Posts

Bangsa Besar Manusia Kerdil

Sejarah Indonesia adalah sejarah tentang tokoh-tokoh besar, dengan jiwa dan pikiran besar, serta menghasilkan konsepsi besar untuk Indonesia, bahkan dunia. Maka, tidak sepantasnya bangsa ini menjadi pecundang, bangsa kalah, terjebak dalam kondisi sulit ekonomi (middle trap income). Tak pantas pula bangsa ini seperti ditulis orang asing akan musnah di tahun 2030.

Jika pun kita menemukan kenyataan pahit kondisi bangsa ini jauh dari kebesarannya, mari kita introspeksi diri: barangkali kita semua gagal–atau setidak-tidaknya tidak mampu–mewarisi dan mentransformasi kebesaran Indonesia. Kita gagal membangun kepercayaan diri bangsa Indonesia.

Bangsa Besar

Bangsa besar ditempa oleh keadaan. Begitu kata pepatah. Indonesia yang dijajah ratusan tahun oleh bangsa-bangsa kolonial menempa karakter manusia Indonesia dan mewarnai cara pandang manusia Indonesia tentang dunia.

Salah satu karakter yang melekat kuat pada diri bangsa Indonesia adalah karakter pejuang. Negeri ini pernah dijajah ratusan tahun oleh bangsa kolonial. Blessing in disguise, penjajahan akut ratusan tahun telah melahirkan banyak tokoh pejuang yang mengobarkan semangat perlawanan kepada penjajah. Ada Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Kapitan Pattimura, dan lain-lain.

Sebagai kelanjutan sejarah, Indonesia juga melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional: Tjokroaminoto, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Samanhudi, Cipto Mangunkusumo, Dowes Dekker, Ki Hajar Dewantoro, Kartini. Indonesia merdeka punya Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Natsir, Yamin, Djuanda dan masih banyak lagi.

Hampir seluruh rakyat Indonesia pasti kenal Soekarno atau yang akrab dipanggil Bung Karno. Visinya kuat, narasinya hebat, orasinya dahsyat menggelegar. Ketokohannya bukan hanya melegenda di dalam negeri tapi hingga luar negeri. Di Rusia namanya harum abadi, bahkan salah satu masjid besar di St Petersburgh, terkenal dengan julukan “Masjid Biru” karena corak ornamennya berwarna biru, tapi warga juga mengenalnya sebagai Masjid Soekarno. Tidak hanya itu, banyak negara mengabadikan nama Soekarno sebagai nama jalan seperti Mesir, Maroko, dan Pakistan.

Kalau sekarang publik ramai gegara ada pejabat kita yang mengidolakan pemimpin Rusia Vlademir Putin, ketahuilah Soekarno sudah lama diiodolakan oleh rakyat Rusia. Jangan-jangan Putin juga mengidolakan Proklamator kita itu.

Tahun 1955 ketika dunia terpolarisasi dalam dua blok (Barat dan Timur), Indonesia memimpin negara-negara dunia ketiga melahirkan gerakan Non-Blok dan menggalang kekuatan anti kolonialisme yang sangat masyhur dan kita kenal hingga hari ini sebagai Konferensi Asia Afrika.

Tanggal 30 September 1960, Soekarno menawarkan Pancasila (sebagai konsepsi bangsa Indonesia) untuk diadopsi oleh negara-negara di dunia dalam pidato yang sangat terkenal di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan judul pidato “To Build The World A New.” Isi pidato Bung Karno menggemparkan dunia karena disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api menelanjangi habis-habisan sistem world order yang dibangun Barat berabad-abad yang gagal mendamaikan dan mensejahterakan dunia.

Pancasila sendiri lahir dari gagasan besar para pendiri bangsa. Hebatnya dia tidak lahir dari kondisi ideologi, politik, ekonomi, sosbud (ipoleksosbud) yang monolitik tapi beragam dan berbhinneka. Ada banyak aspirasi dan kepentingan yang minta diakomodir. Aspirasi “Piagam Jakarta” hanya salah satunya, yang akhirnya harus direlakan oleh tokoh-tokoh umat Islam demi kelompok lain dan demi persatuan nasional.

Hanya tokoh dengan jiwa dan pikiran besar yang mampu menghasilkan konsensus Pancasila sebagai common platform bagi bangsa sebesar Indonesia, dan hebatnya lagi lima silanya mencerminkan puncak-puncak peradaban bangsa Indonesia bahkan dunia. Di sinilah, kita berbesar hati untuk mendukung pernyataan Bung Karno, “Tidak ada negara yang persis sama, setiap negara punya identitas dan karakternya sendiri-sendiri.” Ya, Indonesia punya karakter khas yaitu Pancasila. Karakter yang sangat layak dijadikan referensi bagi peradaban dunia.

Sebagian kita tentu kenal Muhammad Natsir, tapi tak banyak yang tahu bahwa beliau yang mengembalikan konsepsi negara kesatuan Indonesia sesuai cita-cita Proklamasi dan Konstitusi RI. Konsepsi NKRI tidak lahir dalam ruang hampa. Pengalaman penjajahan bertahun-tahun memberikan kesadaran sejarah Indonesia mudah dipecah karena terbagi-bagi wilayahnya dalam negara-negara bagian.

Adalah M Natsir, seorang politisi Muslim, pemimpin Partai Masyumi, yang menyadarkan bangsa ini atas taktik penjajah yang belum rela atas kemerdekaan Indonesia. Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) Indonesia harus menerima kenyataan terpecah dalam 17 negara bagian eks bentukan Belanda dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Bukan hanya itu, RIS juga tunduk dalam tekanan Belanda untuk membayar hutang Belanda, mengembalikan hak milik dan memberikan izin baru perusahaan-perusahaan Belanda.

M Natsir datang dengan mosi di Parlemen RIS yang kemudian terkenal dengan “Mosi Integral M. Natsir” 3 April 1950 yang berkehendak kuat mengembalikan Indonesia sebagai negara kesatuan. Tanpa momentum sejarah yang diciptakan Natsir itu, kita tidak akan mengalami Indonesia yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Inilah momentum kedua negara kita dipersatukan oleh tekad yang kuat ke dalam NKRI setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Pemikiran dan perjuangan M Natsir adalah tentang persatuan republik dan pengokohan kedaulatan NKRI. Indonesia memang telah merdeka pada tahun 1945 tapi rongrongan atas persatuan dan kedaulatan republik tidak pernah jeda–setidaknya sampai tahun 1950 itu. Kini, setelah 73 tahun Indonesia merdeka tidakkah kita punya tantangan yang sama? Tidakkah kita merasa ada ancaman eksternal yang merongrong persatuan dan kedaulatan negara kita? Ancaman perang proxy, adu domba sesama anak bangsa, ancaman ekonomi yang datang dari kapitalisme global, perusahaan asing, pekerja migran, produk asing, dll. Adakah kita punya kesadaran dan respon yang sama dengan M Natsir?

Kita juga sangat masghul dengan konsepsi negara kepulauan (archipelagic state) yang kemudian diadopsi oleh dunia. Konsepsi ini murni lahir dari pemikiran Indonesia. Adalah Deklarasi Djuanda 1957 yang menjadi ilham bagi perkembangan konsepsi negara kepulauan. Djoanda sendiri adalah nama Perdana Menteri RI ke-10 Djoanda Kartawidjaja.

Sebelum ada Deklarasi dari Indonesia ini, dunia hanya mengakui wilayah Indonesia adalah 3 mil laut, diukur dari garis air rendah dari pulau-pulau yang termasuk dalam daerah Indonesia.

Ketentuan baru yang termuat dalam Deklarasi Djuanda selanjutnya disebut sebagai Konsep Wawasan Nusantara. Konsepsi nusantara yang bertujuan untuk menjamin kepentingan-kepentingan nasional dan keutuhan wilayah Indonesia.

Melalui konsepsi ini segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar dari pada wilayah daratan negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak negara Republik Indonesia.

Konsepsi Indonesia itu selanjutnya diterima oleh dunia dan diakui dalam Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS 1982 = United Nations Convention on the Law of the Sea) dan tentu saja menjadi berkah tersendiri bagi negara-negara dunia yang memiliki karakteristik wilayah seperti Indonesia. Sekali lagi, bangsa Indonesia membuktikan kebesaran pemikiran dan gagasannya sebagai sebuah bangsa di hadapan dunia.

Manusia Kerdil

Masih banyak lagi fakta sejarah yang membuktikan bahwa Indonesia ini (di luar luas wilayah, kekayaan sumber daya alam dan manusia) adalah negara besar dengan tokoh besar, pemikiran besar, dan konsepsi besar baik bagi Indonesia maupun dunia. Dus, bangsa ini memenuhi semua prasyarat untuk menjadi bangsa yang besar dan bangsa yang digdaya.

Sayangnya, kebesaran bangsa ini belum berwujud aktual saat ini. Belajar dari tokoh besar kita di atas, ini semua soal mentalitas dan kapasitas manusia. Kita mengalami defisit tokoh dan/atau pemimpin yang mampu mengangkat martabat dan kebanggaan bangsa. Kita masih berkutat pada persoalan internal (kemiskinan, ketimpangan, sentimen SARA, eksperimentasi demokrasi, dan lain-lain). Padahal kapasitas kita untuk peradaban dunia: untuk mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi.

Sampai di titik ini, kita patut khawatir–sama seperti kekhawatiran Bung Hatta: kita menemukan zaman/abad besar tapi diisi oleh generasi yang kerdil. Sekali lagi ini, soal mental dan kapasitas jiwa kita manusia Indonesia.

Penulis tutup artikel ini dengan kata-kata Bung Karno: “Tiap- tiap bangsa mempunyai orang-orang besar, tiap-tiap periode dalam sejarah mempunyai orang-orang yang besar, tetapi lebih besar daripada Mahatma Gandhi adalah jiwa Mahatma Gandhi, lebih besar dari Stalin adalah jiwa Stalin; lebih besar daripada Roosevelet adalah jiwa Roosevelt;… lebih besar daripada tiap-tiap orang besar adalah jiwa daripada orang besar itu. Jiwa yang besar yang tidak tampak itu adalah di dalam dadanya tiap-tiap manusia, bahkan kita mempunyai jiwa sebagai bangsa. Maka, kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk membesarkan kita, punya jiwa sendiri, dan membesarkan jiwa bangsa, kita menjadi anggota daripadanya.”

Danang Aziz Akbarona
Pemerhati Politik Kebangsaan Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH), Kandidat Doktor Manajemen SDM UNJ