Posts

Membaca Kunci Sukses Generasi Muda

Generasi muda merupakan aset yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Kualitas generasi muda sangat ditentukan dengan kompetensi dan hubungan sosial satu sama lain. Meningkatkan kompetensi salah satunya dengan bagaimana mendapatkan informasi yang utuh dan benar.

Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa lansung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.

Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDM nya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini.

Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri. Ribuan buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu anak-anak dan remaja kemudian didisiplinkan untuk membaca buku setiap hari.

Alhasil, misi inilah yang membuat jepang cepat bangkit dari keterpurkannya. Tak heran jika kita melancong ke Jepang banyak masyarakat di sana kita lihat sedang membaca buku di tempat-tempat umum. Inilah nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Jepang untuk membiasakan budaya membaca agar meningkatkan pengethauan dan kualitas SDM masyarakatnya.

Selain di Jepang, negara yang memiliki budaya baca tinggi adalah Finlandia. Menurut John W. Miller negara yang terletak di Eropa Utara ini terkenal dengan negara paling literat di bidang literasi di seluruh dunia. Langkah yang dilakukan oleh negara ini untuk meningkatkan minat baca di antaranya dengan penyediaan maternity pakage (paket perkembangan anak) yang diberikan oleh pemerintah kepada orang tua yang baru memiliki anak dengan memberikan beberapa perlengkapan bayi yang disisipkan dengan buku bacaan untuk orang tuanya maupun untuk bayinya, fasilitas perpustakaan yang sudah tersebar dimana-mana, budaya membaca yang turun temurun dilakukan dengan mewajibkan anak-anaknya wajib membaca satu buku perminggu, tradisi orang tua yang suka mendongeng, dan dari strategi dari pengalihan suara acara televisi dan film ke dalam bahasa lain yang kemudian diberi bantuan subtitles agar anak rajin membaca. Kebiasaan inilah yang membuat Finlandia sebagai negara tingkat pendidikan nomor satu di dunia dan kualitas SDM yang hebat.

Bagaimana Budaya Membaca di Indonesia?

Soal minat baca masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Beberapa data yang ada, Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan yang dilakukan di 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden dalam beberapa tahun belakangan ini, ditemukan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah yaitu hanya 25,1persen. Tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.

Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air. Disamping itu kondisi dan fasilitas perpustakaan serta buku bacaan bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah-daerah. Jika ada pun program-program yang ditawarkan masih berjalan setengah-setengah, perpustakaan masih menjadi tempat yang sepi, terkesan angker dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, padahal anak-anak dan warga biasa juga perlu akses terhadap bahan bacaan.

Gerakan Membaca “Itu Bermanfaat” dan Dilakukan oleh Semua Stakeholder

Dalam Agama Islam, ayat “Iqra” (bacalah) dalam surat al-Alaq menjadi ayat/wahyu yang pertama yang turun. Membaca merupakan sesuatu aktivitas baik dan bermanfaat. Tentunya dengan Membaca sesuatu yang bermanfaat dan diridhoi Allah SWT akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.

Budaya membaca akan muncul dari kebiasaan, kalau tidak dibiasakan, kapan akan menjadi biasa? Kegitan membaca ini harus dilakukan secara masal dan terus menerus agar timbul kebiasaa tersebut dan akan melekat menjadi kebutuhan. Beberapa lembaga juga telah membentuk suatu gerakan untuk membiasakan masyarakat Indonesia untuk membaca, diantaranya adalah Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Membaca, Program Pengembangan Budi Pekerti, Program Duta Baca Indonesia, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Taman Baca Masyarakat, Perpustakaan Desa hingga Perpustakaan Keliling yang bergerak di desa-desa terpencil. Namun gerakan-gerakan ini sepenuhnya belum didukung pemerintah secara maksimal, karena masih banyak kelemahan di mana-mana, mulai dari koleksi buku yang kurang hingga SDM yang tidak memadai.

Kalau saya boleh bilang saat ini justru sinergi dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba justru yang lebih massif dan maksimal, seperti Gerakan 1001 Buku yang fokus pada pendistribusian buku anak dan penguatan taman baca anak berkomitmen untuk meningkatkan akses sumber bacaan khususnya bagi anak-anak agar mencintai dunia literasi sejak dini. Mereka ini adalah pejuang tanpa pamrih yang berjiwa besar untuk meningkatkan kualitas SDM bangsa dengan tangannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Kita dapat melihat contoh yang dilakukan oleh POS Indonesia, ia juga sudah meluncurkan satu layanan baru untuk bersinergi dalam membangun budaya membaca di Indonesia yaitu dengan memberikan layanan pengiriman buku gratis yang akan didonasikan di setiap tanggal 17. Hal-hal semacam itu menjadi langkah awal untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia untuk membangun karakter bangsa ini dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Nah, diharapkan BUMN-BUMN lain juga bisa meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh POS Indonesia untuk berperan mencerdaskan bangsa sesuai dengan model kerjanya masing-masing.

Selain meningkatkan akses terhadap sumber bacaan, gerakan pembiasaan baca buku pun perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya bagi lembaga tertentu untuk meningkatkan budaya membaca dan pemberantasan buta huruf adalah tanggung jawab kita semua. Contohnya salah satu founder startup pendidikan di Indonesia, Iman Usman yang berperan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan memanfaatkan salah satu media sosial yang ia miliki, pemuda ini membuat gerakan membaca dengan menuliskan tagar #sabtubelajar untuk mengajak seluruh masyarakat agar memanfaatkan waktu senggangnya dengan membaca. Hal kecil seperti ini yang dapat meningkatkan budaya baca di Indonesia dan dapat menjadikan tren bagi masyarakat khususnya bagi pemuda untuk membaca sehingga dapat meningkatkan kualitas SDMnya.

Peran Generasi Muda

Pada tahun 2020-2035 Indonesia akan mulai memasuki masa emasnya dengan bonus demografi, pada tahun tersebut pertumbuhan usia produktif akan lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktifnya. Ini merupakan bonus yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun bangsanya, namun jika tidak diiringi dengan budaya membaca, Kondisi bangsa Indonesia mengalamai tantangan untuk mencapai masa emasnya ini.

Generasi muda sebagai tonggak kemajuan bangsa harus membiasakan diri untuk membaca agar mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Pada mulanya mungkin mereka merasa dipaksa untuk membaca tapi di masa depan mereka menjadi tahu ternyata budaya membaca menjadi rumus sukses mereka untuk mengatarkan mereka menjadi orang maju dan negara yang maju.

Oleh karena itu, budaya membaca sangatlah penting dalam membangun suatu bangsa. Tips memulai membaca dari yang termudah untuk dilakukan oleh generasi-generasi muda dalam meningkatkan minat baca adalah dengan memulai membaca dari topik yang kita sukai, terlebih saat ini akses terhadap internet pun sangat mudah sehingga kita bias membaca kapan saja dan darimana saja tak terhalang tempat dan waktu. Kita harus sadar bahwa dengan membiasakan membaca akan membentuk karakter dan meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang hebat.

Bulan Ramdhan adalah Moment yang Tepat

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk membudayakan membaca. Bulan Tarbiyah ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Bagaimana generasi muda mengisi waktu dari mulai sahur sampai menjelang buka puasa dengan membaca Alquran. Kita masih mengingat pada saat sekolah, berapa target kita membaca Alquran dalam sehari dan sebulan? Banyak orang yang mentargetkan Khatam Alquran pada bulan Ramadhan. Ada yang melakukannya dengan sendiri dan ada juga yang melakukannya bersama-sama dengan Tadarus Alquran setelah shalat Tarawih. Dari kebiasaan ini akan menjadi perilaku dan budaya membaca yang baik.

Dr Misbah Fikrianto MM MSi
Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Indonesia Dilanda Kedangkalan Literasi

Indonesia krisis membaca. Sebab, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku. Tak heran berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta Hikmat Kurnia berkata, tanpa kemampuan literasi yang baik maka tidak akan lahir individu yang hebat. “Sayangnya, dari data yang berkembang, hanya ada satu dari 1.000 orang Indonesia yang membaca buku secara rutin. Ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar,” kata Hikmat dalam pidatonya pada pembukaan Islamic Book Fair (IBF) 2018.

Karena itu, Hikmat yang juga penanggung jawab dalam panitia IBF 2018 itu mendorong umat Islam untuk memandang kedangkalan literasi sebagai musuh bersama. Sebab, itu merupakan akar dari kebodohan dan kemunduran peradaban.

Kemampuan literasi yang baik, menurut Hikmat, dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, bangsa, serta umat manusia. “Jika Islam hendak meraih kejayaannya maka suka tidak suka, kita harus memperkuat kemampuan literasi setiap individu,” ujarnya.

Hikmat lantas menyampaikan, tema IBF juga berkait erat dengan limpahan informasi pada era sekarang. Karena itu, kecerdasan literasi dibutuhkan untuk memilah antara informasi yang mencerahkan dan yang sekadar sampah.

Keberadaan hoaks di Tanah Air belakangan dinilai Hikmat sebagai bukti nyata bahwa umat belum memiliki kemampuan saring sebelum sharing. Itu mungkin terjadi karena pikiran nan pendek ditambah pemahaman yang dangkal.

Perhelatan IBF 2018 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, secara resmi dibuka pada Rabu, 18 April 2018. Acara yang berlangsung hingga 22 April 2018 itu mengusung tema “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”.

IBF 2018 secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya Fadli Zon. Yang juga turut hadir adalah perwakilan pengurus Ikapi DKI Jakarta, penulis, dan para peserta ajang tersebut.

Dalam pidato pembukaan, Fadli Zon menyambut positif penyelenggaraan IBF 2018. “Kegiatan ini penting karena menunjukkan potret peradaban,” ungkapnya.

Menurut Fadli, mengutip proklamator kemerdekaan RI Bung Hatta, buku dapat membentuk watak dan karakter bangsa. Melihat perkembangan negara maju, yang menjadi garda dan wajah terdepan di sana adalah perpustakaan, museum, dan hasil kebudayaan. “Itu aset nasional. Warisan intelektual penulis juga merupakan bagian aset nasional.”

Pemilik Fadli Zon Library itu pun mengingatkan, buku tak boleh hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan warisan budaya. Sebab, Fadli yakin buku bisa menjadi aset berharga dari generasi ke generasi.

Ihwal tema yang diusung IBF 2018, yakni “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”, Fadli menilai tema itu sangat tepat. Ia mengingatkan, Islam sempat memiliki peradaban lebih maju daripada Barat. Kemajuan peradaban Islam kala itu berbanding lurus dengan lahirnya literasi yang luar biasa. “Tinggal bagaimana melahirkan tokoh intelektual Muslim seperti dulu,” ujar Fadli.

IBF merupakan perhelatan tahunan di bawah Ikapi DKI Jakarta yang digelar sejak 2001. Dalam kurun dua tahun terakhir, IBF di gelar di JCC karena Istora Senayan direnovasi untuk digunakan saat Asian Games 2018.

Selain deretan stan dan buku berkualitas, IBF 2018 juga menghadirkan talk show dengan pembicara dari kalangan ulama dan penulis buku. Salah satu yang dinanti adalah kehadiran Ustaz Abdul Somad di panggung utama pada Kamis (19/4).

Berdasarkan pantauan Republika pada hari pertama IBF 2018, pengunjung anak- anak dan dewasa sudah tampak memadati arena. Terdapat sejumlah mata acara yang mereka hadiri, antara lain, pengenalan Metode Kauny, yakni menghafal Alquran semudah tersenyum, dan bedah buku Personal Social Responsibility. Terdapat pula lomba lantunan Asmaul Husna antara majelis taklim, peluncuran buku Surabi Pesantren, serta Konser Santri.

Fuji Eka Permana, Umi Nur Fadhilah

4 Kiat Saat Mengajar Anak Membaca

Orangtua yang berniat mengajarkan membaca pada anak usia prasekolah, tak ada salahnya mencoba. Pada prinsipnya, muatan apa pun dapat diajarkan pada anak usia prasekolah. Asalkan pastikan teknik pengajaran yang digunakan sesuai dunia anak-anak dan tak ada unsur paksaan.

Herlina Mustikasari SPd, MA, PhD, dari Lembaga Easy Reader, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan mengatakan yang juga perlu dicermati orangtua, titik berat pengajaran membaca untuk anak usia prasekolah adalah menumbuhkan minat baca bukan kemampuan membaca.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan mengajari anak membaca:

1. Ingat, mereka adalah anak-anak, bukan orang dewasa seperti kita. Sesuaikan metode pengajaran dengan kapasitas usianya.
2. Gunakan teknik yang menarik untuk anak.
3. Saat mengajari anak, hindari hal-hal yang bisa menganggu konsentrasi, seperti suara televisi.
4. Catat setiap sesi belajar dan kemajuan yang ada untuk dianalisa sebagai bahan mengajar lebih jauh.

3 Trik Membaca Buku Lebih Efektif

Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, “Aduh, sudah lupa”, atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku 101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin, membagi tiga cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?

Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. “Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya,” kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta.

Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

“Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat-coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misalnya, Anda tidak suka, tidak sependapat, dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi.

Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. “Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu.

Ayah, Ini Manfaat Membaca Buku Bersama Si Kecil

Penelitian sebelumnya telah menunjukan, membaca buku membuat Anda lebih bahagia dan hidup lebih lama.

Kini, penelitian terbaru membuktikan bahwa membaca buku juga bisa membantu pria menjadi ayah yang lebih baik, demikian menurut sebuah studi baru di Journal of Clinical Child & Teen Psichology.

Mendorong para ayah untuk membacakan buku kepada anak-anak mereka yag berusia prasekolah tidak hanya memberi manfaat pada anak-anak, tapi juga meningkatkan kemampuan mengasuh anak pada saat bersamaan.

Sementara banyak penelitian serupa berfokus pada ibu, para ilmuwan dari New York University memutuskan untuk memelajari sejumlah responden pria.

Peneliti merekrut 126 ayah dari pusat pendidikan di seluruh kota untuk berpartisipasi dalam sesuatu yang disebut “program kesiapan sekolah”.

“Ketika seseorang mengatakan bahwa mereka sedang mengikuti kursus pengasuhan anak, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah, ‘Apa yang salah dari cara mengasuhnya?'” kata Anil Chacko, penulis studi kepada NPR.

Para peneliti meminta responden untuk melihat dan mendikusikan video ayah lain yang sedang membacakan buku pada anak-anka mereka. Kemudian, semua responden ayah diminta untuk mempraktikannya di rumah dengan anak-anak.

Selanjutnya, setelah delapan minggu uji coba, para peneliti melaporkan pengaruh hasil eksperimen pada nilai akademis anak.

Hasilnya, anak-anak prasekolah memperoleh nilai 30% lebih tinggi pada tes yang mengukur perkembangan bahasa dan kesiapan sekolah.

Sementara itu, untuk para ayah mengalami perbaikan gaya pola asuh sebanyak 30 persen, seperti membangun rutinitas, memberi penghargaan pada perilaku yang baik dan jarang menghukum anak.