mendidik

Membentuk Kepribadian Anak Sejak Dini

Menerapkan pendidikan keperibadian pada anak dimulai sejak dini. Hal ini dilakukan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, sehat, dan normal. Psikolog Yenny Duriana Wijaya bahkan mengatakan pendidikan kepribadian sudah bisa dibangun mulai dalam kandungan.

Sejak dalam kandungan sudah mulai dididik itu yang benar. Jadi, interaksi antara ibu dan anak itu sudah mulai membentuk pola pikir, pola kepribadian pada anak. Sudah ada banyak jurnal penelitian tentang keterkaitan emosi ibu dan emosi janin di dalam kandungan.

Untuk dapat membentuk kepribadian anak, sejak dalam kandungan anak mulai diberikan stimulus hal yang positif. Misalnya didengarkan musik. “Kalau secara teori umum itu pakai musik-musik. Benar loh itu. Karena memang dia akan menerima stimulus-stimulus yang positif,” ujar alumnus psikologi Universitas Gajah Mada ini.

Yenny menjelaskan bahwa banyak kejadian dari hasil penelitian yang menunjukan kata-kata positif dan kondisi emosi ibu saling berkaitan dengan anak yang dikandung, “Kondisi ibu pasti otomatis nyambung ke anak,” katanya.

Ia menambahkan, “Kalau ibu pada saat hamil bersedih nanti anaknya cenderung depresi. Kondisinya tidak stabil bisa jadi anaknya gampang marah.”

Ia berharap selama dalam kandungan, ibu yang mengandung bisa menjaga kestabilan emosinya. “Tolong dalam waktu sembilan bulan ini tuh bisa menjaga kestabilan emosi. Paling nggak minimal sembilan bulan lah, syukur-syukur bisa seterusnya. Karena pembentukan itu akan sangat mempengaruhi,” ujar perempuan kelahiran Blitar.

Setelah anak lahir, ia menjelaskan bahwa pendidikan pada anak masih harus terus dilakukan dimulai dari orang-orang terdekat. “Pertama kali pasti ibu, orang dia paling dekat sekali, kan jadi satu malah. Yang kedua pasti ayah orang terdekat lagi, kemudian orang-orang yang terdekat misalnya di satu rumah siapa.”

Dalam hal ini, pembentukan pendidikan kepribadian yang baik tak hanya menstimulus hal yang positif dan mengontrol emosi saja, tapi juga diperlukan pemahaman orangtua kepada anak.

Berdasarkan pengalaman Yenny, anak nakal disebabkan emosi tidak terkontrol dari ibu sehingga setelah lahir kontrol emosi masih diperlukan untuk bisa memahami dunia anak. “Kontrol emosi dulu, emang itu dunia anak, kita emang harus pahami dulu,” ujarnya.

Untuk dapat memahami dunia anak setelah lahir itu perlu dipelajari. Mempelajari hal seperti itu tidak hanya dari buku, tetapi bisa dilakukan lewat kelompok-kelompok parenting. “Memang harus belajar sih. Belajar itu nggak harus dari buku juga dari manapun bisa, apalagi kalau sekarang banyak grup-grup parenting.”

Terakhir orang tua juga perlu mengikuti perkembangan anak dengan menyamakan posisi orang tua dengan anak. “Posisikan kita sebagai yang lebih tua. Harus mengenali anak. Jangan dipaksakan sesuai dengan keinginan kita. Ikuti selalu perkembangan anak, apa kemampuan anak, dan deteksi terus apa sebenarnya kegiatan dia setiap hari,” ujar pengajar psikologi ini.

Yudha Manggala P Putra

Membesarkan Anak Lelaki yang Bertanggung Jawab

“MAINAN adek ke mana?” Lalu seisi rumah heboh mencari mainan itu. “Adek enggak mau makan!” Lalu ada saja yang berusaha menyuapinya.

“Adek numpahin minum, kepeleset!” Ubin yang kemudian dimarahi lalu semua orang berebut mengepel bekas tumpahan.

Situasi itu terasa akrab?

Bila iya, orangtua harus hati-hati. Terlebih lagi kalau “si adek” adalah anak laki-laki.

Rasa tanggung jawab anak dimulai sejak dini. Kita sepakat bahwa hukuman bukanlah solusi untuk permasalahan perilaku anak. Namun, konsekuensi natural atau logis wajib ada dan bahkan wajib ditanamkan.

Ada apa dengan anak laki-laki?

Mengapa “kehati-hatian” ditekankan kepada anak laki-laki? Ini soal rasa tanggung jawab.

Hasil Jajak pendapat Kompas untuk Grafikota, misalnya, mendapati penyebab perceraian nomor dua di DKI Jakarta ternyata adalah kepala rumah tangga tidak bertanggung jawab kepada keluarga. Hal ini selalu muncul dan disebut-sebut di hampir setiap kasus talak-cerai.

Angka perceraian di Ibu kota tergolong tinggi. Provinsi DKI Jakarta konsisten menduduki peringkat kelima dalam daftar angka perceraian nasional. Rata-rata per tahun sekitar 3 persen perceraian seluruh Indonesia berasal dari Jakarta.

Perilaku tidak bertanggung jawab jelas erat kaitannya dengan kebiasaan menerima konsekuensi natural, bukan? Entah itu konsekuensi dari perbuatannya atau konsekuensi dari pilihannya.

Konsekuensi adalah elemen penting dalam kehidupan setiap manusia yang menjadikannya mengenal rasa tanggung jawab dan memahami bahwa kita tidak bisa hidup dengan bergantung pada manusia lain, terus menerus.

Karena itu, hal yang terpenting dari membesarkan anak adalah membimbingnya menjadi manusia yang interdependen.

Apa itu interdependen?

Sebelumnya, mari kita tanyakan dulu kepada diri sendiri, sebetulnya karakter seperti apa yang paling kita inginkan dari anak?

Benarkah kita ingin memiliki anak yang sangat mandiri sehingga mampu melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain sama sekali?

Atau, kita justru tidak bisa mempercayai anak yang karenanya tidak mau melepas dia melakukan apa pun sendiri?

Sebab, ternyata ada tiga jenis yang membedakan kemandirian ini, yaitu independen, dependen, dan interdependen. Di buku The Attachment Parenting Book-nya dr Sears, ada poin yang menjelaskan perbedaan ketiga istilah ini.

Membesarkan seorang anak dengan koneksi yang kuat artinya memberikan tujuan agar ia tumbuh menjadi manusia yang interdependen.

Apa sih itu? singkatnya begini:

1. Orang yang dependen: “YOU do it for me” – Ia berharap ada orang yang terus melakukan segalanya untuk dia, ia bergantung terus pada keberadaan orang lain. Biasanya ini buah dari pengasuhan yang permisif dan memanjakan.

2. Orang yang independen: “I do it MYSELF” – Ia merasa bahwa dirinya dapat melakukan segala hal sendirian, enggak perlu orang lain dan cenderung memikirkan kepentingannya sendiri di atas segalanya. Individualis. Karakter ini cenderung menjadi buah dari pengasuhan disiplin keras.

3. Orang yang interdependen: “WE do it” – Ia cenderung menjadi orang yang bijak karena mampu mendengarkan orang lain, mampu berkolaborasi, dan get the most out of their relationships while asking the most of themselves as well. Ia bisa melakukan banyak hal sendiri dan atau bersama orang lain.

Iya, jadi, orang yang independen akan menjadi leader tetapi terikat kepada dirinya terlalu banyak. Dia bisa melewatkan banyak kesempatan untuk lebih berkembang karena tidak mau berurusan dengan orang lain.

Mereka yang dependen akan menjadi follower, karena terlalu sibuk mengikuti orang lain sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apa yang dia sendiri mau.

Adapun orang yang interdependen mampu menjadi leader dan follower tergantung situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Mengapa interdependen?

Mengasuh dan mendidik anak untuk menjadi interdependen, justru menjadikan anak siap menghadapi kehidupan. Sebab, sebagai manusia, baik pekerjaan maupun pendidikan di masa depan, semuanya terkait dengan hubungan dengan manusia lain, bukan?

Ada satu referensi lagi yang juga membahas soal interdependen, yaitu Seven Habits of Highly Effective People-nya Stephen Covey.

Di situ juga disebutkan, interdependen adalah karakteristik orang-orang paling sukses. Karakter itu, tulis Covey, bisa ditanamkan sejak kecil.

“Aku bisa melakukannya sendirian, tapi hasilnya akan lebih baik dengan bantuan orang lain.”

Yasmina Hasni

Didik Mereka, Lalu Lepaskan

Mendidik anak itu untuk kita lepaskan. Mirip dengan saat ketika kita mengajari mereka naik sepeda. Kita harus lepaskan.

Karena mereka mengayuh sepeda itu, menjalankan sepeda sendiri, adalah esensi naik sepeda. Kita tidak bisa menyebut anak kita bisa naik sepeda, kalau kita terus memegangi sepedanya, bukan?

Lagipula, kita tidak akan sanggup untuk terus memegangi sepeda mereka. Kita akan lelah, dan kehabisan tenaga.

Anak kita suatu saat akan jadi manusia dewasa. Dia akan punya hidup sendiri. Mereka harus memutuskan setiap langkah yang akan mereka ambil, dan yang paling penting, bertanggung jawab atas keputusan itu.

Maka tugas kita adalah memberi mereka bekal, agar mereka mampu membuat keputusan, melaksanakannya, dan bertanggung jawab atas keputusan itu. Termasuk, membuat keputusan lain sebagai konsekuensi keputusan sebelumnya.

Tapi banyak dari orang tua yang lupa soal itu. Mereka mendidik anak seperti orang hendak mencetak sesuatu. Bentuk hasil cetakan harus sesuai keinginan mereka.

Maka, banyak orang berlomba-lomba menjejalkan ambisi mereka pada anak, sejak dini. Mumpung mereka masih kecil, tidak punya kekuatan untuk menyatakan kehendak. Harapan mereka, para orang tua itu, bentuk yang mereka buat itu tidak akan berubah.

Sayangnya, itu tidak selalu terjadi. Ada jutaan cerita di mana kelak orang tua kecewa, saat menemukan anaknya tak sesuai harapan dia. Tak jarang itu berujung pada perpisahan antara orang tua dan anak. Mereka jadi bermusuhan.

Ada pula orang tua yang masih ingin mengontrol anaknya saat mereka sudah dewasa. Ke mana mereka harus sekolah, pekerjaan apa yang harus mereka tekuni, sama siapa dia harus kawin, bahkan bagaimana anak-anak mereka (cucu para orang tua ini) harus dididik.

Bayangkan dengan cerita naik sepeda tadi. Ini adalah orang tua yang terus memegang sepeda anaknya, saat anaknya sudah naik sepeda berkeliling kompleks perumahan. Kalau kita lihat orang tua seperti itu, kita akan sepakat bahwa dia gila.

Sadarkah bahwa kita hidup di zaman yang berbeda dengan anak-anak kita? Masa kecil kita berbeda dengan masa kecil mereka. Masa depan mereka juga berbeda dengan masa ketika kita hidup sebagai orang dewasa.

Ketika kita menekan anak kita untuk menempuh hidup sesuai pikiran kita, referensi kita mungkin masa lalu, pada mimpi kita ketika kita masih kecil. Atau, pada masa kini, saat kita menjadi orang tua mereka.

Sebaik apapun visi kita tentang masa depan, tidak akan jauh. Kita tidak bisa membayangkan dunia yang akan dijalani anak-anak kita. Khususnya sekarang, ketika perubahan berlangsung sangat cepat.

Sadarkah Anda bahwa profesi yang kelak dijalani anak Anda kelak, mungkin bahkan belum ada sekarang. Lalu, profesi-profesi yang Anda lihat sekarang, dua atau tiga tahun lagi akan musnah. Sadarkah bahwa hari ini sejumlah profesi sedang memudar eksistensinya?

Bila Anda masih berpatokan pada masa lalu, atau masa kini dalam visi Anda, dan memaksakan itu pada anak Anda, maka sebenarnya Anda sedang mencoba menghadirkan anak Anda dalam sosok fosil di masa depan. Anda sedang menyiapkan anak untuk menjadi manusia salah zaman.

Maka, menurut saya, lebih baik kalau siapkan mereka untuk menjadi orang yang tahu bagaimana hidup di zaman mereka. Bagaimana cara hidup di zaman mereka? Biarkan mereka mencari dan memutuskan.

Kita hanya perlu membekali mereka dengan kemampuan dasar, yaitu kemampuan belajar, kemandiriaan, ketertiban, dan penghargaan kepada umat manusia.

Kita beri mereka kemampuan belajar, tanpa perlu menekankan apa yang harus mereka pelajari. Kita beri mereka kemampuan untuk mandiri, kita tidak tentukan apa yang akan mereka tempuh untuk hidup mandiri. Kita ajari mereka untuk tertib, tapi tidak memaksakan nilai yang kita anut sekarang.

Karena, bahkan nilai pun berubah menurut zaman. Hanya satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu bahwa manusia harus dihargai sebagai manusia.

Mendidik anak kita adalah menghargai mereka sebagai manusia.

Hasanudin Abdurakhman
Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

4 Akibat Buruk yang Muncul pada Anak Karena Salah Asuh Orangtua

Orangtua zaman sekarang sepertinya lebih sibuk mengurus pekerjaannya dibanding membesarkan anak. Mungkin alasan ini juga yang memicu anak jadi kurang asuhan yang tepat dari orangtua karena perhatian orangtua teralihkan pada pekerjaan. Sayangnya, ada banyak efek tak menyenangkan yang bisa ditimbulkan salah asuh orangtua ini.

1. Tak Tahu Cara Mengeluarkan Amarah

Karena kurangnya perhatian dari orangtua, anak jadi tak bisa mengekspresikan diri dengan baik, apalagi mengenai amarah. Anak tak tahu bagaimana mengendalikan emosinya dan mengeluarkan dengan cara yang benar. Pada akhirnya, anak sering tantrum di depan umum atau mencari masalah.

2. Tidak Punya Skill Mengatur Uang

Tidak diajarkan menabung, mengenal uang dan mengatur keuangan dari kecil juga berpengaruh besar terhadap cara pandang anak terhadap uang. Jika tak dibiasakan sejak kecil bagaimana mengatur uang, anak bisa jadi individu yang boros dan bahkan terlilit hutang.

3. Tidak Punya Sopan Santun

Sayangnya, orangtua zaman sekarang lebih individual secara personal. Dan ini mempengaruhi sikap anak terhadap orang lain. Sikap anak sering dibiarkan orangtua, kurangnya didikan dasar moral, toleransi dan hidup bersama terhadap orang lain membuat anak tumbuh jadi pribadi yang tak punya sopan santun.

4. Tidak Punya Kemandirian

Ada kasus guru memukul muridnya, orangtua bukan memarahi anaknya tapi justru gurunya. Karena seringnya ikut campur orangtua dalam hidup anak, anak jadi tumbuh tidak mandiri dan percaya diri. Ia jadi merasa tergantung, karena merasa punya back up orangtua, mereka jadi bersikap seenaknya sendiri, bahkan bersikap kurang peduli dan ingin menang sendiri.

Itu beberapa efek buruk kurangnya asuhan yang tepat dari orangtua. Banyak orangtua mungkin tak menyadarinya, namun hal ini semakin sering terjadi pada anak zaman sekarang.