The Busy Generation

Busy, busy, busy, busy, busy, busy, busy … dead! Menurut kalender, dalam seminggu yang disebut hari kerja (works days) ada lima hari, lalu hari libur (holidays) dua hari. Mengapa jumlah hari kerja lebih banyak ketimbang hari libur. Karena bekerja itu sehat, melegakan, dan membahagiakan, sedangkan diam menganggur itu melelahkan dan bahkan menyiksa. Tidak percaya? Coba saja sendiri, selama setahun jadi pengangguran, pasti tersiksa.

Saat bekerja, seseorang menemukan keasyikan, meng­aktualisasikan diri sebagai pribadi yang produktif dan berharga bagi sesamanya. Pohon pisang saja tidak mau mati sebelum mempersembahkan buah dan keturunan dari kehadirannya, apalagi manusia yang dibekali potensi hidup dan kreativitas yang hingga saat ini belum diketahui secara persis batas akhir kemampuannya. Oleh karena itu, manusia juga disebut homo faber, yaitu makhluk yang senantiasa mencipta berbagai produk baru untuk menyalurkan imajinasinya dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Saking kreatifnya, sangat mungkin para ilmuwan di masa depan akan menciptakan produk-produk baru yang sesungguhnya tidak diperlukan oleh masyarakat. Padahal biaya pembuatannya sangat mahal, tetapi dilakukan semata-mata untuk menyalurkan daya kreatifnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sekarang pun anomali dan deviasi sosial sudah terjadi, yaitu orang terjerat dengan gaya hidup yang supersibuk. Sibuk seakan menjadi identitas dan gaya hidup kalangan eksekutif. Padahal ide besar yang menjanjikan sukses besar justru muncul saat orang dalam suasana santai, relaks, dan meditatif. Maka dari itu, banyak inspirasi dan peristiwa besar yang terjadi saat malam hari, seperti yang dialami oleh para nabi. Mereka mendapatkan pencerahan hati dan pikiran pada malam hari, di tempat yang sunyi, seperti yang dialami Nabi Muhammad di Gua Hira. Peristiwa isra-mikraj pun terjadi pada malam hari.

Dengan bantuan teknologi modern, seseorang dapat melakukan multi-tasking pada jam dan di tempat yang sama. Artinya, bisa saja seorang semakin sibuk atau bahkan sebaliknya, bisa lebih relaks karena rapat jarak jauh pun dapat dilakukan. Jadi, godaan dan peluang untuk menjadi sibuk dan supersibuk pun semakin terbuka. Namun, perlu kita sadari bahwa sukses tidak selalu identik dengan sibuk. Para inovator bidang ilmu selalu memerlukan suasana relaks untuk mencari ilham.

Mereka yang selalu sibuk dengan dalih demi memenuhi kebutuhan keluarga, sesungguhnya perlu diingatkan dan dipertanyakan keabsahan dalihnya. Bagi mereka yang secara ekonomi sudah cukup, yang diperlukan .anak­anak dan anggota keluarga adalah kebersamaan yang berkualitas, yang tidak dapat ditukar dengan materi. Banyak keluarga yang hidupnya tidak bahagia, suami-istri bercerai, bukan karena tidak punya uang, melainkan tidak punya waktu senggang dan nyaman untuk berbagi hats dan pikiran dalam rangka menjaga kehangatan keluarga.

Panggung politik yang terasa pengap, kondisi lalu, lintas yang macet dan membuat stres, serta kejahatan dan konflik sosial yang bermunculan pasti berpengaruh secara negatif terhadap suasana hati warga bangsa ini. Situasi demikian mesti diimbangi dengan pencerahan hati dan pikiran agar kita tidak menjadi orang yang reaktif, tetapi justru menjadi pribadi penyebar damai dengan pikiran­pikiran alternatif yang mendatangkan aura optimis­konstruktif. Ketika yang terjadi adalah akumulasi stres, marah, pesimistis, dan sikap egoistis, sesungguhnya kita telah mempersempit dan membuat gelap dunia kita sendiri.

Ketika kita semua memandang dunia, tanpa disadari yang muncul dan terlihat adalah proyeksi dari keyakinan, ideologi, dan endapan emosi serta pikiran tentang hidup yang kita inginkan. Kita akan selalu mengejar hal-hal yang kita bayangkan menyenangkan dan menghindari hal-hal yang kita bayangkan menyakitkan. Padahal kenyataannya, bayangan, keinginan, dan pikiran itu tidak mudah diwujudkan, dan apa yang kita bayangkan menyenangkan adakalanya justru sebaliknya yang terjadi. Mereka selalu sibuk sehingga tidak bisa mengambil jarak dari kehidupan praktis-mekanistik. Akibat selanjutnya, mereka tidak bisa merenung dan membuat refleksi tentang makna dan tujuan hidup, tak ubahnya seperti pesawat terbang yang kehilangan peta titik koordinat dan tujuan akhir mendarat. Seperti kasus yang pernah menimpa pesawat terbang Adam Air beberapa tahun lalu, yang akhirnya nyasar ke lautan. Tragedi serupa ternyata banyak terjadi di kehidupan kita semua.

Bukankah perjalanan hidup ini tak ubahnya seperti pesawat yang melaju kencang ke depan? Apa yang ter­jadi jika pesawat kita kehilangan peta yang menjadi pe­tunjuk jalan? Oleh karena itu, fenomena munculnya busy generation mesti diwaspadai karena akan mendorong seseorang hidup bagaikan mesin yang berputar. Kita selalu sibuk, tetapi kehilangan sense of meaning of life. Ketika kesibukan dijalani tanpa pemahaman dan penghayatan yang mendalam, untuk apa dan siapa hidup ini ditempuh.

Ada sindiran Dalai Lama yang sangat populer. Katanya, “Saya heran dengan perilaku manusia. Mereka sibuk mengumpulkan uang hingga mengorbankan kesehatari dan waktu senggang untuk memelihara hubungan sosial. Anehnya, setelah uang terkumpul, semuanya terkuras untuk biaya berobat akibat gaya hidup yang tidak sehat. Mereka hidup hari ini, tetapi pikiran dan emosinya meloncat jauh ke depan sehingga tidak bisa menikmati keindahan hari ini, sementara ketika memasuki hari tua yang dijumpai ternyata tidak seindah yang dibayangkan.

Sibuk seakan menjadi mantra baru. Ketika bertemu teman, dulu orang masih sempat berbincang-bincang tentang kehidupan keluarga dan cerita hobi masing masing. Sekarang semuanya telah berubah, pertanyaan yang kerap muncul adalah: Sekarang lagi sibuk apa?***

Komarddin Hidayat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *