Membaca ‘Il Principe’ karya Machiavelli di Tahun Politik

Bagi yang suka politik bisa jadi politik itu main-main, bahkan diidentikan dengan ‘seni mencapai tujuan’. Namun orang seperti Winston Churchil pernah mendampat habis para politisi. Menurutnya politisi orang yang bisa ‘berlidah sejuta’. Dia bisa berjanji tentang apa saja serta berkilah apa saja. Churchil mencontohkan bahkan bila seorang politis berjanji dalam tiga bulan bisa mewujudkan dibangunnya sebuah jembatan, tapi ketika masa tiga bulan sudah dilewati dan jembatan tidak terbangun, maka politisi pasti punya ‘alasan’ mengapa jembatan itu tidak terbangun. Layaknya lagu klasik Ismail Marzuki ’Tinggi Gunung Seribu Janji’ semua gampang diucapkan oleh lidah yang memang tak bertulang.

Nah, di tengah suasana tahun politik dan menjelang pelaksanaan pilkada menjadi ‘nikmat’ untuk membaca kembali buku klasik karya Niccolò Machiavelli: Il Principe. Edisi buku ini dalam bentuk PDF tersebar di dunia maya, meski terkesan jarang dibaca orang. Membaca buku serius bagi banyak orang tetap dianggap tak menarik, lebih yahud main Facebook atau media sosial lainnya,

Dalam pengantar buku itu yang diulas oleh M Sastrapratedja & M Parera, dinyatakan buku il Principe (Sang Penguasa) yang ditulis oleh Machiavelli  itu bertolak dari profil dan pola manajemen kekuasaan semasa Cesare Borgia, di Florence, Italia. Cesare Borgia, putra sulung Alexander VI hasil perkawinan dengan Vannoza de Cataneis. Buku yang dialihbahasakan oleh C Woekirsari dan diterbutkan oleh PT Gramedia tahun 1997 itu terdiri 26 chapter.Buku Il Prince di tulis pada selama tujuh tahun, yakni 1512-1519. Dalam kata pengantarnya, buku ini termasuk salah satu buku yang disebut- sebut punya kontribusi dalam proses perubahan dunia seperti kita saksikan sekarang terutama dalam membangun kultur politik pada masa modern ini.

Bahkan kisah ini sejatinya juga sudah pernah dilakukan di jaman kerajaan Mataram Jawa. Dalam catatan kaki kata pengantar dengan mengutip disertasi Dr Soemarsaid Moertono, ‘Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, Studi tentang Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX,  diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 1985.

Begini tulis Soemarsaid:

“Pada tahun  1512  ketika Machiavelli mulai memaparkan pandangan pandangannya tentang kekuasaan penguasa negara yang sudah dicopot perlengkapan magis-religius karena sudah masuk dalam proses sekularisasi kekuasaan, jejak-jejak terakhir Majapahit menghilang dari peredaran sejarah.

Kesultanan Malaka yang menjadi pusat penyebaran  agama Islam ke Indonesia baru saja direbut oleh Portugis tahun 1511). Dalam Abad XVII Amangkurat I, pengganti Sultan Agung (1613-1645), merasa terancam karena perlengkapan magis religius kekuasaannya digerogoti oleh prinsip egalitarianisme Islam, yang diperkenalkan oleh guru-guru Islam. Raja itu memerintah untuk membunuh ratusan guru Islam (membakar pesantren di sepanjang tepian Bengawasan Solo hingga Gresik,red) beserta keluarganya demi mempertahankan perlengkapan magis-religius kekuasaannya”.

Lalu apa yang menarik hingga buku Il Principe ’nikmat’ dibaca. Ya, salah satunya adalah terdapat dalam bab ke  XVIII, ‘Bagaimana Raja Harus Setia Memegang Janji’. Raja dimaksudkan kala itu dengan masa sekarang sebagai pelaku atau pekerja politik (politisi).

Atau sesosok orang yang  disebut Presiden Prancis masa kini, Emmanuel Macron, politisi adalah mereka yang mengambil politik sebagai pekerjaan bukan sebagai panggilan nurani untuk kebaikan sesama dan negara. Akibatnya, wajar bila politisi sering dianggap pejoratif’ sebagai sosok orang yang melakukan segala cara. Padahal sejatinya sejak zaman Aristoteles politik adalah hal mulia.

Tapi baiklah berikut ini kutipan tulisan dalam bab ke XVIII buku ‘Il Principe itu’:

Setiap  orang menyadari betapa terpuji kesetiaan dan sifat terbuka seorang pemimpin daripada sifat berbelit-belit dalam  segala tindakannya. Namun pengalaman sekarang ini menunjukkan bahwa  para raja yang telah berhasil melakukan hal-hal yang besar adalah mereka yang menganggap gampang atas janji- janji mereka, mereka yang tahu bagaimana memperdayakan orang dengan kelihaiannya dan yang akhirnya menang terhadap mereka yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran.

Anda hendaknya tahu, bahwa ada dua cara berjuang: melalui hukum atau melalui kekerasan. Cara pertama merupakan cara yang wajar bagi manusia dan yang kedua adalah cara bagi binatang. Tetapi karena cara pertama kerap kali terbukti tidak memadai, orang lalu menggunakan cara kedua. Dengan demikian seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara binatang dan manusia.

Para penulis kuno mengajarkan kepada para raja mengenai alegori ini, yaitu waktu menguraikan bagaimana Achilles dan banyak raja lainnya dari zaman kuno dikirim untuk dididik oleh Chiron, manusia berkepala binatang, supaya mereka dilatih dengan cara ini.

Arti alegori ini ialah,dengan menjadikan guru itu setengah manusia dan setengah binatang, seorang raja harus mengetahui bagaimana bertindak menurut sifat dari baik manusia maupun binatang dan ia tidak akan hidup tanpa keduanya. Dengan demikian, karena seorang raja terpaksa mengetahui cara bertindak seperti binatang, ia harus meniru rubah dan singa;  karena singa tidak dapat membela diri sendiri terhadap perangkap dan rubah (serigala,red) tidak dapat membela diri terhadap serigala.

Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan  seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah orang  bodoh. Sehingga, seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji kalau dengan demikian ia akan merugikan diri sendiri dan  kalau alasan yang mengikat sudah tidak ada lagi.

Seandainya semua orang baik hati, anjuran ini pasti tidak baik. Tetapi karena manusia adalah makhluk yang jahanam yang tidak menepati janji, Anda tidak perlu menepati janji pula pada manusia lain. Dan seorang raja tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menutupi ketidaksetiaannya, dengan menunjukkan  betapa banyak perjanjian dan persetujuan yang dilakukan oleh para raja ternyata kosong dan tidak bernilai karena raja tidak  memegang janji: mereka yang paling tahu meniru rubah adalah yang terbaik.

Tetapi orang harus mengetahui bagaimana menutupi tindakan-tindakannya dan menjadi pembohong dan penipu yang ulung. Manusia bersifat sederhana dan begitu banyak manusia di sekitarnya, sehingga penipu akan selalu menemukan seseorang yang siap untuk ditipunya.

Selanjutnya Machiavelli menulis:  Ada satu contoh yang masih hangat yang tidak akan saya lewatkan. Alexander VI selalu dan hanya memikirkan bagaimana menipu orang lain. Ia selalu menemukan korban penipuannya. Tidak pernah ada orang yang mampu mengatakan dengan sangat meyakinkan atau begitu mudah bersumpah atas kebenaran sesuatu dan yang tidak menghormati janji.

Namun tipuan-tipuannya selalu menghasilkan apa yang diinginkannya. Karena ia ulung dalam menguasai ilmu menipu.Karena itu, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik yang saya sebutkan di atas, tetapi ia tentu saja harus bersikap seakan-akan memilikinya.

Saya bahkan berani mengatakan bahwa jika ia memiliki sifat-sifat ini dan selalu bertingkah laku sesuai dengannya ia akan mengalami bahwa sifat-sifat tersebut sangat merugikannya. Jika ia nampaknya saja memilikinya, sifat-sifat tersebut akan berguna baginya. Ia sebaiknya nampak penuh pengertian, setia akan janji, bersih dan alim. Dan memang ia seharusnya demikian.

Tetapi situasinya harus demikian. sehingga jika ia juga memerlukan sifat kebalikannya, ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Anda harus menyadari hal ini: seorang raja dan khususnya seorang raja baru, tidak dapat menaati semua hal yang menyebabkan orang dipandang hidup baik, karena untuk mempertahankan negaranya ia kerap kali terpaksa bertindak berlawanan dengan kepercayaan orang, belas kasih, kebaikan dan agama. Dan karena itu disposisinya harus luwes, berubah seirama dengan bimbingan keberuntungan dan keadaan.

Sebagaimana saya utarakan di atas, ia tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, tetapi ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu.Oleh sebab itu, seorang raja haruslah sangat hati-hati untuk tidak mengatakan sepatah kata pun yang tidak nampak terilhami oleh lima sifat yang saya sebutkan di atas. Bagi mereka yang menghadap dan mendengarkan dia, dia harus tampak bersikap penuh pengertian, seorang yang dapat dipercaya kata-katanya, seorang yang matang dewasa, seorang yang baik budi dan alim. Dan tidak ada hal yang lebih penting untuk bersikap seakan-akan memiliki kedua sifat terakhir tersebut.

Orang pada umumnya menilai sesuatu lebih berdasarkan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan. Karena orang dapat melihat, tidak banyak yang mampu berhubungan dekat dengan Anda. Setiap orang melihat Anda tampil, sedikit saja yang mengetahui siapa Anda sebetulnya. Dan mereka yang sedikit jumlahnya itu tidak berani melawan orang banyak yang didukung oleh kebesaran negara. Tindakan manusia pada umumnya dan khususnya tindakan para raja, kalau tidak ada urusan pengadilan, dinilai menurut akibatnya. Karena itu biarlah raja melakukan tugas untuk menaklukaan dan memerintah negara; cara-caranya akan selalu dinilai luhur dan akan dipuji dimana pun juga.

Rakyat biasa selalu terkesan oleh penampilan dan hasil. Dalam hubungan ini, hanya ada rakyat biasa dan tidak ada tempat bagi mereka yang berjumlah sedikit karena yang banyak mendapat dukungan negara. Seorang penguasa tertentu zaman kita sekarang ini, yang lebih-baik tidak disebut namanya, tidak pernah berkotbah kecuali tentang perdamaian dan kesetiaan. Dan dia adalah musuh dari kedua hal tersebut dan seandainya ia pernah menghormati salah satu dari kedua hal tersebut, pasti ia akan berkali-kali kehilangan negara dan kedudukannya.

Jadi itulah yang ada di buka Buku Il Principe karya Machiavelli!

Muhammad Subarkah

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *