Posts

Pentingnya Kejujuran

Di Kota al-Marwa, terdapat seorang bernama Nuh bin Maryam. Ia seorang kepala negara dan sekaligus jaksa agung di kota tersebut. Selain sebagai seorang pejabat, ia juga dikenal sebagai orang yang kaya harta dan memiliki budak sebagai pesuruhnya.

Walaupun memiliki kelebihan kenikmatan duniawi yang serba berkecukupan, Nuh bin Maryam selalu ber sikap bijak dalam menghadapi berbagai perma salah an. Alkisah, suatu ketika Nuh bin Maryam mem berikan amanah kepada budaknya yang bernama Mubarok.

Ia berkata, “Wahai Mubarok, jagalah kebun ang gurku, peliharalah, siramilah sampai waktunya panen tiba.” Selanjutnya, Mubarok pun bermukim di kebun anggur sang majikan dan memelihara kebunnya. Setelah beberapa bulan kemudian, sang majikan datang ke kebunnya dan memanggil budaknya. Ia berkata, “wahai Mubarok, ambilkan aku setangkai anggur, aku ingin sekali mencicipi anggur hasil pemeliharaanmu. Mubarok bergegas memetik setangkai anggur dan diberikan kepada tuannya.

Namun, apa yang terjadi? Setelah tuannya memakan sebutir anggur, ia pun membuangnya dan sambil berkata, “ini masam, Mubarok,” dengan nada kecewa sang majikan kembali memerintah sang budak itu, “carikan anggur yang manis.” Mubarok kembetik anggur, dan memberikannya kepada tuannya. “Ini juga masam, carikan yang manis!” kata-kata itu kembali keluar dari mulut sang ma jikan. Mubarok pun mengambilkan anggur yang ketiga kalinya. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut mu ka kecewa setelah memakannya. “Ini masam, Muba rok!”

Akhirnya, majikannya marah dan berkata, “Apakah kau tidak bisa membedakan mana anggur yang manis dan masam?” Lalu, Mubarok berkata, “wahai tuanku, aku tidak dapat membedakannya, tuan. Sebab, aku tak pernah mencicipinya.”

Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan dan berkata, “Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal, kau sudah sekian lama aku tugaskan menjaga kebun ini.” “Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya. Karenanya, aku tidak berani mencicipinya walaupun satu buah,” jawab Mubarok.

Nuh bin Maryam akhirnya tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan anggur yang manis terlupakan begitu saja. Ia berdiam sejenak dan merenung dengan penuh kekaguman atas sikap kejujuran sang penjaga kebunnya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang lebih jujur dan memegang amanah melebihi budak di hadapannya ini. Akhirnya, Mubarok dimerdekakan dan diberikan harta yang berkecukupan untuk bekal kehidupannya.

Dari kisah keteladanan tersebut, kita dapat melihat bagaimana kejujuran dalam diri Mubarok yang dibalut dengan spirit keimanan dan ketakwaan. Komitmen dalam mengemban amanah yang diberikan oleh majikannya, ia jaga dengan penuh sikap totalitas dan tanggung jawab yang didasarkan karena ketaatan kepada Allah SWT, bukan karena pamrih, pencitraan, dan pujian dari manusia.

Perilaku sosial seorang mukmin hendaknya mampu meneladani kejujuran Mubarok, dengan memperkuat iktikad perubahan lebih baik dan selalu bersikap jujur dalam mengemban setiap amanah yang diterimanya, terlebih dalam kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis ketidakjujuran, seperti meningkatnya kasus ko rup si dan penyebaran berita bohong (hoaks). Dengan kejujuran, sejatinya upaya membangun kehidupan umat manusia akan lebih mudah untuk menggapai kebenar an, kemaslahatan, kemuliaan dan keberkahan dari Allah SWT.

Nabi SAW bersabda, “Hen dak lah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntun mu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan, sesantiasa seseorang berlaku jujur dan se la lu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah SWT seba gai orang yang jujur. Dan, hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan, seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. Sebagai pendusta.” (HR Muslim).

Muqorobin