Mengapa Mereka Memilih Menjadi Wirausaha Sosial Muda

Selama ini kita sudah menyadari bahwa jumlah wirausaha di kalangan pemuda Indonesia masih kurang. Sudah sering pula kita dengar bahwa kita butuh 2 % wirausaha di Indonesia. Kondisi itu pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa.

Saya ingin katakan bahwa saat ini kita lebih membutuhkan wirausaha sosial daripada sekadar wirausaha. Merekalah sejatinya pondasi penting dalam mewujudkan keadilan sosial di masyarakat. Karenanya,  saya melihat menjadi penting dan mendesak untuk berbagai sektor dapat mengenal, memahami, dan memerhatikan wirausaha sosial. Selanjutnya dengan bersama-sama membentuk arus yang mampu melahirkan jutaan wirausaha sosial baru di Indonesia.

Saya yakin, lahir dan tumbuh kembangnya wirasusaha sosial bisa menjadi strategi yang solutif untuk peningkatan produktivitas pemuda dan percepatan pertumbuhan bangsa. Hal ini dapat menyelesaikan isu ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Jika kita sudah bersepakat, bahwa wirausaha sosial adalah cara kita menciptakan lompatan besar, kita harus bersama – sama ajak anak – anak kita dan pemuda – pemuda kita untuk menjadi seorang wirausaha sosial muda. Apa yang bisa mendorong mereka menjadi wirausaha sosial?

Pada sebuah penelitian di Eropa, ketika ditanya “Apa alasan yang memotivasi mereka menjadi wirausahawan sosial muda?” jawabannya adalah 21% ingin melakukan sesuatu yang lebih baik, 18% menjadi bos untuk diri sendiri, 17% memenuhi kebutuhan, 17% ingin mengubah dunia, 12% mengambil peluang, 6% menghindari karir perusahaan, 3% tidak dapat melakukan hal lain yang lebih baik, 2% menjadi kaya, 4% alasan lainnya.

Jawaban yang diberikan tersebut cukup menarik, karena hampir satu dari lima wirausaha sosial di Eropa menyatakan peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dengan memperbaiki layanan dan produk yang sudah ada. Yang cukup menarik, hanya 2% dari responden yang memiliki motivasi ingin menjadi kaya. Ini memberikan sebuah pesan bahwa orientasi finansial tidak lagi menggiurkan bagi mereka, tidak menjadi alasan yang berarti signifikan bagi mereka untuk menjadi wirausaha sosial muda.

READ  Membaca ‘Il Principe’ karya Machiavelli di Tahun Politik

Penelitian di atas harus menjadi rujukan dan penyadaran kita dalam membangun kesadaran pemuda Indonesia untuk mau dan mampu basah kuyup berjuang menjadi wirausaha sosial muda Indonesia. Kita harus menularkan semangat dan mentalitas yang mendorong lahirnya wirausaha sosial yang berjiwa altruisme.

Dalam perspektif lain, penelitian tersebut menganalisis “Apa isu atau halangan utama yang Anda hadapi atau telah dihadapi sebagai wirausaha sosial muda?” Jawaban mereka antara lain adalah keterbatasan sumber finansial 23%, kerangka kerja regulasi dan legal 12%, keterbatasan pengalaman bisnis 9%, keterbatasan tim 8%, keterbatasan laynanan pengembangan dan pendukuk bisnis 7%, menyeimbangkan profit atau tujuan sosial 7%, kesulitan mengakses pasar 7%, kesulitan mengkomunikasikan nilai 6%, keterbatasan kepercayaan diri 5%, usia 5%, kesulitan meningkatkan 4%, keterbatsan pelatihan dan penelitian 3%, dan keterpatasan kemampuan kepemimpinan 2%. Praktisi yang diwawancara menunjukkan bahwa kekurangan pembiayaan atau sumber pembiayaan mewakili penyebab utama pemuda dan menjadi halangan utama untuk mengembangkan wirausaha sosial baru atau memastikan pertumbuhannya.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan pemerintah dalam mendukung perkembangan kewirausahaan sosial muda adalah menciptakan instrumen – instrumen pembiayaan yang memungkinkan untuk diakses para wirausahawan muda. Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan pendampingan pengembangan non-financing yang berkelanjutan, seperti manajemen organisasi, kepemimpinan, analisis keuangan, marketing dan branding, pengembangan bisnis, dan lain sebagainya.

Saya yakin, menuju tahun 2020 kita akan sampai sebuah momentum besar yang mungkin tidak terulang dalam 10 dekade ke depan. Momentum dimana pemuda melakukan gerakan kewirausahaan sosial secara massive, nyata, cepat yang berdampak besar.

Kita harus jujur dan menyadari bahwa saat ini memang benar bahwa bangsa kita sedang mengalami ketertinggalan. Namun adanya bonus demografi, pertumbuhan teknologi informasi, dan menguatnya kesadaran pemuda untuk mengambil tanggung jawab sosial sebagai wirausaha sosial akan mampu mendorong kita melakukan sesuatu yang Pak Harto sebut sebagai “percepatan yang akseleratif”. Suatu saat bangsa ini akan menyadari bahwa kita wirausaha sosial muda adalah generasi yang dinanti-nanti.

READ  Membeli Orang Kritis

dr Gamal Albinsaid M.Biomed
CEO Indonesia Medika, peraih Tokoh Perubahan Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *