histeris

Hysterical Parenting

Beberapa tahun yang lalu istri saya ikut seminar parenting di sekolah anak saya. Topiknya soal media dan pornografi. Pembicaranya seorang psikolog terkenal, namanya tak perlu saya sebut. Pulang dari seminar saya lihat dia bercerita dengan nada panik soal media dan pornografi. Kenapa jadi panik begini?

Saya lihat lembar-lembar materi seminar, lalu saya paham. Isi presentasinya adalah hal-hal menyeramkan tentang kecanduan pornografi pada anak. Di salah satu slide presentasi itu dikatakan bahwa kerusakan otak anak akibat sekali terpapar pornografi lebih parah ketimbang kerusakan akibat ditabrak truk. Waduh!

Berbahayakah pornografi itu bagi remaja? Ya, sangat berbahaya.

Anak-anak di usia 10-13 tahun sedang mengalami ledakan pertumbuhan otak, yang diikuti dengan perkembangan jalur-jalur saraf. Di usia 15 otak mereka didominasi oleh wilayah kesenangan dan letupan emosional.

Otak manusia punya sistem kesenangan yang disebut dopamine. Ketika kita memperoleh sesuatu yang disukai, otak kita memproduksi dopamine, yang menimbulkan rasa nyaman dan senang. Salah satu stimulus yang menghasilkan dopamine ini adalah rangsangan seksual. Dopamine juga dapat dipicu secara kimiawi, dengan menggunakan obat-obatan. Narkotika biasanya memanipulasi otak dengan memicu dopamine secara kimiawi.

Bila terlalu sering mendapat dopamine, otak kita akan selalu menangih, saat dopamine tidak tersedia. Itulah awal terjadinya kecanduan. Singkat kata, dopamine ini pangkal segala jenis kecanduan.

Otak anak-anak remaja sedang dalam puncak sensitivitas terhadap dopamine. Reaksinya 4 kali lipat lebih kuat dari otak orang dewasa. Produksi dopamine mereka juga jauh lebih banyak. Artinya, anak-anak remaja memang sangat rawan kecanduan. Tidak hanya narkotika dan pornografi, ada banyak jenis kecanduan yang bisa menyerang anak, termasuk game.

Kalau sudah kecanduan, akibat lanjutannya memang sangat berbahaya.

Tapi, perlukah kita histeris? Itu masalahnya. Histeria bukanlah solusi. Ia akan jadi masalah. Kita akan melakukan kontrol yang berlebihan pada anak, yang justru akan menimbulkan reaksi negatif dari mereka.

Yang saya lihat pada psikolog tadi, ia memaparkan hal-hal yang perlu diwaspadai secara histeris. Para pendengarnya adalah ibu-ibu yang jarang membaca, langsung shock ketika berhadapan dengan “kenyataan” yang begitu menyeramkan tadi. Saya beri tanda kutip, karena reaksinya jadi seakan mereka sedang berhadapan dengan anak-anak yang sedang kecanduan. Juga karena beberapa penjelasan dalam slide presentasi tadi saya lihat sangat berlebihan.

Saya perhatikan berbagai pernyataannya di media, saya simpulkan psikolog ini adalah orang yang masih shock dengan apa yang ia ketahui. Ia histeris, dan menyebarkan histeria kepada banyak orang.

Apa yang perlu kita lakukan? Pertama, kenali dulu definisi pornografi itu. Jangan sampai kita sudah menuduh anak-anak kita menonton konten porno hanya karena mereka menonton video clip girl band. Anak-anak remaja laki-laki tertarik melihat tubuh perempuan itu tanda bahwa mereka tumbuh wajar. Kita tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap hal yang wajar itu.

Lakukan kontrol terhadap aktivitas media anak-anak. Apa yang mereka tonton di TV dan Youtube, apa yang mereka lihat di internet. Tapi jangan sampai jadi seperti polisi moral, yang menimbulkan sikap antipati. Beri mereka kepercayaan, tapi tetap pantau.

Kenali hal-hal dasar soal internet. Punyalah pengetahuan soal history, sehingga kita bisa memantau apa yang dilihat anak-anak. Saluran Youtube di perangkat yang biasa dipakai anak saya adalah saluran pada akun saya. Apa yang mereka lihat bisa saya lihat melalui perangkat yang saya pakai.

Batasi waktu mereka memakai internet. Dampingi saat mereka memakainya. Biasakan berkumpul dengan mereka. Anak-anak saya biasakan untuk berkumpul di ruang keluarga, tidak menyendiri di kamar masing-masing. Mereka hanya berada di kamar saat tidur.

Hal-hal itu jauh lebih penting ketimbang menjadi histeris. Histeria terjadi saat kita tidak paham situasi yang kita hadapi, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka, belajarlah. Tapi ingat, jangan belajar pada psikolog histeris.

Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan

Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.