Pentingnya Kejujuran

Di Kota al-Marwa, terdapat seorang bernama Nuh bin Maryam. Ia seorang kepala negara dan sekaligus jaksa agung di kota tersebut. Selain sebagai seorang pejabat, ia juga dikenal sebagai orang yang kaya harta dan memiliki budak sebagai pesuruhnya.

Walaupun memiliki kelebihan kenikmatan duniawi yang serba berkecukupan, Nuh bin Maryam selalu ber sikap bijak dalam menghadapi berbagai perma salah an. Alkisah, suatu ketika Nuh bin Maryam mem berikan amanah kepada budaknya yang bernama Mubarok.

Ia berkata, “Wahai Mubarok, jagalah kebun ang gurku, peliharalah, siramilah sampai waktunya panen tiba.” Selanjutnya, Mubarok pun bermukim di kebun anggur sang majikan dan memelihara kebunnya. Setelah beberapa bulan kemudian, sang majikan datang ke kebunnya dan memanggil budaknya. Ia berkata, “wahai Mubarok, ambilkan aku setangkai anggur, aku ingin sekali mencicipi anggur hasil pemeliharaanmu. Mubarok bergegas memetik setangkai anggur dan diberikan kepada tuannya.

Namun, apa yang terjadi? Setelah tuannya memakan sebutir anggur, ia pun membuangnya dan sambil berkata, “ini masam, Mubarok,” dengan nada kecewa sang majikan kembali memerintah sang budak itu, “carikan anggur yang manis.” Mubarok kembetik anggur, dan memberikannya kepada tuannya. “Ini juga masam, carikan yang manis!” kata-kata itu kembali keluar dari mulut sang ma jikan. Mubarok pun mengambilkan anggur yang ketiga kalinya. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut mu ka kecewa setelah memakannya. “Ini masam, Muba rok!”

Akhirnya, majikannya marah dan berkata, “Apakah kau tidak bisa membedakan mana anggur yang manis dan masam?” Lalu, Mubarok berkata, “wahai tuanku, aku tidak dapat membedakannya, tuan. Sebab, aku tak pernah mencicipinya.”

Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan dan berkata, “Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal, kau sudah sekian lama aku tugaskan menjaga kebun ini.” “Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya. Karenanya, aku tidak berani mencicipinya walaupun satu buah,” jawab Mubarok.

Nuh bin Maryam akhirnya tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan anggur yang manis terlupakan begitu saja. Ia berdiam sejenak dan merenung dengan penuh kekaguman atas sikap kejujuran sang penjaga kebunnya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang lebih jujur dan memegang amanah melebihi budak di hadapannya ini. Akhirnya, Mubarok dimerdekakan dan diberikan harta yang berkecukupan untuk bekal kehidupannya.

Dari kisah keteladanan tersebut, kita dapat melihat bagaimana kejujuran dalam diri Mubarok yang dibalut dengan spirit keimanan dan ketakwaan. Komitmen dalam mengemban amanah yang diberikan oleh majikannya, ia jaga dengan penuh sikap totalitas dan tanggung jawab yang didasarkan karena ketaatan kepada Allah SWT, bukan karena pamrih, pencitraan, dan pujian dari manusia.

Perilaku sosial seorang mukmin hendaknya mampu meneladani kejujuran Mubarok, dengan memperkuat iktikad perubahan lebih baik dan selalu bersikap jujur dalam mengemban setiap amanah yang diterimanya, terlebih dalam kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis ketidakjujuran, seperti meningkatnya kasus ko rup si dan penyebaran berita bohong (hoaks). Dengan kejujuran, sejatinya upaya membangun kehidupan umat manusia akan lebih mudah untuk menggapai kebenar an, kemaslahatan, kemuliaan dan keberkahan dari Allah SWT.

Nabi SAW bersabda, “Hen dak lah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntun mu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan, sesantiasa seseorang berlaku jujur dan se la lu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah SWT seba gai orang yang jujur. Dan, hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan, seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. Sebagai pendusta.” (HR Muslim).

Muqorobin

Manusia Berguna

Di antara tanda seorang Muslim yang baik dalam kehidupan sosialnya adalah melakukan hal yang berguna atau bermanfaat dan meninggalkan hal yang sia-sia dan tak berguna. Nabi SAW bersabda, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat (berguna) baginya.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalam Alquran ditegaskan, orang yang meninggalkan hal yang tidak berguna termasuk salah satu golongan yang akan mendapat keberuntungan di akhirat (memperoleh surga Firdaus dan kekal di dalamnya). Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS al-Mu’minun [23]: 1-3)

Dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak berguna, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat maka tanda Islamnya yang baik telah sempurna.”

Hal yang berguna di sini tidak hanya berkaitan dengan perilaku atau perbuatan, tapi juga perkataan atau ucapan. Apalagi, di era internet, lalu disusul era media sosial, banyak sekali kita temukan di dalamnya perkataan-perkataan yang tidak berguna, bahkan cenderung berbahaya dan membahayakan, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain di dunia nyata. Karena status yang ditulis di media sosial, misalnya, terjadi perang perkataan, saling mengejek, menghina, mencaci maki, mengolok-olok, dan sejenisnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kebanyakan perkara yang tidak berguna muncul dari lisan, yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia. Adapun Imam an-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengatakan, “Ketahuilah bahwa seorang mukalaf/baligh (yang telah dibebani hukum syariat) seharusnya dapat menjaga lisannya untuk tidak berbicara, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar berguna.”

Dalam hadis disebutkan, Nabi SAW bersabda, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak berguna.” (HR Ahmad). Umar bin Abdul Aziz, salah satu khalifah Bani Umayyah yang terkenal saleh dan adil dalam memimpin rakyatnya, mengatakan, “Siapa saja yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang berguna.”

Seorang Muslim sejati yang baik akan selalu melakukan hal-hal yang berguna dan menjauhi hal-hal yang sia-sia tak bermanfaat. Ia akan selalu memberikan kemanfaatan kepada manusia lainnya, baik melalui lisan maupun perbuatannya. Tak ada sedikit pun waktu selain berkarya yang manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Ia tidak akan mengisi waktunya dengan hal-hal yang sia-sia, karena itu berarti juga merugikan diri sendiri; rugi waktu, rugi tenaga, dan energi terbuang sia-sia.

Dalam hadis dikatakan, manusia yang terbaik adalah yang berguna atau bermanfaat bagi manusia lainnya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR ath-Thabrani dan ad-Daruquthni). Dalam hadis lain, orang seperti itu termasuk yang paling dicintai Allah. Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR ath-Thabrani). Wallahu a’lam.

Ibu, Maafkan Anakmu

Suatu hari, Baginda Nabi SAW bercengkerama dengan para sahabat, lalu datanglah seseorang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Kepada siapa lagi?” “Ibu mu,” tegas Nabi. “Lalu kepada siapa?” Nabi SAW meyakinkan, “Ibu mu.” “Kepada siapa lagi?” Beliau bersabda, “Kemudian kepada ayah mu” (HR Bukhari).

Sedemikian tingginya kemuliaan seorang ibu, sampai junjungan kita mengulangi tiga kali sebagai isyarat besarnya hak untuk mendapat pengabdian dari anaknya. Dialog singkat itu membawa saya ke masa lampau ketika baru lulus SD di awal tahun 80-an.

Ketika itu, almarhumah Mak pernah berpesan, “Nak, aku masukkan kau ke madrasah agar suatu hari nanti bisa menjadi imam shalat jenazah. Aku ingin sekali kau yang menjadi imam shalat jenazahku.” Harapan itu terpatri dalam hati dan teringat selalu di setiap waktu. Setelah tamat madrasah tsanawiyah dan aliyah, rasanya sudah siap menjadi imam shalat jenazah. Rupanya, Mak masih diberikan umur walaupun menderita sakit berkepanjangan.

Ketika hendak melanjutkan kuliah ke Jakarta, jarak dan waktu sedemikan jauh dan lama serta komunikasi yang sulit, kekhawatiran pun berkecamuk. Sebelum berangkat dari kampung, Mak masih berharap agar saya bisa menjadi imam shalat jenazahnya. Hingga lulus kuliah, Mak masih diberi umur panjang meski penyakitnya semakin parah. Saya sempatkan pulang kampung walau harus menempuh perjalanan dua hari tiga malam. Setelah dua minggu membersamainya, Allah SWT masih memberinya umur walau hanya berbaring lemah di tempat itidur yang lusuh.

Tak lama setelah kembali ke perantauan, sampailah kabar bahwa Mak sudah kritis. Namun, karena akad nikah yang tinggal beberapa hari lagi, tentu saja tidak bisa pulang lagi hingga ajal menjemput, apalagi menjadi imam shalat jenazahnya. Pada keheningan malam, saya merintih dalam munajat, “Ya Allah, maafkan hamba yang tak sempat berbakti. Ampunilah segala dosa dan terima amal kebajikan Mak, aamiin.”

Siapa pun yang masih dikaruniai seorang ibu maka berbaktilah agar mereka bahagia. Sebab, tiada keramat yang paling mustajab doanya, pintu keberkahan rezeki dan pembuka jalan ke surga, selain ibu. Siapa yang mengabaikan orang tua, terutama ibu, maka ia pasti merugi dunia akhirat (HR Muslim). Bagi kita yang sudah dikaruniakan anak, bisa merasakan betapa beratnya membesarkan mereka.

Kiranya, kisah Uwais bin Amir yang rela menggendong ibunya untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dari negeri yang jauh, cukuplah menjadi renungan berharga. Nabi SAW berpesan kepada Umar bin Khattab, jika suatu hari bertemu dengannya maka mintalah doa ampunan (HR Muslim). Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2018. Semoga Allah kumpulkan mereka kelak bersama para Nabi dan orang saleh aamiin. Allahu a’lam bish-shawab.

Ustaz Hasan Basri Tanjung

Mempertahankan Kemuliaan Hidup

Setiap manusia, ingin memperoleh kehidupan mulia. Dalam arti, memiliki kedudukan yang mapan secara lahiriah (materialfinansial) dan batiniyah (moral-spiritual) di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat. Sehingga ada semboyan populer ‘isy kariman, awu mutsyahidan’. Hidup mulia atau mati syahid.

Hidup dihiasi perbuatan-perbuatan bermanfaat, baik yang bersifat vertikal berupa ketaatan kepada Allah SWT, menjalankan segala perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya, maupun bersifat horizontal. Berbuat amal saleh, kebajikan, yang ikhlas tanpa pamrih, sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, kepada sesama manusia. Sedangkan ketika mati, mencapai nilai syahid, berkat sikap dan perilaku ketika menjalani tugas kewajiban di muka bumi.

Kemuliaan itu seluruhnya kepunyaan Allah. Kepada-Nyalah naik kalimat-kalimat yang baik dan amal saleh mengangkatnya (QS Fathir: 10). Menurut para salafush shalihin, syarat memperoleh bagian dari kemuliaan (izzah) adalah keimanan dan ketakwaan. Iman merupakan fondasi untuk menancapkan pilar-pilar takwa. Dan takwa itulah yang menjadi tangga pencapaian kemuliaan hidup di dunia kini dan di akhirat kelak.

Dalam takwa itu terdapat ‘kalimat yang baik’ (kalimatuth thayyibah). Perilaku yang serbabagus, mulai dari niat, ucapan, hingga tindakan. Semua menunjukkan kerendahhatian, sopan-santun, lemah-lembut, kasih sayang, tunduk, dan patuh kepada aturan-aturan Allah SWT. Dirumuskan oleh para ulama salafus shalihin, ‘kalimat yang baik’ meliputi doa, zikir, membaca Quran, dan lain-lain, yang berkaitan dengan ibadah ritual.

Hubungan dengan Allah SWT (hablum minallahi), serta perbuatan-perbuatan baik dan bajik terhadap sesama manusia (hablum minannasi). Maka antara ‘kalimat yang baik’ dengan perbuatan baik dan bajik atau amal saleh, tidak terpisahkan satu sama lain dalam menghasilkan kemuliaan dari Allah SWT. Tegasnya, ‘kalimat yang baik’ yang merupakan presentasi hubungan dengan Allah SWT, tidak sempurna tanpa amal saleh yang merupakan wujud hubungan dengan sesama manusia. Ibadah ritual akan terangkat berkat ibadah sosial (amal saleh).

Orang yang sudah beruntung mendapat kemuliaan dari Allah SWT dalam bentuk harta kekayaan, pangkat, jabatan, ketinggian ilmu, ketekunan ibadah, serta bentuk-bentuk lain yang menjadi ciri kehormatan diri serta penghormatan orang lain, harus mampu mempertahankannya hingga akhir hayat. Jangan sampai ternodai oleh hal-hal yang dapat menghancurkan nilai kemuliaan itu. Terutama sikap lupa diri dan penyalahgunaan wewenang. Tumpuan fondasi iman dan takwa jangan digoyahkan oleh perilaku-perilaku yang menyimpang dari ‘kalimat thayyibah’ dan amal saleh.

Kejatuhan seseorang dari kemuliaan hidup yang sudah diperolehnya, akan muncul hanya karena menyimpang dari prinsipprinsip ‘kalimat thayyibah’ dan amal saleh. Merasa kuat, kaya, tampan, dan lain sebagainya, seolah-olah milik pribadi. Lupa bahwa itu hanya pinjaman atau titipan dari Allah SWT yang diberikan berkat ‘kalimat thayyibah’ dan amal saleh. Begitu ‘kalimat thayyibah’ dan amal saleh hilang, hilang pulalah kemuliaan itu dalam sekejap. Peringatan dari Allah SWT, sangat jelas: “Dan orang-orang yang membuat rencana jahat, bagi mereka azab yang keras, serta rencana jahat mereka akan binasa” (QS Fathir: 10).

Artinya, orang-orang yang bermaksud menyelewengkan kemuliaan yang ada pada dirinya, untuk memuaskan hawa nafsu, mengumbar perilaku sewenang-wenang, dan tindakan tercela lainnya, segera akan dicabut kemuliaannya. Anggapan untuk mempertahankan kemuliaan dengan mencederai ‘kalimat thayyibah’ dan amal saleh, adalah salah sama sekali. Allah SWT sebagai pemilik kemuliaan, tidak akan tinggal diam. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Termasuk mencampakkan manusia yang hari ini mulia, besok hina dina.

Maka itu, tidak ada jalan lain bagi orang yang sudah mencapai kemuliaan, untuk mempertahankannya dengan memelihara ‘kalimat thayyibah’, yang menjadi pertanda hablum minallah dan amal saleh (hablum minannasi).

Usep Romli HM

Investasi Abadi

Abu Hurairah meriwayatkan hadis yang menyebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Ketika seseorang meninggal dunia, maka semua amalnya terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.'” (HR Tirmidzi).

Hadis ini menegaskan kepada kita bahwa semua pahala amal seseorang itu akan terputus ketika ia meninggal dunia. Ia tidak bisa lagi mendapat pahala dari membaca Alquran, ia tidak bisa lagi mendapat pahala dari shalat lima waktu, ia tidak bisa lagi mendapat pahala dari shalat sunah, ia tidak bisa lagi mendapat pahala dari membayar zakat, memberi sedekah, dan dari ibadah-ibadah yang lain. Alasannya, karena ia sudah tidak bisa dan tidak sanggup lagi melakukan ibadah-ibadah tersebut.

Namun, ketika seseorang sudah tidak bisa melakukan ibadah yang bisa mendatangkan pahala bagi dirinya sendiri, Allah memberikan kemurahan bagi hamba tersebut. Yakni caranya dengan menawarkan pahala ibadah yang bisa menjadi investasi abadi.

Pertama, sedekah jariah. Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya bisa dinikmati oleh orang yang masih hidup. Dampaknya adalah pahala sedekah tersebut terus mengalir untuk orang yang memberi sedekah walaupun ia sudah mati.

Seperti orang yang membangun tempat ibadah berupa masjid atau mushala, orang yang membangun sekolah atau madrasah, atau orang memberikan sebidang tanahnya untuk dijadikan jalan raya. Ketika orang itu masih hidup, ia sudah mendapat pahala dari sedekahnya tersebut, setelah meninggal dunia pun ia tetap memperoleh pahala dari amal ibadahnya itu.

Kita ambil contoh dari orang yang bersedekah jariah berupa masjid. Selama masjid itu digunakan masyarakat untuk dijadikan tempat ibadah, maka orang yang memberi sedekah akan tetap mendapat aliran pahala dari setiap ibadah yang dilakukan di masjid itu.

Misalnya, ada orang membaca Alquran di masjid itu, maka orang yang membangun masjid akan mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang membaca Alquran di masjid tersebut. Yakni, setiap membaca satu huruf ia akan mendapat kebaikan, dan setiap kebaikan akan mendapat 10 kebaikan yang sama.

Jika orang yang berada di masjid itu melakukan shalat berjamaah, maka orang yang membangun masjid itu akan mendapat pahala shalat berjamaah sebagaimana yang didapat oleh masing-masing orang yang shalat di masjid itu. Dan begitu seterusnya.

Kedua, ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang tidak sekadar diketahui, tapi juga dipraktikkan dan berguna untuk sesama manusia. Misalnya, seorang guru yang memberi tahu muridnya bahwa memberi sedekah kepada orang lain itu akan mendapat pahala sebanyak 700 kali sebagaimana firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 261.

Kemudian sang murid melaksanakannya, maka sang guru akan mendapat pahala sebagaimana yang didapat oleh sang murid. Jika sang murid mengajarkannya kepada orang lain, kemudian orang itu juga melaksanakannya, maka sang murid dan gurunya juga akan mendapat pahala yang sama dengan orang itu. Begitu seterusnya sampai hari kiamat.

Ketiga, anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Orang tua yang mendapat karunia berupa anak, apalagi anak saleh yang mendoakan kebaikan untuknya, termasuk orang yang beruntung. Hal ini karena walaupun meninggal, sang orang tua akan tetap mendapat siraman pahala dari Allah berkat doa anaknya tersebut.

Abdul Syukur

Cara Mengisi Hati dengan Nilai-Nilai Positif

Pakar Ilmu Tafsir dan Hukum Islam, Prof KH Ahsin Sakho Muhammad menerangkan, keimanan kepada Allah adalah hal yang paling mendasar dalam beragama. Hati adalah tempat bersemayamnya nilai-nilai seperti keimanan, ketaqwaan, rasa syukur, qana’ah, sabar, thuma’ninah, tawakkal dan lain sebagainya.

Ia menjelaskan, hati juga tempat bersemayamnya nilai nilai yang buruk seperti kufur, nifaq, takabur, hasud dan lain sebagainya. Jika hati seseorang bagus maka akan membuahkan perilaku yang bagus pula. Jika hati seseorang buruk makan akan membuahkan perilaku yang buruk.

“Demikian pentingnya hati sehingga perlu mendapat perhatian yang ekstra, salah satu di antara cara untuk mengisi hati dengan nilai-nilai positif adalah dengan itikaf,” kata Prof KH Ahsin.

Ia menerangkan, itikaf adalah berdiam diri di satu tempat dalam rangka beribadah kepada Allah. Secara substantif, itikaf adalah upaya seseorang untuk mengkonsentrasikan diri hanya kepada Allah dan memutuskan sementara hubungannya dengan selain Allah.

Gunanya iktikaf agar hatinya diisi dan dipenuhi dengan nilai-nilai yang positif dan menjauhi dari nilai-nilai negatif. Salah satu caranya adalah dengan zikir qalby seperti merenungkan tentang Allah, sifat-sifat-Nya dan kekuasaan-Nya.

“Juga merenungkan tentang kematian dan kehidupan setelahnya, sambil merenung, orang yang itikaf berzikir dengan lisannya, seperti membaca Alquran, wirid-wirid atau melaksanakan shalat sunah dan lain-lain,” ujarnya.

Prof KH Ahsin mengatakan, cara perenungan dalam rangka ibadah sudah pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad pada masa jahilyah. Ketika beliau ber-tahannuts atau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira sebelum diangkat menjadi nabi.

Juga seperti Nabi Musa ketika ber-tahannuts di Gunung Sinai selama 40 hari sampai akhirnya mendapatkan pencerahan jiwa melalui wahyu atau pembicaraan secara langsung dengan Allah dari belakang tabir. Dalam konteks kehidupan para sufi, mereka justru menemukan kenikmatan dan kenyamanan ketika mereka hidup bersama Allah dengan berkhalwat atau beruzlah.

“Yaitu hidup menyendiri untuk merenung, mengevaluasi diri, membersihkan jiwa dari kekotoran dan mengisinya dengan nilai-nilai yang mulia, hidup berkhalwat seperti ini sekali waktu diperlukan agar seorang tidak disibukkan oleh urusan dunia sehingga ada keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat,” katanya.

Fuji E Permana

Bangkit

Bangkit yang paling benar dan berasa adalah kalau habis sujud. Sujud dulu, baru bangkit.” Begitu kata saya di hadapan santri-santri.

Kebangkitan yang diawali dengan sujud berarti menghamba, merendah, di hadapan Allah Yang Mahatinggi.

Bahkan, saat berdiri diawali dengan takbir. Membesarkan Allah Yang Mahabesar. Bahwa berdirinya kita bukan untuk menyejajarkan diri dengan-Nya dan melawan-Nya.

Harus diakui, dari banyak sisi, negeri kita dan kita-kita semua jauh lebih beruntung dibandingkan negara-negara konflik. Suasana yang perlu disyukuri. Tetapi, di sisi lain, jangan sampai terlena, lengah.

Kebangkitan Indonesia harus benar-benar kebangkitan negerinya sendiri, bangsanya sendiri. Jangan sampai kelihatan bangkit, maju, sukses, jaya, ternyata palsu. Kegegapgempitaan kita ternyata bukan oleh kita dan bukan untuk kita, melainkan pihak asing dan pihak lain yang tidak mencintai Indonesia; cuma cari untung di Indonesia, enggak berjuang untuk Indonesia.

Seperti misal di dunia startup, digital market, online shop, payment gateway, cashless business, traveling, transportation… industri ini lagi bangkit dan bangkitnya benar-benar bangkit. Gegap gempita. Namun, alhamdulillah, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah melihat bahwa dominasi asing begitu kuat. Enggak benar. Perlu di rem. Jangan sampai enggak ada national champion.

Yang begini-begini bagus dan keren banget. Percuma juga industrinya bangkit, maju, dan semarak bergai rah tetapi ternyata lagi-lagi Indonesia menjadi pasar saja. Perusahaan yang kelihatannya Indonesia pun bila ditelisik mungkin kita akan bekernyit.Masih benarkah? Masih layakkah disebut Indonesia saat pemegang sahamnya juga asing?

Sisi ini menarik, yakni membuat perusahaan-perusahaan strategis tetapi keburu dikuasai asing sebagai pemegang saham mayoritas. Seperti perusahaan fintech yang besar-besar di Indonesia. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berperan di dunia global, bisakah? Mengapa tidak? Asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Saya pribadi memperkenalkan investasi rakyat. Investasi recehan. Sebuah perjalanan sejarah sudah dimulai, tinggal dikembangkan dan dimasifkan saja, merambah ke perusahaan dan industri strategis.

Sekaligus puncaknya nanti, yang besarnya nanti, adalah mem-buy back utang negara ke asing. Jika negara berutang, berutang saja ke rakyat. Jadi, kalau harus ada bayar bunga maka rakyat yang menikmati, plus enggak ada urusan dengan fluktuasi mata uang asing.

Asli, ini soal supermudah, asal ada kemauan barengbanyak rakyat Indonesia. Dari sisi pemerintah, saya melihat sudah ada kemauan yang tinggi. Istilahnya, gayung bersambut.Tinggal bismillahnya aja dikencengin dan dirame-ramein.

Dan jadilah kebangkitannya, kebangkitan menyeluruh yang meng- Indonesia. Tinggal kemudian kebangkitannya ditandai, dijagai, diberikan ruh: takbir dan sujud.Kebangkitan tetap untuk Allah.

Keren banget dah.

Ustaz Yusuf Mansur

Ramadhan Mengasah Intelektual

Pada bulan Ramadhan sekitar tahun 610 M, Allah menurunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang berisi perintah untuk melakukan salah satu aktivitas dalam proses belajar yakni membaca, Iqra!

Perintah membaca dari Allah ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu sekaligus akan meninggikan derajat pemiliknya (QS 58: 11).Membaca berkaitan erat dengan menulis, menelaah, menganalisis, dan merangkum. Sejak turunnya wahyu itulah ilmu menjadi ruh dari Islam yang tidak akan terpisahkan.

Tradisi membaca dan menulis merupakan ciri khas umat ini. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat iqra di atas membawakan sebuah atsar salaf yang menyeru untuk mengikat ilmu dengan tulisan. Maka lahirlah peradaban ilmu umat manusia yang tidak ada tandingannya dalam sejarah manusia. Dari rahim Islam, lahirlah para ulama sekaligus para penulis produktif yang meletakkan fondasi keilmuan dan sains bagi umat manusia.

Aktivitas membaca pada bulan Ramadhan begitu mulia hingga Allah menjanjikan pahala dan kebaikan yang berlipat-lipat ganda. Rasulullah bersabda, Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR Tirmidzi).

Ketika menjalankan ibadah shaum, seseorang tidak disibukkan oleh syahwatnya sehingga proses belajar semisal membaca dan menulis semakin baik, insya Allah.An-Nadhr bin Syumail berkata, Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmatnya belajar sampai dia lapar dan melupakan laparnya.

Dalam membaca dan menulis, para ulama terdahulu begitu bersemangat memanfaatkan waktu agar tidak ada satu menit pun terlewat tanpa manfaat dan faedah. Salah seorang murid senior Imam asy- Syafi’i bernama Imam al-Muzani pernah berkata, Aku membaca kitab ar-Risalahsebanyak 500 kali, setiap kali membacanya saya selalu menemukan ilmu yang baru.

Salah seorang dari guru Imam Bukhari bernama Ubaid bin Ya’isy pernah berkata, Diriku tidak pernah makan dengan tanganku di malam hari selama 30 tahun. Adalah saudara perempuanku yang menyuapkan makanan ke mulutku sementara aku sibuk menulis hadis Rasulullah.

Ramadhan bukan saja bulan saat shalat ditegakkan dan lisan basah oleh tilawah Alquran, melainkan ia juga momen mulia untuk memperdalam ilmu agama.

Syekh Albani pernah berkata kepada putranya, Adapun mengkhususkan bulan Ramadhan hanya untuk tilawah saja, tanpa mengerjakan ibadah yang lain, seperti menuntut ilmu agama atau mengajar hadis dan penjelasannya, maka ini tidak ada dasarnya.

Allah telah memberikan nikmat Ramadhan kepada hamba-Nya dengan seluruh kebaikannya, bukan saja ampunan dan limpahan pahala, tetapi juga kesempatan untuk mengasah intelektual sehingga selalu menggandengkan iman dengan ilmu. Wallahualam.

WISNU TANGGAP PRABOWO

Lokomotif Rohaniah

Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, kehadirannya tidak dapat disangsikan telah mendapat sambutan yang begitu semarak oleh kaum Muslimin, baik dalam level dunia maupun nasional.

Khusus di negeri kita, hampir semua komunitas Muslim menyambutnya dengan tingkat mobilitas kegiatan keagamaan yang amat berbeda dengan bulan-bulan biasa. Utamanya menyangkut antusiasme aktivitas keagamaan yang dilakukan, tampak ke permukaan menonjol.

Tidak saja dalam kegiatan-kegiatan yang skalanya terbatas pada space sosial tertentu, tetapi juga kerap pada kegiatan keagamaan yang melampaui batas lintas kultur.

Dalam space tertentu sebut saja, misalnya, yang paling normatif adalah shalat jamaah Tarawih bersama, kontemplasi ibadah melalui Tahajud, ikitikaf, kultum, buka bersama, bazar amal, dan diskusi-diskusi keagamaan. Sementara yang sifatnya paling konkret adalah gerakan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah.

Pada batas yang paling formal, antusiasme keagamaan di atas amat baik setidaknya umat Islam secara simbolis telah meletakkan keagungan Ramadhan sebagai syiar. Artinya, umat Islam mampu mendeklarasikan Ramadhan di tengah-tengah umat dengan aneka kegiatan dan dengan pesertanya dalam jumlah masif.

Tegasnya, Ramadhan berhasil digerakkan umat menjadi media kolektif (bersama) dalam memperoleh inspirasi (pelajaran) agama, menggagas dan memecahkan persoalan pendidikan, dan pembiasaan-pembiasaan disiplin. Termasuk dalam hal penggalangan solidaritas sosial Islamiyah.

Firman Allah SWT, Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu sesungguhnya timbul dari ketakwaan hati.” (QS 22: 32). Dalam diskursus sosiologi agama, Ramadhan dapat menjadi penggerak emansipatoris di tengah-tengah monumentalitas umat.

Emansipatoris, menurut James Hastings dalam bukunya, Encyclopedia of Religion and Ethic, artinya suatu pembebasan dari hidup pembekuan intelektual, kemiskinan, pemihakan individu, kekuasaan, dan golongan. Dengan kata lain, emansipatoris adalah gerakan bersama membebas kan kezaliman (penindasan), sifat individualisme, dan aroganisme dalam upaya mewujudkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Kita cermati bagaimana Ramadhan menjadi lokomotif kegiatan rohaniah. Dengan Tarawih bersama, secara psikologis umat didorong dapat melakukan temu sosial dan silaturahim dalam batas dan lingkup kohesivitas masyarakat.

Dengan kultum, umat sekali waktu diketuk dan disentuh batinnya dengan pesanpesan agama mengenai disiplin hidup, tentang persatuan, perdamaian, pencerahan, dan perubahan hidup.

Dengan menghimpun zakat, infak, dan sedekah, umat didorong bersatu padu menggalakkan kepekaan sosial dalam membantu duafa. Inilah pentingnya kita lestarikan Ramadhan dalam nuansa emansipatoris.

KH Fauzul Iman

Umat yang Terbaik

Siapa sebetulnya umat terbaik itu? Secara benderang, istilah umat terbaik disebut dalam Alquran, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS 3: 110).

Para mufasir sependapat bahwa yang dimaksud “kamu” di awal surah tersebut adalah umat Islam. Lalu, pada lanjutan ayat itu dijelaskan mengapa dikategorikan sebagai umat terbaik karena mereka memikul tanggung jawab menyuruh kepada kebaikan sekaligus mencegah atas yang buruk. Jadi, jika kedua tanggung jawab itu ditinggalkan, lepas juga sebutan sebagai umat terbaik.

Untuk memelihara sebutan sebagai umat terbaik, umat Islam harus berusaha menyelamatkan misi menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, atau secara populer disebut dakwah. Bagaimana mewujudkannya, dibutuhkan perangkat pendukung yang secara dinamis terus berkembang.

Pada zaman Nabi, misalnya, dakwah dapat dilaksanakan sejalan dengan kenyataan kebudayaan masyarakat nya. Nabi beserta para sahabatnya da tang dari satu pintu yang satu me nuju ke pintu yang lain, lalu mengajak secara perlahan dan damai, sehingga masuk Islamlah sejumlah orang yang kemudian menjadi sahabat Nabi.

Abu Bakar as-Shiddiq dikenal sebagai orang pertama yang menyatakan diri masuk Islam setelah istri Na bi, Khadijah. Seorang saudagar, Utsman bin Affan juga masuk Islam de ngan caranya sendiri. Lalu, Umar bin Khattab yang dikenal seorang pemberani juga masuk Islam dengan cara dan gayanya yang khas dan menakjubkan.

Islam masuk ke nusantara juga dibawa dan disebarkan oleh orang-orang terbaik pada zamannya. Islam disebarkan oleh para wali, yang dalam sejarah dikenal sebagai Wali Sanga. Dengan penuh akomodasi mereka mem perkenalkan Islam dari pintu ke pintu sehingga Islam menjadi agama pribumi yang kuat melekat pada sistem kehidupan masyarakat nya. Para wali dengan tekun menyapa setiap warna kebudayaan yang dimiliki masyarakat yang dihadapinya, termasuk digunakannya tradisi wayang golek untuk menyebarkan agama. Sukses!

Namun, jangan mimpi kalau sukses gemilang yang dilalui para wali itu dapat diulang untuk menghadapi masyarakat saat ini. Zaman kini telah berubah, dan warna kebudayaannya pun ikut berubah secara signifikan. Saat ini, secara kasatmata, media baru sedang menguasai dunia.

Perkembangan internet yang menjadi salah satu ciri abad ini tanpa banyak disadari para dai telah ber impli kasi besar pada pembentukan ma syarakat baru, komunitas virtual, yakni sebuah komunitas yang secara bebas dan independen berinteraksi dalam dunia cyberspace.

Inilah masyarakat dakwah baru yang seharusnya dipertimbangkan ketika akan menjadikannya sebagai sasaran utama amar makruf nahi mungkar. Dakwah di atas mimbar kini sudah bukan zamannya lagi. Bahkan, media sosial kini sudah menjadi pilihannya. Karena itu, penting untuk mulai merancang bagaimana menjadi umat terbaik yang tetap eksis di era media.

Asep S Muhtadi