consciousness

Richard Maurice Bucke: Cosmic Consciousness

Meski hakikat sejatinya telah (dan memang sudah seharusnya) sepenuhnya dimengerti, fakta tentang kesadaran kosmis telah lama diketahui baik oleh dunia Timur maupun Barat, dan mayoritas pria dan wanita beradab di seluruh negeri sekarang ini membungkuk di hadapan guru- guru yang memiliki rasa kosmis… semua guru yang tidak terinspirasi memperoleh pelajaran yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung dari mereka yang telah tercerahkan.

***

Richard Maurice Bucke adalah seorang psikiater Kanada yang sangat disegani, yang di waktu luang menenggelamkan dirinya dalam puisi dan literatur, kadang melewatkan malam bersama teman-temannya membaca karya­karya Whitman, Wordsworth, Shelley, Keats, dan Browning. Setelah suatu malam dalam kunjungan ke Inggris, ketika sedang berada dalam perjalanan panjang dengan menggunakan kereta kudanya dan merasa terinspirasi oleh puisi Whitman, Bucke mendapatkan pencerahan besar, kilatan dan sesuatu yang ia sebut “kesadaran kosmis”. Dalam momen tersebut, ia menyadari bahwa kosmos bukanlah benda mati melainkan sangat hidup; bahwa manusia memiliki jiwa dan kekal; bahwa alam raya ini diciptakan agar segala sesuatu menjadi baik dan setiap orang merasa bahagia; dan bahwa cinta merupakan prinsip dasar di jagad raya ini.

Bucke mengaku bahwa ia belajar lebih banyak di momen itu dibandingkan pada saat bersekolah. Walau demikian, momen itu hanyalah kilasan dari pencerahan sejati, dan ia tahu bahwa ada sekelompok orang pilihan sepanjang sejarah yang mencapai tahap ini secara permanen dan yang secara alami memengaruhi umat manusia yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah mereka. Sebagian dari mereka—Yesus, Muhammad, Buddha—telah mengilhami agama-agama besar karena mereka menawarkan pemahaman baru tentang apa artinya menjadi manusia. Bucke meyakini, tumbuh dalam kesadaran merupakan bagian dari evolusi kita, dan tokoh-tokoh ini mewartakan penggunaan cara baru tentang menjadi ada dan tentang kesadaran yang belum tersedia bagi populasi manusia pada umumnya.

***

Bucke membagi level kesadaran. “Kesadaran sederhana” adalah kesadaran yang dimiliki oleh sebagian besar hewan mengenai tubuh mereka dan lingkungan sekitar mereka. Seperti yang dikatakan Buck: “Hewan tenggelam dalam kesadarannya seperti seekor ikan di dalam laut; ia tidak bisa, bahkan sekalipun dalam imajinasi, keluar dari kesadaran itu selama satu detik agar bisa menyadarinya. “Kesadaran diri”, di sisi lain, merupakan khas manusia dan memberi kita kesadaran yang sangat berbeda tentang diri kita sendiri: Kita bisa berpikir tentang fakta yang kita pikirkan. Kesadaran diri, ditambah memiliki bahasa untuk mengekspresikan kesadaran ini dan memanfaatkannya, membentuk manusia Homo sapiens.

Kesadaran kosmis, pada gilirannya, menempatkan sebagian jalan manusia di atas yang lain. Bucke mendeskripsikannya sebagai suatu kesadaran yang tajam tentang “hidup dan keteraturan alam semesta” sejati, di mana seseorang merasakan kesatuan dengan Tuhan atau energi semesta. Kesadaran intelektual ini, atau pemahaman tentang kebenaran, menimbulkan kebahagiaan yang luar biasa karena semua persepsi yang keliru dari kesadaran diri lenyap. Jika orang melihat bahwa hakikat dari alam semesta ini adalah cinta, dan bahwa kita semua merupakan bagian dari energi kehidupan abadi, mereka tidak akan lagi merasa takut atau ragu.

***

Dalam kesadaran kosmis, kata Bucke, agama tidak akan eksis karena tidak ada lagi kebutuhan untuk mengaku percaya atau tidak percaya—setiap orang akan memiliki kesadaran Tuhan dan hakikat spiritual yang sempurna dari alam raga ini. Perbedaan antara dunia tersebut dengan dunia yang kita kenal sekarang ini seperti antara saat kemunculan manusia dan masa sekarang.

Lompatan evolusi sebesar ini kedengarannva tidak masuk akal, tetapi Bucke menunjukkan bahwa semua sifat atau kemampuan manusia yang baru pertama-tama dimulai dengan satu orang dan pada saatnva nanti akan menjadi universal. Pemahaman manusia tentang warna, misalnya, datang agak terlambat. Dalam Kitab Suci tidak disebutkan bahwa langit itu biru, dan budaya Yunani kuno mengenal tidak lebih dari tiga atau empat warna. Maksud Bucke adalah bahwa seiring dengan berlalunva waktu, manusia mampu menyadari hal-hal yang sebelumnva tidak diketahui eksistensinva.

Darwin menuliskan bahwa sifat yang lebih baru ini dalam spesies memiliki kecenderungan untuk lenyap—prinsip pembalikan. Hewan yang sangat terawat lebih mudah terserang penvakit dan memiliki kemampuan yang lebih sedikit. Sifat mereka tidak stabil. Sebaliknya, semakin lama sebuah sifat tinggal dalam diri suatu spesies atau ras, sifat itu akan semakin stabil. Apa hubungannva hal ini dengan kesadaran kosmis? Sederhana saja, contoh pertama mungkin tampak seperti anomali aneh, tetapi bila kasus ini semakin banyak, kita akan menjadi bisa lebih menerima kemungkinan bahwa sebagian orang bisa melampaui kasadaran diri yang normal, dan kita menganggap orang tersebut sebagai orang normal yang tinggi tingkatannya. Mereka lebih berkembang.

***

Bucke menampilkan daftar tokoh-tokoh sejarah yang dalam pandangannya telah berhasil memiliki kesadaran kosmis: Yesus, Buddha, Muhammad, St. Paulus, Francis Bacon, Jacob Boehme, John Yepes (Yohanes dari Salib), Bartolome Las Casas, Plotinus, Dante Alighieri, Honore de Balzac, Walt Whitman, dan Edward Carpenter. Daftar tokoh-tokoh yang “tidak terlalu tercerahkan”, ia tidak terlalu yakin tokoh-tokoh ini telah mencapai kesadaran kosmis, adalah Musa, Socrates, Blaise Pascal, Emanuel Swedenborg, William Blake, Ralph Waldo Emerson, dan Sri Ramakrishna, serta sejumlah tokoh di zamannya yang hanya dikenali dan inisial nama mereka. Dalam daftar kedua ini terdapat empat orang wanita, di antaranya mistikus Abad Pertengahan, Madame Guyon.

***

Cosmic Consciousness masih jauh dan buku yang sempurna. Ingatlah bahwa Bucke menyatakan keyakinannya dalam superioritas peradaban orang kulit putih; kemenangan sosialisme; dan teori bahwa Francis Bacon menulis Shakespeare. Para pembaca akan memperdebatkan daftar orang yang mencapai kesadaran kosmis, karena ia tidak mencantumkan nama Teresa dari Avila, Julian dari Norwich, dan St. Fransiskus dari Assisi.

Dengan mempertimbangkan apa yang ia ketahui dan zaman ia menulis buku ini, aspek tersebut bisa ditoleransi. Dengan membuat contoh yang meyakinkan pada masyarakat umum tentang pengalaman kosmis, Bucke telah membuka jalan Baru, dan upayanya ini berhak membuat bukunya menjadi karya terbaik. Cosmic Consciousness secara ilmiah tidak bisa dipertanggung­jawabkan, tetapi tujuan buku ini memaparkan pengalaman mistis secara objektif muncul bertahun-tahun sebelum William James mengeluarkan The Varieties of Religious Experience (yang melimpahkan pujian untuk buku Bucke) dan satu dekade penuh sebelum Mysticism karya Evelyn Underhill yang berpengaruh itu. Tema buku Bucke, yaitu contoh kebangkitan kesadaran kosmis, juga bergaung dalam diri para penulis modern seperti Abraham Maslow (dengan gagasan tentang bertambahnya jumlah orang yang “mengaktualisasikan diri”) dan Marilyn Ferguson (The Aquarian Conspiracy).

Gagasan tentang kesadaran kosmis mungkin tampak naif­kita, bagaimanapun juga, masih hidup dengan refleks naluriah manusia prasejarah—walau demikian gagasan ini didukung oleh fakta bahwa pencerahan diri sebagai konsep pada saat ini diterima sebagai bagian dari budava kita. Kesadaran ini dipandang sebagai tujuan yang mulia, alternatif dari kehidupan yang terikat oleh kesadaran diri. Kita gembira mengetahui bahwa ada sedikit orang yang hidup dalam kebahagiaan dan kegembiraan permanen, karena mereka mengingatkan kita bahwa meski terkurung dalam tubuh, kita tetap bisa menjadi makhluk spiritual.

Richard Maurice Bucke

Lahir pada tahun 1837 di Norfolk, Inggris, Bucke merupakan anak ketujuh dari keluarga Inggris yang kemudian bermukim di Ontario, Kanada. Ayahnya adalab seorang pendeta Church of England yang berpengetahuan luas, yang berbenti menjadi pendeta untuk bertani. Ibu Bucke meninggal ketika ia berusia 7 tahun, dan ibu tirinya meninggal ketika ia berusia 17 tahun, dan di usia tersebut ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Selama beberapa tahun berikutnya ia pergi ke Amerika Serikat bekerja sebagai tukang kebun, buruh kasar di kapal uap, dan akhirnya sebagai sais kereta kuda. Pekerjaan terakhir ini membawanya ke wilayah tak dikenal setelah Salt Lake City menuju Pegunungan Rocky, di mana ia diserang oleh penduduk asli Amerika, bekerja sebagai penambang emas, dan sebelah kakinya terpaksa diamputasi setelah memasuki daerah tak dikenal untuk mencari Perak.

Setelah menerima warisan sejumlah uang, Bucke masuk ke sekolah kedokteran, mengambil program profesi sarjananya di Inggris, dan menjadi apa yang kemudian disebut “ahli ilmu jiwa” (psikiater). Ia mengepalai dua rumah sakit jiwa di Hamilton dan London di Ontario, dan pada tahun 1882 menjadi profesor penyakit mental dan saraf di Western University, Ontario. Pada tahun 1890 ia terpilih menjadi ketua Ameri­can Medico-Psychological Association.

Bucke pertama kali bertemu dengan Walt Whitman pada tahun 1877 dan ia mendedikasikan buku pertamanya, Man’s Moral Nature (1879,) untuk temannya.

Cosmic Consciousness diterbitkan pertama kali pada labun 1894 sebagai makalah yang dibawakan dalam rapat tahunan American Medico-Psychological Association. Buku ini didedikasikan untuk putranya, Maurice, yang tewas dalam sebuab kecelakaan satu tahun sebelum buku ini dipublikasikan. Bucke sendiri meninggal kurang dari satu tahun setelah buku ini diterbitkan (1902), setelah terpeleset di alas lapisan es di luar rumahnya.[]