Posts

Baca Buku, Cara Mudah Bikin Tidur Nyenyak di Malam Hari

Terkadang, kita merasakan sulitnya tidur di malam hari. Padahal keesokan hari kita harus bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

Ini hal yang wajar terjadi. Dan, ada banyak sekali saran dan tips yang beredar di luar sana untuk mengatasi masalah ini.
Sayangnya, semua cara yang beredar itu malah membuat kita rumit. Tapi kini, kita tak perlu khawatir lagi. Ada cara mudah yang bisa membuat kita bisa tidur dengan nyenyak.

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk membuat dirinya bisa tertidur di malam hari.

Namun, riset yang dilakukan oleh peneliti dari University of Sussex menemukan, membaca buku favorit adalah jalan terbaik untuk membuat kita tidur nyenyak.

Hasil riset ini mengungkap, membaca mampu mengurangi tingkat stres sebanyak 68 persen. Ini termasuk jumlah yang lebih tinggi daripada tips lain seperti seperti minum teh, mendengarkan musik, atau berjalan-jalan.

Riset yang dilakukan Dr Lewis ini menemukan, hanya perlu membaca selama enam menit untuk secara signifikan merilekskan tubuh dan pikiran kita.

Dengan kata lain, cara ini dapat kita terapkan sebagai ritual di malam hari agar kita bisa tidur dengan nyenyak.
Sebenarnya, buku tak hanya membantu kita untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Membaca buku dapat mengalihkan perhatian kita dari gadget yang sangat mengganggu kualitas tidur.

Menurut sebuah riset tahun 2015, mahasiswa yang secara konsisten menemukan dirinya terlalu sibuk dengan media sosial, merasa lelah sepanjang hari.

Hasil riset ini bahkan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mereka juga terpengaruh secara negatif.

Riset lain yang dilakukan pada tahun 2016 menunjukkan hasil serupa.

Para periset menemukan bahwa semakin banyak orang menggunakan media sosial saat berada di tempat tidur, memiliki risiko yang semakin besar untuk menderita gangguan tidur.
Kita mungkin berpikir untuk membaca buku yang membosankan jika ingin tidur dengan nyenyak.

Namun, riset dari perusahaan Mattres online di Inggris merekomendasikan kita untuk membaca buku yang menarik hati agar kita bisa tidur dengan nyenyak.

Agar tidur kita semakin nyenyak, menjauhkan diri dari teknologi sebelum tidur, mengunakan minyak aroma terapi di kamar kita, bahkan mandi dengan air hangat juga bisa menjadi cara yang ampuh.

Ariska Puspita Anggraini

Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku

Pada bulan kemerdekaan seperti sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan: “Dapatkah kita membayangkan kemerdekaan tanpa buku?”

Mari kita menelisik peran para perintis yang menyiapkan fondasi kebangsaan kita.

Dimulai sejak akhir abad 19, satu per satu bermunculan tokoh-tokoh yang awalnya hanya memikirkan cikal bakal Indonesia hingga akhirnya mewujud menjadi Indonesia Merdeka.

Dari RA Kartini dan Abdoel Rivai hingga Raden Mas Tirtoadisoerjo di pergantian abad 19 ke abad 20. Berlanjut ke Dr Wahidin, Douwes Dekker, Agus Salim hingga Cokroaminoto ke generasi Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, hingga ke angkatan berikutnya seperti Bung Sjahrir, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, sampai angkatan muda yang melahirkan peristwa Rengasdengklok.

Mereka memikirkan dan mencita-citakan Indonesia yang Merdeka karena setidaknya dua alasan.

Pertama, faktor pengalaman. Penjajahan, bagi generasi mereka, adalah pengalaman konkret sehari-hari, yang pedih dan perihnya terasa hingga ke kulitnya sendiri.

Kedua, faktor pengetahuan. Dari pengalaman konkret itu, mereka mempertajam dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan.

Melalui bahan bacaan, mereka mengetahui rekan-rekannya di negara-negara lain — seperti di Filipina, Tiongkok, India dan Turki– juga sedang giat-giatnya melawan penjajahan.

Melalui bahan bacaan pula, mereka menyadari bahwa kolonialisme tak dapat diterima oleh kemanusiaan, sehingga perlawanan kepada penjajahan adalah keharusan bagi mereka yang tercerahkan.

Menikam kolonialisme

Mereka semua umumnya membaca Max Havelaar, novel abad-19 karangan Multatuli yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai buku yang menikam kolonialisme.

Mereka membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia. Dari buku-buku biografi negarawan dan politikus, buku-buku teori filsafat, ekonomi dan politik, hingga karya-karya sastra klasik.

Para perintis kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang dengan pikiran yang terbuka, yang matanya memandang jauh ke ujung cakrawala, yang isi kepalanya penuh dengan ide-ide besar yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Simaklah pledoi “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Bung Karno di pengadilan kolonial di Bandung atau pledoi “Indonesian Vrij” yang dibacakan Bung Hatta di Den Haag.

Baca juga surat-surat yang dikirim Bung Sjahrir dari pengasingan di Digoel atau catatan-catatan Tan Malaka dari berbagai negara kala berusaha meloloskan diri dari kejaran intel-intel kolonial.

Perhatikan risalah Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda maupun risalah sidang BPUPKI yang membicarakan rancangan dasar negara.

Semuanya berisi daftar pustaka yang luar biasa kaya dan daftar referensi yang melimpah ruah. Dokumen-dokumen itu menjadi bukti betapa Indonesia dilahirkan para pembaca buku. Dokumen-dokumen itu menjelaskan hutang kita kepada buku.

Kini sudah 71 tahun Indonesia menikmati kemerdekaan. Kini sudah berjarak 86 tahun dari masa ketika Ibu Inggit Garnasih dengan nekat menyelundupkan buku-buku ke dalam sel penjara Bung Karno di Banceuy.

Didirikan oleh para kutu buku dan penulis buku, sudahkah Indonesia membayar hutangnya kepada dunia pustaka?

Indonesia memang hampir bebas dari persoalan tuna aksara yang sudah menyusut drastis hingga tersisa hanya sekitar 5-6% saja. Kendati demikian, meningkatnya angka melek huruf tidak serta merta meningkatkan minat baca.

Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Seorang petinju di Papua memutuskan menggendong buku-buku untuk diantarkan kepada masyarakat yang ingin membaca. Ia naik turun gunung berjalan kaki, dengan buku-buku yang dimasukkan ke dalam noken, demi menjawab kebutuhan masyarakat yang kesulitan mengakses bacaan.

Di lereng gunung di Bandung Selatan, seorang pedagang tahu menggunakan gerobaknya untuk mengantarkan buku-buku kepada warga kampung yang membutuhkan.

Di lereng Gunung Slamet, seorang bapak berkeliling dengan delman siap meminjamkan buku kepada siapa saja yang berkenan membaca.

Di Mandar, sekelompok pemuda gigih mengantarkan buku-buku melalui perahu ke pulau-pulau yang jauh dari buku.

Di Surabaya, Jakarta, dan di kota-kota yang lain, ada orang-orang dengan semangat serupa yang gigih mengkampanyekan pentingnya membaca. Tanpa dibayar, bahkan mesti keluar uang untuk membeli buku dan ongkos ini itu, mereka dengan keras kepala mengantarkan buku-buku kepada siapa pun yang mau membaca.

Negara tidak bisa diam. Saatnya berbarengan bergerak. Bukan besok, lusa, apalagi tahun depan. Tapi sekarang. Sebab menyiapkan generasi yang mencintai ilmu pengetahuan adalah tugas besar bersama. Sekarang!

3 Trik Membaca Buku Lebih Efektif

Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, “Aduh, sudah lupa”, atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku 101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin, membagi tiga cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?

Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. “Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya,” kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta.

Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

“Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat-coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misalnya, Anda tidak suka, tidak sependapat, dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi.

Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. “Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu.