

Fakta: Orang Kidal Mungkin Lebih Mempunyai Banyak Masalah Tidur

Sebuah penelitian dari jurnal Chest memantau gerakan anggota badan berirama antara orang kidal dan tidak saat tidur.

Hasilnya, 94 persen orang kidal tidur dengan gangguan gerakan tungkai periodik. Sedangkan hanya 69 persen dari orang yang tidak kidal yang mengalami ganggunan gerakan tungkai periodik.

Fakta: Orang Kidal Berpeluang Lebih Besar Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Penelitian dari Universitas Yale menyimpulkan bahwa orang yang menderita penyakit mental berat seperti skinzofrenia lebih berpotensi diderita oleh orang kidal dibanding dengan gangguan mood seperti bipolar.

Kesimpulan itu dihasilkan dari penelitian terhadap kelompok kecil dari klinik psikiatri rawat jalan dan menemukan bahwa 40 persen dari mereka yang menderita skizofrenia adalah orang kidal.

Para peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antara karakteristik psikosis (seperti hasulisinasi) dan kidal. Mereka percaya jawabannya terletak pada bagian otak yang cenderung lebih banyak digunakan.

Aldo Christian Sitanggang

Lemak di Perut Ancam Jantung Anda

Distribusi lemak yang tidak normal dalam tubuh, seperti lemak perut, tidaklah baik untuk kesehatan. Bahkan bagi orang yang tidak obesitas sekalipun, lemak perut lebih berisiko tinggi jantung dan stroke.

Dilansir Indian Express, Sabtu (29/12), European Society of Cardiology (ESC) Survei EUROASPIRE V di Kongres Dunia Kardiologi & Kesehatan Kardiovaskular di Dubai, menyatakan hampir dua pertiga orang yang berisiko terkena serangan jantung memiliki lemak perut ekstra. Penelitian menyatakan lemak perut buruk bagi jantung, bahkan pada orang yang tidak kelebihan berat badan atau obesitas.

Studi ini dilakukan pada 2017-2018 di 78 praktik umum di 16 negara terutama Eropa. Para peserta diidentifikasi secara retrospektif menggunakan catatan medis dan diundang untuk wawancara dan pemeriksaan klinis. Pertanyaan yang diajukan tentang kebiasaan gaya hidup mereka seperti merokok, diet, aktivitas fisik, tekanan darah, lipid, dan diabetes.

Pengukuran meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL), dan kadar gula darah. Sebanyak 2.759 peserta diwawancarai dan diperiksa menggunakan metode dan instrumen standar.

Hampir dua pertiga (64 persen) mengalami obesitas sentral (lingkar pinggang 88 cm atau lebih besar untuk wanita dan 102 sentimeter atau lebih tinggi untuk pria).

Sekitar 37 persen kelebihan berat badan yang diukur indeks massa tubuh (BMI 25 hingga 29,9 kilogram) dan 44 persen mengalami obesitas (BMI 30 kilogram lebih). Hampir satu dari lima peserta (18 persen) adalah perokok dan hanya 36 persen mencapai tingkat aktivitas fisik yang disarankan minimal 30 menit, lima kali per pekan.

“Survei menunjukkan bahwa sebagian besar individu dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular memiliki kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat dan tekanan darah, lipid dan diabetes yang tidak terkontrol,” kata Kornelia Kotseva, ketua Komite Pengarah EUROASPIRE dan penulis pendamping penelitian.

Dia melanjutkan, data ini menjelaskan bahwa harus lebih banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan pencegahan kardiovaskular pada orang yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular. Analisis peneliti menyoroti perlunya sistem perawatan kesehatan dalam pencegahan.

Pentingnya Imajinasi Demi Kesehatan Mental

Waktu masih kanak-kanak, kita sering berimajinasi dengan berbagai permainan.

Misalnya, kita berkhayal menjadi seorang nahkoda saat berada di atas kasur. Atau, berkhayal menjadi polisi yang mengejar penjahat saat memegang pistol air.

Seiring berjalannya waktu, kita tumbuh dewasa dan imajinasi seakan luntur dari pikiran kita.

Padahal, imajinasi adalah aspek penting untuk kesehatan kita dan telah terbukti secara ilmiah.

Riset dilakukan oleh peneliti dari CU Boulder and the Icahn School of Medicine dengan merekrut 68 peserta.

Dalam riset ini, peneliti melatih peserta untuk mengasosiasikan suara tertentu dengan kejutan listrik yang tak nyaman.

Setelah asosiasi itu ditanamkan dalam otak peserta, periset kemudian membagi mereka dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama merupakan peserta yang terpapar kejutan listrik dan asosiasi suara yang sama. Kelompok kedua merupakan peserta yang diminta membayangkan suara di kepala mereka sendiri.

Untuk kelompok terakhir, periset meminta mereka membayangkan suara yang lebih bahagia, seperti kicau burung atau hujan.

Selama percobaan, peneliti mengevaluasi tanggapan peserta melalui pemindaian otak dan sensor kulit.

Hasilnya, usai kejutan listrik dihentikan dari asosiasi, dan peserta tak menghubungan suara dengan rasa sakit, mereka bisa melupakan ketakutan dalam diri.

Marianne Cumella Reddan, pemimpin riset, mengatakan penelitian ini adalah yang pertama kali menunjukkan bahwa membayangkan ancaman dapat benar-benar mengubah cara itu direfleksikan dalam otak.

Tentu saja masih dibutuhkan riset lebih besar untuk menemukan hasil yang lebih akurat. Tapi, hasil riset ini tak bisa kita anggap sepele.

Clarissa Silva, selaku ilmuan perilaku dan pelatih hubungan, mengatakan imajinasi adalah “laboratorium kreatif” pikiran.

Saat kita semakin dewasa, kata Silva, imajinasi tak benar-benar hilang, hanya saja berubah agar sesuai dengan diri kita yang baru dan dewasa.

“Sebagai orang dewasa, imajinasi tidak selalu selaras dengan kenyataan, jadi kami mengabaikan elemen-elemen yang ada di luar sana,” kata Silva.

Meski imajinasi kita mungkin memudar dari waktu ke waktu, itu tidak sepenuhnya terhapus.

Faktanya, Silva mengatakan melatih mindfulness secara teratur dapat membantu kita membangkitkan kembali imajinasi untuk menciptakan realitas yang lebih baik bagi diri kita sendiri.

Peneliti yang terlibat dalam studi Neuron ini berpendapat, kita dapat menggunakan imajinasi secara konstruktif untuk membentuk apa yang dipelajari otak dari pengalaman.

Dengan kata lain, imajinasi kita dapat membantu kita belajar mengalami hal-hal dalam dunia nyata dengan cara yang berbeda, termasuk hal-hal yang biasanya kita takutkan.

Ketakutan bisa datang dalam berbagai bentuk dan tingkat intensitas. Jika kita mengalami ketakutan kronis, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya kita berbicara dengan dokter.

Ini mungkin terjadi karena kita menderita fobia, yang merupakan kecemasan klinis. Gangguan ini dapat didiagnosis dan diobati dengan terapi dan, jika perlu, obat-obatan.

Ketakutan non-kronis, bisa saja menghantui diri kita sewaktu-waktu. Tapi, ini bisa kita atasi dengan menyalurkan imajinasi.

” Imajinasi kita adalah di mana pikiran bawah sadar mulai membawa pikiran batin kita yang sebenarnya ke permukaan dan pikiran sadar kita,” kata Shannon Thomas, selaku terapis.

Dengan membuka pikiran kita terhadap kemungkinan yang dapat terjadi, kita membiarkan imajinasi bangkit dan membuka diri terhadap keinginan dan kekhawatiran terdalam kita yang mungkin tidak sepenuhnya kita sadari.

Menurut Shanon, itu bisa memengaruhi perilaku kita, khususnya kesehatan mental. Corrie LoGiudice, selaku pelatih emosi, imajinasi kita juga selaras dengan kecemasan.

Itulah sebabnya imajinasi dapat menjadi alat yang sangat kuat, terutama jika kita tahu cara mengendalikannya.

“Jika imajinasi terus-menerus membayangkan masa depan sebagai tempat yang berbahaya dan tidak ramah, atau peristiwa tertentu hanya dapat berakhir negatif, maka itulah lingkungan yang akan kita ciptakan untuk diri sendiri di masa depan,” papar LoGiudice.

Namun, jika kita bisa belajar menggunakan imajinasi untuk menciptakan visi hasil masa depan yang positif, menurutnya, ini akan membantu kita membangun rasa percaya diri yang lebih kuat, dan meminimalkan ketakutan seiring waktu.

Terlebih lagi, memiliki kemampuan untuk memasuki imajinasi sebagai orang dewasa dapat bermanfaat bagi kesehatan karena memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif,.

Imajinasi juga mempermudah situasi yang nampak sulit. Misalnya, jika kita pernah mendengar seseorang berkata “temukan tempat bahagia Anda,” imajinasi adalah tiket untuk membawa kita ke sana.

Evanye Lawson, seorang psikoterapis berlisensi, mengatakan menggunakan imajinasi dapat meningkatkan kemampuan melihat hal-hal dari perspektif yang lebih positif, bahkan ketika sulit untuk melihat yang baik dalam suatu situasi.

“Kita bisa mengelabui atau membayangkan diri kita sendiri di dalam hutan yang damai dan bahagia atau dalam situasi nyata saat ini,” papar Lawson.

Dengan cara ini, baik kesehatan mental dan kemampuan untuk menjadi kreatif – melalui seni, musik, menulis, apa pun yang cocok untuk diri kita – bisa mengalami peningkatan.

Jadi pada saat kita menemukan diri terjebak dalam situasi yang membosankan, berjuang untuk saat kecemasan melanda, cobalah untuk memasuki ruang imajinasi.

Buat skenario positif, dan lihat bagaimana imajinasi memengaruhi suasana hati kita. Jika membayangkan diri berada di tempat-tempat yang menyenangkan membuat dri kita merasa lebih baik, pertahankan.

Jika tidak, cobalah sedikit lebih lebih keras. Imajinasi kita pasti berada di suatu tempat.

Ariska Puspita Anggraini

Perasaan Bersyukur, Resep Panjang Umur

Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk bersyukur, dimulai dari kebiasaan mengucap “terima kasih” ketika mendapat sesuatu atau bantuan.

Teman yang baik, keluarga, rumah, dan kebaikan orang lain adalah sebagian dari nikmat yang perlu kita syukuri setiap hari.

Kini para ilmuwan menemukan bahwa rasa syukur bisa meningkatkan kesehatan mental dan fisik.

“Perasaan bersyukur setiap hari seperti vitamin bagi tubuh,” kata profesor psikologi David Desteno, PhD, dari Universitas Boston, Amerika Serikat.

Destono tidak hiperbolik. Penelitian membuktikan kaitan erat antara orang yang selalu bersyukur dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan kualitas tidur, dan masih banyak lagi.

Penelitian selama 15 tahun yang dilakukan profesor psikologi Robert Emmons menunjukkan hal tersebut.

Dalam satu penelitiannya, ia meminta sekelompok partisipan studi untuk menuliskan 5 hal yang mereka syukuri seminggu sekali selama 10 minggu.

Hal-hal “sederhana” seperti; sinar matahari yang hangat, menjadi seorang kakek, ataupun mendapat uang tambahan, merupakan ungkapan syukur yang dicatat para partisipan.

Di akhir penelitian, orang yang rajin menuliskan hal yang disyukuri merasa tingkat kebahagiaannya naik 25 persen.

Bukan hanya itu, perasaan syukur atas kehidupan yang dimiliki juga mendorong mereka untuk menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara rutin berolahraga. Keluhan fisik akibat gangguan kesehatan pun berkurang.

Penelitian lain yang dimuat di Journal of Health Psychology juga menunjukkan, perasaan syukur membuat para partisipan tidur lebih nyenyak dan tekanan darahnya turun.

Kondisi Waspada

Selain kaitan erat antara tubuh dan pikiran, ternyata ada penjelasan mengapa perasaan bersyukur menyehatkan.

Ketika kita merasa tegang dan kelelahan, entah karena tenggat pekerjaan atau masalah keluarga, sistem saraf kita akan berada dalam kondisi waspada.

Kondisi itu juga membuat hormon kortisol membanjiri tubuh yang akhirnya memicu gangguan kesehatan. Misalnya saja tekanan darah naik, susah fokus, hingga inflamasi.

Sebaliknya, ketika kita merasa bersyukur dan tenang, otak akan mengirimkan sinyal pada tubuh bahwa semuanya “terkendali”.

Sebenarnya tak sulit untuk bersyukur. Kita bisa mengusahakannya.

“Rasa syukur adalah pilihan, dan kita bisa menciptakannya pada momen apa pun yang terjadi. Lama-lama, hal itu menjadi otomatis,” kata Emmons.

Ia menambahkan, kita jangan hanya membuat daftar hal yang disyukuri, tetapi renungkan juga alasannya secara spesifik. Jadi, sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Lusia Kus Anna

5 Kiat Tubuh Sehat Dengan Mengandalkan Teknologi Internet yang Kian Maju

Sehat itu mahal harganya. Ungkapan ini tidak selamanya benar, karena saat ini sehat itu bisa diperoleh dengan murah, bahkan gratis. Dengan kemajuan teknologi saat ini, berbagai informasi kesehatan mudah diakses melalui internet. Banyak informasi yang lengkap dan Anda hanya tinggal mengikuti alias mempraktikkannya. Singkat kata, di era digital, sehat itu bisa jadi murah.

Meski begitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika Anda mau sehat lewat informasi internet. Begini cara pilih-pilih informasi kesehatan di dunia maya.

Kunci sehat dengan mengandalkan teknologi informasi kesehatan

1. Tetap Utamakan Konsultasi ke Ahlinya

Sebelum Anda mencari berbagai informasi di internet, ada baiknya ketahui dulu fakta-fakta dasar yang benar dari ahlinya. Gampangnya, Anda bisa bertanya ke dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lainnya.

Anda bisa mencari informasi tersebut dengan mendatangi puskesmas terdekat ataupun pusat pelayanan kesehatan lainnya. Tanyalah pada mereka, seperti apa situs kesehatan yang resmi dan bisa dipercaya. Dari situ, barulah Anda dapat mencari berbagai informasi di internet dan mengunjungi kanal kesehatan sesuai dengan kriteria yang disebutkan.

2. Jangan Langsung ‘Telan’, Tapi Baca dengan Kritis

Setelah Anda mendapatkan informasi dari internet, sebaiknya pahami dulu isinya baik-baik. Lihat artikel tersebut, siapa penulisnya, apakah penulisnya dari bidang kesehatan atau tidak. Kemudian, lanjut melihat sumber artikelnya, apakah artikel tersebut mengacu pada sumber terpercaya, seperti penelitian-penelitian terbaru.

Jangan dulu tergoda untuk langsung membagikan kepada teman atau sahabat. Kalau masuk akal, maka boleh dipercaya. Kalau isinya hanya berujung kepada jualan produk kesehatan, maka lebih baik tidak perlu dibagikan.

3. Waspada dengan Informasi yang Disediakan

Meski sedang mencari informasi kesehatan, orangtua mesti mendampingi anak-anak ketika mereka sedang mengakses situs tertentu. Bisa saja, situs yang diakses memiliki konten pornografi.

Tak cuma itu, pastikan bahwa semua informasi yang Anda dapatkan sahih alias benar, bukannya hoaks atau berita bohong. Jadi terkadang memang Anda harus mengecek dan meriset ulang, apakah informasi yang Anda dapatkan dari situs itu benar.

4. Cari informasi pada yang Sudah Berpengalaman

Informasi yang benar terkadang bisa datang dari pengalaman orang lain. Ya, pengalaman bisa jadi pelajaran yang baik. Maka itu, Anda bisa mendapatkan informasi ini dengan memperluas kenalan dan bergabung di dalam kelompok kesehatan di media sosial.

Bisa melalui Facebook, Whatsapp, line, dan sebagainya. Saat awal bergabung, perkenalkan dirimu, dan identitas secukupnya, lalu sampaikanlah maksud bergabung secara jelas. Anda bisa menyebutkan nama Anda dan bilang kalau Anda bergabung di grup ini untuk mencari informasi tentang stroke.

5. Jangan hanya Terpaku pada Satu Sumber

Biasakan untuk mencari berbagai sumber. Selain memperkaya informasi, hal ini perlu dilakukan supaya Anda tahu mana fakta dan mana yang kurang tepat. Cobalah membaca minimal dari 3-5 sumber internet di websites yang berbeda.

Misalnya, ingin tahu tentang tanaman obat yang berkhasiat mengobati kencing manis, maka cukup dengan mengetikkan kata kunci di Google ”Tanaman Obat Penumpas Diabetes”. Setelah itu, bacalah 3-5 artikel dari beberapa sumber terpercaya. Kalau baru menemukan dan memahami satu artikel dari internet, jangan langsung dijadikan acuan atau referensi.

Dengan lima kiat di atas, tentunya Anda sekeluarga dapat dengan mudah menjadi sehat lewat internet. Terus berlatih, berproses, dan bersabar adalah kata kunci yang mendasari keberhasilan dari 5 kiat sehat lewat internet ini.

Melalui internet sehat, diri kita dapat sehat, keluarga menjadi sehat, masyarakat pun ikut sehat. Masyarakat sehat inilah pondasi dasar menuju terciptanya Indonesia hebat.

dr. Dito Anurogo, M.Sc.

4 Langkah demi Kehidupan yang Lebih Baik

Keputusan yang diambil dalam hidup terkadang membuat seseorang masuk ke dalam lingkaran tertentu yang membuat putus asa, sedih atau kehilangan harapan.

Pada titik tersebut, tak jarang kita kemudian menginginkan sebuah perubahan dalam hidup, entah itu soal pekerjaan, rumah tangga, gaya hidup, atau lainnya.

Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Setidaknya ada empat langkah yang bisa kamu lakukan jika ingin mengubah hidupmu menjadi lebih baik dan menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

1. Menghadapi Rasa Takut

Kamu bisa mengubah hidupmu dengan menemukan bagaimana cara untuk mengontrol perasaanmu, sehingga dirimu tak lagi dikontrol oleh perasaan tersebut.

Misalnya, dalam menghadapi rasa takut. Kamu harus belajar untuk berani menghadapi sesuatu yang selama ini kamu takutkan dan melawannya. Jika berhasil, lihatlah perubahan apa yang akan terjadi dalam hidupmu.

2. Belajar Menyembuhkan

Kamu harus memahami bahwa dirimu mampu melepaskan hal-hal di masa lalu, ketakutan dan halangan apapun. Dengan melakukannya, keberanianmu akan mulai terbangun.

Ingatlah bahwa kamu perlu belajar menyembuhkan dirimu dari ingatan-ingatan yang menghantuimu selama ini. Ingat, terbelenggu masa lalu tidak akan pernah membuatmu berkembang atau hidup lebih baik.

Selain itu, tanamkan pada diri bahwa kamu bisa meraih perubahan dalam hidup jika kamu bisa menyembuhkan diri dari hal-hal masa lalu tersebut. Pilihannya ada pada dirimu sendiri.

3. Hidup Seimbang

Melatih kontrol diri adalah salah satu jalan yang ideal untuk menuju kehidupan yang lebih positif.

Kamu harus memahami bahwa kita bisa mengontrol bagaimana otak dan tubuh kita berjalan beriringan. Hidup dalam keseimbangan sangatlah penting jika kita mau mencapai perubahan hidup.

4. Melupakan Penyesalan

Kita semua tidak bisa mengubah hal yang sudah terjadi atau menjadikan sesuatu yang tidak pernah terjadi menjadi terjadi. Oleh karena itu, lepaskan lah masa lalu dan tak perlu disesali.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran seperti itu hanya akan membuatmu menjadi sedih dan jatuh, atau tidak mampu melangkah maju.

Nabilla Tashandra

Penelitian Ungkap Kaitan Media Sosial dan Depresi

Para peneliti dari University of Pennsylvania baru saja menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan depresi.

Ini memang terdengar tak masuk akal. Tapi, banyak kekhawatiran terjadi dan telah menjadi poin penting dari analsis objektif dalam riset ini.

Hasil riset diperoleh dengan menganalisa data eksperimen dari beberapa platform yang paling sering digunakan saat ini termasuk Facebook, Snapchat, dan Instagram.

Menurut Melissa G. Hunt, selaku pemimpin riset, penelitian ini jauh lebih komprehensif, ketat, dan lebih valid secara ekologi.

Tim riset menargetkan tiga platform paling populer di kalangan mahasiswa tingkat akhir, yang menjadi peserta dalam riset ini.

Tiga platform paling populer itu antara lain Instagram, Snapchat, dan Facebook.

Dalam riset ini, peneliti juga mengumpulkan data penggunaan obyektif peserta secara otomatis yang dilacak oleh iPhone milik mereka, untuk mengetahui data media sosial yang aktif.

Pada awal riset, peserta yang berjumlah 143 orang diminta menyelesaikan survei guna menetapkan suasana hati dan kesejahteraan mereka di awal penelitian.

Periset juga mengambil tangkapan layar tingkat baterai iPhone mereka untuk menyediakan data dasar media sosial selama satu minggu.

Subjek kemudian dibagi menjadi dua kelompok kontrol. Kelompok pertama diminta untuk terus melakukan praktik media sosial yang biasa mereka lakukan.

Sementara itu, kelompok kedua dibatasi hanya menggunakan Facebook, Instagram, dan Snapchat selama 10 menit sehari.

Proses ini berlangsung selama tiga minggu dengan data penggunaan baterai yang disimpan untuk setiap individu.

Dari ini, periset dapat membandingkan data terhadap tujuh faktor yang termasuk rasa takut kehilangan, kecemasan, depresi, dan kesepian.

Hasil menunjukkan mereka yang menggunakan sosial media lebih sedikit mengalami penurunan signifikan pada depresi dan kesepian.

Efek ini sangat terasa bagi orang-orang tekanan lebih saat bekerja. Bahkan, mengurangi penggunaan sosial media juga mengurangi rasa kesepian.

Menurut peneliti, beberapa literatur yang ada di media sosial menunjukkan ada sejumlah besar perbandingan sosial.

Ketika kita melihat kehidupan orang lain, terutama di Instagram, membuat kita mudah berpikir bahwa kehidupan orang lain lebih indah daripada hidup kita.

Dalam riset ini, peneliti merekrut peserta dengan kisaran usia 18-22 tahun.

Jadi, kita tak bisa dengan mudah menyimpulkan apakah efek yang sama juga berlaku untuk kelompok usia lainnya.

“Saat kita mengurangi waktu untuk menggunakan media sosial, kita sebenarnya telah menggunakan banyak waktu untuk hal-hal yang membuat hidup kita lebih baik,” ucap sang pemimpin riset.

Secara umum, peneliti percaya solusi terbaik adalah meletakkan ponsel dan menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar kita.

Ariska Puspita Anggraini

11 Cara Mengatasi Kecemasan dalam Hidup

Hidup memang tak selalu berjalan mulus. Terkadang, masalah datang untuk menguji kita sebagai manusia. Wajar jika kita merasa khawatir atau cemas akan masalah hidup yang menerpa.

Namun, terlalu khawatir hingga menimbulkan depresi juga bukan hal yang bagus untuk diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara mengatasi kekhawatiran yang berlebihan dalam hidup? Dilansir dari Reader’s Diggest, berikut beberapa cara mengatasi kecemasan.

1. Yoga Ilustrasi Posisi Yoga Lotus Asana

Riset telah membuktikan olahraga dapat menjadi solusi untuk mengatasi kecemasan dan depresi.

Sayangnya, manfaat olahraga ini seringkali diabaikan. Bahkan, banyak orang menganggap pergi ke gym dan berolahraga bersama banyak orang justru menambah rasa cemas.

Sebagai alternatif, cobalah untuk mempraktikan yoga. Kita bisa melakukannya secara pribadi di rumah.

“Olahraga membantu melepaskan endorfin yang penting untuk mengatasi rasa cemas yang bisa menurunkan tingkat stres,” kata Kelsey Torgerson, dokter klinis berlisensi dan spesialis kecemasan.

Secara pribadi, Torgerson juuga mempraktikan yoga empat kali seminggu.

“Yoga meningkatkan ‘jendela toleransi’ dan membangun keterampilan manajemen stres,” tambahnya.

2. Kurangi Menggunakan Sosial Media Ilustrasi Media Sosial Cyber

Banyak orang menggunakan media sosial untuk melampiaskan perasaan tertekan dan cemas.

Rebecca Burton, konselor pernikahan dan keluarga berlisensi, mengatakan cara ini justru semakin membahayakan diri kita.

“Menggunakan media sosial berarti kita rentan terhadap kejadian yang memicu kecemasan pada hari itu,” katanya.

Apalagi, media sosial kerap membuat kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang akan semakin menimbulkan rasa cemas.

Sebaiknya, kita mulai mengurangi penggunaan media sosial. Memang sangat susah melakukannya, terutama jika kita telah kecanduan.

Namun, daripada kita menghabiskan waktu untuk media sosial, Burton menyarankan agar kita menggunakan waktu untuk beristirahat.

3. Terima Kecemasan Sebagai Bagian Dalam

Akshay Nanavati, motivator pengembangan diri, mengatakan agar kita menerima kecemasan sebagai hal yang wajar dalam hidup.

“Merangkul dan memanfaatkan kecemasan akan membantu kita mengontrolnya, bukan sebaliknya,” paparnya.

Menurutnya, penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Dari sinilah, kita dapat belajar bagaimana membangun hubungan positif dengan rasa sakit.

Salah satu bagian terburuk dari kecemasan adalah rasa takut akan rasa sakit. Namun konyol untuk memulai penderitaan karena hal-hal yang belum terjadi.

Terimalah bahwa akan ada perjuangan. Selain itu, kita juga harus mengetahui jika diri kita cukup kuat untuk menghadapinya.

Jika kecemasan kita semakin besar dan kita merasa tak dapat menanganinya, cobalah untuk menemui dokter untuk mendapatkan tindak lanjut.

4. Lakukan Yang Terbaik Dan Berhenti Menunda

Sebagian besar kecemasan berasal dari kebiasaan menunda. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai menghilangkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan ini.

Denise Limongello, psikoterapis berlisensi dari Manhattan, menyarankan kita agar segera mengerjakan apa yang harus kita kerjakan.

“Banyak penelitian menunjukkan orang sering mengatasi kecemasan dengan penundaan,” katanya.

Menunda bukanlah hal yang bisa membuat kita terhindar dari rasa cemas. Menurut Limongello, tidak ada cara lain selain mengerjakan apa yang harus kita selesaikan.

Namun, untuk mengatasi rasa cemas yang terjadi karena hal di luar kendali kita, melakukan hal yang bisa kita lakukan sebaik mungkin akan membantu meringankan rasa cemas.

Jika kita tak mampu menunjukan apa yang membuat kita merasa cemas, bisa jadi kita menderita Generalized Anxiety Disorder.

Ini merupakan penyakit mental di mana kita dikelilingi rasa khawator tanpa tahu penyebabnya sepanjang waktu.

5. Kenali Gejala Kecemasan

Menurut Torgerson, setiap orang merasakan kecemasan secara berbeda. Oleh karena itu, respon setiap orang terhadap rasa cemas yang dialaminya juga berbeda.

“Mulailah dengan mencari tahu bagaimana reaksi tubuh kita terhadap kecemasan,” paparnya.

Reaksi tubuh menghadapi kecemasan, kata Torgerson, bisa berupa tangan yang dingin, tegang, rasa sakit di perut dan dada, atau nafas yang berat.

Semua itu adalah hal yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi kecemasan.

“Segera setelah kita melihat tanda pertama kecemasan, segera tarik napas dalam-dalam lalu lakukan sesuatu yang yang membuat kita merasa tenang,” paparnya.

Ia menambahkan bersikap proaktif sangat membantu dalam mengelola kecemasan.

Namun, gejala fisik hanyalsah sebagian kecil dari gejala kecemasan yang terjadi.

6. Ciptakan Gaya Hidup

Cara mudah untuk mengatasi kecemasan adalah dengan menciptakan rutinitas yang sehat.

“Kecemasan membuat kualitas tidur memburuk, membuat kita kecanduan junk food, alkohol dan obat-obatan,” kata Burton.

Kecemasan juga membuat kita menerapkan gaya hidup pasif. Memperbaiki gaya hidup adaah langkah pertama yang harus dilakukan selama periode kecemasan yang inten.

Jadi, daripada kita terjebak dalam kecemasan terus menerus, lebih baik kita fokus untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.

Misalnya, kita menetapkan aturan tak lagi memakai ponsel setelah jam 10 malam, mempraktikkan konsumsi sayur setiap hari, atau olahraga selama 20 menit setiap hari.

“Ketika gaya hidup sehat yang kita pilih telah melekat dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti bisa menambahkan banyak kebiasaan postif,” kata Burton.

“Mengontrol kebiasaan akan meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi kecemasan dengan meningkatkan rasa percaya diri,” tambahnya.

Cara ini juga menciptakan perasaan yang mampu mengendalikan hidup ketika situasi di sekitar kita terasa penuh tekanan.

7. Pandang Kecemasan Sebagai Hal Istimewa

Memiliki rasa cemas dalam hidup memang terasa menyakitkan. Tapi, Menurut Nanavati, kecemasan juga memiliki beberapa sisi yang bisa kita gunakan untuk membantu diri kita.

Jadi, alih-alih kita menjadi lemah karena kekhawatiran, sebaiknya kita memandangnya sebagai cara untuk mengatasi kecemasan.

“Kita harus percaya setiap peristiwa atau keadaan adalah peluang untuk mendewasakan diri,” katanya.

Menurutnya, setiap orang dapat mencapai apa pun dengan usaha yang tepat.

Jadi, daripada kita menyalahkan keadaan atau mempertanyakan kemampuan, biarkan rasa cemas memotivasi kita untuk mengubah hal-hal yang membuat khawatir.

8. Ambil Nafas Dalam-Dalam Atau Meditasi Teratur

Mengambil nafas dalam-dalam atau meditasi ringan setiap beberapa jam sangat bagus untuk mengurangi kecemasan.

Agar kita melakukannya secara teratur, Torgerson merekomendasikan kita untuk memanfaatkan aplikasi pengingat di ponsel.

“Ketika pengingat berbunyi, ambil tiga napas mendalam dengan diafragma. Ambil napas melalui hidung, dan keluarkan dari mulut selama lima hitungan,” katanya.

Kita juga bisa mengunduh aplikasi meditasi untuk menjadi pengingat setiap harinya.

9. Melakukan Persiapan Dan Berlatih

Saat akan melakukan hal penting, misalnya presentasi, kita pasti akan diselimuti rasa khawatir.

Untuk mengatasinya, kata Limongello, kita bisa melakukan latihan demi meningkatkan kinerja dan mengurangi kecemasan.

“Riset menunjukkan latihan seperti bermain peran dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kecemasan,” katanya.

Untuk melakukan hal ini, kita bisa mencobanya sendiri atau meminta bantuan teman.

10. Mencintai Diri Sendiri Ilustrasi Pria Kurus

Kekhawatiran adalah masalah nyata. Orang yang memiliki kecemasan seringkali mengalami rasa malu, entah karena orang lain atau diri sendiri.

Namun, menurut Nanavati, menyalahkan diri sendiri dan merasa malu karena kecemasan yang dialami hanya memperburuk masalah.

Selain itu, kita juga harus mengetahui perbedaan antara perasaan stres dan kegelisahan.

Kita memang harus berusaha mengurangi keduanya dan memahami bagaimana kita menanggapi rasa sakit tersebut.

Nanavati mengatakan semua manusia selalu dihadapi oleh dua momen, yatu peristiwa yang menyakitkan dan bagaimana menghadapinya.

Alih-alih marah pada diri sendiri, sebaiknya kita mencari cara untuk mengendalikan rasa sakit tersebut.

Ia menyarankan agar kita tak terjebak dalam kecemasan, sebaiknya, kita memperkuat diri sendiri dan fokus kembali pada pikiran positif.

11. Melakukan Banyak Hal

Kecemasan bisa melemahkan kita, yang pada akhirnya dapat menambah kecemasan lebih banyak lagi.

Menurut Burton, untuk menghadapi hal ini kita harus melakukan segala hal atau menyibukkan diri.

“Kecemasan adalah ketakutan dan ketidakberdayaan. Bergantung pada lingkup situasi, dan seberapa besar dampaknya,” kata Burton.

Oleh karena itu, lakukan segala hal yang bisa kita lakukan, terutama hal-hal positif untuk mengatasinya.

Kita bisa mengatasi rasa cemas dengan menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan.

Misalnya, kita bisa melakukan kegiatan sosial atau melakukan kegiatan lain yang benar-benar ampuh membuat kita kuat saat mengahadapi kecemasan.

Ariska Puspita Anggraini

Cuaca Semakin Panas, Angka Bunuh Diri Melonjak

Perubahan cuaca ternyata juga berimbas pada kesehatan mental manusia.

Hal ini telah dibuktikan secara ilmiah lewat riset yang menghubungkan peningkatan suhu dan melonjaknya angka bunuh diri di Amerika Serikat dan Meksiko.

Dilansir dari laman Techtimes, riset ini dilakukan dengan membandingkan suhu historis serta data bunuh diri selama beberapa dekade.

Hasil menunjukan adanya korelasi kuat antara cuaca yang lebih panas dan meningkatnya angka bunuh diri.

Riset dilakukan oleh peneliti dari University of California.

Solomon Hsiang, sang pemimpin riset, mengatakan peningkatan suhu sebesar 2,5 derajat celcius pada tahun 2050 dapat meningkatkan angka bunuh diri sebesar 1,4 persen di Amerika.

Bahkan, hal yang sama menyebabkan kenaikan angka bunuh diri sebesar 2,3 persen di Meksiko.

Peneliti memperkirakan suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan 21.000 kasus bunuh diri tambahan di dua negara tersebut pada tahun 2050.

“Kami menemukan tingkat bunuh diri meningkat 0,7 persen di AS dan 2,1 di Meksiko saat terjadi peningkatan satu derajat celcius pada suhu rata-rata bulanan,” tulis Hsiang

Menurutnya, efek ini serupa dengan yang terjadi daerah yang lebih panas, dan tidak berbeda dari waktu ke waktu serta menunjukan adaptasi historis yang terbatas.

Periset telah lama mengetahui konflik dan kekerasan cenderung memuncak selama musim panas.

Namun, periset mengatakan penelitian ini telah menjadi bukti nyata jika cuaca panas juga berimbas pada fenomena bunuh diri.

Periset juga melihat fenomena ini lewat penggunaan bahasa dalam twitter untuk meneliti efek suhu panas pada kesehatan mental.
Hasilnya didapati bahwa cuaca panas terkait dengan peningkatan penggunaan bahasa depresif di media sosial.

Hsiang mengatakan cuaca panas tampaknya memiliki efek mendalam pada pikiran manusia dan bagaimana orang memutuskan untuk mencelakai diri sendiri.

“Ini mungkin bukti pertama yang menentukan perubahan iklim akan memiliki efek substansial pada kesehatan mental di Amerika Serikat dan Meksiko, dengan efek yang tragis bagi manusia,” kata Hsiang.

Ia mengaku telah mempelajari pengaruh pemanasan terhadap konflik dan kekerasan selama bertahun-tahun.
Alhasil, ia menemukan lebih banyak orang yang terlibat dalam pertengkaran ketika cuaca panas.

Faktor-faktor potensial dapat berkontribusi pada risiko bunuh diri.

Para ahli kesehatan mental telah memperingatkan fenomena bunuh diri di kalangan pesohor juga dapat menyebabkan lonjakan kecenderungan bunuh diri.

Kecenderungan bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 kejadian per tahun pada tahun 2010. Dalam dua tahun terakhir, angka tersebut mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

Bahkan, data organsasi kesehatan dunia mengklaim bunuh diri adalah akibat kematian terbesar kedua di dunia.

Ariska Puspita Anggraini