Posts

11 Cara Mengatasi Kecemasan dalam Hidup

Hidup memang tak selalu berjalan mulus. Terkadang, masalah datang untuk menguji kita sebagai manusia. Wajar jika kita merasa khawatir atau cemas akan masalah hidup yang menerpa.

Namun, terlalu khawatir hingga menimbulkan depresi juga bukan hal yang bagus untuk diri kita sendiri.

Lalu, bagaimana cara mengatasi kekhawatiran yang berlebihan dalam hidup? Dilansir dari Reader’s Diggest, berikut beberapa cara mengatasi kecemasan.

1. Yoga Ilustrasi Posisi Yoga Lotus Asana

Riset telah membuktikan olahraga dapat menjadi solusi untuk mengatasi kecemasan dan depresi.

Sayangnya, manfaat olahraga ini seringkali diabaikan. Bahkan, banyak orang menganggap pergi ke gym dan berolahraga bersama banyak orang justru menambah rasa cemas.

Sebagai alternatif, cobalah untuk mempraktikan yoga. Kita bisa melakukannya secara pribadi di rumah.

“Olahraga membantu melepaskan endorfin yang penting untuk mengatasi rasa cemas yang bisa menurunkan tingkat stres,” kata Kelsey Torgerson, dokter klinis berlisensi dan spesialis kecemasan.

Secara pribadi, Torgerson juuga mempraktikan yoga empat kali seminggu.

“Yoga meningkatkan ‘jendela toleransi’ dan membangun keterampilan manajemen stres,” tambahnya.

2. Kurangi Menggunakan Sosial Media Ilustrasi Media Sosial Cyber

Banyak orang menggunakan media sosial untuk melampiaskan perasaan tertekan dan cemas.

Rebecca Burton, konselor pernikahan dan keluarga berlisensi, mengatakan cara ini justru semakin membahayakan diri kita.

“Menggunakan media sosial berarti kita rentan terhadap kejadian yang memicu kecemasan pada hari itu,” katanya.

Apalagi, media sosial kerap membuat kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang akan semakin menimbulkan rasa cemas.

Sebaiknya, kita mulai mengurangi penggunaan media sosial. Memang sangat susah melakukannya, terutama jika kita telah kecanduan.

Namun, daripada kita menghabiskan waktu untuk media sosial, Burton menyarankan agar kita menggunakan waktu untuk beristirahat.

3. Terima Kecemasan Sebagai Bagian Dalam

Akshay Nanavati, motivator pengembangan diri, mengatakan agar kita menerima kecemasan sebagai hal yang wajar dalam hidup.

“Merangkul dan memanfaatkan kecemasan akan membantu kita mengontrolnya, bukan sebaliknya,” paparnya.

Menurutnya, penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Dari sinilah, kita dapat belajar bagaimana membangun hubungan positif dengan rasa sakit.

Salah satu bagian terburuk dari kecemasan adalah rasa takut akan rasa sakit. Namun konyol untuk memulai penderitaan karena hal-hal yang belum terjadi.

Terimalah bahwa akan ada perjuangan. Selain itu, kita juga harus mengetahui jika diri kita cukup kuat untuk menghadapinya.

Jika kecemasan kita semakin besar dan kita merasa tak dapat menanganinya, cobalah untuk menemui dokter untuk mendapatkan tindak lanjut.

4. Lakukan Yang Terbaik Dan Berhenti Menunda

Sebagian besar kecemasan berasal dari kebiasaan menunda. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai menghilangkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan ini.

Denise Limongello, psikoterapis berlisensi dari Manhattan, menyarankan kita agar segera mengerjakan apa yang harus kita kerjakan.

“Banyak penelitian menunjukkan orang sering mengatasi kecemasan dengan penundaan,” katanya.

Menunda bukanlah hal yang bisa membuat kita terhindar dari rasa cemas. Menurut Limongello, tidak ada cara lain selain mengerjakan apa yang harus kita selesaikan.

Namun, untuk mengatasi rasa cemas yang terjadi karena hal di luar kendali kita, melakukan hal yang bisa kita lakukan sebaik mungkin akan membantu meringankan rasa cemas.

Jika kita tak mampu menunjukan apa yang membuat kita merasa cemas, bisa jadi kita menderita Generalized Anxiety Disorder.

Ini merupakan penyakit mental di mana kita dikelilingi rasa khawator tanpa tahu penyebabnya sepanjang waktu.

5. Kenali Gejala Kecemasan

Menurut Torgerson, setiap orang merasakan kecemasan secara berbeda. Oleh karena itu, respon setiap orang terhadap rasa cemas yang dialaminya juga berbeda.

“Mulailah dengan mencari tahu bagaimana reaksi tubuh kita terhadap kecemasan,” paparnya.

Reaksi tubuh menghadapi kecemasan, kata Torgerson, bisa berupa tangan yang dingin, tegang, rasa sakit di perut dan dada, atau nafas yang berat.

Semua itu adalah hal yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi kecemasan.

“Segera setelah kita melihat tanda pertama kecemasan, segera tarik napas dalam-dalam lalu lakukan sesuatu yang yang membuat kita merasa tenang,” paparnya.

Ia menambahkan bersikap proaktif sangat membantu dalam mengelola kecemasan.

Namun, gejala fisik hanyalsah sebagian kecil dari gejala kecemasan yang terjadi.

6. Ciptakan Gaya Hidup

Cara mudah untuk mengatasi kecemasan adalah dengan menciptakan rutinitas yang sehat.

“Kecemasan membuat kualitas tidur memburuk, membuat kita kecanduan junk food, alkohol dan obat-obatan,” kata Burton.

Kecemasan juga membuat kita menerapkan gaya hidup pasif. Memperbaiki gaya hidup adaah langkah pertama yang harus dilakukan selama periode kecemasan yang inten.

Jadi, daripada kita terjebak dalam kecemasan terus menerus, lebih baik kita fokus untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.

Misalnya, kita menetapkan aturan tak lagi memakai ponsel setelah jam 10 malam, mempraktikkan konsumsi sayur setiap hari, atau olahraga selama 20 menit setiap hari.

“Ketika gaya hidup sehat yang kita pilih telah melekat dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti bisa menambahkan banyak kebiasaan postif,” kata Burton.

“Mengontrol kebiasaan akan meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi kecemasan dengan meningkatkan rasa percaya diri,” tambahnya.

Cara ini juga menciptakan perasaan yang mampu mengendalikan hidup ketika situasi di sekitar kita terasa penuh tekanan.

7. Pandang Kecemasan Sebagai Hal Istimewa

Memiliki rasa cemas dalam hidup memang terasa menyakitkan. Tapi, Menurut Nanavati, kecemasan juga memiliki beberapa sisi yang bisa kita gunakan untuk membantu diri kita.

Jadi, alih-alih kita menjadi lemah karena kekhawatiran, sebaiknya kita memandangnya sebagai cara untuk mengatasi kecemasan.

“Kita harus percaya setiap peristiwa atau keadaan adalah peluang untuk mendewasakan diri,” katanya.

Menurutnya, setiap orang dapat mencapai apa pun dengan usaha yang tepat.

Jadi, daripada kita menyalahkan keadaan atau mempertanyakan kemampuan, biarkan rasa cemas memotivasi kita untuk mengubah hal-hal yang membuat khawatir.

8. Ambil Nafas Dalam-Dalam Atau Meditasi Teratur

Mengambil nafas dalam-dalam atau meditasi ringan setiap beberapa jam sangat bagus untuk mengurangi kecemasan.

Agar kita melakukannya secara teratur, Torgerson merekomendasikan kita untuk memanfaatkan aplikasi pengingat di ponsel.

“Ketika pengingat berbunyi, ambil tiga napas mendalam dengan diafragma. Ambil napas melalui hidung, dan keluarkan dari mulut selama lima hitungan,” katanya.

Kita juga bisa mengunduh aplikasi meditasi untuk menjadi pengingat setiap harinya.

9. Melakukan Persiapan Dan Berlatih

Saat akan melakukan hal penting, misalnya presentasi, kita pasti akan diselimuti rasa khawatir.

Untuk mengatasinya, kata Limongello, kita bisa melakukan latihan demi meningkatkan kinerja dan mengurangi kecemasan.

“Riset menunjukkan latihan seperti bermain peran dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kecemasan,” katanya.

Untuk melakukan hal ini, kita bisa mencobanya sendiri atau meminta bantuan teman.

10. Mencintai Diri Sendiri Ilustrasi Pria Kurus

Kekhawatiran adalah masalah nyata. Orang yang memiliki kecemasan seringkali mengalami rasa malu, entah karena orang lain atau diri sendiri.

Namun, menurut Nanavati, menyalahkan diri sendiri dan merasa malu karena kecemasan yang dialami hanya memperburuk masalah.

Selain itu, kita juga harus mengetahui perbedaan antara perasaan stres dan kegelisahan.

Kita memang harus berusaha mengurangi keduanya dan memahami bagaimana kita menanggapi rasa sakit tersebut.

Nanavati mengatakan semua manusia selalu dihadapi oleh dua momen, yatu peristiwa yang menyakitkan dan bagaimana menghadapinya.

Alih-alih marah pada diri sendiri, sebaiknya kita mencari cara untuk mengendalikan rasa sakit tersebut.

Ia menyarankan agar kita tak terjebak dalam kecemasan, sebaiknya, kita memperkuat diri sendiri dan fokus kembali pada pikiran positif.

11. Melakukan Banyak Hal

Kecemasan bisa melemahkan kita, yang pada akhirnya dapat menambah kecemasan lebih banyak lagi.

Menurut Burton, untuk menghadapi hal ini kita harus melakukan segala hal atau menyibukkan diri.

“Kecemasan adalah ketakutan dan ketidakberdayaan. Bergantung pada lingkup situasi, dan seberapa besar dampaknya,” kata Burton.

Oleh karena itu, lakukan segala hal yang bisa kita lakukan, terutama hal-hal positif untuk mengatasinya.

Kita bisa mengatasi rasa cemas dengan menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan.

Misalnya, kita bisa melakukan kegiatan sosial atau melakukan kegiatan lain yang benar-benar ampuh membuat kita kuat saat mengahadapi kecemasan.

Ariska Puspita Anggraini

Cuaca Semakin Panas, Angka Bunuh Diri Melonjak

Perubahan cuaca ternyata juga berimbas pada kesehatan mental manusia.

Hal ini telah dibuktikan secara ilmiah lewat riset yang menghubungkan peningkatan suhu dan melonjaknya angka bunuh diri di Amerika Serikat dan Meksiko.

Dilansir dari laman Techtimes, riset ini dilakukan dengan membandingkan suhu historis serta data bunuh diri selama beberapa dekade.

Hasil menunjukan adanya korelasi kuat antara cuaca yang lebih panas dan meningkatnya angka bunuh diri.

Riset dilakukan oleh peneliti dari University of California.

Solomon Hsiang, sang pemimpin riset, mengatakan peningkatan suhu sebesar 2,5 derajat celcius pada tahun 2050 dapat meningkatkan angka bunuh diri sebesar 1,4 persen di Amerika.

Bahkan, hal yang sama menyebabkan kenaikan angka bunuh diri sebesar 2,3 persen di Meksiko.

Peneliti memperkirakan suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan 21.000 kasus bunuh diri tambahan di dua negara tersebut pada tahun 2050.

“Kami menemukan tingkat bunuh diri meningkat 0,7 persen di AS dan 2,1 di Meksiko saat terjadi peningkatan satu derajat celcius pada suhu rata-rata bulanan,” tulis Hsiang

Menurutnya, efek ini serupa dengan yang terjadi daerah yang lebih panas, dan tidak berbeda dari waktu ke waktu serta menunjukan adaptasi historis yang terbatas.

Periset telah lama mengetahui konflik dan kekerasan cenderung memuncak selama musim panas.

Namun, periset mengatakan penelitian ini telah menjadi bukti nyata jika cuaca panas juga berimbas pada fenomena bunuh diri.

Periset juga melihat fenomena ini lewat penggunaan bahasa dalam twitter untuk meneliti efek suhu panas pada kesehatan mental.
Hasilnya didapati bahwa cuaca panas terkait dengan peningkatan penggunaan bahasa depresif di media sosial.

Hsiang mengatakan cuaca panas tampaknya memiliki efek mendalam pada pikiran manusia dan bagaimana orang memutuskan untuk mencelakai diri sendiri.

“Ini mungkin bukti pertama yang menentukan perubahan iklim akan memiliki efek substansial pada kesehatan mental di Amerika Serikat dan Meksiko, dengan efek yang tragis bagi manusia,” kata Hsiang.

Ia mengaku telah mempelajari pengaruh pemanasan terhadap konflik dan kekerasan selama bertahun-tahun.
Alhasil, ia menemukan lebih banyak orang yang terlibat dalam pertengkaran ketika cuaca panas.

Faktor-faktor potensial dapat berkontribusi pada risiko bunuh diri.

Para ahli kesehatan mental telah memperingatkan fenomena bunuh diri di kalangan pesohor juga dapat menyebabkan lonjakan kecenderungan bunuh diri.

Kecenderungan bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 kejadian per tahun pada tahun 2010. Dalam dua tahun terakhir, angka tersebut mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

Bahkan, data organsasi kesehatan dunia mengklaim bunuh diri adalah akibat kematian terbesar kedua di dunia.

Ariska Puspita Anggraini