Lepaskan Daya Kreasi Anak

Apa salah bila anak memberi warna oranye pada gunung dan memberi warna merah pada langit?

Kalau itu yang menjadi keinginan si anak, mengapa harus kita kekang, dan ‘diarahkan’ agar anak mengikuti selera kita? Barangkali si anak memang pernah menyaksikan gunung yang sudah gundul, tidak ada hutannya, dan untuk mengungkapkan penangkapannya, si anak lalu memberi warna oranye pada gunung?” ungkap Prof. Fawzia Aswin Hadis.

Selama ini, anak seperti dipaksa untuk mengikuti kemauan orangtua atau guru. Dalam menggambar gu­nung pun, tidak jarang terjadi, digunakan stereotip untuk mendidik anak, yaitu dua gunung saling ber­dempet, lalu matahari merekah dari sela-sela gunung, di depan gunung ada sawah, menyusul jalan yang meling­kar-lingkar.

Ini membuktikan bahwa baik di dalam keluarga maupun dunia pendidikan, anak belum dianggap subyek.

Mereka lebih sering menjadi obyek keinginan orangtua atau guru.

Kreativitas

Kreativitas tidak muncul seketika. Pengembangan krea­tivitas harus dimungkinkan sejak masa dini. Anak-anak di Taman Kanak-kanak (TK) hendaknya bebas meng­ekspresikan perasaan dan pikirannya melalui berbagai benda.

“Bahkan, cara anak mengekspresikan diri jauh lebih penting dari apa yang diekspresikan. Ekspresi diri dapat menumbuhkan rasa puas dan menjadikan mereka percaya diri serta membantu mereka menumbuhkan konsep diri yang positif,” kata guru besar Fakultas Psikologi UI tersebut.

Mengingat kreativitas lebih menekankan pada ekspresi yang dilakukan anak, maka lebih baik anak dibiar­kan memiliki bentuk ekspresi sendiri daripada diarahkan pada bentuk tertentu dan hanya meniru, misalnya dalam menggambar gunung atau menghafal puisi. Dengan meniru, anak tidak diberi kesempatan untuk membuat sesuatu yang baru yang mengandung ciri-ciri kreativitas.

Padahal anak-anak perlu diberi kesempatan untuk menggunakan imajinasinya.

Dalam mengekspresikan diri, anak menggunakan bahasa sebagai media, terutama untuk mengemukakan ide dan perasaannya. Selain itu, anak juga menggunakan gambar, suara, gerakan, dan berbagai media lain. Guru dapat merangsang anak melakukan ekspresi diri dengan meminta mereka menggunakan daya khayal. Misalnya, guru menyuruh anak-anak memejamkan mata, membayangkan apa yang akan ditulis atau digambar.

READ  Superversity, Ajang Persahabatan Lewat Transfer Kreativitas

Saat anak-anak mulai mewujudkan daya khayalnya, guru dapat memutarkan lagu-lagu yang bisa membantu anak-anak melahirkan gagasannya.

“Ketika tangan sibuk menggambar, telinga mendengarkan musik, sering kali anak-anak pun terusik untuk bergoyang. Jadi, kalau anak-anak sedang sibuk menggambar, lalu pantatnya megal-megol, jangan malah ditegur supaya duduk tenang. Biarkan saja. Kreativitas dan ekspresi diri selain dapat dilaksanakan dengan menggunakan benda-benda yang bersifat manipulatif dan memacu rasa seni anak, juga dapat dilakukan dengan menggunakan gerak tubuh yang ritmis. Musik, menari, menyanyi, maupun pendidikan gerak, dapat mening­katkan kreativitas anak. Untuk itu, guru dituntut flek­sibel dan kreatif dalam menggunakan berbagai media yang ada,” katanya.

Bermain

Sesuai namanya, pendidikan di TK harus lebih banyak menekankan segi bermain sambil belajar. Maka segala kegiatan di TK hendaknya dilaksanakan dengan cara bermain. Pengertian bermain dapat diidentifikasi melalui beberapa kriteria.

Pertama, bermain secara pribadi dimotivasi oleh kepuasan yang melekat pada kegiatan itu sendiri dan tidak diatur oleh kebutuhan dasar, dorongan-dorongan atau tuntutan sosial. Jadi, anak bermain karena is akan memperoleh kepuasan dengan melakukan kegiatan itu dan bukan karena dituntut oleh lingkungan sosialnya.

Kedua, anak lebih tertarik pada kegiatan bermain daripada upaya untuk mencapai basil. Keberhasilan hanya merupakan bagian dari kegiatan itu sendiri, dan anak melakukannya secara spontan.

Ketiga, bermain muncul pada waktu memainkan benda-benda yang sudah dikenal atau dengan cara mengeksplorasi benda-benda baru yang belum dikenalnya. Anak-anak akan memberi makna sendiri pada permainannya dan melakukan pengontrolan sendiri terhadap kegiatan yang dilakukannya.

Keempat, kegiatan bermain dapat bersifat pura-pura. Kelima, bermain adalah kegiatan yang bebas dari aturan­aturan yang dipaksakan dari luar, dan aturan yang muncul dalam permainan itu dapat diubah oleh peserta­nya. Keenam, bermain menuntut keaktifan pesertanya. Dari berbagai macam kegiatan bermain itu, anak dapat diajari untuk bertanggung jawab, tenggang rasa, mandiri, dan sebagainya. Bahkan dari bermain-main itu Pula, anak bisa diperkenalkan pada menulis dan matematika.

READ  Membaca Kunci Sukses Generasi Muda

Tony D. Widiastono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *