Penelitian Ungkap Kaitan Media Sosial dan Depresi

Para peneliti dari University of Pennsylvania baru saja menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan depresi.

Ini memang terdengar tak masuk akal. Tapi, banyak kekhawatiran terjadi dan telah menjadi poin penting dari analsis objektif dalam riset ini.

Hasil riset diperoleh dengan menganalisa data eksperimen dari beberapa platform yang paling sering digunakan saat ini termasuk Facebook, Snapchat, dan Instagram.

Menurut Melissa G. Hunt, selaku pemimpin riset, penelitian ini jauh lebih komprehensif, ketat, dan lebih valid secara ekologi.

Tim riset menargetkan tiga platform paling populer di kalangan mahasiswa tingkat akhir, yang menjadi peserta dalam riset ini.

Tiga platform paling populer itu antara lain Instagram, Snapchat, dan Facebook.

Dalam riset ini, peneliti juga mengumpulkan data penggunaan obyektif peserta secara otomatis yang dilacak oleh iPhone milik mereka, untuk mengetahui data media sosial yang aktif.

Pada awal riset, peserta yang berjumlah 143 orang diminta menyelesaikan survei guna menetapkan suasana hati dan kesejahteraan mereka di awal penelitian.

Periset juga mengambil tangkapan layar tingkat baterai iPhone mereka untuk menyediakan data dasar media sosial selama satu minggu.

Subjek kemudian dibagi menjadi dua kelompok kontrol. Kelompok pertama diminta untuk terus melakukan praktik media sosial yang biasa mereka lakukan.

Sementara itu, kelompok kedua dibatasi hanya menggunakan Facebook, Instagram, dan Snapchat selama 10 menit sehari.

Proses ini berlangsung selama tiga minggu dengan data penggunaan baterai yang disimpan untuk setiap individu.

Dari ini, periset dapat membandingkan data terhadap tujuh faktor yang termasuk rasa takut kehilangan, kecemasan, depresi, dan kesepian.

Hasil menunjukkan mereka yang menggunakan sosial media lebih sedikit mengalami penurunan signifikan pada depresi dan kesepian.

Efek ini sangat terasa bagi orang-orang tekanan lebih saat bekerja. Bahkan, mengurangi penggunaan sosial media juga mengurangi rasa kesepian.

Menurut peneliti, beberapa literatur yang ada di media sosial menunjukkan ada sejumlah besar perbandingan sosial.

Ketika kita melihat kehidupan orang lain, terutama di Instagram, membuat kita mudah berpikir bahwa kehidupan orang lain lebih indah daripada hidup kita.

Dalam riset ini, peneliti merekrut peserta dengan kisaran usia 18-22 tahun.

Jadi, kita tak bisa dengan mudah menyimpulkan apakah efek yang sama juga berlaku untuk kelompok usia lainnya.

“Saat kita mengurangi waktu untuk menggunakan media sosial, kita sebenarnya telah menggunakan banyak waktu untuk hal-hal yang membuat hidup kita lebih baik,” ucap sang pemimpin riset.

Secara umum, peneliti percaya solusi terbaik adalah meletakkan ponsel dan menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar kita.

Ariska Puspita Anggraini

11 Cara Mengatasi Kecemasan dalam Hidup

Hidup memang tak selalu berjalan mulus. Terkadang, masalah datang untuk menguji kita sebagai manusia. Wajar jika kita merasa khawatir atau cemas akan masalah hidup yang menerpa.

Namun, terlalu khawatir hingga menimbulkan depresi juga bukan hal yang bagus untuk diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara mengatasi kekhawatiran yang berlebihan dalam hidup? Dilansir dari Reader’s Diggest, berikut beberapa cara mengatasi kecemasan.

1. Yoga Ilustrasi Posisi Yoga Lotus Asana

Riset telah membuktikan olahraga dapat menjadi solusi untuk mengatasi kecemasan dan depresi.

Sayangnya, manfaat olahraga ini seringkali diabaikan. Bahkan, banyak orang menganggap pergi ke gym dan berolahraga bersama banyak orang justru menambah rasa cemas.

Sebagai alternatif, cobalah untuk mempraktikan yoga. Kita bisa melakukannya secara pribadi di rumah.

“Olahraga membantu melepaskan endorfin yang penting untuk mengatasi rasa cemas yang bisa menurunkan tingkat stres,” kata Kelsey Torgerson, dokter klinis berlisensi dan spesialis kecemasan.

Secara pribadi, Torgerson juuga mempraktikan yoga empat kali seminggu.

“Yoga meningkatkan ‘jendela toleransi’ dan membangun keterampilan manajemen stres,” tambahnya.

2. Kurangi Menggunakan Sosial Media Ilustrasi Media Sosial Cyber

Banyak orang menggunakan media sosial untuk melampiaskan perasaan tertekan dan cemas.

Rebecca Burton, konselor pernikahan dan keluarga berlisensi, mengatakan cara ini justru semakin membahayakan diri kita.

“Menggunakan media sosial berarti kita rentan terhadap kejadian yang memicu kecemasan pada hari itu,” katanya.

Apalagi, media sosial kerap membuat kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang akan semakin menimbulkan rasa cemas.

Sebaiknya, kita mulai mengurangi penggunaan media sosial. Memang sangat susah melakukannya, terutama jika kita telah kecanduan.

Namun, daripada kita menghabiskan waktu untuk media sosial, Burton menyarankan agar kita menggunakan waktu untuk beristirahat.

3. Terima Kecemasan Sebagai Bagian Dalam

Akshay Nanavati, motivator pengembangan diri, mengatakan agar kita menerima kecemasan sebagai hal yang wajar dalam hidup.

“Merangkul dan memanfaatkan kecemasan akan membantu kita mengontrolnya, bukan sebaliknya,” paparnya.

Menurutnya, penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Dari sinilah, kita dapat belajar bagaimana membangun hubungan positif dengan rasa sakit.

Salah satu bagian terburuk dari kecemasan adalah rasa takut akan rasa sakit. Namun konyol untuk memulai penderitaan karena hal-hal yang belum terjadi.

Terimalah bahwa akan ada perjuangan. Selain itu, kita juga harus mengetahui jika diri kita cukup kuat untuk menghadapinya.

Jika kecemasan kita semakin besar dan kita merasa tak dapat menanganinya, cobalah untuk menemui dokter untuk mendapatkan tindak lanjut.

4. Lakukan Yang Terbaik Dan Berhenti Menunda

Sebagian besar kecemasan berasal dari kebiasaan menunda. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai menghilangkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan ini.

Denise Limongello, psikoterapis berlisensi dari Manhattan, menyarankan kita agar segera mengerjakan apa yang harus kita kerjakan.

“Banyak penelitian menunjukkan orang sering mengatasi kecemasan dengan penundaan,” katanya.

Menunda bukanlah hal yang bisa membuat kita terhindar dari rasa cemas. Menurut Limongello, tidak ada cara lain selain mengerjakan apa yang harus kita selesaikan.

Namun, untuk mengatasi rasa cemas yang terjadi karena hal di luar kendali kita, melakukan hal yang bisa kita lakukan sebaik mungkin akan membantu meringankan rasa cemas.

Jika kita tak mampu menunjukan apa yang membuat kita merasa cemas, bisa jadi kita menderita Generalized Anxiety Disorder.

Ini merupakan penyakit mental di mana kita dikelilingi rasa khawator tanpa tahu penyebabnya sepanjang waktu.

5. Kenali Gejala Kecemasan

Menurut Torgerson, setiap orang merasakan kecemasan secara berbeda. Oleh karena itu, respon setiap orang terhadap rasa cemas yang dialaminya juga berbeda.

“Mulailah dengan mencari tahu bagaimana reaksi tubuh kita terhadap kecemasan,” paparnya.

Reaksi tubuh menghadapi kecemasan, kata Torgerson, bisa berupa tangan yang dingin, tegang, rasa sakit di perut dan dada, atau nafas yang berat.

Semua itu adalah hal yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi kecemasan.

“Segera setelah kita melihat tanda pertama kecemasan, segera tarik napas dalam-dalam lalu lakukan sesuatu yang yang membuat kita merasa tenang,” paparnya.

Ia menambahkan bersikap proaktif sangat membantu dalam mengelola kecemasan.

Namun, gejala fisik hanyalsah sebagian kecil dari gejala kecemasan yang terjadi.

6. Ciptakan Gaya Hidup

Cara mudah untuk mengatasi kecemasan adalah dengan menciptakan rutinitas yang sehat.

“Kecemasan membuat kualitas tidur memburuk, membuat kita kecanduan junk food, alkohol dan obat-obatan,” kata Burton.

Kecemasan juga membuat kita menerapkan gaya hidup pasif. Memperbaiki gaya hidup adaah langkah pertama yang harus dilakukan selama periode kecemasan yang inten.

Jadi, daripada kita terjebak dalam kecemasan terus menerus, lebih baik kita fokus untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.

Misalnya, kita menetapkan aturan tak lagi memakai ponsel setelah jam 10 malam, mempraktikkan konsumsi sayur setiap hari, atau olahraga selama 20 menit setiap hari.

“Ketika gaya hidup sehat yang kita pilih telah melekat dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti bisa menambahkan banyak kebiasaan postif,” kata Burton.

“Mengontrol kebiasaan akan meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi kecemasan dengan meningkatkan rasa percaya diri,” tambahnya.

Cara ini juga menciptakan perasaan yang mampu mengendalikan hidup ketika situasi di sekitar kita terasa penuh tekanan.

7. Pandang Kecemasan Sebagai Hal Istimewa

Memiliki rasa cemas dalam hidup memang terasa menyakitkan. Tapi, Menurut Nanavati, kecemasan juga memiliki beberapa sisi yang bisa kita gunakan untuk membantu diri kita.

Jadi, alih-alih kita menjadi lemah karena kekhawatiran, sebaiknya kita memandangnya sebagai cara untuk mengatasi kecemasan.

“Kita harus percaya setiap peristiwa atau keadaan adalah peluang untuk mendewasakan diri,” katanya.

Menurutnya, setiap orang dapat mencapai apa pun dengan usaha yang tepat.

Jadi, daripada kita menyalahkan keadaan atau mempertanyakan kemampuan, biarkan rasa cemas memotivasi kita untuk mengubah hal-hal yang membuat khawatir.

8. Ambil Nafas Dalam-Dalam Atau Meditasi Teratur

Mengambil nafas dalam-dalam atau meditasi ringan setiap beberapa jam sangat bagus untuk mengurangi kecemasan.

Agar kita melakukannya secara teratur, Torgerson merekomendasikan kita untuk memanfaatkan aplikasi pengingat di ponsel.

“Ketika pengingat berbunyi, ambil tiga napas mendalam dengan diafragma. Ambil napas melalui hidung, dan keluarkan dari mulut selama lima hitungan,” katanya.

Kita juga bisa mengunduh aplikasi meditasi untuk menjadi pengingat setiap harinya.

9. Melakukan Persiapan Dan Berlatih

Saat akan melakukan hal penting, misalnya presentasi, kita pasti akan diselimuti rasa khawatir.

Untuk mengatasinya, kata Limongello, kita bisa melakukan latihan demi meningkatkan kinerja dan mengurangi kecemasan.

“Riset menunjukkan latihan seperti bermain peran dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kecemasan,” katanya.

Untuk melakukan hal ini, kita bisa mencobanya sendiri atau meminta bantuan teman.

10. Mencintai Diri Sendiri Ilustrasi Pria Kurus

Kekhawatiran adalah masalah nyata. Orang yang memiliki kecemasan seringkali mengalami rasa malu, entah karena orang lain atau diri sendiri.

Namun, menurut Nanavati, menyalahkan diri sendiri dan merasa malu karena kecemasan yang dialami hanya memperburuk masalah.

Selain itu, kita juga harus mengetahui perbedaan antara perasaan stres dan kegelisahan.

Kita memang harus berusaha mengurangi keduanya dan memahami bagaimana kita menanggapi rasa sakit tersebut.

Nanavati mengatakan semua manusia selalu dihadapi oleh dua momen, yatu peristiwa yang menyakitkan dan bagaimana menghadapinya.

Alih-alih marah pada diri sendiri, sebaiknya kita mencari cara untuk mengendalikan rasa sakit tersebut.

Ia menyarankan agar kita tak terjebak dalam kecemasan, sebaiknya, kita memperkuat diri sendiri dan fokus kembali pada pikiran positif.

11. Melakukan Banyak Hal

Kecemasan bisa melemahkan kita, yang pada akhirnya dapat menambah kecemasan lebih banyak lagi.

Menurut Burton, untuk menghadapi hal ini kita harus melakukan segala hal atau menyibukkan diri.

“Kecemasan adalah ketakutan dan ketidakberdayaan. Bergantung pada lingkup situasi, dan seberapa besar dampaknya,” kata Burton.

Oleh karena itu, lakukan segala hal yang bisa kita lakukan, terutama hal-hal positif untuk mengatasinya.

Kita bisa mengatasi rasa cemas dengan menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan.

Misalnya, kita bisa melakukan kegiatan sosial atau melakukan kegiatan lain yang benar-benar ampuh membuat kita kuat saat mengahadapi kecemasan.

Ariska Puspita Anggraini

Cuaca Semakin Panas, Angka Bunuh Diri Melonjak

Perubahan cuaca ternyata juga berimbas pada kesehatan mental manusia.

Hal ini telah dibuktikan secara ilmiah lewat riset yang menghubungkan peningkatan suhu dan melonjaknya angka bunuh diri di Amerika Serikat dan Meksiko.

Dilansir dari laman Techtimes, riset ini dilakukan dengan membandingkan suhu historis serta data bunuh diri selama beberapa dekade.

Hasil menunjukan adanya korelasi kuat antara cuaca yang lebih panas dan meningkatnya angka bunuh diri.

Riset dilakukan oleh peneliti dari University of California.

Solomon Hsiang, sang pemimpin riset, mengatakan peningkatan suhu sebesar 2,5 derajat celcius pada tahun 2050 dapat meningkatkan angka bunuh diri sebesar 1,4 persen di Amerika.

Bahkan, hal yang sama menyebabkan kenaikan angka bunuh diri sebesar 2,3 persen di Meksiko.

Peneliti memperkirakan suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan 21.000 kasus bunuh diri tambahan di dua negara tersebut pada tahun 2050.

“Kami menemukan tingkat bunuh diri meningkat 0,7 persen di AS dan 2,1 di Meksiko saat terjadi peningkatan satu derajat celcius pada suhu rata-rata bulanan,” tulis Hsiang

Menurutnya, efek ini serupa dengan yang terjadi daerah yang lebih panas, dan tidak berbeda dari waktu ke waktu serta menunjukan adaptasi historis yang terbatas.

Periset telah lama mengetahui konflik dan kekerasan cenderung memuncak selama musim panas.

Namun, periset mengatakan penelitian ini telah menjadi bukti nyata jika cuaca panas juga berimbas pada fenomena bunuh diri.

Periset juga melihat fenomena ini lewat penggunaan bahasa dalam twitter untuk meneliti efek suhu panas pada kesehatan mental.
Hasilnya didapati bahwa cuaca panas terkait dengan peningkatan penggunaan bahasa depresif di media sosial.

Hsiang mengatakan cuaca panas tampaknya memiliki efek mendalam pada pikiran manusia dan bagaimana orang memutuskan untuk mencelakai diri sendiri.

“Ini mungkin bukti pertama yang menentukan perubahan iklim akan memiliki efek substansial pada kesehatan mental di Amerika Serikat dan Meksiko, dengan efek yang tragis bagi manusia,” kata Hsiang.

Ia mengaku telah mempelajari pengaruh pemanasan terhadap konflik dan kekerasan selama bertahun-tahun.
Alhasil, ia menemukan lebih banyak orang yang terlibat dalam pertengkaran ketika cuaca panas.

Faktor-faktor potensial dapat berkontribusi pada risiko bunuh diri.

Para ahli kesehatan mental telah memperingatkan fenomena bunuh diri di kalangan pesohor juga dapat menyebabkan lonjakan kecenderungan bunuh diri.

Kecenderungan bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 kejadian per tahun pada tahun 2010. Dalam dua tahun terakhir, angka tersebut mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

Bahkan, data organsasi kesehatan dunia mengklaim bunuh diri adalah akibat kematian terbesar kedua di dunia.

Ariska Puspita Anggraini

7 Cara Mudah Agar Pola Tidur Tetap Baik Selama Bulan Puasa

Pola makan bukanlah satu-satunya hal yang berubah dalam rutinitas Anda selama bulan puasa. Kewajiban untuk bangun di pagi buta demi makan sahur tak ayal membuat waktu tidur malam Anda jadi berkurang. Perubahan pola tidur saat puasa inilah yang tanpa disadari kerap menjadi alasan mengapa kita sering lemas dan mengantuk sepanjang hari. Ujung-ujungnya, produktivitas di sekolah maupun tempat kerja juga jadi berkurang.

Jangan jadikan puasa sebagai alasan Anda untuk tidak bersemangat menjalani hari. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa membantu Anda memperbaiki pola tidur saat puasa agar tidak mudah mengantuk selama beraktivitas di siang hari.

Tips menjaga pola tidur saat puasa supaya tidak cepat ngantuk

1. Majukan Waktu Tidur

Sebisa mungkin, majukan waktu tidur Anda selama bulan puasa dan jadwalkan di waktu yang sama setiap harinya. Misalnya jika selama bulan puasa Anda rutin melaksanakan shalat Tarawih, usahakan untuk menyegerakan tidur setelahnya dan jangan paksakan begadang.

Kalau biasanya shalat Tarawih usai sekitar pukul 8 malam, ambil jangka waktu persiapan tidur selama 90 menit (untuk mandi, beres-beres, dst), lalu pergilah tidur. Artinya, Anda seharusnya sudah berbaring di tempat tidur pada pukul 9.30 malam. Dan jika Anda tahu Anda harusnya tidur pukul 9.30, hentikan apapun aktivitas Anda yang memberatkan pada pukul 9.15, atau lebih cepat jika bisa.

Jika Anda tidak membiasakan tidur lebih cepat selama bulan puasa, maka jam tidur Anda bisa berkurang rata-rata 40 menit karena terpotong waktu sahur. Menurut penelitian dalam Journal of Sleep Research, ini akan mengurangi durasi tahap tidur pulas atau REM (rapid eye movement) yang bikin Anda mudah lemas dan mengantuk di siang hari.

2. Sempatkan Tidur Lagi Setelah Sahur

Langsung tidur setelah sahur berdampak negatif bagi tubuh. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa tidur yang cukup merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi, layaknya kebutuhan akan udara dan makanan.

Untuk menyiasatinya, usahakan untuk bangun sahur tepat waktu. Karena dengan demikian, tubuh Anda masih memiliki cukup waktu luang untuk mencerna makanan seoptimal mungkin demi menghasilkan energi yang Anda butuhkan nanti. Sesudahnya, Anda masih punya waktu sekitar 1-2 jam sebelum siap-siap melanjutkan rutinitas Anda. Pergunakan waktu kosong ini untuk kembali tidur.

3. Sempatkan Curi Waktu Tidur

Pergunakan waktu luang yang ada selama seharian untuk curi-curi waktu tidur barang sebentar saja. Misalnya, tidur di kendaraan umum selama perjalanan pulang-pergi ngantor. Jika Anda mengendarai kendaraan pribadi, jangan paksakan segera berangkat jika masih mengantuk. Sebaiknya tidurlah sejenak terlebih dulu untuk menyegarkan pikiran. Begitu pula ketika Anda bersiap-siap pulang. Tambahan waktu tidur selama 5 menit saja sebenarnya sudah bisa memberikan pengaruh yang sangat luar biasa untuk tubuh Anda.

Selain itu, manfaatkan waktu istirahat makan siang untuk tidur siang. Tidur siang selama 20-30 menit saja sudah lebih dari cukup untuk memulihkan energi agar Anda kembali produktif. Peneliti menemukan bahwa tidur siang selama 30 menit dapat menutupi kebutuhan tidur jika Anda hanya tidur selama 2 jam di malam hari. Selain itu, tidur siang juga dapat mengendalikan hormon stres pada tubuh yang diakibatkan oleh kurangnya waktu tidur malam.

4. Perhatikan Apa yang Anda Konsumsi Sebelum Tidur

Jangan tidur di saat kelaparan atau bahkan sangat kekenyangan. Khususnya, hindari makanan berat beberapa jam sebelum tidur. Langsung tidur setelah makan besar dapat membuat waktu tidur Anda terganggu, bahkan dapat meningkatkan risiko Anda terkena stroke. Jika Anda sangat lapar dan terpaksa harus makan sebelum tidur, sebaiknya pilih makanan yang mudah dicerna dan makan dalam porsi kecil, seperti buah atau biskuit gandum.

Rokok dan kafein juga mesti Anda hindari jika mau menjaga pola tidur saat puasa. Efek stimulasi dari nikotin dan kafein membutuhkan waktu berjam-jam sampai bisa luruh sepenuhnya, sehingga ini bisa mengacak-acak kualitas tidur Anda.

5. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman

Buat kamar tidur Anda menjadi tempat pelarian yang ideal untuk tidur. Pastikan kamar tidur Anda adalah tempat yang gelap, sejuk dan tenang; dan jauhkan komputer, ponsel, TV, dan perangkat elektronik lainnya dari jangkauan Anda. Pancaran sinar terang dari perangkat elektronik bekerja meniru sifat cahaya alami matahari. Akibatnya, jam biologis tubuh menganggap cahaya ini sebagai sinyal bahwa hari masih pagi, dan karena itu produksi melatonin, hormon pemicu ngantuk, jadi terganggu.

Singkatnya, berjam-jam main hape sebelum tidur malah bikin Anda tambah semangat sehingga Anda membutuhkan waktu yang lebih lama untuk akhirnya bisa terlelap. Sebagai gantinya, lakukan aktivitas yang menenangkan sebelum tidur, seperti mandi air hangat, yoga ringan, atau teknik relaksasi tidur untuk membuat Anda tidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

6. Tetap Rutin Olahraga Saat Puasa

Aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan kualitas tidur yang lebih baik, bahkan selama bulan puasa. Tapi hindari berolahraga yang terlalu intens terlalu dekat dengan waktu tidur. Yang paling disarankan, berolahragalah di pagi hari. Jika sikonnya tidak memungkinkan, sebaiknya olahraga dilakukan sekitar empat hingga lima jam sebelum waktu tidur Anda dan berikan waktu sekitar satu jam untuk pemulihan dari aktivitas fisik sebelum waktu tidur.

7. Jangan Bedakan Jadwal Tidur di Hari Kerja dan Akhir Pekan

Mentang-mentang libur, Anda jadi berniat untuk membalas hutang tidur selama di hari kerja dengan bangun siang setelah sahur? Ini adalah cara yang salah jika Anda ingin menjaga pola tidur saat puasa yang berkualitas. Sebisa mungkin, jadwalkan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari — ya, termasuk di akhir pekan.

Aturan tidur dan bangun di jam yang sama juga harus tetap diterapkan selama hari libur. Jika Anda sudah terbiasa tidur teratur, tubuh Anda pun akan ikut membiasakan diri. Dengan mematuhi jadwal tidur yang teratur setiap harinya, tubuh Anda menjadi lebih ringan, hangat, dan hormon kortisol juga dilepaskan sehingga memberi Anda tendangan energi untuk beraktivitas. Bila Anda tiba-tiba mengubahnya, hal tersebut akan mengganggu metabolisme tubuh Anda.

Ajeng Quamila

6 Hal Ini Bisa Bikin Anda tidak Disukai

Hal sepele bisa membuat seseorang tak disukai atau buruk citranya dalam pergaulan. Jika tak mau itu terjadi, hindari melakukan tujuh kebiasaan berikut, seperti dilansir Indetendent.co.uk.

Keseringan Unggah Foto

Studi ilmiah mengungkap, rata-rata orang tak terlalu respek pada pengguna media sosial yang mengunggah foto pribadi dengan jumlah berlebihan. Walaupun berbagi adalah hal positif, jangan sampai sesuatu yang Anda unggah melukai perasaan orang lain atau terkesan pamer.

Membahas hal yang Terlalu Pribadi

Sahabat memang tempatnya curhat, tapi jangan gemar mengumbar hal yang terlalu personal di awal hubungan pertemanan. Studi yang dilakukan Susan Sprecher dari Illinois State University menyarankan untuk berbagi hal sederhana terlebih dahulu seperti hobi atau kenangan masa kecil.

Tidak Terbuka

Tak ada gunanya menyembunyikan emosi atau tidak mengutarakan pendapat yang sebenarnya dalam percakapan. Ini malah bisa jadi pencetus yang membuat Anda dianggap pribadi ‘palsu’ yang tidak bersikap natural.

Selalu Bilang Ya

Anda mungkin berpikir bisa memenangkan hati banyak orang dengan selalu berbuat baik tanpa pernah berkata tidak. Faktanya, studi oleh Washington State University pada 2010 menunjukkan, mereka yang bersikap begitu dianggap tidak punya pendirian atau menyimpan motif khusus.

Terlalu Merendah

Rendah hati adalah hal yang baik, tapi terlalu merendah dengan menjelekkan diri sendiri justru tak dianjurkan. Sebab, mereka yang melakukan self-criticism berlebihan terkesan tidak menghargai diri sendiri dan terlalu fokus pada kelemahan.

Grogi dan Berkeringat

Studi oleh Monell Chemical Senses Center pada 2013 menunjukkan bahwa setiap orang suka menilai mana pribadi yang kompeten, percaya diri, dan terpercaya dari bau keringat. Orang yang tercium mengeluarkan ‘keringat grogi’ cenderung dicap kurang positif, jadi ada baiknya Anda selalu menggunakan deodoran saat berjumpa orang lain.

Shelbi Asrianti

Dampak Buruk Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental

Meningkatnya penggunaan media sosial (medsos) membuat masyarakat dapat lebih terhubung satu sama lain. Namun medsos rupanya punya efek buruk terhadap kesehatan mental penggunanya.

Di balik keuntungan yang ditawarkan, aktivitas medsos yang terlampau sering membuat penggunanya justru tidak bahagia dan terisolasi. Dilansir dari Independent, inilah enam dampak buruk medsos terhadap kesehatan mental:

1. Penghargaan Diri

Sebagian pengguna medsos senang mengumbar isi hati atau memposting foto-foto kesehariannya. Sedangkan sebagian pengguna lain memilih untuk tidak mempublikasikan di medsos.

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain di medsos lewat foto-foto indah Instagram mereka atau mengecek status asmaranya di Facebook membuat kita jadi kurang menghargai diri sendiri.

Studi yang dilakukan University of Copenhagen menemukan banyak orang terkena dampak ‘kecemburuan Facebook’. Dengan melihat kehidupan orang lain di Facebook, mereka merasa kurang puas dengan pencapaian hidupnya.

“Ketika kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain di medsos sama artinya dengan menetapkan standar kebahagiaan di atas kemampuan kontrol kita,” kata Tim Bono, penulis When Likes Aren’t Enough kepada Healtista.

2. Hubungan Antarmanusia

Sebagai manusia, berkomunikasi dan terhubung dengan manusia lain adalah hal yang penting. Akan tetapi, interaksi bisa berubah menjadi sulit ketika mata tak bisa berhenti menatap layar gawai. Kita lebih sibuk berhubungan dengan teman di dunia maya daripada teman di dunia nyata.

Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology meneliti kondisi 5.208 responden yang secara reguler menggunakan Facebook. Hasilnya diketahui makin sering bermain medsos maka semakin buruk efeknya terhadap kesehatan mental.

3. Kemampuan Mengingat

Medsos sangat menbantu penggunanya mendokumentasikan foto-foto kegiatan yang terjadi di masa lalu. Namun, hal tersebut dapat memengaruhi pengguna mengingat momen-momen dalam hidupnya.

Banyak orang menyesal karena menghabiskan terlalu banyak waktu mengedit foto-foto selama liburan di medsos. Padahal melihat langsung pemandangan dengan mata kita sendiri adalah pengalaman yang tak ternilai harganya.

“Jika perhatian kita habya tersedot untuk mencari cara agar foto yang diposting di medsos nampak menarik, maka kita telah menyia-nyiakan kesempatan menikmati pengalaman secara langsung,” jelas Bono.

Meningkatnya penggunaan media sosial (medsos) membuat masyarakat dapat lebih terhubung satu sama lain. Namun medsos rupanya punya efek buruk terhadap kesehatan mental penggunanya.

Di balik keuntungan yang ditawarkan, aktivitas medsos yang terlampau sering membuat penggunanya justru tidak bahagia dan terisolasi. Dilansir dari Independent, inilah enam dampak buruk medsos terhadap kesehatan mental:

4. Gangguan Tidur

Punya waktu tidur yang cukup merupakan hal penting bagi setiap orang. Namun terlalu banyak menggunakan ponsel dapat membuat waktu tidur jadi terganggu. “Bangun tidur dengan kecemasan yang kita lihat di medsos membuat otak terus menerus bekerja dan mengganggu kualitas tidur,” jelas Tim Bono, penulis When Likes Aren’t Enough.

Selain itu, cahaya yang dipancarkan ponsel bisa menekan hormon melatonin dan membuat kita lelah. Menurut Bono, sebaiknya jangan gunakan ponsel 40 menit menjelang waktu tidur. Dengan demikian kita dapat menikmati waktu tidur yang lebih berkualitas.

5. Memecah Perhatian

Berlebihan menggunakan medsos tidak hanya memengaruhi kinerja otak dalam menghadapi kecemasan. Aktivitas ini juga membuat konsentrasi terpecah.

Medsos memang menyediakan segudang informasi namun menjadikan penggunanya sulit fokus. “Medsos menyajikan banyak hiburan dan informasi yang dengan mudah diakses,” kata Bono. Namun jika kita tidak bisa berhenti mengecek ponsel setiap beberapa menit, hal itu akan memengaruhi konsentrasi dan ketekunan kita dalam bekerja.

6. Kesehatan Mental

Medsos tidak saja terbukti menurunkan kebahagiaan tetapi juga memicu penggunanya mengalami gangguan mental. Kecemasan dan depresi adalah contoh gangguan yang dialami bila kita tidak bisa mengontrol penggunaan medsos.

Pada Maret silam dilaporkan sepertiga generasi Z dari 1000 responden memutuskan untuk berhenti bermain medsos agar punya kehidupan yang lebih tenang. Sebanyak 41 persen di antaranya merasa tertekan karena melihat postingan kehidupan orang lain di linimasa medsosnya.

ANTARA

Lakukan 7 Kebiasaan Baik Ini Sebelum Tidur

Rutinitas apa yang biasanya kamu lakukan sebelum tidur? Bermain gadget? Membaca buku? Atau makan? Tahukah kamu, kegiatan-kegiatan yang kamu lakukan sebelum tidur bisa memengaruhi kualitas tidur dan berdampak bagi kebugaran tubuh keesokan paginya. Nah, agar kamu bisa bangun dengan tubuh yang sehat, segar, dan bersemangat, yuk coba lakukan beberapa kebiasaan baik berikut, yaitu:

 Mandi

Buat kamu yang sering mengalami insomnia atau susah tidur, coba deh mandi dengan air hangat sebelum tidur. Menurut para ilmuwan, suhu tubuh ternyata sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur. Mandi air hangat memiliki efek powering down yang membuat otot-otot di seluruh tubuh jadi rileks dan membuat kamu merasa tenang dan nyaman. Jadi, kamu pun bisa lebih mudah tertidur.

Matikan Gadget

Kebanyakan orang “zaman now” tidak bisa berhenti bermain gadget, bahkan ketika sudah waktunya untuk tidur. Padahal, cahaya yang terpancar dari gadget bisa mengurangi jumlah melatonin yaitu hormon dalam tubuh yang berfungsi untuk membuat kamu mudah tertidur. Bermain gadget juga bisa menyebabkan kecanduan yang justru bikin kamu malah semakin sulit untuk tidur. Jadi, sebaiknya matikan gadget minimal satu jam sebelum waktu tidur, supaya  kamu dapat mudah tertidur nyenyak dan terhindar dari insomnia.

Menulis

Buat kamu yang senang menulis, nah, kegiatan ini bisa jadi solusi jika kamu sedang enggak bisa tidur. Penelitian menunjukkan bahwa menulis sesuatu yang menjadi beban pikiran bisa bantu mengeluarkan dan membersihkan pikiran. Jadi, kamu bisa lebih mudah tertidur.  Selain itu, menulis jurnal juga dapat meningkatkan kemampuan otak. Bahkan kegiatan ini direkomendasikan oleh para ahli sebagai salah satu cara untuk membantu kamu tertidur.

Membaca Buku

Daripada bermain gadget, membaca buku adalah salah satu alternatif kegiatan yang baik sebelum beristirahat. Membaca buku dapat membantu pikiran rileks sehingga membuat memunculkan rasa kantuk dengan sendirinya.

Gunakan Baju yang Nyaman

Pakaian yang kamu kenakan ternyata berpengaruh terhadap kualitas tidur, lho. Menggunakan pakaian tidur yang longgar, bersih dan lembut membuat tidur jadi lebih pulas dan nyenyak. Buat para wanita, kamu juga disarankan untuk tidur tanpa bra agar peredaran darah menjadi lebih lancar.

Meditasi

Jika hari-hari kamu melelahkan dan bikin pikiran jadi stres, cobalah lakukan meditasi sebelum tidur. Kamu bisa memasang aromaterapi yang wanginya menenangkan, meredupkan lampu kamar, dan pejamkan mata selama beberapa saat agar pikiran menjadi lebih rileks. Meditasi bukan hanya bermanfaat untuk menghilangkan stress dan sakit kepala, tapi juga efektif membantu kamu untuk bisa tidur dengan nyenyak.

Minum Air Putih

Kita semua tahu bahwa air putih punya banyak manfaat baik untuk kesehatan tubuh, salah satunya adalah menjaga kelembapan kulit saat kita tertidur. Minumlah minimal satu gelas air bersuhu normal (bukan air dingin) beberapa jam sebelum tidur, agar tubuh tetap terhidrasi.

Nah, sudah tahu kan kegiatan apa saja yang baik dilakukan sebelum tidur? Yuk,  mulailah lakukan 7 kegiatan tersebut setiap hari sebelum tidur untuk waktu istirahat yang lebih berkualitas. Punya masalah kesehatan yang mengganggu? Coba bicarakan saja dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Hubungi dokter dan sampaikan semua keluhanmu melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Jadi, tunggu apa lagi?

Halodoc.com

4 Sinyal Tak Biasa dari Tubuh Ketika Kamu Sedang Stres

Stres bisa datang dari mana saja. Masalah pekerjaan hingga rumah tangga, atau bahkan sekadar macet di perjalanan saja sudah bisa bikin seseorang stres.

Sayangnya, tak sedikit dari kita yang menyepelekan stres. Padahal, tubuh akan mengirimkan sinyal ketika kita stres agar bisa beristirahat dan rileks sejenak.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 4 sinyal dari tubuh yang menandakan kamu stres dan butuh istirahat:

1. Sakit Perut

Pelepasan hormon kortisol saat stres sangat memengaruhi saluran cerna. Sakit perut, mual, hingga masalah lambung rentan menyerang ketika kamu sedang stres.

2. Sulit Mendengar

Selain perut, hormon stres juga memengaruhi penerimaan gelombang suara pada koklea di telinga. Saat stres, kamu bisa saja sulit mendegar dan mengalami gangguan pendengaran.

3. Lemot

Stres juga memengaruhi fungsi otak lho. Orang yang stres akan sulit berkonstrasi, sulit mengingat, lemot, dan cenderung mengambil keputusan yang buruk.

4. Gatal-gatal

Stres menyebabkan fungsi saraf lebih peka. Hal ini menyebabkan kamu lebih mudah merasa gatal dan geli jika sedang stres.
Muhamad Reza Sulaiman

Demi Kesehatan Mental, Ini 4 Tips untuk Tidak Overthinking

Pernahkah kamu khawatir dengan apa yang kamu pikirkan? Membayangkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi, memutar kembali apa yang membuatmu sedih dan memprediksi hal-hal negatif atas apa yang kamu pikirkan?

Ya, kebanyakan mikir alias overthinking merupakan kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan hal-hal yang belum tentu bermanfaat. Ini berbeda dengan sifat pemikir, sifat pemikir cenderung memikirkan hal-hal yang memang perlu dipikirkan.

Terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti itu sebenarnya berdampak yang buruk bagi kesehatan mental. Untuk itu ikuti tips berikut untuk mengatasi overthinking, seperti dikutip dari Times of India:

1. Olah Raga

Ketimbang memikirkan sesuatu yang belum pasti, lebih baik pindahkan pikiranmu ke tubuh untuk melakukan latihan fisik. Seperti misalnya, berlari, yoga, berenang, dan zumba. Lakukan segala bentuk latihan yang Anda nikmati.

Itu akan bermanfaat pada dua hal. Pertama, membantu Anda keluar dari pikiran negatif Anda, dan kedua, itu akan menyeimbangkan hormon Anda. Berolahraga menurunkan hormon stres, dan melepaskan hormon bahagia, serta meningkatkan suasana hati Anda secara instan.

2. Tarik Napas Dalam-dalam

Menarik napas dalam-dalam bisa membantu tubuh menjadi relaks dan meremajakan pikiran Anda. Seiring berjalannya waktu, dan dengan latihan yang teratur, pernapasan dalam yang terfokus meningkatkan konsentrasi dan pikiran secara keseluruhan.

3. Dance

Tak sedikit dari kita yang menjalani hidup terlalu serius. Padahal, segala sesuatunya tidak separah seperti apa yang Anda pikirkan. Oleh karena itu, belajarlah untuk menganggap enteng pada sesuatu dan nikmati prosesnya. Hal ini bisa dilakukan, salah satunya dengan dance atau berjoget.

4. Pikirkan Sekarang

Pikiran ini terkadang terlalu aktif memikirkan tentang masa lalu atau masa depan. Lebih baik, pikirkan dulu yang sekarang, agar Anda dapat melepaskan apa yang tidak dapat Anda kendalikan.

Ini tidak berarti bahwa Anda langsung menjadi tidak menyadari apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi. Ini lebih merupakan kesadaran bahwa masa lalu tidak dapat berubah dan masa depan belum terjadi.

Suherni Sulaeman

Lima Kebiasaan yang Berefek Buruk Bagi Otak

Otak merupakan salah satu organ di tubuh manusia yang dapat mengontrol sebagian besar aktivitas tubuh, termasuk pikiran, ingatan, dan ucapan. Selain itu, otak juga mengendalikan fungsi banyak organ di dalam tubuh. Artinya, otak bertanggung jawab untuk hampir setiap fungsi di dalam tubuh.

Menjaga otak tetap sehat sama pentingnya dengan menjaga organ lainnya. Maka, jika otak mengalami kerusakan hal ini dapat mempengaruhi pikiran, ingatan, sensasi, bahkan kepribadian seseorang.

Ketika seseorang menjadi tua, semua sistem tubuh secara bertahap menurun, termasuk otak. Dan ketika otak berubah seiring bertambahnya usia, fungi mental juga ikut berubah seiringan dengan hal itu.

Untuk itu, membuat pilihan gaya hidup yang lebih sehat menjadi semakin penting seiring dengan bertambahnya usia agar membantu menjaga pikiran dan tubuh tetap sehat. Meski, sering kali tanpa disadari seseorang masih melakukan beberapa hal yang dapat berefek buruk pada kesehatan otak.

Oleh karena itu, dengan menghindari lima kebiasaan ini, dapat membantu mengurangi risiko pada otak dalam jangka panjang dan menjaga otak tetap sehat, serta berfungsi dengan baik.

1. Konsumsi Gula Tinggi

Mengonsumi gula secara berlebihan, bukan hanya dapat meningkatkan berat badan dan kesehatan tubuh. Tetapi, juga dapat memiliki efek negatif pada kesehatan otak, terkait kekurangan memori dan kognitf.

2. Melewati Sarapan

Sebuah penelitian menunjukan bahwa melewatkan sarapan dapat mencegah otak mendapatkan nutrisi yang cukup dan berakibat negatif pada fungsi kognitif. Hal ini juga dapat mengakibatkan otak membuat pilihan makanan yang buruk di kemudian hari.

3. Penggunaan Ponsel yang Berlebihan

Sebuah studi yang dilakukan All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) menemukan peningkatan risiko tumor otak pada paparan jangka panjang terhadap radiasi ponsel. Selain itu, para peneliti juga menghubungkan penggunaan ponsel yang tinggi dapat menyebabkan gangguan tidur dan gejala depresi pada pria.

4. Kurang Tidur

Kurang tidur memiliki efek buruk pada otak. Sebuah penelitian yang dilakukan WHO menemukan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan mengakibatkan kehilangan ingatan sejak dini atau penyakit Alzheimer. Hal ini terjadi karena tidur memungkinkan otak untuk membersihkan diri dari racun yang mungkin terbentuk selama tubuh terjaga.

Namun, proses ini tidak terjadi ketika seseorang kurang tidur sehingga menyebabkan kerusakan pada otak. Oleh karena itu, tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga otak tetap sehat.

5. Makan Berlebihan

Makan berlebihan tidak hanya mengakibatkan kegemukan, tetapi juga dapat mengurangi fungsi otak. Sebuah studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology menyarankan bahwa asupan kalori yang tinggi dari waktu ke waktu sebenarnya dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kehilangan memori atau gangguan kognitif ringan di kemudian hari menurut laporan di Harvard Health seperti dikutip di laman Time Now News.

Yudha Manggala P Putra