Posts

4 Permainan Edukatif untuk Mengisi Liburan Sekolah

Libur Lebaran dan sekolah yang jatuh bersamaan, membuat anak-anak memiliki waktu berlibur yang cukup panjang. Panjangnya waktu libur pun dimanfaatkan orangtua untuk melakukan perjalanan wisata ke beberapa destinasi.

Namun, tidak sedikit dari anak-anak yang menghabiskan waktu liburan di rumah.

Ketika mengisi waktu liburan sekolah panjang, penting bagi orangtua untuk merencanakan ragam kegiatan yang berkualitas untuk membangun kelekatan emosional, salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik.

Menurut Psikolog dan Founder Personal Growth, Ratih Ibrahim, semua aktivitas fisik dapat memberikan rangsangan untuk memancing respons yang dapat melatih tumbuh kembang otak anak.

Terlebih karena dapat mengembangkan beberapa aspek kecerdasan anak, meliputi aspek psikomotorik, kognitif, emosi dan psikososial.

“Yang paling penting, aktivitas yang diadakan oleh orangtua memberikan stimulasi untuk melengkapi life skills yang diberikan di sekolah. Ini penting dalam proses pembentukan karakter anak,” ucap Ratih saat ditemui VIVA baru-baru ini.

Ratih pun memberikan beberapa contoh jenis kegiatan edukatif yang mudah dan bisa diaplikasikan bersama si kecil di rumah.

Menggambar Menggunakan Jari-jari Tangan (Finger Painting)

Ajak si kecil menggambar menggunakan jari-jari tangannya dengan bahan-bahan alami yang ada di dapur Anda. Cukup gunakan tepung kanji dan pewarna makanan yang tersedia dan biarkan ia berkreasi sambil mewujudkan imajinasinya.

Melalui kegiatan ini, Anda akan melatih keterampilan motorik halus anak (sensori-motorik), kreativitas, kognitif (dengan mengenal bentuk dan warna), juga melatih empati dan komunikasinya dalam berkelompok.

Membuat Boneka atau Figure Head Gambaran Diri Anak (Me in a Puppet)

Apabila si kecil lebih suka berkreasi menggunakan kertas lipat, Anda bisa mengajaknya untuk membuat boneka kertas gambaran diri anak dari bahan-bahan yang mudah dicari.

Anda hanya memerlukan kertas lipat (origami), stik es krim, benang kasur, lem, gunting, serta kancing dan manik-manik sebagai pemanis boneka kertas yang akan dibuat.

Kegiatan ini akan melatih keterampilan motorik halus anak, mengembangkan daya imajinasi dan berkreasinya, serta mengajarkan anak untuk menuangkan ide dalam bentuk konkret. Selain itu, anak juga bisa belajar memahami diri, membangun kepercayaan diri, serta membangun konsep diri yang positif.

Keliling Kota dengan Transportasi Umum

Ajak si kecil berkeliling kota sambil memperkenalkan ragam transportasi umum yang ada di kota Anda. Selain mengenalkan transportasi umum, Anda juga bisa membawa si Kecil bepergian ke tempat-tempat wisata seperti museum, taman kota, atau perpustakaan yang tersedia di sekitar tempat tinggal Anda.

Untuk membuat jalan-jalan Anda bersama si kecil menjadi lebih berkesan, siapkan satu exercise yang memuat seputar hal-hal yang sekiranya bisa ditemui di jalan atau di tempat tujuan. Si kecil dapat diminta untuk menunjukkannya kepada Anda apabila menemukannya di jalan.

Bermain Mainan yang Bersifat Edukatif

Sebagai alternatif dari ragam aktivitas di atas, Anda juga bisa memanfaatkan mainan yang bersifat edukatif untuk anak. Seperti contoh, ELC Indonesia menyediakan ragam mainan seperti Drawing Activity Set untuk si Kecil yang hobi menggambar, Keyboom Board untuk anakyang senang bermain musik, Wooden Easel yang bisa dipakai jadi kanvas pertama untuk si Kecil, Storytelling Card dan “I want to be…” Puzzle yang dapat melatih kreativitas si Kecil.

Tasya Paramitha

Umat yang Terbaik

Siapa sebetulnya umat terbaik itu? Secara benderang, istilah umat terbaik disebut dalam Alquran, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS 3: 110).

Para mufasir sependapat bahwa yang dimaksud “kamu” di awal surah tersebut adalah umat Islam. Lalu, pada lanjutan ayat itu dijelaskan mengapa dikategorikan sebagai umat terbaik karena mereka memikul tanggung jawab menyuruh kepada kebaikan sekaligus mencegah atas yang buruk. Jadi, jika kedua tanggung jawab itu ditinggalkan, lepas juga sebutan sebagai umat terbaik.

Untuk memelihara sebutan sebagai umat terbaik, umat Islam harus berusaha menyelamatkan misi menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, atau secara populer disebut dakwah. Bagaimana mewujudkannya, dibutuhkan perangkat pendukung yang secara dinamis terus berkembang.

Pada zaman Nabi, misalnya, dakwah dapat dilaksanakan sejalan dengan kenyataan kebudayaan masyarakat nya. Nabi beserta para sahabatnya da tang dari satu pintu yang satu me nuju ke pintu yang lain, lalu mengajak secara perlahan dan damai, sehingga masuk Islamlah sejumlah orang yang kemudian menjadi sahabat Nabi.

Abu Bakar as-Shiddiq dikenal sebagai orang pertama yang menyatakan diri masuk Islam setelah istri Na bi, Khadijah. Seorang saudagar, Utsman bin Affan juga masuk Islam de ngan caranya sendiri. Lalu, Umar bin Khattab yang dikenal seorang pemberani juga masuk Islam dengan cara dan gayanya yang khas dan menakjubkan.

Islam masuk ke nusantara juga dibawa dan disebarkan oleh orang-orang terbaik pada zamannya. Islam disebarkan oleh para wali, yang dalam sejarah dikenal sebagai Wali Sanga. Dengan penuh akomodasi mereka mem perkenalkan Islam dari pintu ke pintu sehingga Islam menjadi agama pribumi yang kuat melekat pada sistem kehidupan masyarakat nya. Para wali dengan tekun menyapa setiap warna kebudayaan yang dimiliki masyarakat yang dihadapinya, termasuk digunakannya tradisi wayang golek untuk menyebarkan agama. Sukses!

Namun, jangan mimpi kalau sukses gemilang yang dilalui para wali itu dapat diulang untuk menghadapi masyarakat saat ini. Zaman kini telah berubah, dan warna kebudayaannya pun ikut berubah secara signifikan. Saat ini, secara kasatmata, media baru sedang menguasai dunia.

Perkembangan internet yang menjadi salah satu ciri abad ini tanpa banyak disadari para dai telah ber impli kasi besar pada pembentukan ma syarakat baru, komunitas virtual, yakni sebuah komunitas yang secara bebas dan independen berinteraksi dalam dunia cyberspace.

Inilah masyarakat dakwah baru yang seharusnya dipertimbangkan ketika akan menjadikannya sebagai sasaran utama amar makruf nahi mungkar. Dakwah di atas mimbar kini sudah bukan zamannya lagi. Bahkan, media sosial kini sudah menjadi pilihannya. Karena itu, penting untuk mulai merancang bagaimana menjadi umat terbaik yang tetap eksis di era media.

Asep S Muhtadi